Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 150 Kesiangan


__ADS_3

Dug ... Dug .. Dug, suara gaduh dari kaki Hiro yang menjejak lantai hotel menarik mata semua orang yang ia lewati, hingga di pintu depan ia dihentikan oleh penjaga disana.


"Ada apa Pak?"


"Apa Bapak melihat saudara saya yang memakai kursi roda lewat sini?"


Lelaki yang ditanyai Akio itu nampak mengingat-ingat. "Oh ya, tadi sebelum hujan saya mengantarkannya ke taman. Dan dia meminta ditinggalkan disana."


"Sebelum hujan?" Mata Hiro membola, itu sudah satu jam yang lalu. Sementara hujan belum reda sampai sekarang. Tanpa berpikir lagi, Hiro berlari hendak menuju ke taman.


"Pakk ... payung." Lelaki yang mengantar Akio ke taman itu berteriak dan menawarkan payung. Mengangguk, Hiro berbalik mengambilnya dan kemudian bergegas kembali ke tujuannya.


Hujan lebat membuat jarak pandang terbatas. Disela jatuhnya air dari langit, Hiro menajamkan matanya menyusuri setiap tempat berteduh yang tersebar di sepanjang luasnya taman.


Dalam hati lelaki itu menggerutu, siapa arsitek taman yang membuatnya seluas ini dengan tempat berteduh yang jaraknya jauh satu sama lainnya. Hingga membuat hatinya semakin kalut, karena belum menemukan sosok yang ia cari bahkan di tempat ketiga yang sudah ia datangi.


Hiro sengaja hanya melewati tempat pertama dan kedua begitu saja, karena tempat itu penuh dan hujan masih lebat, sepintas tidak terlihat sosok Akio ada diantara orang-orang yang berteduh itu.


"Mencari siapa Pak?" tanya sorang wanita paruh baya yang juga berteduh di sana.


"Ibu melihat seorang lelaki, kurus duduk di kursi roda?"


"Oh ... tidak. Apa yang lain ada yang melihat?" teriak ibu itu, hingga membuat suasana yang ramai tiba-tiba hening dan secara bersamaan mereka menoleh kemudian menggeleng.


Lutut Hiro sudah lemas rasanya. Capek berlari dan juga lelah hati karena khawatir. Hujan mulai mereda saat ia hampir sampai ditempat kelima. Disana hanya ada beberapa orang berteduh.


"Maaf, apakah ada yang melihat seorang lelaki kurus menggunakan kursi roda? Tadi sebelum hujan di ada disekitar sini," tanya Hiro pada beberapa orang yang berteduh disana.

__ADS_1


"Saya tadi melihatnya didorong oleh seseorang di sebelah sana." wanita muda yang ikut berteduh menjawab pertanyaan Hiro dengan menunjuk arah awal ia masuk taman.


"Ya ampunnn ... bodohnya aku hanya melewatinya saja," gerutunya. "Terimakasih, Kak. Sekali lagi, terimakasih." Hiro membungkukkan tubuhnya kemudian berbalik dan segera berlari menuju tempat yang ditunjuk oleh wanita muda itu.


Tempat berteduh mirip saung tapi tanpa tempat duduk itu mulai sepi, karena hujan tinggal rintik-rintik hingga orang-orang memaksa diri menerjangnya. Dan benar saja, ternyata Akio ada disana, bersama seorang lelaki seumuran mereka . Namun Akio hanya diam. Melihat Hiro datang, sepupu Adrian itu menampakkan senyum samarnya.


"Hei," sapaan Akio terdengar lemas. Sweaternya basah hingga ia melepasnya dan meletakkannya di sandaran punggungnya begitu juga dengan topi rajutnya. bibirnya nampak pucat dengan napas yang terdengar agak sesak.


"Ini saudaramu, Kak?" tanya lelaki itu yang dijawab anggukan oleh Akio. "Baiklah, aku tinggal ya, aku sudah terlambat." Berulang kali lelaki itu nampak melirik arlojinya.


"Terima kasih telah menjaganya," teriak Hiro saat lelaki itu berjarak satu meter dan akan beranjak pergi. Senyum lelaki yang nampak seperti anak kuliahan itu, telah menjawab ucapan terimakasih Hiro.


"Jangan berbicara apapun! Aku sedang kesal demganmu!" Hiro berucap keras saat Akio hendak berbicara. Lelaki itu segera melepas jaketnya dan memakaikannya pada Akio, juga topinya dimana ia biasanya jarang sekali memakainya, namun entah hari ini ia seperti diingatkan. Setelah merapikan Akio , Hiro rela berhujan-hujanan meski hanya rintik-rintik untuk mendorong Akio yang dipaksanya memakai payung yang ia bawa tadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Selalu saja hilang," gerutunya. "Apa ia tidak bisa membangunkanku lebih dulu?" Ungkapan kekesalan itu, ia tujukan untuk suaminya yang selalu menghilang ketika pagi ia bangun. Setelah semalam lelaki itu membawanya ke puncak nirwana.


Hah, Ara geli sendiri membayangkan betapa mereka dulu sering beradu argumen dan itu juga masih terjadi hingga sekarang. Namun akhirnya malah saling jatuh cinta dan ketergantungan.


Dengan mata menyipit, ia mengawasi seluruh bagian kamarnya. Kemudian menarik tubuh polosnya setengah duduk. Dan mengambil jam kecil yang ada di atas nakas.


"Ya ampunnnnnn...!" pekiknya kaget. Ia hampir saja melonjak dari selimutnya, jika tidak ingat kalau tidak ada sehelai benangpun yang menutup tubuh polosnya, kecuali selimut itu sendiri.


Dia selalu saja bangun kesiangan setelah malam bertempur dan berjuang untuk menang namun selalu tidak bisa melawan suaminya itu. Namun kali ini sungguh sangat memalukan. Ini bukan lagi kesiangan, tapi hampir tengah hari. Angka 10.30 yang nampak pada jam digital milik Adrian itu membuatnya lemas tak bertenaga. Karena sudah pasti Adrian berada di kantor saat ini. Dan dia? Alih-alih mau membantu, yang ada pekerjaan Adrian mungkin sudah selesai.


Ara bergegas mengambil ponselnya. Dengan masih membawa selimutnya kesana kemari wanita itu memutuskan menghubungi sang suami untuk protes. Duduk di sofa dekat jendela, ia memainkan jarinya untuk menekan nomor kontak sang suami untuk melakukan panggilan video.

__ADS_1


"Hai sayang," wajah Adrian muncul menyapa sang istri namun lelaki itu tidak menatapnya, ia menghadap ke asistennya yang berada di sampingnya, tengah serius menjelaskan tentang pekerjaan. Kemudian setelah selesai dan menoleh menatap layar ponselnya, lelaki itu kaget dan langsung mengalihkan kameranya ke arah lain.


"Lang, kau keluar dulu!" terdengar titah Adrian pada asistennya itu.


"Tapi Tuan, ini...."


"Keluarlah dulu, nanti kupanggil lagi."


Dan layar ponsel Ara menangkap kembali wajah sang suami yang tanpa ekspresi. "Ada yang baru bangun?" sindir Adrian.


"Kenapa Mas tidak membangunkanku saat berangkat?" Ara dengan bibirnya yang mengerucut karena sebal dengan suaminya malah membuang muka kesamping dan tidak mau melihat sang suami.


Hal itu membuat Adrian yang tadinya marah malah tersenyum gemas. "Apa ... kau masih tidak memakai apapun di dalam selimutmu sayang?"


Sungguh ucapan Adrian membuat sang istri kaget hingga menaikkan selimut yang ternyata melorot di setengah dadanya, makin keatas. Dan ya ampun bahkan ia lupa, mengapa tadi ia tidak memakai pakaiannya dulu malah hanya memakai selimut dan menghubungi suaminya dengan panggilan video. Adrian pasti berpikir sang istri menantangnya kembali.


"Aku akan menyusulmu," ucap Ara cepat. Dan kini ia mengalihkan kamera ponselnya ke arah ranjang kosong dibelakangnya.


"Dirumah saja, jam segini semuanya sudah beres," ucap Adrian santai seraya menahan geli dengan tingkah sang istri. "Mana wajah istriku yang cantik, kenapa disembunyikan?"


"Aku belum meminta imbalan atas kerjaku semalam, Mas. Ingat! Kau sudah janji." Hanya terdengar ucapan Ara yang masih kesal karena terdengar sedikit meninggi.


"Semalam? Kau kerja padaku? Oh iya aku lupa. Yang syarat dalam syarat itu? Baiklah berarti setiap malam, kau harus bekerja padaku Sayang, karena sepertinya permintaanmu akan banyak jadi kau harus bekerja dengan keras."


"Masssss ...." Ara kembali mengarahkan kamera ponsel pada wajahnya. Dan Adrian menahan geli melihat wajah istrinya yang ditekuk. "Kenapa harus setiap malam? Aku malu bangun kesiangan setiap hari. Sekarang saja rasanya malu untuk turun," wanita itu menjepit bibirnya, otaknya berputar mencari alasan untuk bangun siangnya pada bibi Yulia. Padahal wanita paruh baya itu tidak pernah menanyakannya. Namun tetap saja Ara malu.


🥰

__ADS_1


__ADS_2