Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 250


__ADS_3

"Jadi aku tidak boleh pulang, Mas?" Bibir Ara mengerucut dengan jemari yang masih terus bergerak membersihkan wajahnya.


"Pulang kemana? Ini rumahmu, Sayang. Urusan Merra sebentar lagi selesai. Kita langsung daftarkan sekolahnya disini," sahut Adrian yang menyandar setengah berbaring di bantalnya. Lelaki itu nampak menurunkan kacamatanya, menggeser sedikit buku yang ia baca untuk menjawab istrinya itu.


"Mami juga masih di Bandung," kembali Ara memberikan alasan pada lelaki yang selalu menjadi pemaksa jika berhubungan dengan dirinya.


"Aku sudah menghubunginya kemarin. Kata mami, beliau meminta waktu untuk menyelesaikan beberapa urusan. Nanti beliau akan menyusul."


"Barang-barangku juga masih disana, Mas." Entah apa yang dipikirkan Ara, yang jelas alasan demi alasan itu bukanlah cara untuk pergi dari sang suami.


Tapi, ia merasa harus mempersiapkan segala sesuatu termasuk kedua pasangan suami istri yang akan menggantikan dirinya mengelola toko bunga miliknya. Juga mencari beberapa karyawan yang masih muda untuk membantu pekerjaan mereka.


"Kita kirim orang untuk mengemasi dan membawanya kesini. Jangan khawatir berlebihan, Sayang. Semuanya bisa dilakukan dari sini."


"Aku hanya sebentar ke Bandung, Mas. Bukan untuk pergi lagi," sahut Ara yang menatap sang suami dari pantulan cermin.


Adrian yang sedang duduk di ranjang tiba-tiba bangkit dan berjalan menuju balkon melewati begitu saja sang istri yang tengah melakukan ritual malam sebelum tidur.


Bahkan Ara tidak sempat melihat raut wajah lelaki itu tadi. Apakah marah? Sepertinya iya, tapi Adrian selalu bisa mengendalikannya dengan hanya diam.


Setelah menyelesaikan langkah terakhir membersihkan wajahnya. Ara beranjak mencari keberadaan sang suami. Rupanya lelaki itu sedang berdiri menatap langit dengan kedua tangan yang meremas erat pagar sebagai batas tepi bangunan itu.


Ara yang mampu membaca gestur Adrian dari belakang jika lelaki itu nampak mengkhawatirkan sesuatu, bergegas mendekat.


"Aku juga hanya menyelesaikan urusanku disana, Mas. Ada beberapa pesanan yang belum ku selesaikan, juga belum pamit dengan bu Fatimah dan pengurus panti yang lain." Ara menautkan kedua tangannya dipinggang Adrian. Wanita itu memeluk tubuh kekar Adrian dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung yang nampak melengkung itu.


"Masss ... Bicaralah. Aku tidak suka didiamkan. Lebih baik marahi aku atau lakukan apapun yang membuatmu lega." Ara memohon dengan suara manja. Berharap sang suami sedikit melemah pada pendiriannya. Padahal dalam hati wanita itu sudah khawatir setengah mati.


"Apapun?"


"Hemm...."


Adrian menarik tubuh sang istri dan membawanya ke pelukan. m


Mereka kini saling berhadapan dan tubuh Ara melengkung kebelakang akibat lengan Adrian yang melingkar posesif dipinggang kecil wanita itu.


"Kamu yakin?"


"Aku tidak pernah tidak yakin, Mas." Ara nampak berani dan menantang Adrian. "Em ... tunggu ... tunggu, maksud Mas yakin tentang apa?" Senyum Ara mulai memudar, sepertinya ia mulai menyadari maksud sang suami.


"Terlambat untuk menolak!" Adrian menarik maju wajah sang istri. Dan dalam sekali hentak ia menabrakkan bibirnya untuk menangkap benda kenyal milik sang istri yang sudah lama tidak ia rasakan itu.


"Mmmmmass...." Ara bukan ingin menolak namun mereka sedang berada di luar sekarang, apalagi hari sudah larut malam. Namun kecupan dan ******* Adrian yang terus memburu seakan takut kehabisan membuat wanita itu akhirnya mengikuti keinginan sang suami.


Ara paham, kerinduan itu pasti menggunung bertahun lamanya karena perpisahan mereka. Tentu saja lelaki itu merindukannya juga rindu bercinta dengannya. Dan kesalahannya tadi memantik emosi Adrian membuat hasrat lelaki itu semakin bergejolak tidak tertahan.


Ara mengalungkan lengannya di leher sang suami. Ia merasakan dingin merayap di sekujur tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian tipis yang terbuat dari sutra itu. alApalagi angin malam yang berhembus pelan seakan menggelitik tengkuknya yang terbuka karena ia lupa menggerai rambutnya setelah menyelesaikan ritual malamnya tadi.

__ADS_1


"Eratkan tanganmu, kita kedalam," bisik Adrian lirih. Lelaki itu sama sekali tak melepaskan bibirnya dari sejengkal pun kulit sang istri. Selesai dari bibir turun ke leher kemudian kebelakang telinga dan memberikan gigitan-gigitan kecil disana.


Adrian menggendong Ara kembali kedalam kamarnya. Meletakkan tubuh rapuh yang dirindukannya itu, dengan sangat lembut seperti sedang meletakkan gucci berharga mahal ke tempatnya.


Kemudian Adrian mengambil tempat disamping tubuh Ara, berbaring miring dengan jemari yang berjalan lembut menyusuri dahi hingga dagu wanitanya itu.


"Apa kau tahu? rasaku mati bersamaan dengan kepergianmu, Sayang," ucap Adrian yang juga menatap lembut manik mata hitam yang bergerak gelisah di depannya itu. "Aku merasa tidak memiliki kesempatan untuk menemukanmu lagi di hari terakhir aku memutuskan menarik anak buahku di Bandung. Sampai aku bermimpi bertemu Mommy. Dia yang menguatkanku, dan menasihatiku."


"Maafkan aku ya, Mas. Aku tidak berpikir panjang saat melakukannya. Karena itu satu-satunya cara untuk membuat Dani kembali. Hanya itu cara terakhir yang ada dipikiranku."


"Itu kesalahanku, Sayang. Hingga kau yang harus mengorbankan dirimu untuk kami, jangan pernah berpikir untuk pergi lagi," ucap Adrian dalam. Suara napasnya terdengar jelas di telinga Ara, gelisah.


Ara menghambur, memeluk sang suami dan lelaki itu membalasnya. Kemudian entah siapa yang memulai, bibir keduanya berpagut saling menikmati.


Adrian bergerak panas, menghidu dan menciumi setiap jengkal tubuh sang istri. Tidak ada satupun bagian tubuh dari Ara yang ia lewati. Hingga akhirnya tubuh mereka berdua yang sudah polos itu menyatu.


Ara yang dibawahnya pun tidak kalah gelisah, hasrat yang ia pendam seperti di bangkitkan oleh sang suami. Dan begitupun Adrian, ia tidak ingin berhenti terlalu cepat karena baginya tubuh yang lama tidak ia sentuh itu memancarkan candu yang membuatnya ingin, dan ingin lagi.


Hampir pagi keduanya baru mengakhiri aktifitas percintaan mereka yang panas.


"Kau milikku, Sayang," bisik Adrian pada Ara yang sudah memejamkan matanya akibat kelelahan. Wanita itu hanya meracau tidak jelas menjawab bisikan sang suami.


Adrian membawa sang istri dalam pelukan. Kemudian memberikan selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benangpun.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ara lamat-lamat mendengar teriakan Merra yang berada di luar. Wanita itu memicingkan matanya, mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari tidur panjangnya.


Tidur panjang? Ara mengerjap, sepertinya ia baru saja tidur. Tidur panjang apanya? Wanita itu segera meraih jam weker di atas nakas.


"Baru jam 7." gumamnya. Bukankah ia dan Adrian baru mulai memejamkan mata jam 4 pagi tadi? Ayolah, dia belum pikun untuk melupakan percintaan mereka yang panas semalam. Hingga lelaki itu memaksanya untuk lagi dan lagi dan bodohnya ia juga mengiyakan saja karena sama seperti Adrian. Ia juga merindukan tubuh suaminya itu.


Ara tersenyum kecil mengingatnya. Hingga suara teriakan putri keclinya kembali terdengar dan menyadarkannya.


Dengan segera wanita itu membuka selimutnya. Kemudian beranjak bangun hendak membukakan pintu untuk Merra. Pagi ini, entah mengapa ia merasakan tubuhnya kedinginan. Padahal sekarang, musim dingin sudah berlalu.


"Sayang, kau mau kemana?" Adrian menyipit melihat Ara beranjak meninggalkannya.


"Merra ada di luar, Mas," jawab Ara buru-buru mengambil sandalnya.


"Lihatlah dirimu. Apa kau mau menemui Merra dalam keadaan seperti itu?"


"Memang kenapa denganku?" Ara menatap tubuhnya yang ternyata..."Ya ampun, Mas!" Wanita itu memekik kaget mendapati dirinya polos tanpa sehelai benang pun, pantas saja ia merasakan tubuhnya kedinginan tadi. "Dimana kau buang pakaianku semalam, Mas?"


"Entahlah, Sayang. Aku tentu tak bisa mengingatnya. Yang aku ingat hanya panasnya percintaan kita semalam. Pakai saja piyamaku." Adrian melempar piyama nya, yang ia temukan tidak jauh darinya.


Wajah Ara semerah tomat mendengar pengakuan sang suami. Dengan segera wanita itu menangkap piyama yang dilempar Adrian dengan cepat, namun rupanya. "Ini hanya atasannya, Mas. Dimana celananya?"

__ADS_1


Lelaki itu menggeleng, tentu saja ia hanya main buang saja semua pakaian yang menempel ditubuhnya semalam. Baju tidur sang istri saja yang ia lucuti semalam tidak dapat dia ingat dilempar kemana. Memangnya kalau sudah di gelung hasrat masih ingat hal seperti itu?


Mata mereka berdua awas memindai sekeliling, namun tak nampak sekalipun celana atau pakaian Ara ada disana.


"Pakai itu saja, darurat!" teriak Adrian sambil tersenyum simpul melihat sang istri yang panik dan masih belum mengenakan apapun.


"Mama ... Daddy ... Ini sudah siang! Ayo kita sarapan." teriak Merra lagi. Dan semua itu membuat Ara tidak lagi mendebat, wanita itu mempercepat gerakan tangannya yang mengancingkan piyama Adrian yang sangat longgar ditubuhnya itu.


Untung saja pakaian tidur yang hanya ketemu bagian atas itu menutup tubuh Ara. Piyama itu menjuntai hingga atas lutut.


Ceklek!


"Iya Sayang, maaf. Mama masih di balkon tadi menyiram bunga. Suara Merra hampir tidak terdengar disana." Akhirnya Ara harus membohongi putri kecilnya itu agar tidak bertanya banyak hal.


Mata Merra memindai seluruh ruangan kamar milik orang tuanya, meski gadis kecil itu hanya dibukakan sebagian saja akses masuk kesana.


"Daddy mana, Ma?"


"Daddy? Mmmmm...." Ara menelan salivanya susah, ia berusaha mencari alasan dan mencari keberadaan sang suami yang rupanya sudah tidak ada di ranjang mereka. Tidak lama kemudian terdengar suara air gemericik di kamar mandi. "Ahhh ... Daddy sedang mandi, sebentar lagi juga keluar." Untung saja lelaki itu segera pergi kesana, karena ia pun sama seperti Ara, tidak memakai apapun selain selimut.


"Mau masuk?" Merra mengangguk.


"Wah kamar Daddy dan Mama besar sekali, ini berkali-lipat dari kamar


Merra di Bandung." Gadis kecil itu melompat ke ranjang kemudian melambungkan tubuhnya seperti sedang bermain trampolin. Adrian memang pengertian, rupanya sebelum ke kamar mandi lelaki itu sudah merapikan selimut dan bantal yang sempat acak-acakan.


"Kamar Merra yang baru juga luas, nanti hampir sebesar ini," ucap Ara memberitahu sang anak. "Merra nyenyak tidur di kamar Oma?"


"Hemm...." Gadis kecil itu mengangguk. "Kak Dani tidur dimana ya, Ma?"


Ara bingung menjawabnya. Ia sendiri tidak tahu berada dimana sekarang anak sambungnya itu. "Mungkin di ruang kerja Daddy, disana ada kasur lipat yang bisa digunakan."


"Kapan-kapan boleh Merra ikut tidur Daddy dan Mama disini?" pinta Ara memelas.


"Tentu saja, Sayang," jawab Ara dengan mata mendelik. Bukan ia tidak rela putri kecilnya ikut tidur di kamar ini. Tapi ia melihat pakaian dalamnya yang berada tidak jauh di belakang Merra. Rupanya sesuatu yang dicarinya sejak tadi itu bersembunyi disana.


"Merra keluar dulu ya. Mama mau mandi, nanti kita sarapan bareng," paksa Ara pada gadis kecilnya yang sebenarnya belum ingin keluar dari kamar sang mama.


Namun ara takut jika penampakan demi penampakan akan terlihat dengan semakin lama Merra ada disana. Karena banyak sekali yang belum ditemukan dari sekian banyak yang dilempar Adrian semalam.


"Merra...!" Terdengar suara Dani memanggil dari bawah.


"Iya Kak!"


"Sama kakak dulu ya, nanti Daddy dan Mama menyusul, ok!"


Gadis kecil itu hanya pasrah saat sang ibu menggandengnya keluar dari kamar dengan paksa.

__ADS_1


😁ya ampun, semoga readers semua yang bergelar mamak dan saat ini sedang menjalankan ibadah puasa strong-strong semua ya💪 ternyata ribet sekali ya, menjadi ibu, bekerja dan menjalankan hobi secara bersamaan. apalagi bulan Ramadhan seperti ini benar-benar harus sekuat 🐯 love u... maafkan daku yang update coretan saja, ini sudah diedit🙏


__ADS_2