
Lola cemas, di dalam ruangan serba putih ini sang ibu belum juga siuman sejak lima belas menit yang lalu mendapat penanganan. Saat ini mereka sedang berada di UGD. Laila harus tetap disana sampai ia sadarkan diri.
Gadis seksi itu tidak sendiri. Ia bersama seorang polisi wanita yang ditugaskan untuk berjaga di dalam.
Kemudian terpikirlah untuk menghubungi keluarga satu-satunya di kota ini. Siapa lagi kalau bukan Adrian. Namun ia ragu, apakah sepupunya itu bersedia membantunya.
"Bu, boleh saya izin keluar sebentar? Mau menghubungi saudara saya."
"Silahkan!"
Gadis itu melangkah keluar. Baru saja sampai di dekat pintu kaca UGD, ia mengelus dadanya dan bernapas lega. Sejak tadi ia merasa tertekan di dalam sana, bersama seorang polisi yang mengawasi segala tindak tanduknya. Bahkan menggaruk kepala saja tidak lepas dari pengawasan sang polisi wanita.
Gegas Lola mengeluarkan ponselnya. Digesernya untuk mencari kontak Adrian. Kemudian berkali-kali memanggil, namun hanya nada sambung yang terdengar. Lelaki itu tak menjawabnya.
Pikirannya kalut, harus menghubungi siapa. Ferry, tidak mungkin. Mamanya tadi sempat menyebut nama itu pada polisi. Pasti lelaki itu yang membawa masalah hingga sang ibu ikut ditangkap.
Mondar-mandir di depan UGD bagai setrikaan yang sedang galau Lola lakukan. Gadis seksi itu menarik tangannya menopang sebelah pinggangnya, sementara tangannya yang lain sibuk mengetuk pelipisnya supaya encer berpikir.
"Hahhh!" pekiknya.
Gegas tangannya lincah membuka menu ponselnya. Ternyata ia tidak punya nomor kontak lelaki itu. Kemudian Lola membuka ponsel sang ibu dan mengirim kontak bagian keuangan Rumah Sakit victoria itu pada ponselnya. selanjutnya menekan tombol hijau dengan cepat.
Hanya terdengar nada sambung sebentar. "Halo."
Mata Lola berbinar mendengar sang pemilik kontak mengangkat panggilannya.
"Halo, Pak ... pak ... Pak Bian. Tolong saya."
"Ini siapa?"
"Saya Lola, mama saya di rumah sakit sekarang, dibawa polisi."
"Lola? Jadi kamu dimana tadi? Rumah sakit atau kantor polisi?"
"Bukan saya, tapi mama saya. Anda bisa menolong saya, Pak? Atau kalau anda repot saya saya pinjam uang saja buat menebus mama saya. Bagaimana Pak?"
Bian terdiam, sungguh ia tidak mengenal siapa Lola. Dan tiba-tiba saja wanita itu menghubunginya meminta tolong padanya dengan dalih pinjam uang dan disuruh transfer pula.
Pikiran Bian menerawang. Kembali mencoba mengingat, tak ia dapati sekelabat pun memori tentang siapa itu Lola. Kemudiaan Bian yakin. Sangat- sangat yakin.
PENIPUAN!!!
__ADS_1
Ya. Ini pasti penipuan. Wanita itu pikir, ia bodoh. Padahal fifty-fifty.
"Halo, Pak Bian. Anda masih disana!?" suara Lola yang sedikit lantang mengganggu pendengaran Bian. Sampai-sampai lelaki itu menarik ponsel yang ia tempelkan di telinganya.
"Iya ... Iya.. Saya mendengarkan," jawabnya singkat.
"Bagaimana, Pak? Anda mau membantu saya kan? Tolonglah Pak, saya benar-benar butuh sekarang." Lola mencoba menarik perhatian dengan mengiba dan mengeluarkan segala jurus agar lelaki itu bersedia membantunya.
"Jya pasti. Kirimkan saja nomer rekening kamu. pasti saya kirim," jawab bian meyakinkan. padahal lelaki itu hanya memancing Lola.
"Baiklah, terima kasih Pak Bian." Lola mengakhiri panggilannya. Beruntung sekali ia hari ini, Bian mempercayainya tanpa harus bersusah payah meyakinkan. Lelaki itu pasti akan membantunya karena ia kenal dengan Ferry.
"Aku haus sekali, Tapi ... Uangku habis." Lola membuka tasnya, kemudian ia teringat ada mesin ATM di lorong sebelah UGD tadi.
Gadis itu bergegas kesana. Namun ia kaget saat akan transaksi, kartu debitnya terblokir. Padahal seingatnya ia tidak melaporkan kehilangan atau kejadian apapun yang membuat bank memblokir akses kartu debitnya itu.
Dengan terpaksa menahan haus, ia kembali lagi ke dalam UGD melihat keadaan sang ibu.
"Bu, mama saya?" Lola langsung bertanya ketika ia berpapasan dengan polisi wanita yang tadi menjaga sang ibu.
"Silahkan, ibu anda sudah siuman. Sebentar lagi kami akan membawanya ke kantor," jawab polisi wanita itu dengan sopan.
Setengah berlari Lola menyeret kakinya menghampiri sang ibu."Mama ...."
"Ssstttt ... Kamu darimana saja? Mana ponsel mama?" Wanita paruh baya yang baru sadar itu terlihat segar bugar, tidak seperti saat Lola baru tiba.
"Mama?"
"Sudah cepat keluarkan ponsel mama. Mama harus menghubunginya," Laila membuka telapak tangannya dan menadahkannya.
Masih tidak habis pikir dengan kelakuan sang ibu, Lola hanya bisa menurut, kemudian mengambilkan ponsel sang ibu yang ia simpan dalam tasnya.
Laila nampak tidak sabar. Ia sampai merebutnya dari tangan sang anak.
"Ahhh ... Kenapa tidak ada yang mengangkat. Kalau begini mau minta tolong pada siapa?" menggumam lirih, wajah Laila dipenuhi rona kecemasan.
Dicobanya sekali lagi. Dan sekali lagi. Namun sama, hanya terdengar nada sambung tanpa jawaban sang pemilik.
"Dimana dia?" Wajah Laila berubah geram dan terdengar keras saat giginya bergesekan.
"Mama menghubingi siapa? Adrian? Aku sudah mencobanya tapi tidak diangkat. Sepertinya ia sudah tidak perduli pada kita," ucap Lola sengit. Ia sudah jengkel karena sejak tadi, lelaki yang katanya sepupunya itu tidak mengangkat panggilannya.
__ADS_1
"Bukan! Tentu saja Adrian tidak mengangkat pangggilanmu. kau tahu siapa yang membuat laporan hingga mama terciduk?"
Lola menggeleng, "Jangan meminta bantuan Adrian, lupakan keponakan Mama itu."
"Kita tunggu saja beberapa saat lagi, mungkin_"
"Bu, mari ikuti saya." Tiba-tiba suara polisi wanita yang tadi berjaga datang.
Setengah kaget, Laila melepas ponsel yang ada dalam genggamannya hingga benda pintar itu terjatuh di dekat kakinya. Kemudian wanita paruh baya yang ternyata jago akting itu kembali terengah seperti seseorang yang sesak napas. Tangannya melambai-lambai hendak meraih lengan Lola.
Anak gadisnya langsung paham. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat dengan ranjang dimana sang ibu tengah berbaring.
"Hanya kita, Bu? Siapa yang akan mendorong bednya. Ibu saya masih sesak." Mengerjap cepat Lola yang tanggap langsung menyahut demikian.
Polisi wanita itu menggeser gorden sekat yang menutup bilik yang ditempati Laila. Kemudian tatapan tajamnya menghujam ibu dan anak yang ada di depannya itu.
Dengan menyilangkan kedua tangannya diatas dada, polisi wanita itu mengulangi ucapannya, " Silahkan ikuti saya!"
"Bu_"
"Jika Bu Laila masih ingin berada disitu, berarti anda yang harus mendorongnya!" ucap wanita berseragam itu tegas. Dagunya terangkat menunjuk pada Lola.
Lola menyenggol bahu sang ibu. "Ma, aku tidak mau mendorong bednya. Ini berat," bisiknya lirih dengan mengulas senyum terpaksa.
"Sudah terlanjur. Tanggung, dorong saja," Laila ikut-ikutan berbisik menjawab ucapan Lola.
Gadis seksi itu menghentakkan kakinya kesal.
"Saya tunggu diluar.
Lima menit!" polisi wanita itu segera pergi setelah memberi ancaman.
"Mama, ayo turun. Mama jalan saja, mama kan tidak kenapa-kenapa."
Lola menarik lengan sang ibu memaksanya turun.
"Sayang, mama terlanjur pura-pura. Apa kata mereka nanti kalau tahu ternyata mama cuma sandiwara."
"Mama tidak lihat sikap wanita itu barusan? Itu sudah mengatakan kalau mereka mengetahuinya. Jadi buat apa pura-pura lagi!" sahut Lola kesal.
Dengan terpaksa Laila turun dari bednya. Kemudian wanita paruh baya itu keluar dari UGD dituntun oleh sang putri.
__ADS_1
Brakk!!