
"Daddy, aku yang seharusnya liburan di sini mengapa malah daddy yang menikmatinya."
Dani sangat kesal dengan sang ayah. Bahkan di hari keduanya berada di Indonesia, sang ayah membuatnya menggantikannya di kantor. Berkutat seharian dengan kertas dan pena, sungguh menyebalkan.
"Kan sudah Daddy katakan, kepemimpinan perusahaan sudah harus berganti padamu Boy. Sudah cukup pendidikan, pengalaman serta main- mainmu disana. Elang juga mengatakan kau cepat menangkap alur tugas Daddy yang menjadi tanggung jawabmu nanti."
Adrian menyeruput kopi hitamnya. Kemudian menghilangkan sisa- sisanya dengan minum air putih hangat seperti biasa. Dan kembali melewatkan sarapan pagi seperti hari-hari sebelumnya.
"Tapi bukan berarti Daddy melimpahkannya sekarang. Ayolah Dad. Aku masih ingin mencari pengalaman lagi, aku juga ingin melanjutkan S2 ku."
"Itu bisa sambil jalan, Boy. Kau bisa meraih S2-mu setelah serah terima nanti."
"No! Daddy! Daddy belum cukup tua untuk pensiun, jadi jangan mengada-ada mengadakan serah terima semua ini padaku." Dani protes keras pada sang ayah. Namun sedetik kemudian pemuda itu malah melunak karena melihat wajah Adrian yang tanpa ekspresi menatapnya. "Ayolah, Dad."
Dani memohon dengan memasang wajah memelas. Namun hal itu tidak. dapat membuat sang ayah mengasihaninya.
"Apa yang kau inginkan sudah kau dapatkan, Boy. Jadi kau harus mengikuti keinginan Daddy sekarang!" ucap Adrian tegas. Lelaki itu ingin keluar lagi di hari yang masih pagi. "Kau tetap bisa berkonsultasi dengan Daddy jika ada kesulitan. Telpon saja."
"Seperti biasa. Daddy selalu mengatakannya berulang- ulang," gumam pemuda itu menahan emosi.
"Aku mendengarnya, Boy! Seharusnya kau mengucapkannya dalam hati." Tawa mengejek Adrian tunjukkan pada anaknya yang sudah memasuki usia dewasa itu.
Dani berdecak kesal sepeninggal sang ayah. Bagaimana mungkin liburannya yang hanya satu minggu di Indonesia malah dihabiskan di belakang meja kantor bersama Elang. Sungguh membosankan!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Silahkan, Pak," ucap pelayan kedai ramen yang pernah ia dan istrinya datangi dulu, saat Akio masih ada.
"Bapak menunggu seseorang? Maaf jika saya terlalu ingin tahu," tanya pelayan itu ramah. Adrian memesan dua mangkok ramen dengan level kepedasan rendah. Seperti yang diketahui, jika perutnya tidak bisa menerima rasa pedas yang berlebihan.
"Tidak, ini untuk saya semua. Hari ini ulang tahun istri saya, Pak. Kami biasa merayakannya bersama. Namun sekarang, kami tidak bisa melakukannya," ucap Adrian dengan sorot mata kecewa dan patah hati.
Sang pelayan seperti bisa membaca pikiran Adrian. Terkadang kita tidak menyangka ada orang-orang yang tidak kita kenal malah perduli dengan apa yang kita rasakan. "Oh, maaf Pak. Saya terlalu ingin tahu." Pelayan itu menangkupkan kedua telapak tangannya. Dan Adrian menggelengkan kepala tanda memakluminya. "Semoga bapak dan istri bapak bisa merayakan ulang tahun ini bersama lagi, suatu saat nanti."
"Terima kasih doa baiknya, Pak." Pertama kali dalam hidupnya dan tanpa dipengaruhi siapapun, ia bisa mengobrol dan bahkan mengaminkan doa orang asing yang perhatian padanya.
Pelayan itu mengangguk, dan menampilkan gestur mempersilahkan Adrian menikmati makanannya, sementara ia pamit meneruskan pekerjaannya.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Aku rindu masakanmu. Ramen ini selalu mengingatkanku tentang kita. Awal aku menaruh rasa dan rela memakan ramen yang pedas meski perutku menolaknya," ucap Adrian lirih. Lelaki itu kemudian tersenyum kecil sejenak, dan selanjutnya melahap habis dua mangkok ramen spesial yang di pesannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hari ini, kamu pulang?"
"Iya, Dok. Terima kasih sudah mau direpotkan kemarin. Harusnya saya langsung mengucapkannya. Tapi karena Dokter tidak kembali lagi kesini, terpaksa saya menahannya sampai hari ini," ucap Ara sambil memasukkan pakaiannya ke dalam tas. Wanita itu tengah bersiap untuk pulang. Sedangkan Sinta ke bagian administrasi mengurus pembayaran.
Oryza atau Ori, sengaja mendatangi kamar Ara hari ini. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak itu tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantar Ara pulang, namun wanita itu menolaknya.
"Ihh ... Kamu menggemaskan sekali. Lihat ini pipimu yang chubby dan kemerah-merahan." Merra ada di pangkuan Ori saat ini. Lelaki itu datang setelah Sinta pergi, dan beralasan kangen dengan bayi cantik yang diadzankan olehnya kemarin.
"Awas, nanti baju Pak Dokter kena bau Merra loh. Apalagi kalau Merra pipis atau pup. Kasihan pasiennya. Sini Dok, saya saja yang gendong. Saya sudah hampir selesai kok," pinta Ara namun malah ditolak oleh Ori.
"Saya suka bau bayi. Aromanya authentic. Sudah, kamu teruskan saja beres-beresnya. Biar aku yang menjaga, siapa tadi namanya?" tanya Ori yang mendongak menatap Ara. Sungguh lelaki itu sudah seperti bapaknya
Merra saja. Bahkan ia lebih luwes daripada Ara.
"Merra, Dok. Ermerra Safior,"
"Nama yang cantik. Semoga menjadi anak yang berbakti pada ayah dan ibunya." Lelaki itu sampai mengayunkan tubuhnya hanya demi Merra lebih nyenyak.
"Amin. Terima kasih, Dok," jawab Ara. Wanita itu masih mengerjap dan membayangkan, jika yang menggendong Merra saat ini adalah Daddy-nya sendiri, Adrian. Betapa bahagianya Ara jika itu terjadi.
"Siapa yang akan mengantarmu pulang? Padahal aku sudah menawarkan, tapi kenapa kau menolaknya?"
"Saya ... Saya takut merepotkan Dokter. Oh iya, dari kemarin dokter sudah memperkenalkan diri, tapi saya belum sama sekali," ucap Ara yang merasa tidak enak karena meski kemarin dia ketus pada dokter Ori, tapi lelaki itu tetap saja ramah padanya.
__ADS_1
"Kalau aku yang menawarkan, berarti aku tidak sedang repot Mama Merra. Aku panggil begitu saja, ya?" Ara mengangguk kaku. Karena ucapan Ori bukan meminta persetujuan, lebih ke memaksa. "Dan aku tidak seresmi itu harus berkenalan, karena namamu bahkan telah tercantum disini." Ori menunjuk papan kecil yang tidak jauh darinya, yang berisi tentang identitas pasien.
Ara tersenyum kecut. Lelaki di depannya ini memang benar. Bahkan namanya bisa dibaca semua orang karena memang terpampang disana.
Kehadiran Merra memang membawa kebahagiaan tersendiri dalam kehidupan Ara. Meski dia harus sendiri membesarkannya, dia sudah siap.
Ya, sekarang dia sudah menjadi seorang mama. Mama bagi bayi kecilnya yang cantik, yang setiap waktu akan mengingatkannya pada wajah sang suami. Mungkin ini sudah takdir Tuhan.
Ara pernah berjanji pada dirinya sendiri. Bahwa hanya Adrian lelaki yang ia cintai, sekarang dan selamanya. Dan sekarang, sepertinya Tuhan memang benar- benar membantunya. Menghadirkan malaikat kecil yang wajahnya mirip hampir seratus persen dengan Adrian. Sungguh kuasa Tuhan, bukan?
Namun yang membuatnya sedih. Karena semua kejadian ini, Adrian bahkan tidak bisa mendengar tangis pertama putrinya. Apa dia terlalu jahat menyembunyikan semuanya ini? Entahlah, biar waktu yang menjawab.
"Kecuali kalau kamu yang meminta, mungkin aku bisa saja dalam keadaan repot," lanjut Ori. Lelaki itu masih juga senang menggoda Merra yang sedang tidur dengan menyentuh pipi bayi chubby itu hingga kepalanya bergerak-gerak mengikuti. "Sepertinya Merra masih lapar."
Ara terhenyak. Pikirannya berkelana terlalu jauh hingga mengacuhkan dokter Ori yang ada bersamanya. "Baru saja dia menyusu, Dok. Itu karena Dokter menggodanya terus dari tadi." Dan disambut gelak tawa yang tertahan dari Ori.
Lelaki itu seperti takjub melihat Merra. Tapi bukankah ia seorang dokter spesialis anak? Pasti ia sudah puluhan kali melihat bayi baru lahir. Dan mungkin Merra adalah bayi kesekian yang ada di pangkuannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku? Ada yang mengantarmu pulang?" Ori mengulang pertanyaannya.
"Ada Pak Sapto, sopir panti asuhan yang akan menjemput. Anda tenang saja."
"Kakak, chubby. Kita siapa
pulang!" teriak Sinta saat memasuki kamar. Dia tidak tahu di dalam ada orang lain selain kedua orang yang dikenalnya itu.
"Hah? Ma- maaf, Dok. Saya berisik ya?" ucapnya kemudian seraya membungkam mulutnya sendiri, begitu melihat kehadiran lelaki yang bak pangeran berkuda putih di hadapannya itu.
"Tidak apa-apa. Sepertinya Merra bandel kalau cuma dengar teriakan kamu yang tidak seberapa itu," sindir Ori tepat sasaran. "Maaf, aku cuma bercanda. Tapi bisa dianggap serius juga, lihat saja dia tidak terganggu sama sekali."
Ori menghentikan ayunan tangannya pada Merra. Dan bayi cantik itu tetap nyenyak tidak terganggu.
"Untung saja ya, Dok." Sinta menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Setelah dijatuhkan dia diangkat kembali ke tempat semula. Mereka belum benar-benar kenal, tapi Dokter Ori sangat ramah menurutnya.
"Sin, sudah menghubungi Pak Sapto?" tanya Ara memastikan dengan siapa dia bisa pulang.
"Kalau begitu pesan taxi online saja," usul Ara mencari alternatif.
"Tidak usah. Sudah kubilang aku akan mengantar kalian, kan. Sin, ambil kursi roda untuk mama Merra. Nanti kamu gendong Merra dan tasnya biar sama saya."
"Tidak usah, Dok. Saya sudah terlalu merepotkan Anda. Pasien Anda pasti akan kehilangan Anda nanti. Biar saya naik taxi online saja dengan Sinta."
"Jam praktek saya sudah berakhir. Jadi jangan beralasan untuk menolak lagi. Saya cuma ingin membantu."
Mimpi apa Sinta semalam? Mendengar namanya dipanggil sang dokter tampan yang ia kagumi, seakan mereka sudah kenal lama. Padahal berkenalan saja belum. Mata Sinta pun langsung berbinar penuh bintang-bintang dan hatinya menjadi seringan kapas, melayang sangat jauh.
"Ayo! tunggu apa lagi." Suara Ori membuat Sinta sadar kembali, kemudian gadis itu bergegas keluar mengambil kursi roda.
Ara turun dibantu oleh Sinta. Kemudian Sinta menggendong Merra dan tas diminta oleh Ara untuk diletakkan di pangkuannya saja.
"Kamu memang keras kepala," ucap Ori yang langsung mengambil tas berisi perlengkapan itu dari pangkuan Ara. Bahkan Ara tidak bisa mencegahnya. Lelaki itu berjalan lebih dulu di depan, sedangkan Ara didorong oleh salah satu perawat.
Sepanjang jalan menuju basement, banyak mata memandang dan bibir yang menggumam membicarakan mereka. Daripada hubungan profesional, mereka memang lebih terlihat seperti pasangan suami istri yang tengah berbahagia karena kehadiran buah hati mereka.
Bahkan para perawat yang berlalu lalang pun sampai takjub melihatnya. Seorang dokter yang tiba-tiba dekat dengan pasiennya, padahal tidak ada hubungan apapun sebelumnya. Dokter Oryza Satrio, dikenal mereka sebagai pribadi yang ramah selain nilai plus dari ketampanan parasnya yang mirip artis Korea. Dan juga statusnya yang masih lajang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Selamat sore, Tuan muda. Anda mau minum apa?"
Bibi Yulia menyambut Dani dengan semangat. Anak lelaki yang sudah menjadi pemuda tampan ini ternyata cakap juga menggantikan sang ayah. Beberapa hari ini, bibi Yulia selalu menyambut ketika Dani pulang.
"Aku mau air putih saja. Daddy belum pulang, Bi?" tanya Dani basa basi. Padahal ia tahu jika sang ayah belum sampai di rumah, karena tidak melihat mobil Adrian di garasi.
Hari sudah hampir malam. Ia bahkan tidak tahu sang ayah kemana. Dari tadi menghubungi hanya hanya jawaban tidak aktif dari operator. Jika hanya berjalan-jalan biasa, harusnya sudah kembali. Karena tidak mungkin seharian berada di luar sampai lupa waktu seperti ini.
__ADS_1
"Silahkan Tuan. Ada cake wortel kesukaan Tuan. Saya ambilkan, ya." Bibi Yulia menawarkan cake buatannya setelah meletakkan gelas berisi cairan bening itu diatas meja.
Meskipun rasanya tak seenak buatan mentornya, yaitu Ara. Namun bibi Yulia tetap percaya diri. Sering latihan akan membuat hasil yang sempurna bukan? Itulah yang sedang dilakukan wanita paruh baya itu saat ini.
Ya, di rumah ini hanya Ara yang bisa membuat cake wortel ala Ara yang tidak bisa ditiru oleh orang lain karena keaslian resepnya. Meskipun dengan takaran yang sama.
"Beda," ucap Dani tanpa sadar. Berulang kali pemuda itu mengunyah kemudian seperti tengah mencari perbedaan dengan pemilik resep aslinya. "Masih enak buatan Tante...." Pemuda itu menggantung ucapannya, ketika menyadari yang akan ia sebut adalah orang yang paling dibencinya. Karena di alam bawah sadarnya mengatakan, bahwa wanita itu adalah penyebab sang oma meninggal.
"Beda resep Tuan Muda." Bibi Yulia tersenyum sumbang. Dia mengatakan demikian agar perbincangan tentang Ara tidak muncul. Karena ia tahu jika pemuda itu tidak menyukai Ara.
"Bi, duduklah," titah Dani menarik kursi di sebelahnya untuk bibi Yulia. Meski pemuda itu mengatakan cake buatan bibi Yulia berbeda, namun ia tetap melahapnya.
"Ada apa, Tuan? Apa ada yang aneh dengan cake buatan saya?" jantung bibi Yulia sudah memompa cepat mendengar ucapan majikannya itu.
"Ini ... Bukan tentang cake, Bi." Dani menghabiskan cake yang masih ada didalam mulutnya, kemudian membersihkan bekasnya yang menempel dengan tisu. "Jika aku bertanya tentang sesuatu hal, apakah Bibi mau jujur padaku?"
Bibi Yulia mengerjap bingung. Wanita paruh baya itu nampak beberapa kali menghela napas panjang.
"Bertanya tentang apa, Tuan? Jangan membuat saya takut?" Tatapan tenang Dani menciutkan nyali kepala pelayan itu. Sang majikan sepertinya akan membahas hal yang sangat serius.
"Emm ... Bibi tahu kepergian Tante Ara?" Dani sebenarnya tak sejahat itu menyebut Ara dengan sebutan wanita itu dihadapan ayahnya. Dia hanya ingin menunjukkan kebenciannya yang dalam pada sang ayah.
"Ya."
"Kapan tepatnya?"
"Saat Tuan Besar berulang tahun." Bibi Yulia menunduk, ia sedih mengingat kembali hari yang seharusnya membahagiakan itu malah menjadi hari terburuk dalam hidup Adrian. Dan sepanjang tahun Adrian mengingatnya. Sama sekali tidak bisa melupakan momen pahit itu.
"Bibi tahu apa penyebabnya?" Wanita paruh baya itu menggeleng.
"Mereka tidak bertengkar sedikitpun. Bahkan hari itu, Nyonya memberi kejutan saat pagi dengan memasak istimewa. Lalu siangnya, Nyonya sengaja menyusul ke kantor memberi kejutan. Dan pada malam harinya, saya lihat Nyonya sibuk menghias kamar dan balkon. Bahkan saya tidak dibiarkan membantu."
"Saya tidak melihat jam berapa tepatnya Nyonya pergi. Tapi satpam mengatakan jika Nyonya beralasan menemui sahabatnya saat keluar rumah malam itu. Dan beliau hanya membawa tas kecil di pundaknya serta dua kantong kresek yang kemungkinan berisi beberapa pakaiannya."
Bibi Yulia berkaca -kaca menceritakannya. Ia juga begitu kehilangan sosok Ara di rumah ini selain Adrian. Karena Ara tidak jauh dengan Lina. Mereka membuat rumah ini ceria dan berwarna.
"Apa sebelumnya mereka bertengkar?" selidik Dani.
"Tidak, Tuan. Mereka baik-baik saja."
"Apa Tante mengatakan sesuatu yang mencurigakan, sebelum ia pergi begitu saja meninggalkan Daddy?"
"Seingat saya, saat kami bercanda di dapur ia sempat mengatakan titip Tuan Besar dan Tuan Muda. Tapi saya hanya menanggapinya main-main. Apa yang dititipkan jika berhubungan dengan saya, tentu setiap hari saya akan menjaga kalian sekalipun tidak diminta."
Deg!
Hati Dani seperti dicubit. Gunung es itu rupanya sedikit mencair. Bahkan disaat kepergiannya yang sama sekali tidak diketahui Dani apa penyebabnya, wanita yang ia panggil tante itu masih mengingat dirinya.
Tapi yang jelas, sekarang tidak ada alasan yang bisa ia buat untuk berlama-lama di Swiss, karena istri ayahnya itu sudah tidak ada dirumah ini. Bukankah begitu persyaratan yang diajukannya pada sang ayah.
Mau tidak mau, Dani harus meletakkan jabatannya sebagai pengelola beberapa coffe shop yang ia miliki dan hanya menjadi sorang investor saja. Karena apa yang ia miliki di negara kelahirannya ini menuntut perhatiannya secara penuh.
"Bagaimana keadaan Daddy setelah itu, Bi?"
"Menyedihkan, Tuan. Tuan Besar seperti raga tanpa nyawa. Setiap hari beliau hanya fokus mengurus perusahaan dan mencari keberadaan Nyonya meski sekalipun tidak ada titik terang. Bahkan beliau mulai tidak perduli dengan kesehatannya. Hingga akhirnya tumbang seperti kemarin. Saya tidak pernah melihat Tuan Besar serapuh itu dalam hidupnya."
"Tapi Daddy sudah baikan sekarang. Aku lihat dia sudah biasa saja dan bahkan dia bersenang-senang terus sejak aku pulang,"
"Mungkin karena kedatangan anda, Tuan. Saya hanya melihatnya seperti tameng yang kasat mata. Coba anda perhatikan lebih dalam lagi, anda pasti akan merasakan aura yang berbeda dari Tuan Besar, dulu dan sekarang," ucap bibi Yulia menghapus air matanya yang hampir menetes.
Dani merengkuh wanita yang hampir sebaya dengan omanya itu. Bahkan Dani menganggapnya begitu, karena dari dia belum lahir, bibi Yulia sudah mengabdi disini. Separuh hidupnya dihabiskan untuk mengurus keluarga ini.
"Bibi hanya meminta satu hal pada Tuan Muda. Tolong temukan Nyonya untuk Tuan Besar. Bibi tidak tega melihat beliau seperti itu." Dani hanya mengangguk pasrah. Namun tidak menjawab iya.
Bagaimana mungkin ia akan ikut mencari istri ayahnya itu, sedangkan kepergian wanita itu adalah salah satu alasannya kembali.
__ADS_1
❤️❤️ ya ampun sudah sekian ribu kata dan sudah akhir bulan saja.. cepatnya😌 terimakasih untuk segala dukungannya, baik ataupun buruk menilai karya ini saya tetap menghargainya. karena saya sadar saya tidak bisa membahagiakan semua orang termasuk anda. tapi saya sangat bahagia bisa menulis cerita yang mungkin bisa membuat Anda tersenyum kecil ketika mengingatnya😍
thank u so much 'n ini love u❤️