
Tibalah hari istimewa untuk Adrian. Hari yang sebenarnya ia tunggu. Bukan karena perayaannya, melainkan karena ia sudah rindu dengan panti asuhan, dan tentu saja rindu menginap di kamar milik istrinya itu
Khusus hari itu, Adrian mengambil cuti tiga hari. Mulai hari Kamis hingga Sabtu. Bahkan lelaki itu rela menyelesaikan beberapa pekerjaannya lebih cepat demi perasaan tenang saat berlibur disana.
"Besok Daddy jadi akan ke Bandung?"
"Hemm, kamu bisa kan Daddy tinggal? Daddy tidak keluar negeri, Boy. Jika kau memang sangat butuh kehadiran Daddy, kau bisa sewaktu-waktu menghubungi. Dekat bukan?" jawab Adrian yang nampak sangat bersemangat hari ini. Meski anak lelakinya itu lebih terlihat seperti tidak perduli.
"Berdua saja dengan Elang?"
"Siapa lagi." Adrian mengulas senyum manisnya.
"Lama sekali, padahal dua hari juga cukup," ketus Dani yang terlihat tidak rela.
"Refreshing, Boy. Daddy terlalu jenuh saat ini. Kau juga akan mengalaminya jika sudah seratus persen menggantikan Daddy nanti." Adrian menepuk lengan Dani yang berdiri di sampingnya. Bahkan pemuda itu tak juga beranjak padahal Adrian telah selesai mengemas pakaiannya ke dalam koper.
"Ponselnya harus on terus."
Adrian tersenyum menyeringai. Apa yang diungkapkan Dani seperti sebuah syarat yang harus ia penuhi.
"Ck! Kau benar-benar mirip seorang Bos yang akan ditinggal anak buah kesayangan saja. Jika kau tidak bisa menghubungi Daddy, kau kan bisa menghubungi Elang. Ponselnya selalu on 24 jam," jelas Adrian agar sang anak lega.
"Hemm...."
Akhirnya Dani beranjak dari kamar sang ayah. Membuat lelaki itu sedikit bernapas lega. Anaknya itu seharian ini benar-benar mirip seperti CCTV baginya. Mengetahui dirinya cuti selama tiga hari dan bukan dua hari seperti dugaannya, pemuda itu tidak terima. Padahal bukankah hanya selisih satu hari saja. Lalu dimana salahnya?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan sarapan, ya." ucap Bibi Yulia yang lebih terdengar memaksa daripada menawari majikannya itu.
"Iya, Bi. Aku masih ingat pesan dokter Kim kemarin," ucap Adrian pelan. Dia harus mulai terbiasa dengan cerewetnya bibi Yulia yang pasti akan lebih dari biasanya. Semua ini karena sakit yang dideritanya itu.
"Daddy langsung berangkat?"
"Setelah sarapan. Lebih pagi lebih baik bukan."
"Jangan lupa memberi kabar jika sudah sampai," ucap Dani sambil terus menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Meski ia nampak tidak perduli namun tentu ucapannya itu membuat Adrian bahagia.
"Sekarang ganti kau yang cerewet dengan Daddy?"
"Aku hanya membalas saja. Tidak enak kan menjadi orang yang selalu dikhawatirkan?" sarkas Dani.
"Siapa bilang? Daddy menyukainya, itu bentuk cinta yang tulus Boy," celetuk Adrian lirih. "Bi, kopinya."
"Iya, Tuan." Bibi Yulia nampak tergopoh membawa nampan. "Padahal saya berharap Tuan lupa. Ehh ... malah masih ingat." Bibi Yulia menipiskan bibirnya, memberikan senyum terpaksa.
"Daripada aku minum kopi diluar, bukankah masih lebih baik di rumah? Kebiasaan itu aku lakukan bertahun-tahun, Bi. Tidak mungkin langsung ditinggalkan begitu saja. Tambahkan krimer," titah Adrian.
Bibi Yulia menarik kedua sudut bibirnya keatas. Dua hari ini sang majikan sudah tidak meminun kopi hitam lagi, semoga terus bertahan seperti itu.
Setelah menyeruput kopinya, Adrian bersiap berangkat ke Bandung bersama Elang. Dani hanya tersenyum tipis melihat punggung sang ayah yang semakin lama semakin jauh hingga menghilang kedalam mobil.
*Bahkan hanya menginap dikamarnya saja D*addy sebahagia ini. Senyum indah itu tidak pernah aku lihat, bahkan sudah sekian tahun aku bersama Daddy disini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=
"Selamat datang Nak Adrian," ucap bu Fatimah yang di papah oleh bu Sri di sampingnya.
"Panggil Adrian saja, Bu. Berkali-kali saya sudah mengatakannya. Terima kasih sudah menyambut saya, padahal yang saya dengar ibu sakit?" Adrian bergerak lebih cepat untuk menghampiri wanita sepuh itu. Kemudian menjabat tangannya. Bu Fatimah nampak pucat dan tidak bertenaga.
"Biasa, sakit tua, Nak." Wanita sepuh itu terkekeh pelan. "Rasanya aneh memanggilmu nama. Ayo masuk! Untung kamar Ara sudah dibersihkan tadi pagi, ibu pikir kamu datang besok."
"Sekarang sudah ada pengganti disana, Bu. Anak lelaki saya sudah bisa dilepas sendiri, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya." Adrian mengikuti langkah kedua wanita pengurus panti asuhan itu ke dalam ruangan kepala.
"Semua baik-baik saja kan?" tanya bu Fatimah begitu mereka sudah duduk di sofa.
"Iya, Bu." Adrian tertunduk sejenak. Kemudian menatap kedua wanita di depannya ini.
"Syukurlah. Disini semuanya juga semakin baik berkat Nak Adrian. Sungguh saya sangat berterima kasih atas semuanya," ucap bu Fatimah tulus, diiringi anggukan bu Sri yang berkaca.
Kedua pengurus panti asuhan itu bukan terharu karena apa yang dilakukan Adrian untuk tempat ini. Namun keduanya merasa ikut sedih dengan nasib percintaan suami istri itu. Jika mereka mampu mereka ingin menyatukan keduanya. Namun sepertinya Ara benar-benar keras kepala.
__ADS_1
"Itu titipan Tuhan untuk panti asuhan ini, Bu. Saya hanya perantara saja," ucap Adrian.
"Maaf sedikit keluar dari pembahasan, Nak." Bu Fatimah sempat melirik bu Sri yang akhirnya mengangguk padanya. "Ibu boleh bertanya sesuatu?"
Adrian mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Sudah bertahun-tahun lamanya, Nak Adrian sendiri. Apa tidak ada niat untuk menikah lagi saja."
Mendengar ucapan ibu kepala panti, Adrian hanya menatap lurus wanita sepuh di depannya itu. Kemudian lelaki itu mengerjap dan membuang pandangannya keluar.
"Kami masih suami istri Bu, sampai sekarang. Dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun. Bagaimana saya bisa menikah dengan orang lain jika saya saja tidak bisa berpaling darinya." Kembali Adrian menundukkan wajahnya.
"Maafkan kami, Nak. Maafkan ucapan ibu. Maafkan juga ibu yang memandang rendah perasaanmu pada Ara." Mata bu Fatimah basah. Dia merasa sangat bersalah dengan pertanyaannya sendiri. Padahal wanita sepuh itu hanya ingin mengetahui seberapa besar cinta mereka berdua.
Dan kenyataan yang dia dapat malah di luar dugaan. Baik Ara maupun Adrian sama-sama teguh pendirian. Sudah sekian tahun mereka berpisah dan sama sekali tidak bertemu, namun hati mereka abadi satu sama lain.
"Tidak apa-apa, Bu." Adrian mendekat, meremas jemari wanita sepuh itu, yang sudah dianggap ibunya sendiri.
"Semoga kalian lekas bersatu. Dan bahagia selamanya," ucap bu Fatimah yang pipinya sudah basah oleh airmatanya sendiri.
"Terima kasih banyak doanya, Bu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa yang perlu saya siapkan, Tuan?"
"Tidak ada. Kita selesaikan saja ini tepat waktu. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya."
Dani terlihat seperti anak kecil yang merindukan sahabatnya.
Leo hanya berani mengulas senyum dibelakang Dani. Majikannya itu memang tidak bisa diduga jalan pikirannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aduh! Angkat Kak, angkat!" ucap Sinta yang mondar mandir di lorong salah satu gedung panti asuhan.
Ia sedang menghubungi Ara yang saat ini mungkin saja sedang dalam perjalanan menuju tempat ini. Wanita itu ingin menjenguk ibu kepala yang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan.
"Kakak sebaiknya kembali. Ada Tuan Adrian disini," bisik Sinta sambil matanya mengawasi sekitar.
"Hah? Mas Adrian? Bukankah seharusnya besok ia baru datang, ulang tahunnya saja masih besok."
"Dia sudah ada disini, Kak. Sekarang sedang berada di ruangan ibu kepala," ucap Sinta dengan was-was.
"Baiklah-baiklah, aku kembali."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kenapa Ma? Mama kok putar balik? Katanya mau menjenguk nenek?" Merra mengernyit bingung melihat sang ibu yang beberapa saat yang lalu menerima panggilan telepon kemudian malah memutar balik mobilnya.
"Kamu sudah bangun? Iya sayang maaf, tidak jadi ya. Lain kali saja mama lupa ada janji dengan seseorang yang mau membeli bunga," sahut Ara asal. Agar gadis kecilnya itu tidak banyak bertanya.
"Oh yang mau membeli bunga namanya mas Adrian ya ma,"
Ara meminggirkan mobilnya kemudian berhenti. "Sayang, tahu dari mana?"
"Merra mendengar sang mama berbicara di telepon."
"Ohh ... iya Sayang. Maaf mama tidak fokus," Ara sudah kaget setengah mati, Ia tidak menyadari jika gadis kecilnya itu rupanya sudah bangun dan mendengar obrolannya dengan Sinta.
\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=
Acara hari itu berjalan lancar. Acara yang diadakan Adrian pada hari ulang tahunnya. Merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang selalu ia adakan di tempat yang sama. Panti asuhan tempat sang istri dibesarkan.
Tidak ada acara tiup lilin. Hanya berkumpul dan makan-makan dengan anak panti, kemudian berdoa bersama memohon keselamatan bagi semua. Baik warga panti keluarga Adrian dan terkhusus untuk sang istri, Ara.
Apakah ada yang berbeda setiap tahunnya? Tahun-tahun sebelumnya Dani akan mengucapkan ulang tahun padanya paling awal. Begitu jarum jam berganti beberapa detik, anak lelakinya itu selalu datang, memeluknya, lalu membawa cake mini dengan satu lilin diatasnya dan mereka menghabiskan waktu bersama hingga pagi. Lalu tahun ini? Sampai siang menjelang, tidak ada tanda-tanda dari anak lelakinya itu. Bahkan ponsel Adrian sepi, tidak ada suara atau panggilan telepon yang masuk sama sekali.
Adrian berusaha untuk tidak sedih. Bagaimanapun anak adalah sebuah titipan. Nantinya ia akan menikah dengan orang lain dan mempunyai keluarganya sendiri. jadi tidak masalah jika melupakan hari ulang tahunnya yang menurutnya sendiri tidak terlalu penting. Karena setiap tahunnya sejak kepergian sang istri, ia hanya merayakan hari-hari istimewanya untuk mengobati rindu pada wanita yang ia cintai itu.
Setelah semua acara selesai, Adrian menuju kamar Ara. Meski hari masih siang, ia tidak ingin kemanapun dan malah menyuruh Elang untuk istirahat.
__ADS_1
Adrian berbaring di ranjang kecil di sudut kamar Ara. Ia selalu merindukan tempat ini, seperti ia merindukan istrinya. Tangannya kembali merogoh ponsel yang sama sekali tidak bergetar sejak semalam. Dan nihil. Dibuka berulang kalipun tidak ada pesan yang belum terbaca ataupun panggilan yang terlewat. Entah apa yang dilakukan anak lelakinya itu.
Apakah jika pemuda itu sibuk nanti selepas benar-benar menggantikannya, keadaan seperti ini harus sudah menjadi kebiasannya?
Adrian tersenyum kecut membayangkannya. Atau dia tinggal di Bandung saja di panti asuhan ini.Dan hanya sesekali ke Jakarta mengunjungi perusahaannya. Rasanya tingkahnya terlalu konyol. Pasti anak lelakinya itu orang pertama yang akan menolaknya.
Tok!
Tok!
"Iya, sebentar."
Adrian bangkit, mengusap sebentar matanya yang sempat berembun dan wajahnya yang sayu.
Bsegitu lelaki itu membuka pintu hanya nampak sebuah tangan membawa cake mini dengan lilin kecil diatasnya.
Adrian tersenyum melihatnya. Tentu ia sudah tahu siapa pemilik tangan itu. Tapi mana mungkin? Anak lelakinya itu tidak mungkin akan menginjakkan kakinya di panti asuhan ini. Bukankah ia membenci segala sesuatu tentang Ara?
Hati Adrian melemah dibuatnya. Sejenak ia bahagia, namun tentu ia tidak berani berharap lebih.
Lelaki itu keluar untuk memastikan siapa pemberi kejutan padanya. Begitu tubuh tegap itu terlihat, bibir Adrian melengkung membentuk senyum yang sempurna.
Tidak salah lagi, meski terlihat dari belakang, pemilik punggung kekar dan tubuh tegap dengan tinggi melebihi dirinya itu sudah pasti anak lelakinya, Dani.
"Daddy kira kamu...."
"Happy birthday, Dad. Dan jangan mengira-ngira!" ucap Dani yang langsung mengepalkan tangan melakukan tos dengan sang ayah. Kemudian pemuda itu merangkul Adrian.
"Apa Daddy harus tiup lilin? Padahal ucapan saja sudah cukup, Daddy merasa seperti anak kecil saja," kelakar Adrian.
Dani memberi kode sang ayah untuk tidak banyak berkomentar. Kemudian mengedikkan dagunya ke lilin yang menunggu untuk ditiup.
"Baiklah," ucap Adrian menurut.
Lilin padam, sebelum Adrian meniupnya. Rupanya Dani malah mendahuluinya. "Kamu ini!" Adrian merangkul anak lelakinya dan membawanya ke kursi taman yang ada di depan kamar Ara.
"Apa harapan Daddy?"
"Hemm? Bukankah itu rahasia? Yang jelas Daddy juga mendoakan kesehatanmu, keselamatanmu dan Daddy masih ingin sehat untuk menggendong cucu Daddy."
"Cucu apa? Menikah saja belum," kesal Dani.
"Jadi kapan?" todong Adrian.
"Entahlah. Masih lama mungkin," jawab Dani asal.
"Tidak semua wanita seperti mamamu, Boy," Bisik Adrian. Berilah kesempatan dirimu untuk merasakan cinta. Sepertinya gadis yang pernah datang ke kantor itu boleh juga."
"Hah pengganggu itu! Aku pastikan bukan dia wanita yang kucintai," sahut Dani semakin kesal, ia bahkan sudah melupakan gadis itu tapi sang ayah malah mengingatkannya.
Namun sejurus kemudian Dani malah heran. Mengapa Rheina tidak datang lagi mengganggunya? Apa gadis itu sudah bosan atau sudah lurus otaknya? Entahlah yang jelas Dani bersyukur untuk itu.
"Jangan berbicara seperti itu. Benci jadi cinta, Boy," ucap Adrian yang kembali tersenyum mengingat kisah cintanya dengan Ara.
"Daddy ada acara sore ini?" Dani mengalihkan pembahasan mereka.
"Tidak. Daddy tidak ingin ke mana-mana. Hanya ingin berada disana," tunjuk Adrian pada kamar yang ia tempati.
"Membosankan!" ucapnya mengejek sang ayah. "Sore nanti aku tunggu di depan, aku ingin mengenalkan seseorang pada Daddy,"
"Siapa? Calon kamu?" tebak Adrian.
"Rahasia. Istirahatlah." Dani meletakkan cake di tangan sang ayah. "Kita harus tepat waktu, jadi jangan ketiduran.
Karena Daddy pasti akan menyesal, jika terlambat," teriak Dani yang sudah berjalan menjauh meninggalkan Adrian.
"Kemana? Jangan main rahasia dengan Daddy,"
Dani hanya mengangkat jari telunjuk beserta jari tengahnya tanpa berniat berbalik ataupun sekedar memutar tubuhnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
💗makasih sayang.