
"Syukurlah. Kondisi Nyonya Lina membaik, Nyonya. Silahkan masuk, sepertinya beliau mencari Anda," ucap dokter pada Ara yang menunggu pemeriksaan diluar.
"Terimakasih, Dokter," tidak sabar rasanya memeluk ibu mertuanya itu. Ara segera melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang intensif tempat sang mertua dirawat.
Ruangan ini nampak terang benderang, berbeda dengan sebelumnya. Padahal ia memasuki ruang yang sama, tidak berpindah ataupun ditambah.
Wanita itu merasakan aura yang berbeda didalam sana. Rasanya lega dan bahagia. Mungkin efek dari bangunnya sang mertua yang sangat cepat dari komanya. Hingga langkah kakinya terasa ringan seperti melayang. Ara menyunggingkan senyumnya saat melihat sang mertua mengerjap membuka mata.
"Mommy..." pekik Ara sambil menyeret kakinya, kemudian menghambur memeluk sang mertua.
"Sayang," ucap Lina lirih. Tangannya membelai lembut surai hitam sang menantu yang dengan sayang memeluknya. Napasnya terdengar stabil dan wajah wanita paruh baya itu nampak bersinar, seperti tidak sedang sakit.
"Mommy mendengar semua ucapanmu tadi. Semoga ia lekas ada di rahimmu, ya sayang," ucap Lina, tangannya beralih mengusap perut datar sang menantu. Membuat Ara merinding, dan terharu.
"Iya, dengan doa Mommy, aku yakin ia akan segera ada. Makanya mommy harus semangat untuk lekas sembuh, ya. Bahagia sekali jika aku hamil nanti, ada Mommy yang mengantarku periksa ke dokter selain Mas Adrian. Ada Mommy juga yang pasti banyak melarangku ini dan itu dengan alasan untuk kesehatanku dan juga bayiku," celoteh Ara sambil membayangkan ketika ia hamil nanti, asti akan sangat membahagiakan. Ada ibu mertuanya yang menemaninya juga suami yang mencintainya.
Airmata Lina menetes, namun tidak menghilangkan senyum yang merekah di bibirnya. "Ara janji sama mommy, harus jadi wanita yang kuat, ya." Dan dijawab anggukan oleh menantunya itu.
"Janji juga sama mommy, dalam keadaan apapun jangan pernah meninggalkan Adrian, mommy tahu ia sangat mencintaimu," lanjut Lina meneruskan permintaannya.
"Tentu saja, Mom. Aku memcintainya. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Mengapa Mommy bicara seperti itu?" Ara mengernyit mendengar ucapan sang ibu mertua. Mengapa harus ada janji-janji padahal tidak ada yang ingin meninggalkan atau ditinggalkan.
"Sayangi Dani seperti anakmu sendiri, ya. Mommy yakin suatu saat nanti, ia juga akan mencintaimu seperti layaknya anak kepada ibunya. Ia hanya butuh waktu, Sayang,"
"Mommy... Tanpa Mommy minta pun aku akan melakukannya. Aku sayang kalian semua," ucap Ara sambil terkekeh. Sang mertua ini ada-ada saja, seperti mau pergi untuk waktu yang lama. Mengapa ada banyak permintaan, bahkan disuruh berjanji pula.
"Mommy tahu sayang, mommy tahu. Kalau begini, mommy tenang ketika harus pergi," Ucapan Lina membuat Ara tertegun. Pergi?
"Mommy mau pergi kemana? Mommy masih harus pemulihan. Aku akan menemani Mommy sampai sembuh. Aku janji," Ara menautkan jemarinya di depan Lina seperti anak kecil.
"Tidak perlu. Mommy sudah sembuh sayang. mommy sudah tidak sakit lagi,"
"Tentu saja, Dokter juga mengatakan seperti itu tadi. Tapi Mommy tetap harus disini untuk pemulihan. Tenang saja, aku akan menemani Mommy 7 hari 24 jam," Ara nampak bersemangat, berharap sang mertua tertular semangatnya untuk segera sembuh seperti sedia kala.
__ADS_1
Lina bangkit dari tidurnya kemudian duduk. Tangannya bergantian melepas satu persatu alat yang menempel ditubuhnya.
"Mommy! Jangan! Mommy mau apa?" apa yang dilakukan Lina membuat Ara panik, wanita itu berlari memutari bed Lina untuk memasang kembali alat-alat itu namun tentu saja sia-sia.
Pada akhirnya Ara hanya mematung menatap sang ibu mertua. Berpikir sejenak, ternyata Lina baik-baik saja tanpa alat bantu yang menempel ditubuhnya beberapa hari ini. Berarti ibu mertuanya itu benar-benar sudah sembuh.
Lina mengulurkan tangannya, mengkode sang menantu untuk memeluknya. Ara pun menurut saja, tanpa bisa berkata apa-apa.
"Mommy menyayangimu seperti anak kandung mommy sendiri. Kelak ceritakan pada anakmu, bahwa mommy sangat menantikan kehadirannya, mommy sangat menyayanginya meski ia tidak mengenal mommy. Dan meskipun takdir tak merestui keinginan mommy."
"Aku juga sayang mommy, aku.. " ucapan ara terhenti ketika Lina melerai pelukannya. Kemudian wanita paruh baya itu menuruni bed di arah yang berlawanan dari tempat Ara berdiri. Kemudian dari jendela yang berada tidak jauh didepan Lina muncul sinar putih yang sangat terang hingga menyilaukan mata. Membuat Ara menyipit hanya untuk bertahan melihatnya.
Tanpa berkata apapun, sang mertua yang membelakangi Ara berjalan menuju kesana. Dengan langkah yang begitu ringan dan tidak nampak bawah Lina sedang sakit saat ini. Ya, mungkin dia benar-benar sembuh seperti yang dikatakannya tadi.
Sempat ketika wanita paruh baya itu hampir sampai pada titik terang yang ia tuju, tubuhnya berbalik. Dari wajahnya tersungging senyum tulus dan bahagia yang selama ini selalu ia tunjukkan. Kemudian ia mengangguk, tanpa sadar Ara pun ikut mengangguk. Lalu ia memutar tubuhnya, kembali melanjutkan perjalanannya, hingga hilang ditelan sinar putih yang amat terang itu.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Ara yang tertegun masih menatap jendela yang sama tempat sang mertua menghilang.
"Mom, Mommy....... " teriak Ara begitu ia menyadari jika Lina pergi. Ara langsung berdiri berlari menuju jendela kemudian menendang-nendang dinding dibawahnya dengan keras. "Mommy kembali.. Jangan pergi.. Kembali, Mom!" tanpa sengaja tiang infus yang bagian atasnya penuh dengan botol infus yang menggantung jatuh menimpa kepala wanita itu.
Brukk!!
Dunia Ara gelap.
Tidak lama kemudian.
Samar.. Ara mencium aroma khas minyak kayu putih yang pekat di sekitar hidungnya. Perutnya yang hangat serta terdengar suara seseorang yang dikenalnya.
Mengerjap dengan kepala yang masih sakit, wanita itu benar-benar harus berjuang keras membuka matanya. Dicengkeramnya tangan seseorang yang berada dalam genggamannya.
Ketika matanya terbuka sempurna, wajah sang suamilah yang ada disana. Dengan senyum yang nampak dipaksakan, Adrian hadir dengan wajah kusut dan mata yang memerah.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" suara Adrian terdengar serak namun perhatiannya tidak pernah memudar. Ara mengangguk, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Telat ketika tatapannya jatuh pada jendela, ia memekik memanggil sang ibu mertua, "Mas, Mommy pergi kesana, aku melihatnya. Ayo kita kejar, Mas," ajak Ara dengan jemari yang masih menunjuk ke arah itu.
__ADS_1
"Sayang.."
"Ayo mas, keburu pergi,"
"Sayang.. " Adrian tercekat, kemudian lelaki itu langsung memeluk sang istri dengan erat. Menahan tangis hingga bahunya bergetar.
"Itu siapa, Mas?" tanya Ara ketika matanya melihat seseorang berselimutkan kain putih hingga kepala. Di tempat yang sebelumnya ditempati sang ibu mertua.
"Mommy sudah pergi sayang.
Meninggalkan kita," lelaki itu tertunduk lesu. Kesedihan terberat seorang anak adalah kehilangan orang tuanya. Apalagi seorang ibu. Dimana sebagian besar hidupnya tertumpu pada wanita paruh baya yang melahirkan, membesarkan dan menyayanginya tanpa jeda dan juga banyak syarat itu.
"Tidak! Tidak mungkin, ini pasti mimpi," Ara melonjak dari duduknya. Wanita itu menghampiri sosok yang terbujur kaku berselimutkan kain putih, yang dikatakan sang suami kalau itu adalah sang ibu mertua yang sudah meninggal.
Perlahan tangan dingin Ara bergerak percaya diri ingin membuka kain penutup itu. Namun, begitu kain yang menutupi tubuh kaku itu tersingkap sedikit dan nampaklah rambut dari wanita yang ia kenali, ia mengurungkan niatnya.
Tangisnya justru pecah, terisak dan tergugu. Dengan bahu yang bergetar, Ara masih mencoba menahan kesadarannya. Kedua tangan wanita itu akhirnya menumpu pada tepi bed, mencengkeramnya erat menopang berat tubuhnya.
Dengan dada yang semakin sesak ia nampak mengambil oksigen yang terasa semakin menipis. Apalagi mengingat tubuh siapa yang berada dihadapannya kini. Tidak bergerak sama sekali.
Adrian melangkah maju menghampiri sang istri. Dibukanya perlahan kain putih yang menutup wajah sang ibu. "Lihatlah Mommy sayang, bahkan senyumnya nampak bahagia meski dia meninggalkan kita yang bersedih dan tidak rela."
"Tidakk!" berlawanan dengan ucapannya, Ara malah menoleh meski air matanya tak berhenti mengalir membanjiri wajahnya. "Mommy.... " wanita itu ambruk memeluk tubuh kaku yang tidak akan pernah bisa ia peluk lagi selamanya.
Sang suami menatapnya nanar, lelaki itu hanya menggenggam sebelah tangan sang istri yang didekatnya. Berdiri mematung mentransfer kekuatannya, sesuatu hal yang sebenarnya ia butuhkan untuk dirinya sendiri.
Brakk!
Adrian dan Ara yang kaget langsung menoleh saat suara pintu dibuka, terdengar keras. Di depan pintu ada Dani yang masih memakai seragamnya, dengan mata merah dan air mata yang tak lagi ia perdulikan.
Hatinya dipenuhin kemarahan serta kesedihan yang amat dalam.
"Apa saja yang kau lakukan disini?! Menjaga omaku saja kau tidak bisa!"
__ADS_1