Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 126 Ternyata Cinta


__ADS_3

"Sayang. Mommy mau bubur ayam yang di ruko Citra Indah," ucap Lina ketika Ara baru saja masuk ke ruangan setelah mengantar sang suami yang pamit untuk berangkat ke kantor.


"Hemm.. Mommy tidak mau makan ini?" Ara mengangkat nampan yang berada di atas nakas di sebelah bed sang mertua. "Menu pagi ini juga bubur ayam, Mom. Dan sepertinya enak, Mommy mau mencobanya dulu?" Ara menggoda sang mertua dengan mengendus aroma kuah bubur ayam yang nampak lezat.


"Boleh,"


Segera ia sendokkan sedikit, kemudian ia suapkan pada wanita paruh baya yang tengah terbaring setengah duduk itu.


"Tidak enak,"


"Iyakah Mom?" Ara langsung menyendok lagi kemudian mencicipinya sendiri. "Tidak begitu ada rasanya," wanita itu menoleh pada sang mertua dengan wajah kecewa.


"Belikan saja ya,"


"Siapp Nyonya," Ara mbungkuk setelah meletakkan mangkoknya. Membuat sang mertua tersenyum geli, karena ia bagaikan ratu yang memberikan titah pada pelayan setianya.


"Ajak Ardi untuk menemanimu, Ra. Tempatnya jauh, mommy tidak tenang kalau kamu semdirian,"


"Tidak perlu, Mom. Biarkan Ardi menjaga Mommy sementara aku pergi. Lagipula aku terbiasa ke mana-mana sendirian, dulu. Mommy percaya padaku kan?" tanya Ara seakan meminta dukungan.


"Mommy percaya. Tapi itu kan dulu, dulu sekali. Pasti sebelum kau bertemu anak duda tampan mommy yang posesif itu kan?" mendapat ledekan dari sang mertua, Ara hanya tersenyum getir. Itu benar sekali, bahkan sebelum mereka dekat dan menjadi suami istri, lelaki itu sudah sangat posesif dan protektif.


"Iya, Mom. Apakah ia seperti itu kepada orang-orang terdekatnya?" tanya Ara penasaran.


"Menurutmu? Apa benar kau merasakan anak mommy itu posesif sejak kau mengenalnya?" Lina membalikkan pertanyaan pada sang menantu yang semakin bingung dengan maksud sang mertua.


"Sepertinya iya, Mom," Ara tengah mengingat kejadian pertama kali mereka bertemu. Ah bukan, yang benar adalah hari pertama ia bertemu Adrian yang merupakan otak dari penculikannya.


Bahu Ara seperti lemas saat ia menyadari setiap kejadian yang terlewat setelah aksi penculikan itu. Adrian memang posesif sedari awal. Dan itu berarti.....

__ADS_1


Astaga!


Ara membulatkan matanya, kemudian menatap sang mertua penuh tanya. Benarkah suaminya itu memiliki perasaan padanya sedari awal?


"Hemmm....," wanita paruh baya itu mengangguk, seakan membenarkan pikiran sang menantu. Lina seperti cenayang yang mampu membaca pikiran, bahkan sebelum Ara mengatakannya.


"Tapi kenapa dia galak sekali, Mom? Bahkan Mas Adrian pernah membuang nasi goreng yang ia belikan untukku dan berkata ketus padaku. Hanya karena aku mengatakan kalau aku sudah kenyang dan akan memakannya besok," ucap Ara mengingat kejadian saat mereka di apartemen dulu.


"Bagaimana kau bisa kenyang kalau kau belum makan nasi goreng itu?" tanya sang mertua menelisik.


"Emm.. Kalau tidak salah aku sudah makan diluar sebelumnya, bersama..." Ara nampak mencoba mengingat dengan siapa ia makan malam saat itu. Namun rupanya ingatannya buruk, hingga tak sedikitpun muncul, siapa gerangan yang mengajaknya makan malam hari itu. "Aku lupa, Mom.. tapi seingatku laki-laki," ucap Ara menjepit bibirnya yang terasa pahit.


"Itu karena cemburu sayang. Bukan karena kamu tidak makan. Jadilah yang kena getahnya si nasi goreng," ucap Lina yang menahan geli. Ternyata Adrian masih normal, dan wanita paruh baya itu semakin yakin akan cinta Adrian pada sang menantu. Bukan karena kepepet, atau pelampiasan akibat ditinggal menikah oleh Laura.


"Iya.. ya," mendadak pipi putih itu merona semerah tomat. Hingga Ara harus menyembunyikannya karena malu dengan sang mertua. "Mom, bukankah aku harus membeli bubur. Mengapa malah cerita kemana-mana," pekiknya kaget, karena hampir satu jam mereka bersendau gurau. Saling curhat dan menceritakan tentang suami tampannya itu.


Ahhh...Baru juga lelaki itu berangkat, banyak menyebut namanya hari ini membuat Ara rindu. Ingin memeluknya dan mendengar degup jantung lelaki yang selalu membuatnya gemas jika sedang ngambek itu.


"Mom, aku pergi ya. Biar aku naik taxi online saja," ucap Ara yang pamit pada Lina.


"Jangan! Pergilah dengan Ardi sayang, mommy akan khawatir kalau kau pergi sendirian," ucap Lina melarang keras.


Ara berpikir cepat. Banyak kejadian buruk akhir-akhir ini membuatnya waspada akan keselamatan dirinya sendiri serta orang-orang disekitarnya.


"Kalau begitu biar Ardi saja yang membelikan Mom. Aku akan disini menemani mommy," Ara menemukan ide yang menurutnya cemerlang.


"Tapi mommy ingin kamu yang membelikannya sayang. Lalu kamu juga yang menyuapi mommy.," Lina menatap Ara dengan wajah berbinar. "Mommy ingin memiliki anak perempuan dari dulu, namun mommy tidak bisa mendapatkannya. Bolehkah mommy bermanja-manja dengan menantu cantik mommy ini saat sedang sakit?" tatapan memohon dilayangkan Lina pada sang menantu.


Entah mengapa, Lina nampak ceria sekali hari ini. Namun Ara tak begitu memperhatikannya, baginya apapun akan ia lakukan agar ibu mertua yang sudah ia anggap ibu kandungnya itu cepat sembuh.

__ADS_1


"Sangat boleh Mom. Aku senang sekali Mommy nampak segar hari ini. Semoga besok atau nanti sore Dokter akan memperbolehkan Mommy pulang," ucap Ara dengan semangat.


"Sana lekas berangkat. Keburu siang, mommy sudah lapar," Lina mengelus perutnya, bersikap manja pada menantunya yang tersenyum geli melihat tingkah lakunya.


"Baiklah.. Tapi mommy benar-benar harus berjanji akan baik-baik saja. Dan lekas tekan tombol merah itu jika butuh sesuatu," ucap Ara memberitahu Lina, wanita itu sebenarnya tidak tega meninggalkan mertuanya sendirian.


"Iya, sayang," tangan Lina mendorong Ara untuk menjauh dari bed nya. Menantunya itu berjalan keluar sambil sebentar-sebentar menoleh ke belakang hingga akhirnya hilang di balik pintu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Lapor Bos. Rupanya Nyonya besar di rumah itu tengah dirawat di rumah sakit," ucap seorang laki-laki yang berjalan gontai sambil memegang ponsel yang menempel di telinga kanannya.


"............ "


"Kurang tahu Bos. Tetangga hanya mengatakan begitu, karena secara tidak sengaja melihat ada ambulance datang dan kemudian pergi dengan diikuti oleh mobil tuan rumah dibelakangnya." Lelaki yang masih saja berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon itu nampak celingukan. Ia takut terpergok sedang mengintai rumah keluarga Adrian.


"........ "


"Baik Bos. Seno sudah mengintai rumah sakit tujuan keluarga itu. Namun sepertinya belum Ada informasi lagi, karena ternyata Tuan Adrian memberi beberapa bodyguar. untuk berjaga diluar gedungnya,"


"......... "


"Siap Bos! Pasti akan saya laporkan jika ada perkembangan meskipun sedikit. Iya.. iya siap," l8jjejlaki itu nampak mengangguk meski sang iu8penelpon tidak melihat.?


Kemudian, baru saja lelaki itu hendak memasukkan ponselnya dalam saku. Benda kotak persegi itu bergetar kembali.


"Halo.Ada info apa?"


"......... ..."

__ADS_1


"VVIP 2B gedung baru. Bagus, akan segera ku laporkan sekarang juga. Tetap intai, jangan sampai membuat curiga mereka,"


__ADS_2