Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 246


__ADS_3

"Mama, Ma...."


Merra menggoyang lengan sang ibu yang memeluknya dari belakang. Ara pun mengerjap, masih berusaha mengumpulkan nyawanya hingga akhirnya mata bulat itu membuka sempurna.


"Kak Dani mana?" ucap gadis kecil itu lirih.


"Pulang, Sayang. Ini kan sudah malam." Ara melirik jam weker di atas nakas. Pukul 01.00 dini hari. "Hampir pagi malah." Mata Ara menyipit meyakinkan diri.


"Kak Dani pulang kok tidak pamit Merra, Ma." Gadis kecil itu terlihat kecewa.


"Pamit, kok. Cuma, Merra kan sudah tidur, jadi tidak tahu. Om Adrian juga kesini pamit dengan Merra sebelum pulang."


"Yahhh ... Kenapa mereka tidak menginap disini, Ma? Padahal Kak Dani sudah janji dengan Merra." Bibir gadis kecil itu mengerucut sempurna.


"Hemm? Janji? Kapan? Bukannya Merra hanya bertemu Kak Dani di sekolah? Itupun sudah lama." Ara terkejut mendengarnya, apa ia melewatkan sesuatu hingga ia tidak tahu pertemuan mereka diluar jam sekolah.


"Waktu Merra ikut Oma ke pasar tempo hari, tanpa sengaja bertemu Kak dani di jalan, Ma," ucap gadis polos itu sambil menguap. "Merra ngantuk, Ma."


"Ya sudah tidur lagi. Pagi masih lama," ucap Ara yang membelai puncak kepala Merra dan mendekapnya kembali.


Terjawab sudah. Pasti semua direncanakan dengan matang oleh anak sambungnya itu. Bahkan sampai Ara tidak menyadari apapun.


\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=


"Nak Adrian tidak nyaman berada disini?" tanya bu Sri hati-hati, setelah wanita paruh baya itu benar-benar mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengucapkannya.


Bu Sri mendapat mandat dari Kepala panti untuk menanyakannya pada Adrian, karena pagi ini mereka semua mendengar kabar jika Adrian akan kembali ke Jakarta. Lelaki itu membatalkan rencana menginap 3 hari menjadi satu hari secara mendadak. Tentu menjadi pertanyaan besar baik bagi bu Fatimah ataupun pengurus yang lain.


"Betah, Bu. Saya senang sekali berada disini. Namun ada urusan mendadak hingga saya harus cepat kembali ke Jakarta." Adrian beralasan.


Kemarin Ara sudah mengatakan semuanya. Tentang panti yang menyembunyikannya dari Adrian karena permintaan wanita yang ia cintai itu.


Adrian hanya tidak ingin membuat semua pengurus yang mengetahui tentang Ara merasa bersalah padanya. Karena bagaimanapun, semua atas permintaan Ara secara sadar.


"Oh, begitu. Kami kira, Nak Adrian mungkin ada yang dikeluhkan dengan kami, tapi tidak enak untuk menyampaikan." Bu Sri mengulas senyum lega.


Adrian adalah donatur terbesar panti asuhan ini, dan dia tidak pernah meminta hal yang aneh kecuali diizinkan menginap di kamar yang menjadi saksi bisu kehidupan Ara di tempat itu. Sungguh permintaan yang ringan dan sama sekali tidak membuat repot mereka.


"Tidak, Bu. Sampaikan salam saya untuk bu Fatimah ya, semoga beliau lekas sembuh. Saya pamit sekarang,"


"Silahkan, Nak," ucap bu Sri memgantar Adrian hingga ke halaman depan panti asuhan.


Adrian menuju mobilnya dimana sudah ada Elang menunggu disana.


"Kita langsung pulang, Tuan?" tanya Elang yang sudah siap di jok kemudinya.


"Ke rumah Ara lebih dulu."


"Ya, Tuan?" Elang sampai menoleh. Ia memastikan sekali lagi, jika ia tidak salah dengar. Apakah majikannya itu sedang melamun atau..


"Kita ke rumah Ara, di perumahan Magnolia," ucap Adrian memperjelas.


Perumahan Magnolia? Dia tentu masih ingat saat beberapa tahun yang lalu sebelum ia benar-benar menarik anak buahnya untuk kembali ke Jakarta, dia mendatangi perumahan itu dan bertemu dengan sang nyonya. Apa majikannya ini sudah menemukannya? Dan apakah sang nyonya juga menceritakan pertemuan mereka?


Kalau melihat sang majikan sekarang, sepertinya belum ada cerita pertemuannya enam tahun yang lalu.


"Kau tidak tahu alamatnya, Lang?" tanya Adrian saat melihat Elang diam tanpa menyalakan mobilnya sama sekali.


"Siap, Tuan. Maaf." Elang buru-buru menyalakan mobilnya meninggalkan panti asuhan.


\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=


"Daddy sudah sampai, kamu dimana?" Adrian nampak mendekatkan ponselnya ke telinga kirinya.


"Aku kesiangan, Dad. Sebentar aku mandi dulu," jawab Dani dari seberang.


"Ok!"

__ADS_1


Adrian mengakhiri panggilannya. Mereka janjian untuk datang kembali ke rumah Ara pagi itu, namun ternyata Dani kesiangan. Padahal ini sudah jam 8.


Belum masuk ke halaman rumah istrinya saja, lelaki itu tersenyum sendiri mengingat semua rentetan kejadian kemarin.


Sungguh, ia tidak menyangka jika Dani akhirnya menyadari semua kesalahpahaman ini. Dan bonusnya, anak laki-lakinya itu bahkan menyayangi adiknya yang berbeda ibu dari awal bertemu.


Adrian memutuskan untuk masuk, setelah kesekian kali ia panggil istrinya namun tidak juga keluar. Lagipula pintu depan dibiarkan terbuka.


Saat sudah sampai didalam, Adrian mencium aroma masakan yang mengundang rasa laparnya. Padahal tadi di panti asuhan ia masih sempat menikmati sarapan pagi buatan bu Sri.


Namun masakan istrinya itu memang tidak pernah gagal menggodanya.


Lelaki itu mencari arah letak dapur berdasarkan instingnya. Di ruangan yang tidak begitu luas itu, ia menemukan Ara sedang memasak dengan serius, hingga tidak menyadari kedatangannya.


Adrian bergegas mendekat, kemudian memeluk wanita itu dari belakang. Ara terjingkat kaget dan langsung menoleh, namun kemudian ia pasrah setelah melihat bahwa yang melakukannya adalah sang suami.


"Dimana Merra, Sayang?"


"Yang dicari Merra, namun Mas malah memelukku. Tentu saja dia sekolah setelah melewati banyak drama pagi ini," jawab Ara yang masih berfokus pada panci di depannya meski tangan Adrian memeluk posesif pinggangnya dan menciumi bahunya.


"Drama apa, Sayang?"


"Merra menangis mencari kakaknya. Katanya Dani janji akan menginap disini kemarin. Ia sampai berniat tidak masuk sekolah karena menunggu Dani datang,"


"Ya, ampun. Nanti kita jemput dia bersama di sekolah." Ara mengangguk setuju. "Kau hanya tinggal berdua dengan gadis kecil kita?"


"Tentu saja tidak, Mas. Semua ini ulah anak lelakimu itu. Pandai sekali dia bernego dengan sesepuh yang tinggal disini," ucap Ara sambil mencicipi masakannya. Kemudian wanita itu memberikan sedikit pada Adrian. "Coba, Mas."


"Enak. Selalu enak." Lidah Adrian terdengar mengecap beberapa kali. "Maksudmu sesepuh siapa, Sayang?"


"Ada Mami Esther dan sepasang suami istri lain yang juga tinggal disini. Tapi mendadak mereka semua pamit keluar kota pagi-pagi kemarin, dan aku tidak mencurigainya sama sekali. Karena alasan yang diberikan masuk akal, Mas, " ucap Ara dengan wajah merajuk.


"Anak itu mewarisi bakatku. Berarti aku harus memberi hadiah pada Dani," ucap Adrian yang tersenyum bangga.


"Tidak perlu, Mas. Dia sudah membawa bunga tulipku yang masih kuncup semalam. Padahal aku mendapatkan umbinya dengan susah payah," keluh Ara. Bukannya ia tidak rela, namun perjuangannya mengamati pertumbuhan bunga itu belum selesai.


"Jangan dibalik! Yang benar milik suami itu milik istri dan tidak berlaku sebaliknya," Ara mencebik kesal.


"Itu kan yang orang-orang katakan. Tapi tidak berlaku untuk kita berdua, Sayang. Milikku adalah milikmu dan berlaku pula sebaliknya," ucap Adrian lirih. Lelaki itu sama sekali tidak melepaskan dekapannya.


"Menanamnya yang susah, Mas. Dari lima belas umbi yang aku tanam, hanya dua itu yang berhasil, lainnya nihil."


"Baiklah aku belikan tulip yang sudah tumbuh bersama pot nya saja. Ok?" ucap Adrian yang memutar tubuh Ara menjadi menghadap padanya karena wanita itu terlihat sudah menyelesaikan masakannya.


"Sekalian tamannya. Juga pekerjanya. Juga bunga-bunga yang lain dan ... Jangan genit! Bagaimana kalau Dani tiba-tiba masuk?" Ara mendorong tubuh Adrian saat lelaki itu hampir mencuri kecupan darinya.


"Tidak mungkin. Dia masih mandi dan selalu lama. Hari ini dia bangun kesiangan. Aku lapar, Sayang," bisik Adrian manja.


"Lapar? Mas tidak bercanda?"


"Aku benar-benar lapar mencium masakanmu." Adrian mengiba sambil mengusap perut ratanya.


"Baiklah. Duduk dulu, biar aku siapkan," ucap Ara melerai pelukan.


"Mami Esther pulang kapan? Lalu pasangan suami istri yang kamu ceritakan itu?" tanya Adrian di sela-sela menunggu sang istri menyiapkan sarapan keduanya.


"Mami mengatakan hanya 2-3 hari di Jakarta. Kalau pak Santo tidak memberi tahu kapan kembalinya. Tapi beliau mengatakan tidak akan lama, hanya menjenguk adiknya saja."


"Aku ... Bolehkah aku menginap disini malam ini, Sayang? Masih satu hari lagi kan, mami Esther pulang. Apa kau tak takut sendirian di rumah?" pinta Adrian dengan wajah memelas. Sungguh ia rindu istrinya itu, ia ingin mendengar cerita sebelum tidur seperti dahulu.


"Apa yang harus aku katakan pada Merra, jika dia bertanya?" Ara terlihat bingung.


"Kau belum mengatakan yang sebenarnya, Sayang?"


"Aku bingung memulainya dari mana." Wanita itu menggeleng, ia memang belum bisa menceritakan pada gadis kecilnya itu karena masih bingung merangkai peristiwa yang terjadi pada kehidupan mereka.


Adrian menarik napas panjang. "Ceritakan saja daddynya sudah pulang dan Dani adalah kakaknya beda ibu. Kau yang lebih tahu bagaimana menjelaskannya dengan bahasa anak-anak, Sayang. Pada intinya, kasih sayang Dani padanya tidak akan berbeda dengan yang lain. Dan kasih sayangku pun sama rata, baik pada Merra ataupun Dani."

__ADS_1


"Kalau begitu Mas dan Dani pulang ke Jakarta saja hari ini. Pekerjaan disana pasti sudah menunggu. Dan kalian semua ada disini. Kalau ada waktu libur, berkunjunglah. Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku begitu saja."


"Apa kau tidak ingin bersama dengan kami, Sayang?"


"Bukan begitu, Mas." Ara panik melihat raut wajah Adrian yang berubah. Bahkan suaminya itu meletakkan sendoknya dan tidak melanjutkan makannya.


Ara bergegas mendekat dan memeluk dipinggang Adrian dengan erat. "Maafkan aku. Aku hanya bingung jika harus meninggalkan para sesepuh itu. Aku ... Aku merindukan Mas, lebih dari yang Mas tahu. Apalagi saat mengandung Merra, rasanya aku tidak kuat dan hampir menyerah. Hoodie hitam itu saksinya. Tapi bagaimana nasib mereka?" Mata Ara basah, ia memejam sambil menghidu parfum Adrian yang sudah lama tidak nikmati setiap harinya.


"Jadi ... kalian pindah ke Jakarta. Biar nasib mereka berdua aku yang pikirkan." Adrian menarik tangan istrinya, kemudian membawa tubuhnya keatas pangkuannya.


"Mami?"


"Tentu saja dia ikut kita, Sayang. Bukankah dia ibumu? Atau kau mau meninggalkannya disini?" Ara menggeleng.


"Tapi ... hutang piutang itu, Mami masih sering memikirkannya, Mas. Hartanya yang terakhir hanya tinggal tanah yang dijualnya saat ini. Biar itu saja untuk menutup hutang itu, nanti aku yang_"


Adrian membungkam bibir istrinya dengan ciuman. "Kau masih saja cerewet! Apa aku pernah menanyakannya?"


"Tidak."


"Itu berarti aku tidak membutuhkannya. Hutang piutang dan jaminan berupa dirimu yang diajukan Damar padaku adalah jalan Tuhan untuk mempertemukan kita. Apa kau belum paham?"


"Jadi ... tidak ada_"


"No! Tidak ada hutang antara suami dan istri. Hanya ... Izinkan aku menginap disini, malam ini saja." Wajah memelas kembali ditunjukkan lelaki itu, demi diperbolehkan menginap.


Sungguh, Adrian merasa seperti sedang menjalin kasih secara sembunyi- sembunyi dengan istrinya itu.


"Iya. Biarkan Daddy menginap disini meski hanya satu hari, Tante. Aku bisa mengatasi urusan di jakarta sendiri," sahut Dani yang datang tiba-tiba dan duduk di samping ayahnya.


Ara melonjak kaget, hingga ia langsung berdiri dan mengulas senyumnya dengan canggung. Sedangkan Adrian, lelaki itu malah tersenyum puas saat anak lelakinya itu memberi dukungan padanya.


"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu saat masuk, Dan?" Ara mendelik, ia malu bermesraan di depan anak sambungnya yang sudah dewasa itu.


"Pintu depan tidak ditutup,Tan. Kenapa aku harus mengetuk? Lagipula aku sudah dewasa," jawab Dani yang memang tidak mempermasalahkan adegan yang ia lihat baru saja. Apalagi mereka berdua suami istri dan juga orang terdekatnya. Menurutnya itu masih wajar.


"Sarapannya boleh, Tan." Mata Dani berbinar melihat sup Ayam di mangkuk sang ayah. Sepertinya enak, apalagi dimakan bersama kentang panggang yang aromanya saja membuat air liurnya hampir menetes.


"Duduklah dengan baik, kusiapkan." Ara mengambil mangkuk dan menyendokkan sup Ayam kedalamnya. "Makanlah yang banyak, kau kurus sekali," sindir Ara yang menggeser piring berisi kentang panggang.


"Badanku bagus seperti Daddy. Bahkan Merra saja mengatakan aku tampan. Kalau dibanding yang dulu tentu beda jauh, Tan."


"Iya, kau memang setampan Daddymu. Tante akui itu." Dani tersenyum bangga mendengarnya. "Kalau begitu, kalian berdua menginap disini saja. Besok baru pulang," usul Ara.


"Besok Tante harus ikut ke Jakarta, ya." Pemuda itu bukan sedang meminta atau menawarkan tapi memaksa.


"Em... "


"Besok Oma Esther sudah pulang kesini. Juga Kakek dan Nenek itu. Jadi Tante bisa menitipkan rumah dan toko pada mereka. Nanti kedepannya biar mereka yang memegang toko bunga ini, dengan pengawasan dari anak buahku."


"Setuju!" ucap Adrian tiba-tiba.


"Bagaimana kau tahu? Ah ... tante hampir lupa kalau semua ini pasti ulahmu." Ara memicing menatap anak sambungnya itu.


"Harus ada pengorbanan untuk setiap kejutan bukan, Tan? Tapi mereka bukan kukorbankan, hanya kumintai bantuan saja. Aku sudah menghargai jasa mereka. Tante tenang saja." Dani kembali lahap dengan makanannya. "Enak sekali. Aku bisa gendut kalau tiap hari makan masakan tante."


"Dad, aku pulang sekarang. Jaga Tante dan adikku yang cantik itu baik-baik. Dan aku tunggu kedatangan kalian besok di rumah," ucap Dani yang buru-buru pergi setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Hei, kau bilang akan menginap kenapa pulang lebih dulu?" cegah Ara yang kaget saat pemuda itu tiba-tiba berdiri dan pamit.


"Aku tidak mengiyakan, Tan. Ada urusan yang tidak bisa kuwakilkan disana. Sampaikan salamku untuk adikku." Setelah tos dengan sang ayah, Dani melambaikan tangannya pada ibu sambungnya itu kemudian pergi.


Ara tertipu, dia menatap sengit Adrian yang tersenyum menggoda padanya.


\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=


💗Hai pembaca setia, gerakan jemarimu entah apapun itu sebagai reaksi akan cerita ini sungguh membuat aku tersenyum sendiri😅 Terima kasih segala perhatian yang kalian berikan ya love u😘

__ADS_1


__ADS_2