
"Kita ngapain ke sini." tanya Ara saat melihat mobil Erlan menepi di sebuah danau kecil di tepi kota.
"Ikut aku." ujar Erlan.
Ara hanya diam sambil mengikuti kemana Erlan berjalan tanpa banyak bertanya lagi.
"Sekarang kamu teriak sekenceng mungkin luapin semua unek-unek di hati kamu di danau ini. Nggak baik tau mendam rasa itu sendiri ntar kamu sakit." ujar Erlan perhatian pada Ara.
"Aku takut nanti ada yang denger siapa aku sebenarnya gimana." ujar Ara yang ragu untuk berteriak takut nanti ada orang lain yang mendengar teriakannya.
"Kamu tenang aja nggak ada orang lain lagi selain kita berdua di sini, sekarang kami teriak aja nggak usah takut ada aku di sini." ujar Erlan.
"Aaaaaaaaaa Daddy kenapa jahat sama aku kenapa Daddy selalu mentingin kebahagiaan Kak Nita dari pada aku. Aku juga anak Daddy sama kayak Kak Nita aaaaaaaa." teriak Ara yang meluapkan semua kesedihannya dengan cara berteriak sesuai perintah Erlan.
"Udah." ujar Erlan.
"Lumayan." jawab Ara dengan senyum tipis yang menghiasi bibir nya.
*Cantik.* batin Erlan yang terpana dengan senyuman Ara walaupun hanya tipis sekali.
"Sekarang kamu nggak sendiri lagi ada aku di sini dan kapan pun kamu butuh aku aku siap kok jadi teman tempat kamu curhat." ujar Erlan yang entah mengapa merasa nyaman saat bersama Ara.
"Terimakasih karna sudah mau menjadi temanku." ujar Ara yang bersyukur masih ada orang yang mau berteman dengannya.
"Sekarang apa aku boleh tau kenapa orang tua kamu tidak pernah menganggap kamu anak mereka dan bahkan marga keluarga kamu tidak mereka sematkan di nama kamu." ujar Erlan yang masih heran kenapa di nama Ara tidak ada marga keluarga Grahaja.
"Tapi setelah kamu mendengar cerita aku apa kamu akan menjauhi ku juga sama seperti teman-teman ku yang lain." ujar Ara.
"Tidak." jawab Erlan cepat.
"Serius." ujar Ara.
__ADS_1
"Iya." ucap Erlan.
"Dulu saat aku masih kecil sekitar umurku masih 6 tahun, Mommy sama Daddy sangat menyayangiku hingga akhir aku di vonis terkena kanker stadium 3 oleh Dokter. Awal nya mereka mau membiayai semua pengobatan ku hingga sembuh seperti sedia kala, tapi semua itu tidak pernah terjadi hingga akhirnya aku harus di rawat oleh Kakek dan Nenek ku dengan pengobatan tradisional dan bahkan mereka rela meminjam uang hanya untuk pengobatan ku yang tidak sedikit." ujar Ara menjeda ucapannya ada rasa sesak di dada nya saat mengingat kenangan nya bersama Kakek dan Nenek nya dulu yang harus berjuang untuk kesembuhan cucunya.
"Hingga akhirnya 3 tahun kemudian aku dinyatakan sembuh total dari penyakit mematikan itu. Tapi di saat kesembuhan ku tidak lagi melihat Kakek dan Nenek mereka pergi meninggalkanku saat aku ingin memberi kabar bahagia kalau aku sudah sembuh, namun belum sempat aku memberi tahu mereka, Kakek dan Nenek ku sudah meninggalkan aku untuk selamanya. Rasa yang awal bahagia menjadi hari kesedihan yang teramat bagiku di tinggal pergi oleh orang yang selama ini menjagaku." ujar Ara yang tak sudah tak kuasa menahan tangisnya mengingat perjuangan Kakek dan Nenek nya dulu.
"Sedangkan Daddy tidak pernah lagi datang untuk menemui ku, tapi setelah tau Kakek dan Nenek meninggal Daddy dan Mommy menyalahkan aku atas kematian mereka. Mereka bilang kalau aku ini anak pembawa sial di hadapan tetangga Kakek dan Nenek ku, setelah kejadian itu semua orang menjauhi ku karna mereka tidak mau aku membawa sial untuk mereka semua." ujar Ara.
"Daddy memang membawaku bersama untuk tinggal di mansion, tapi mereka sama sekali tak menganggap aku ada mereka seperti menganggap aku pembantu yang tak perlu di beri upah atas pekerjaannya. Setiap hari mereka selalu menyiksa ku tidak pernah membiarkan aku istirahat walau hanya sebentar. Mereka semua selalu mempekerjakan aku seharian penuh untuk kepuasan perut mereka tanpa memikirkan aku sudah makan atau belum. Ingin rasanya aku menyerah dari kehidupan jahat ini, rasa lelah atas perlakuan mereka pada ku membuat aku merasa tidak ada gunanya lagi untuk aku tetap hidup di dunia ini." ujar Ara sedangkan Erlan yang mendengar curhatan Ara merasa geram dengan perlakuan Andi pada putri kandung nya sendiri.
"Apa kamu akan tetap pulang ke rumah orang tua kamu." ujar Erlan.
"Tidak " jawab Ara cepat.
"Terus kamu mau kemana setelah ini." tanya Erlan.
"Entah lah yang penting aku tidak mau lagi pergi ke sana, itu sama saja aku menyerahkan diri ku pada orang yang tak punya hati seperti mereka." ujar Ara yang sudah membulatkan tekad nya untuk tidak kembali lagi ke rumah orang tuanya.
"Boleh saja asalkan kau berjanji padaku kalau kau tidak akan pernah menyuruhku untuk menginjakkan kaki ku lagi di rumah terkutuk itu." ujar Ara.
"Percaya saja padaku aku akan menjaga kamu dari mereka." ujar Erlan dengan tegas dan tak ragu-ragu sedikit pun mengatakan itu semua.
Akhirnya Erlan membawa Ara pergi bersamanya ke tempat dimana Erlan menetap sekarang yaitu di Amerika.
"Kau yakin mau ikut bersamaku." tanya Erlan sekali lagi.
"Aku yakin buat aku tetap bertahan di sini sedangkan keluarga ku saja tidak pernah menganggap ku ada." ujar Ara.
"Kau dan aku akan keluar dari kota ini dan itu tidak tidak Ara, aku takut nanti kau menyesal ikut dengan ku." ujar Erlan.
"Tidak ada kata menyesal dalam kamus hidupku Erlan tolong bawa aku bersama mu kemana pun kamu pergi tolong bawa aku." ujar Ara.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu yang kau mau kau boleh ikut bersamaku tapi sebelum kita kita harus ke Jakarta dulu untuk bertemu sahabatku untuk memberi tau kalau kau mau ikut bersama ku dan kalau kau bersedia kau bisa jadi sekretaris pribadi ku nanti." ujar Erlan yang berniat memberi tau Kenzo sekalian untuk meminta perlindungan darinya karna sekarang Erlan sedang membawa lari anak orang.
"Baik." jawab Ara cepat.
Akhirnya Ara dan Erlan akan berangkat ke Jakarta besok siang untuk menemui Kenzo.
°°°°°°°°°°°°°°°°°
"Sayang." ujar Kenzo saat melihat istri dan adiknya berjalan ke arahnya.
"Mas." panggil Lana.
"Papa." tulis Lexa.
"Gimana sekolah kamu sayang." ujar Kenzo yang selalu menanyakan bagaimana Lexa di sekolah setiap Lexa pulang.
"Sangat menyenangkan Pah." tulis Lexa.
"Sayang apa kamu tidak capek terus menulis seperti itu untuk berkomunikasi dengan orang lain, Papa ingin lihat kamu bicara kayak dulu lagi sayang Papa rindu denger suara kamu sayang." ujar Kenzo yang sudah tak bisa menahan kesedihan nya saat melihat adiknya harus menulis dulu untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain.
"Lexa sudah berusaha Bang tapi sampai sekarang itu semua belum bisa terwujud maaf kan Lexa Bang." tulis Alexa yang sudah mengubah nama panggilan kalau sudah merasa sedih pada Kenzo.
"Ya udah nggak apa-apa, sekarang Lexa tau nggak kalau Mama sedang hamil." ujar Kenzo yang kembali menghibur Lexa supaya tidak sedih lagi.
"Sudah Pah dan sebentar lagi Lexa bakalan jadi Kakak." tulis Lexa yang kembali gembira mengingat sebentar lagi dia akan menjadi Kakak.
"Sekarang tugas Lexa akan bertambah kalau adik yang dalam perut Mama lahir Lexa harus menjaganya ya." ujar Kenzo
"Baik Pah." tulis Lexa.
Lana hanya memperhatikan interaksi Kenzo dan Lexa yang sangat senang saat mengetahui kalau kini dirinya tengah mengandung calon buah hatinya dengan Kenzo.
__ADS_1
*Nak kamu sehat-sehat ya dalam perut Mama, kamu liat Nak saat kamu belum lahir saja Papa sama Kak Lexa sudah bahagia apalagi setelah kamu lahir nanti Nak. Kita akan jadi keluarga yang bahagia sayang, kamu harus kuat supaya kamu bisa berkumpul sama Mama, Papa dan Kak Lexa ya sayang.* batin Lana sambil mengusap pelan perutnya yang masih rata itu.