
"Aaaaaaaa ... Ayah ... Ampun Ayah, aku bukan pencuri. Aku hanya mau main, jangan pukul aku." Membungkukkan badannya, kemudian berjalan bagaikan tentara yang sedang melindungi dirinya dari musuh, dilakukan Elang sekarang.
"Ampun ... Ampun ... Jangan sakiti aku," teriaknya lantang. Membuat lelaki yang tadi meneriakinya tiba-tiba menghentikan langkahnya, mengernyitkan dahi, kemudian menepuk pelan keningnya sendiri.
"Astaga! Wajahnya tidak kentara jika dia ODGJ," pekik lelaki itu. Beberapa orang disekitarnya yang tadinya ikut meneriaki, sekarang juga tengah menghentikan langkah mereka.
Kemudian satu-persatu dari mereka pergi begitu saja, setelah merasa sia-sia memergoki tingkah Elang yang mencurigakan, yang mereka pikir adalah pencuri atau orang yang menyusup ternyata adalah seorang ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa).
Setelah merasa cukup aman karena mereka semua yang tadinya berkerumun telah meninggalkan tempat itu, Elang memegang dadanya yang berdetak kencang seperti jatuh cinta, tapi ini bukan. Tentu saja jantungnya mau copot saat ia hampir ketahuan masuk ke dalam sebuah ruangan rekam medis yang nampak sepi tadi.
"Untung saja otakku encer tadi." Masih terengah lelaki itu, menggumam sendiri. "Tidak salah Tuan menyuruhku mengenakan jenggot palsu ini guna menyempurnakan penyamaranku," lanjutnya.
Ruang rekam medis yang saat itu sepi, memuluskan niat Elang yang ingin memeriksa data tentang Laila. Entah kemana perginya di jam yang masih tergolong pagi ini, yang seharusnya menjadi jam sibuk, namun malah tidak seorangpun berada disana.
Berbeda dengan dokter Kim yang mulus dalam penyamarannya. Elang masih terus berkoordinasi dengan Zen. Anak buahnya yang mengerti tentang program dan jaringan internet komputer itu mendapat tugas memutuskan sejenak CCTV yang menyorot langsung ke beberapa tempat dimana Elang ada disana.
Tentu mereka harus bermain rapi, karena mereka akan membawa segala bukti yang mereka dapatkan hari ini pada pihak kepolisian, sekecil apapun itu.
Dengan mengendap-endap, Elang yang sebelumnya telah menghubungi Zen untuk meyakinkan dirinya itu, masuk ke dalam ruangan paling besar di lantai bawah itu.
Dari depan hanya terlihat beberapa komputer yang menyala. Elang segera mengambil duduk di paling ujung dekat pintu. Kemudian lelaki. itu mengetikkan beberapa huruf membentuk satu nama. Dimana sudah ketiga kalinya ini ia ketikkan nama itu, namun selalu keluar kotak pemberitahuan bertuliskan tidak ditemukan.
"Sudah kuduga. Nyonya Laila itu amatiran, tapi masih berani menantang si Bos," gumam Elang lirih. Ia yakin bahwa Laila bukanlah pasien disana. Semuanya dimanipulasi.
Saat hendak pergi, lelaki itu kaget mendengar suara sepatu yang semakin lama semakin mendekat. Elang salah tingkah, dan terpaksa ia memainkan sandiwaranya kembali.
__ADS_1
"Eh kamu siapa? Beraninya masuk ruangan ini tanpa izin," teriak seorang wanita yang mengenakan seragam dan memakai name tag Rumah Sakit Victoria.
Tak ... Trak tak ... Tak tak ... Tangan Elang dengan lincah dan serampangan menekan keyboard komputer didepannya. Sambil mendendangkan lirih entah lagu apa yang ia hapal di luar kepalanya. Kemudian, ia pura-pura kaget saat karyawan wanita itu sudah dekat sekali dengannya.
"Ibu ... Ibu ... Jangan marah ya? Aku hanya ingin bermain." Sontak Elang langsung memeluk pinggang wanita paruh baya itu, merengek dan menangis seperti anak yang takut kepada ibunya. Membuat karyawan wanita itu risih kemudian berusaha melepas pelukan Elang yang nampaknya sangat erat.
"Ihh ... Kamu siapa orang gila? Bagaimana bisa masuk kesini. Tolong ... Tolong ... Ada orang gila disini," teriak wanita itu. Namun tidak ada yang mendengar, karena rumah sakit yang lengang. Lagipula kamera CCTV yang ada di beberapa bagian di rumah sakit ini diputuskan sepihak sambungannya ke monitor yang ada diruangan satpam. Menghubungi nomor satpam berkali-kali pun dilakukan wanita itu namun tidak tersambung. Entah kemana mereka semua.
Ditempat lain, dokter Kim tengah berbincang dengan satpam yang kebetulan ia panggil saat hendak turun. Ia tahu benar jika Elang sedang beraksi sekarang. Jadi sebisa mungkin, dokter Kim menjegal salah satu diantaranya saat berada di lantai atas. Sedangkan satpam di bawah, menjadi urusan Adrian.
Sementara di lantai bawah, Zen yang memegang kendali atas CCTV tetap ikut turun Adrian untuk memutus pula jaringan telepon sementara. Adrian sudah memikirkan segala resiko kemungkinan jika Elang ketahuan, jadi mereka benar-benar sudah siap.
"Pak, ini rumah sakit baru ya?" tanya Adrian berbasa-basi, supaya satpam yang tengah duduk di ruangannya itu keluar.
"Pak saya numpang ke toilet ya? Sudah tidak tahan," ucap Zen yang langsung menerobos masuk tanpa menunggu satpam yang tengah berbincang dengan Adrian mengiyakan.
"Ada lowongan disini?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraan.
"Kemarin banyak, Pak. Dokter, perawat dan bagian kantor. Sudah dibuka lowongannya di link rumah sakit. Bapak browsing saja," ucapan satpam itu diiringi senyum masam Adrian yang mencemooh. Namun tentu saja tidak terlihat karena lelaki itu mengenakan masker. Adrian hanya mencari bahan untuk menambah durasi waktu obrolan mereka. Mencari pekerjaan? Apa iya, ia terlihat miskin mengenakan pakaian kasualnya ini?
"Bapak mencari lowongan pekerjaan dibidang apa?" lanjut satpam itu bertanya pada Adrian. Matanya mengawasi pemilik perusahaan Ilyasa itu dengan teliti, dari bawah hingga atas.
"Saya?" Adrian menunjuk dirinya sendiri diiringi anggukan lelaki muda didepannya itu. Kalau bukan untuk misi ini, Adrian sudah ingin pergi dari tempat ini. Zen terlalu lama di dalam dan belum ada tanda-tanda keluar.
"Saya ...."
__ADS_1
"Bapak cocoknya kerja di kantor. Atau mungkin bapak seorang Dokter?" Tentu saja satpam itu hanya melihat penampilan luar Adrian yang stylist. Dia hanya menebak jika apa yang lelaki itu kenakan bukan barang murahan, jadi tidak mungkin jika lelaki dengan postur tubuh bak model itu adalah seorang perawat, bahkan untuk kerja di bagian kantor sebagai karyawanpun rasanya tidak cocok.
"Bukan saya, tapi saudara saya."
"Oh ...." wajah heran masih satpam itu tunjukkan, bahkan tinggi badan Adrian melebihi dirinya yang seorang satpam.
"Terimakasih, Pak. Sudah lega saya," ucap Zen tiba-tiba dari belakang. Lelaki itu mengacungkan jempolnya tanda ok kepada sang majikan.
Mereka berdua pamit dan kembali masuk ke dalam mobil, mengontrol CCTV yang menyorot dokter Kim dan memastikan posisi Elang.
Dilantai atas, dokter Kim rupanya sudah selesai dengan misinya. Memang tidak ada bukti tertulis yang menyatakan kerjasama antara Laila dan pemilik rumah sakit ini yang Adrian sudah curigai sejak awal. Namun setidaknya sedikit bukti kecerobohan mereka saja bisa menjadi alat yang kuat untuk Adrian menghabisi mereka secara hukum.
Adrian telah memanggil mereka untuk kembali. Tidak ada gunanya terlalu lama ditempat ini, karena toh pada kenyataannya mereka bermain dengan sangat tidak rapi. Baru di hari pertama ia menyelidiki rumah sakit ini, sudah banyak ketimpangan yang ia temukan.
Padahal ia merencanakan dua hari penuh di sini. Ini baru setengah hari lebih, dan membuat pemilik perusahaan Ilyasa itu malah bosan karena tidak ada sesuatu yang menantang. Semuanya masih dibawah standar profesional.
Brakk!
Suara pintu mobil ditutup cepat oleh Elang setelah lelaki itu masuk, lima menit kemudian dokter Kim menyusul dibelakangnya.
"Jalan Zen," titah Adrian. Lelaki ini masih memperhatikan kedua orang yang menyamar ke dalam rumah sakit itu mengatur napasnya. Mereka berlarian akibat mengejar batas waktu yang diberikan oleh Zen untuk pergi dari sana. Karena tidak mungkin melakukannya lebih lama lagi pada CCTV rumah sakit. Pasti akan ketahuan.
Drrrt ... Drrttt ...
Suara ponsel Adrian berbunyi. Lelaki itu segera meletakkannya di dekat telinga begitu membaca siapa yang menghubungi.
__ADS_1
"Ha ... Apa? Sejak kapan?"