
Adrian keluar dari ruang kecil yang merupakan kamar pribadinya yang terhubung dengan ruang kerjanya itu. Gelisah yang dirasakannya tadi sudah mereda, begitu juga dengan detak jantungnya yang sudah kembali normal.
"Daddy mau kemana? Kenapa tidak jadi istirahat?" Dani melirik pergerakan sang ayah yang melewatinya begitu saja.
"Daddy sudah baikan. Tenang saja," ucap Adrian membenarkan letak jas nya.
Dani berdiri dan menghampiri sang ayah. "Benar, sudah baikan?" tanya Dani yang masih khawatir. Pemuda itu memegang dahi ayahnya seperti yang dilakukan sang ayah ketika ia masih kecil. "Daddy sudah tidak sepucat tadi. Aneh," ungkapnya heran.
"Apanya yang aneh? Daddy benar sudah baikan Boy, pegang saja." Adrian menarik tangan sang anak dan menempelkan telapak tangan pemuda itu diatas dadanya.
Dani hampir tidak percaya. Satu jam yang lalu, sang ayah mengeluh seperti orang kebingungan, dan sekarang lelaki berumur 40 an itu sudah segar seperti sedia kala.
"Sudah? Daddy keluar dulu. Semua pekerjaan hari ini kau yang bertanggung jawab. Jika kau perlu mendiskusikan sesuatu, hubungi Daddy," ucap Adrian sembari pamit dan melenggang pergi meninggalkan kedua orang lelaki itu.
"Daddy?? Seenaknya sendiri dia. Padahal aku disini untuk liburan bukan menggantikannya duduk di kursi ini!" kesal Dani pada sang ayah dan juga dirinya sendiri yang terlambat menolak.
Bahkan Adrian menolak diantar oleh sopir. Lelaki itu ingin mengemudikan mobilnya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Boleh?" tanya lelaki asing yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar tempat Ara dirawat.
Bukannya menjawab, wanita itu malah menatap lelaki asing itu dari bawah hingga ke atas. Sungguh, Ara tidak merasa mengenalnya, namun lelaki itu seakan tahu apa yang tengah dirisaukannya.
"Jas anda ketinggalan, Dok." Seorang perawat menyusul masuk kemudian membantu lelaki itu mengenakan jas berwarna putih yang biasa dipakai oleh para dokter.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Ara yang tersulut curiga. Dia tidak bisa mempercayai orang asing saat ini, siapapun itu.
Lelaki itu mendekati Ara. "Perkenalkan saya Oryza." Tangan yang terulur di depan Ara dibiarkan saja menggantung tanpa dibalas.
"Beliau Dokter Oryza Satrio, Bu.
Dokter spesialis anak yang akan menangani bayi Ibu." Seorang perawat menjelaskan siapa lelaki di depan Ara itu.
Perlahan tangan Ara terulur, membalas jabat tangan lelaki yang ternyata dokter itu.
"Bolehkah?" ulangnya sekali lagi. Oryza melepaskan tangannya, dan memasukkan kedalam saku jas nya.
"Silahkan jika tidak merepotkan Anda, Dok," ucap Ara pasrah. Tidak ada lelaki di sampingnya saat ini. Jika harus memanggil pak Sapto, yang ada Ara malah kasihan harus merepotkan lelaki itu lagi.
Dokter nyentrik dengan kacamata dan rambut yang dicat warna pirang itu keluar di dikuti oleh perawat yang akan menunjukkan letak bayi Ara.
Sementara di dalam ruangan, terdengar riuh dua gadis yang terpesona oleh dokter Oryza yang menurut mereka setampan Suga BTS itu. Apalagi keramahannya membuat mereka berdua klepek-klepek.
"Tampan sekali...." ucap Sinta takjub dengan paras tampan dokter muda yang baru saja meninggalkan kamar Ara.
"Iya benar Sin. Ya ampunnn ... semoga selama Kak Ara dirawat disini, kita bertemu dengannya terus." Fatma yang ikut senang melihat dokter tampan itu sampai terbayang-bayang dengan wajahnya. Ia tidak mau kalah dengan Sinta.
"Huss ... Kalian disini untuk menjaga Ara, lagipula dia besok sudah pulang. Pakai bicara selama dirawat. Siapa yang mau lama-lama disini," bentak bu Sri dengan suara lirih karena takut terdengar hingga luar.
"Cepat sekali, Kak. Bukannya harus pemulihan ya? Kok sehari saja?" Fatma yang kaget langsung nyerocos di depan Ara.
"Kalian ini. Kalau melahirkan normal ya cuma satu hari. Lihatlah beberapa jam setelah melahirkan, aku sudah bisa ke kamar mandi sendiri. Kalau kalian ingin lebih, kalian saja yang berbaring disini," sengit Ara pada kedua gadis puber di depannya itu.
"Aku mau!"
__ADS_1
"Aku juga mau!"
Teriak dua gadis itu bergantian. Rupanya mereka benar-benar berebut untuk tetap berada disana.
Bu Sri dan Ara saling berpandangan. Tingkah absurd dua gadis itu membuat mereka kesal.
"Kalau begitu kalian harus melahirkan dulu supaya bisa menggantikan Ara disini," ucap bu Sri melirik keduanya. Tangannya bersedekap dengan wajah yang sama sekali tak ramah.
"Nak, bagaimana keadaanmu? Maafkan ibu tidak bisa menemanimu disaat kamu membutuhkan." Bu Fatimah datang tergopoh sepulang dari pengajian. Dia langsung gemetar dan lemas ketika membaca pesan dari bu Sri, jika Ara sedang perjalanan ke rumah sakit. Tidak bisa jika harus menunggu bu Fatimah, karena bu Sri sudah curiga jika air ketuban Ara sudah pecah. Dan terbukti benar.
Wanita sepuh itu langsung menghambur dan memeluk Ara yang masih berbaring sambil menangis haru mengingat perjuangan beratnya melahirkan tanpa didampingi suaminya.
"Ara baik-baik saja Bu. Ibu tidak usah khawatir. Cucu ibu perempuan, cantik dan_"
"Sangat mirip dengan ayahnya, Bu," sahut Sinta yang mendapat cubitan kecil dari Ara di perutnya.
"Sakit, Kak. Si Chubby memang mirip ayahnya yang tampan itu." Hati Ara ikut tercubit mendengarnya. Bayi kecilnya yang berjenis kelamin perempuan itu memang sangat mirip Adrian. Bahkan ia merasa bahwa bayinya itu sama sekali tidak ada yang mirip dengannya. Apa ini efek dari apa yang dilakukannya setiap malam. Selalu memendam kerinduan dengan suaminya, hingga akhirnya sang anak yang lahir malah dominan wajah Adrian.
"Huss ... Sinta! " Bu Sri melirik tajam gadis itu hingga membuatnya diam seketika. Gadis yang selalu ceplas ceplos yang mengingatkan Ara pada sahabatnya, Mela.
"Sudah, Bu. Nanti tekanan darah ibu bisa naik gara-gara kedua gadis itu." Ara menunjuk Sinta dan Fatma dengan dagunya. Namun sebenarnya, tangan Ara mengusap lembut punggung bu Sri yang berada di sampingnya. Agar wanita paruh baya itu lebih sabar menghadapi keduanya.
Bu Fatimah hanya menggeleng dengan ulasan senyum maklum. Dia tentu sudah terbiasa bertahun-tahun menghadapi sifat dan sikap anak anak di panti asuhan yang terdiri dari bermacam karakter.
"Dimana bayimu, Nak?"
"Masih di ruangan khusus bayi, Bu. Mungkin sebentar lagi dibawa kesini, sepertinya sudah waktunya minum susu. Dia pasti sudah lapar,"
Tidak lama kemudian, pintu nampak dibuka oleh seorang perawat yang mendorong box bayi ke dalam.
"Waktunya menyusui ya, Bu," ucap perawat itu memberitahu kemudian mengangkat bayi gendut dengan berat 3,6 kg itu dan memberikannya pada Ara.
Ara nampak menghela napas panjangnya.
"Kenapa Bu, ada kesulitan?"
"Tidak usah, saya bisa," ucap Ara yakin. wanita itu segera memposisikan bayinya untuk menyusu kepadanya. sensasi bayi menyusu pertama kali rupanya sangat luar biasa. sakit akibat lidahnya yang masih kasar melukai ****** Ara. namun wanita itu hanya - sambil menangis antara sakit dan haru.
"Ra, ini momen berharga untukmu dan bayimu," ucap bu Sri yang tentunya sudah berpengalaman.
"Ayo kita keluar biar si chubby menyusu dahulu. kalian akan menggangu nya jika masih berada disana," Bu Sri menarik salah satu tangan dari kedua gadis itu.
"Tapi aku masih ingin menggendongnya, Bu," ucap Fatma enggan mengikuti.
"Nanti malam kalian akan puas menggendongnya. Sekarang kita pulang lebih dulu membersihkan diri, biar ibu kepala yang menemani Ara. Karena nanti sore kalian harus kembali lagi untuk menemani Ara sampai besok. Ibu dan bu Fatimah tidak bisa meninggalkan anak-anak begitu saja."
"Tidak usah dua-duanya, Bu. Satu saja cukup, biar yang lain membantu Ibu. Kasihan anak-anak jika tenaga kita banyak berkurang," ucap Ara memberi usul. Tentu karena dua gadis itu paling gesit dan muda diantara yang lain. Mereka paling diandalkan dan posisi mereka akan kosong karena harus menemani Ara.
"Baiklah Sinta saja nanti yang kembali. Dia lebih senior dan lebih mengenal kota ini," ucap bu Fatimah yang di iyakan oleh yang lain. Namun Fatma nampak muram sendiri.
"Hei! Nanti biar kusalamkan pada dokter Oryza idolamu itu jika kami bertemu, bagaimana,?" Sinta menggamit lengan Fatma agar gadis itu tidak bersedih.
"Kamu janji?" Sinta mengangguk dan wajah muram itu berganti ceria seperti sedia kala. Dasar para gadis, selalu begitu, jika sudah menyangkut lelaki tampan.
"Ayo kita pulang, Bu." Kedua gadis itu malah mendahului bu Sri. Berjalan di depan, dengan lengan saling menempel.
__ADS_1
"Bu, kami pamit dulu."
"Iya, pulanglah. Biar aku disini menunggu sampai Sinta kembali lagi nanti," ucap bu Fatimah.
Sepeninggal mereka, bu Fatimah membantu Ara menidurkan bayi cantik itu.
"Kau beri nama siapa si Cantik ini, Nak?" Bu Fatimah masih membungkuk di depan box, menyentuh pipi bayi mungil itu yang terasa selembut squishy.
"Ermerra. Ermerra Safior,
Bu. Kita panggil Merra."
"Nama yang cantik, ada artinya?" Bu Fatimah mendongak melihat Ara.
"Tidak ada, Bu. Aku hanya menggabungkan namaku dan nama ayahnya." Ara nampak tertunduk.
"Kau tak menambahkan nama belakang ayahnya, Nak?"
"Biar saja nanti ayahnya yang melakukannya, Bu. Jika jodoh masih menginginkan kami untuk bertemu." Kedua orang beda generasi itu saling menatap haru.
Ya, pasrah adalah satu-satunya jalan terbaik saat ini. Setidaknya Ara bisa berbahagia saat ini karena mengingat ucapan Elang, bahwa Dani sudah bersedia pulang ke Indonesia.
Semoga kebahagiaanmu berlipat Mas, meski tanpa aku. Gadis kecil kita pasti akan sangat merindukan ayahnya suatu saat nanti." ucap Ara dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Adrian membawa mobilnya menyusuri sepanjang jalan yang membawanya kembali mengingat sang istri. Ya, sepanjang jalan yang mereka biasa lewati setiap harinya.
Dia tidak akan bisa melakukan hal seperti ini jika Dani tidak ada disini menggantikannya. Setiap hari Adrian pasti akan berkutat dengan pena dan kertas yang memenuhi hampir seluruh hidupnya. Hanya Ara yang memberinya warna, bahkan di setiap kesibukannya ia akan tetap bahagia jika mengingat ulah kecil sang istri yang terkadang di luar dugaan.
Di dalam mobil sendirian. Menatap hari yang merangkak petang dengan semilir dingin akibat bumi yang diguyur gerimis sore itu. Lelaki yang meletakkan kedua tangannya di atas setir kemudinya itu sesekali menirukan suara penyanyi lawas yang sedang menyanyikan sebuah tembang kenangan yang sangat pas dengan suasana hatinya.
Sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan.
Sepanjang jalan kenangan ...kau peluk diriku mesra.
Hujan yang rintik-rintik, diawal bulan itu.
Menambah nikmatnya malam syahdu.
Walau diriku, kini tlah berdua.
Dirimu pun tiada berbeda.
Namun kenangan, sepanjang jalan itu.
Tak mungkin, lepas dari ingatanku.
Adrian menangis. Ditemani tembang lawas berjudul "Sepanjang Jalan Kenangan" yang menggelitik ditelinganya dan air hujan. Yang hanya berupa titik-titik yang dapat mengaburkan pandangannya.
Mengapa liriknya hampir sama dengan kisah hidupnya. Sungguh suatu kebetulan yang tidak terhindarkan.
Namun tentu lelaki itu tidak terima jika sampai Ara mendua. Karena dirinya pun tidak akan mampu menduakan cinta terakhirnya itu. Tapi, bukanlah dia tidak boleh egois, Ara pergi karena berkorban untuknya dan sang anak, Dani. Agar pemuda yang telah menyelesaikan pendidikan s1 nya di Swiss itu mau pulang. Menjalani kehidupannya yang dulu, kembali seperti saat Ara belum datang.
Suatu saat nanti, jika pun Ara lebih bahagia dengan orang yang baru, dia akan melepaskannya. Karena dia merasa hanya memberikan luka karena ketidakmampuannya berpihak pada salah satunya.
__ADS_1
Hati ... bisakah ia ditebak sedalam apa yang dirasakannya. Bisa saja Adrian sekarang mengatakan pasrah dan ikhlas jika Ara menemukan kehidupan baru yang lebih membuatnya bahagia. Tapi nanti? Hati orang tidak ada yang tahu bukan.
🍎Terima kasih readers atas dukungannya. Maafkan saya yang sering telat update atau malam sekali updatenya. Dua bocil saya sedang aktif-aktifnya🙏 modal hanya semangat mengetik ceritanya😂