
"Lang, katakan pada Vina untuk mengundur satu jam meeting selanjutnya," titah Adrian pada sang asisten.
"Baik, Tuan."
Saat ini, mereka masih dalam perjalanan menuju kantor dan waktu hampir memasuki jam istirahat siang. Sejak pagi Adrian disibukkan dengan pertemuan klien, belum lagi beberapa meeting yang sudah menunggu. Lelah, sungguh lelah. Padahal ia ingin hari ini libur. Tapi demi sebuah kejutan, ia harus bekerja lebih keras dari biasanya.
Ya, hari ulang tahunnya yang biasanya dirayakan dengan makan malam bersama sang istri, cukup istimewa dengan sambutan wanita itu tadi pagi. Rasanya ia tidak ingin ke kantor jika sang istri tidak memaksanya dan Vina tidak mengingatkan jika hari ini jadwalnya padat merayap.
Sampai di kantor cukup sepi, karena sudah memasuki jam istirahat para karyawan berbondong-bondong ataupun bergantian mengisi perut mereka.
"Belikan makan siang di restoran biasa, dua dengan kamu," titahnya sambil mengeluarkan beberapa lembar uang. Kemudian lelaki itu bergegas masuk kedalam ruangannya.
"Ka ... Sayang? Sejak kapan kamu disini?" Adrian mengerjap, menatap tidak percaya jika sang istri yang tanpa janji ataupun memberitanunya sudah menunggu di ruangannya.
Namun yang membuatnya lebih terkejut bukan itu. Istrinya sangat berbeda sekali, siang ini.
"Kamu ... Kamu mau kemana? Kamu cantik sekali." Perlahan lelaki itu berjalan mendekati sang istri.
"Kejutan kedua!" teriak Ara bersemangat. "Apa benar aku cantik? Aku malah merasa aneh, Mas. Apalagi lipstik merah ini. Kalau bukan demi suamiku tercinta aku tidak mau di make up seperti ini," ucap Ara yang hampir menggosok bibirnya, karena warna merah menyala yang membuatnya tidak percaya diri. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat.
Namun tangannya dicekal oleh Adrian. "Cantik dan menggoda," ucap Adrian lirih membisik.
"Apa Mas sudah makan?" Ara mencoba menetralkan suasana. Semenjak sang suami masuk, ruangan ini menjadi lebih horor baginya.
"Belum. Sepertinya makan siangku sudah ada disini." Adrian tersulut gairah. Sungguh hatinya menjadi berdebar melihat sang istri saat ini. Jantungnya serasa copot dari tempatnya dan ia ingin segera menggendong wanita yang dicintainya itu ke ranjangnya.
"Tapi aku tak membawa makanan, Mas. Maaf, aku lupa." Wanita itu menyesal mengurungkan niat membawa bekal tadi. Padahal Adrian pasti memilih makan siang masakannya daripada membeli.
Lelaki itu memeluk sang istri di pinggangnya. "Makananku ada disini." Dagunya mengedik kearah istrinya.
Ara tentu paham apa maksud suaminya. Karena niatnya sedari awal datang ke kantor adalah ingin menyenangkan suaminya. Dan bahkan belum apa-apa, Adrian sudah terbawa gairah. Membuat sang istri ikut dag dig dug jadinya.
"Apa tidak ada pemanasan dulu, Mas? Apa benar melihatku hari ini, Mas secepat itu bernapsu padaku?" Adrian tertawa, mendengar celotehan istrinya itu.
"Mau kamu pakai apapun atau dibungkus selimut sekalipun, kalau itu kamu, tentu saja aku bernapsu. Kamu istriku Sayang."
"Aku mempunyai waktu satu jam denganmu Sayang, sebelum banyak meeting menungguku." Raut wajah Adrian menampakkan ia sangat bersalah tidak bisa pulang lebih awal.
"Ini bukan tentang fisik. Sejauh apapun kita, aku percaya disini hanya ada aku. Dan percayalah dihatiku juga hanya ada suamiku."
Meski tidak mengerti makna sebenarnya dari ucapan sang istri, Adrian mengangguk setuju. Tanpa banyak bicara lagi, lelaki itu menggendong sang istri masuk ke kamar rahasia dan menguncinya dari dalam.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Vin, Tuan kemana?" Elang baru saja keluar dari ruangan bosnya. Tapi ia tidak mendapati siapapun didalam.
"Bukannya di dalam?" sahut Vina yang kembali sibuk dengan berkas-berkas pentingnya.
"Tidak ada. Aku juga sudah menghubungi beliau, tapi tidak diangkat." Elang ketar-ketir karena waktu istirahat yang diminta sang bos segera berakhir.
"Masa? Tuan tidak biasanya begini. Sebentar lagi meeting berlangsung. Ayo cepat cari Tuan, atau kita yang kena marah nanti." Vina ikutan panik. Pertemuan ini begitu penting karena menyangkut tender dengan nilai yang fantastis. Wanita itu langsung berdiri dari tempatnya hendak membantu Elang.
"Mau dicari kemana? Aku tidak bisa melacak ponselnya, dimatikan."
"Apa mungkin, Tuan diculik?"
"Kau pasti terlalu banyak menonton film action. Kau pikir tuan majikan receh? Beliau bisa taekwondo dan_"
"Ehem."
__ADS_1
Mereka berdua langsung terdiam melihat Adrian keluar dari ruangannya.
"Semua sudah siap kan, Vin?" Vina mengangguk canggung. "Kita berangkat sekarang, Lang," titah Adrin sambil meluruskan letak jas-nya.
Elang hanya menurut. Setelah menerima berkas dari Vina dan membawa macbooknya, asisten Adrian itu mengikuti sang majikan tanpa berani bertanya apapun. Meninggalkan Vina yang yang masih bingung mencerna kejadian barusan.
"Katanya tidak ada, tapi muncul dari sana," tunjuknya pada pintu ruangan sang bos. "Apa di dalam ada tempat persembunyian?"
Vina membuka pintu ruangan sang bos namun tidak berani masuk, dari luar ia mengawasi seluruh ruangan itu.
"Aaaaaaa...." pekiknya begitu melihat seorang wanita yang nampak dari belakang.
"Mbak Vina, kenapa?"
"Ya ampun, rupanya kamu. Aku kira hantu yang muncul di siang hari." Perlahan otaknya mencerna dan menghubungkan setiap kejadian yang baru saja terlewat.
"Rupanya ini penyebab pak Adrian menghilang," ucap Vina yang membuat temannya itu tersenyum menanggapinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Vina kemudian melangkah masuk sambil bertanya dengan nada menginterogasi. Wajahnya dibuat segarang mungkin.
"Biasalah mbak, suami istri." Ara bertingkah genit menggoda sekretaris suaminya itu. "Sebenarnya aku ingin cerita. Tapi kasian karena mbak Vina masih jomblo, takut dibuat praktek." Ara cengengesan saat mengatakannya.
"Dasar kamu!" Vina berucap sengit pada mantan teman kantornya itu.
Selanjutnya, mereka malah tertawa terbahak berdua. Saling mengejek dan menggoda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini rekor termalam Adrian pulang setelah ia menikah dengan Ara. Lelaki itu memang sengaja mengerjakan semuanya hari ini karena ia mempunyai kejutan untuk sang istri yang tidak pernah melupakan ulang tahunnya.
Sepanjang perjalanan, lelaki itu hanya tersenyum sendiri menatap beberapa gambar wanitanya yang ada dilayar ponselnya. Apalagi ulang tahun kali ini terasa sangat istimewa baginya. Paginya sudah disambut oleh masakan spesial, siangnya masih mendapat kejutan di kantor dan malam nanti, entahlah. Dia tidak ingin menebak-nebak.
Kejutan siang tadi saja sudah lebih dari cukup untuknya. Di mana di tengah-tengah kesibukannya istrinya itu memberikan mood booster yang luar biasa. Apalagi mengingat tingkah nakalnya tadi. Wanita itu benar-benar total hari ini.
"Sayang...." teriaknya saat membuka pintu. Sepi, tidak ada tanda-tanda istrinya ada disana. Kemudian lelaki itu memasukkan tubuhnya kedalam. Dan tanpa sadar melengkungkan sudut bibirnya keatas. Karena sepertinya, kejutan hari kelahirannya masih belum usai.
Dari kamar nampak lampu temaram menghias di balkon. Ketika Adrian melangkah mendekati kursi tempat biasa mereka bercengkerama, ada sebuah tulisan dari lampu yang menyala bergantian. Adrian mengejanya perlahan.
Selamat Ulang tahun suamiku, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku.
Adrian kembali seperti tidak mempercayai ini. Ara, wanita itu seharian ini membuatnya berdecak takjub, dari dirinya membuka mata sampai sekarang bersiap istirahat kembali.
Di kursi itu ada perintah yang tertulis di sebuah kertas. (Duduklah) dan Adrian mengikutinya. Sementara kursi sebelahnya ada sebuah kertas yang ditempel terbalik dimana ada sebuah tulisan yang tersembunyi disana. Tapi yang aneh mengapa kursi itu diposisikan sangat dekat bahkan terkesan menempel di kursi yang ia duduki.
Karena penasaran, ia membuka kertas itu. Disana tertulis, 'aku tetap disini, sampai kapanpun. Dihatimu'. Apa makna dari tulisan itupun Adrian juga tidak paham.
Kemudian perhatiannya teralih pada meja didepannya. Disana ada flash disk berbentuk hati berwarna merah dimana gantungan dari flash disk itu adalah foto dirinya dan sang istri. Bahkan Adrian tidak tahu Ara memiliki benda itu. Dan tidak pernah menyangka wanita itu sampai memasang foto mereka sebagai gantungannya.
Lelaki itu berdiri mengambil macbook nya. Kemudian kembali duduk dan menancapkan flash disk pada benda canggih itu.
Begitu file terbuka, lagu Richard Mark lah yang pertama kali terputar. Right here waiting for you. Adrian menikmati lirik demi lirik. Hingga sampai pada sebuah lirik yang mengena di hatinya.
Where ever you go. What ever you do I will be right here waiting for you.
Kemudian muncullah wajah sang istri yang berada di depan kamera, dan nampak beberapa kali membenarkan benda yang merekamnya itu.
"Ehem ...." Ara belum mengatakan apapun, namun matanya nampak berkaca. "Selamat ulang tahun ya, Mas. Semoga, kebahagiaan, kesehatan selalu Tuhan berikan untukmu."
Ara mengerjap, "Sebenarnya aku...." Wanita itu nampak tidak bisa menahan air matanya, dan berulang kali menghapusnya. Namun sepertinya, butiran bening yang merupakan gambaran rasa hatinya itu, terus saja keluar.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas. Aku mencintaimu, sangat.... Namun aku tidak bisa mengambil kebahagiaanmu yang lain." Adrian masih tidak mengerti mengapa di hari ulang tahunnya istrinya itu malah meminta maaf.
Layar macbook menampilan gambar lain. Tampaknya kamera dialihkan dari wajah istrinya itu. "Relakan aku pergi ... Dan jangan mencariku ya," isakan wanita itu terdengar semakin keras.
"Sayang apa yang kau ucapkan! Jangan iseng ya!" Adrian membentak seakan istrinya itu didepannya.
"Ajaklah Dani kembali. Dan berjanjilah hidup dengan baik. Kalian berdua akan bahagia. I love you, aku mencintaimu seumur hidupku."
Gelap. Bukan hanya layar macbook yang kini telah gelap tanda video telah berakhir, namun juga dunia Adrian.
Otaknya mendadak buntu, dan rasa tidak rela akan kehilangan memenuhi seluruh dadanya hingga sesak.
Adrian sempat terhuyung, hingga akhirnya kedua tangannya menumpu pada kursi. Pikirannya begitu kalut. Kemudian tanpa banyak berpikir, lelaki itu berlari mengambil ponselnya. Dan dengan cepat menekan tombol panggil pada ponsel istrinya. Namun tidak diangkat. Berkali-kali ia melakukannya, wanita itu pun tetap tidak mengangkatnya.
Sambil berjalan dan turun ke lantai bawah, lelaki itu membuka aplikasi dan melacak ponsel Ara.
"Kita ke stasiun besar terdekat, Lang!" titah Adrian. Sinyal ponsel sang istri terdeteksi disana.
Untung saja asistennya itu belum pulang. Dan tanpa banyak bertanya, Elang tahu stasiun yang dimaksud. Hingga Elang memacu mobilnya secepat mungkin.
Sampai disana, Adrian langsung turun dan memasuki stasiun, mencari sosok sang istri. Satu jam berada di sana hingga orang berlalu lalang mulai sepi.
Ya, ini hampir tengah malam. Dan kereta terakhir pun telah berangkat sesaat setelah Adrian tiba. Entah Ara ikut naik kereta itu, atau pergi ke tempat lain sama sekali tidak ada jejak.
"Kemana dia?" Mata Adrian basah dan memerah. Kekalutan dan kesedihan nampak jelas diwajahnya.
"Tuan mencari....?"
"Istriku ... Ara pergi Lang, dia pergi!" Adrian memukul tiang besar didepannya. B erkali-kali hingga buku-buku jemarinya memar.
"Tuan ... Sudah Tuan." Elang memeluk Adrian dari belakang. Mencegah sang majikan berbuat lebih brutal yang akan menyakiti dirinya sendiri. Kemudian membawanya duduk dan memberinya minum untuk menenangkan.
"Sinyalnya berhenti disini, dan menghilang. Dia pasti sudah mematikan ponselnya." Adrian tertunduk lesu disana, melewati malam hingga hampir pagi. Berjam-jam dalam keadaan terjaga.
"Tuan, matahari sudah hampir terbit. Sebaiknya kita pulang. Tuan harus istirahat." Elang berucap sangat pelan, lelaki itu berada di samping sang majikan kini, beraiap membantu lelaki itu bangkit dari tempat duduknya.
Adrian mengerjapkan matanya yang berat. Dia tidak menyangka ulang tahunnya tahun ini, akan terjadi peristiwa yang tidak pernah ia inginkan sepanjang hidupnya. Istri yang dicintainya, berkorban untuk dirinya dan juga anaknya.
Lelaki itu bangkit sendiri. "Kita pulang sekarang," ucapnya sambil berjalan menjauh dan diikuti oleh Elang.
Dalam perjalanan pulang, Adrian tertidur di mobil. Elang sampai tidak tega membangunkan lelaki itu saat mereka sudah sampai. Namun tentu tidak nyaman tidur di mobil dalam keadaan duduk. Akhirnya tega tidak tega, Elang membangunkannya.
Adrian menyuruh asistennya itu menggantikannya di kantor hari ini. Sebenarnya ini hari keduanya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Sebelum akhirnya mengambil cuti untuk mengajak sang istri liburan ke Colombia. Mengunjungi Valle de Coccora. Sebuah tempat yang cantik, yang dilihat sang istri di media sosial.
Namun apa daya, apa yang dirinya inginkan sebagai kejutan kini sia-sia. Dan sekarang justru dirinyalah yang terkejut. Adrian bahkan tidak pernah menyadari, jika sang istri telah mengetahui syarat yang diajukan Dani, agar anak lelaki itu bersedia pulang.
Dengan langkah gontai ia memasuki kamarnya. Kemudian membuka lemari tempat pakaian dan beberapa barang penting sang istri.
Kotak biru bludru itu masih disana. Adrian meraihnya, kemudian membukanya. Masih utuh, hanya berkurang cincin yang sedari awal memang selalu melingkar di jarinya. Padahal, lelaki itu berharap sang istri membawa semua yang menjadi haknya.
Ternyata diatas nakas, ada beberapa kartu kredit yang ia berikan sebagai fasilitas pada istrinya itu. Dan semuanya juga utuh, tidak berkurang satupun.
Adrian terhuyung, wanita itu pasti tidak membawa apa-apa kecuali miliknya sendiri. Rasa khawatirnya muncul, bagaimana istrinya itu bisa bertahan diluar sana, tanpa memiliki apapapun.
Drrrtttt
Adrian langsung melompat, mencari letak ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor istrinya.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku, Mas. Ingat, jangan pernah mencariku. Biarkan Tuhan yang mengatur takdir kita. Aku ikhlas."
__ADS_1
Adrian kembali mencoba melakukan panggilan pada sangat istri. Namun secepat itu pula, wanita itu mematikan kembali ponselnya.
"Sayang... "