Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 235


__ADS_3

"Mama juga sayang Ayah," sahut Ara pada putri kecilnya.


"Tolong katakan pada Ayah untuk segera pulang, Ma." Merra masih memeluk sang ibu erat, disela isakan tangisnya.


"Iya, Sayang," jawaban Ara menggantung. Ia tidak tahu harus menjawab apalagi. "Merra hebat, Merra anak Mama paling hebat,"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Satu minggu berlalu,


"Tuan. Akhirnya kita bisa bernapas lega juga," ucap Leo yang tengah berdiri disamping sang majikan.


"Lega apanya? Masih sebanyak ini." Dagu Dani mengedik ke arah tumpukan kertas di atas mejanya. Meski tidak setebal minggu kemarin, namun minggu ini banyak sekali meeting di luar kantor.


"Paling tidak berkurang, Tuan," ucap Leo yang semakin lama semakin lirih. Asisten Danu itu tersenyum masam, melihat sang majikan yang masih memasang wajah serius dari pagi.


"Le, jadwalkan aku ke Bandung lagi, akhir minggu ini. Tapi aku mau berangkat jum'at," titah Dani.


"Berarti semuanya harus selesai hari jum'at, Tuan."


"Hemmm ... Lakukan saja! Dan kau juga harus siap lembur denganku. Jangan sampai sakit!" ucap Dani mengingatkan. Dibenak Leo sudah terbayang hari-hari yang akan ia lalui lima hari kedepan. Dia benar-benar hanya harus bekerja dan istirahat, yang lainnya harus ditunda dulu.


"Selalu siap, Tuan. Apakah ke Tunas Bangsa lagi?"


"Kesana sebentar. Lalu menemui gadis kecil itu."


"Gadis kecil? Gadis yang mirip.


dengan Anda itu?" Dani mengangguk. Leo melihat jika sang majikan memang cerdas. Fokusnya memang luar biasa. Bahkan Dani bisa membagi dirinya untuk memeriksa berkas dan berbicara dengan topik yang berbeda dengan leo. Atau pembahasan yang melompat- lompat dalam tempo cepat tanpa kesalahan.


"Apa ada yang mau dibawa lagi, Tuan?"


"Tidak. Kita menginap di hotel dekat sekolah saja, Le. Home stay juga tidak apa-apa."


"Baik Tuan,"


"Dan satu lagi! Jangan beri akses masuk Rheina tanpa izinku!" ucap Dani keras.


"Maaf, Tuan. Soal yang tadi...." Leo menunduk, menyadari kecerobohannya membiarkan masuk seorang gadis yang ternyata dibenci oleh sang majikan. "Nona Rheina mengatakan sudah ada janji dengan Tuan. Dan saya tidak mengeceknya lebih dulu."


"Baiklah,untuk kali ini kumaafkan. Tidak biasanya kau main suruh orang masuk ruanganku, tanpa izinku, Le. Sekarang kau harus tetap menanyakan langsung padaku."

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan." Leo membungkuk hormat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Berhenti, Lang," titah Adrian pada asistennya. Matanya menangkap sosok seseorang yang dikenalnya.


Hari itu, Adrian sedang perjalanan pulang ke rumahnya. Tidak biasanya ia pulang sore saat langit masih terang, sebelumnya ia baru akan ke rumahnya saat hari sudah gelap.


Karena meskipun keluar dari kantor di jam pulang semestinya, lelaki itu selalu pergi ke tempat lain dengan ataupun tanpa asistennya.


Elang mengernyit bingung saat melihat wajah Adrian yang nampak memperhatikan luar jendela mobilnya dengan seksama.


"Tuan melihat sesuatu?" tanya Elang yang tidak tahu apa yang sedang dicari sang majikan.


"Apa kita bisa mundur?"


"Sepertinya tidak, Tuan. Jalanan lumayan macet," jawab Elang sambil menatap spion yang menyorot belakang mobil. Nampak jelas terlihat bahwa keadaan belakang cukup ramai. Banyak pengendara motor yang pelan-pelan menyalip mobil yang ia kendarai. Sedangkan beberapa mobil di belakangnya terdengar membunyikan klakson, karena Elang mengendarai mobil itu dengan kecepatan sangat rendah atas permintaan Adrian. Sedangkan di depan nampak sedikit lengang.


"Putar balik saja!" titah Adrian tiba-tiba.


"Anda yakin? Kita akan masuk ke jalur macet ini lagi Tuan, ki_"


"Lakukan!"


"Masuk lagi," komando Adrian menyuruh sang asisten masuk kembali ke jalur macet dari awal.


Mata Adrian mengawasi dengan teliti jalan yang ia lewati. Tepatnya jalan yang membentang lurus di seberangnya.


"Stop Lang! Aku akan keluar, dan kalau kau sudah keluar dari kemacetan ini tunggu aku didepan restoran itu. Nanti kuhubungi lagi." Tanpa menunggu jawaban dari sang asisten, lelaki yang semakin tampan diusianya yang hampir setengah abad itu membuka pintu mobil kemudian berlari menerobos pembatas tengah jalan pergi ke seberang.


Elang tidak tahu apa yang dicari majikannya. Ia hanya menunggu dan terpaksa menikmati waktu yang lama berlalu akibat macet sore ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Adrian mengejar apa yang menarik perhatiannya. Lelaki itu mempercepat langkahnya dengan mata yang mengawasi sekitar tanpa kedip.


"Itu dia!" gumam lelaki itu.


"Bu ... Bu...." panggil Adrian pada wanita paruh baya yang nampak lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


Wanita yang dipanggil Adrian awalnya tidak mendengar. Namun ketika akhirnya ia menyadari Adrian mengikutinya, wanita itu pun juga ikut mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Jalan yang ramai akibat sudah memasuki jam pulang kantor sedikit membuat ribet langkah Adrian. Beberapa kali lelaki itu nampak menabrak orang- orang yang ia lewati.


Ketika mengetahui arah perginya seseorang yang dikejarnya itu, Adrian memutar arah. Dirinya hendak menjemput wanita itu di gang yang tidak jauh dari sana. Karena jalan itu satu-satunya akses ke jalan lain.


Adrian memicingkan matanya. Mengawasi sekitar mencari sosok yang dikejarnnya. Dan akhirnya lelaki itu menemukannya.


"Bu Esther!" panggil Adrian yang sangat yakin dengan sosok yang menarik perhatiannya tadi.


"P-pak Ad-adrian," Esther menganga. Adrian mencekal lengannya hingga dia tidak bisa kabur. Lagipula akhir-akhir ini kakinya juga sakit. Sehingga berjalan agak lama saja ia merasa lelah dan pegal apalagi berjalan cepat.


"Ya. Masih ingat aku?" tanya Adrian tidak ramah. Perlahan lelaki itu melepaskan cekalannya. Ia yakin Esther tidak akan lari karena tadi Adrian sempat melihat langkah kaki Esther yang terseok.


"Maaf, Pak. Ka-kami tidak bermaksud...." Esther tidak sanggup meneruskan ucapannya. Terlepas dari apa yang didengarnya dari Ara tentang lelaki di depannya ini. Esther dan mendiang suaminya merasa bersalah.


"Apa kau bertemu putri angkatmu itu?"


"Ti-tidak, Pak. Maksud saya be-lum. Memangnya Ara kemana, Pak?" Esther merasakan tenggorokannya tercekat


hingga kata-kata yang diucapkanya terdengar gugup dan takut.


Adrian terdiam. Tidak membalas ucapan Esther. "Appa yang Anda lakukan disini?"


"Saya ... Saya ... menemui seseorang yang akan membeli tanah saya tadi. Saya akan pindah ke Bandung memulai hidup baru," ucap Esther hati-hati.


"Kenapa Bandung? Bukan kota lain," tanya Adrian penuh selidik.


"Saya asli Bandung, Pak. Meski sudah tidak mempunyai sanak saudara disana," jelas Esther berbohong.


"Anda yakin tidak bertemu dengan Ara?" Esther menggeleng pelan. Ia harus menata hatinya supaya tenang dan bisa menghadapi Adrian.


Lelaki itu menyodorkan kartu nama. "Jika bertemu dengan Ara, hubungi nomor yang ada disana, " tunjuknya pada kartu nama itu.


"I-iya."


Setelahnya Adrian pergi begitu saja, meninggalkan Esther yang masih tidak percaya dengan apa yang ia alami baru saja.


Ia pikir Adrian akan membawanya atau mungkin menagih hutangnya. Tapi ternyata tidak, ia hanya menanyakan tentang Ara.


Dan apa itu tadi? Bahkan sorot matanya tidak terlihat garang sama sekali. Adrian seperti orang yang bingung dan tengah merindukan seseorang.


Apa benar yang diceritakan putri angkatnya itu. Mereka berdua akhirnya saling mencintai. Menghapus kenyataan sebenarnya akan status mereka sebelumnya.

__ADS_1


Penculik dan tawanannya.


💗Hai readers, Terima kasih masih selalu mengikuti.. love u! 😍


__ADS_2