
"Pindahkan ke kamar saja, Mas." Ara menghampiri Adrian yang masih terdiam di depan TV di ruang keluarga. Lelaki itu tak melepas tatapan matanya pada putri kecilnya yang baru ditemuinya setelah 7 tahun lamanya.Banyak sekali hal yang terlewatkan bukan?
Dipangkuan Adrian ada Merra yang memeluknya erat. Mereka berdua menikmati kebersamaan sebagai ayah dan anak tadi sesudah makan malam, dan ara tidak ingin mengganggu. Ia memilih sibuk merapikan dapur dan mengerjakan pekerjaan lain.
Rupanya Merra sampai tertidur dipangkuan sang ayah.
"Sebentar, Sayang," ucap Adrian lirih. Lelaki itu meletakkan telunjukknya dibibir, untuk memeperingatkan sang istri agar tidak berbicara keras.
"Aku masih rindu padanya. Rasanya tidak bisa dipercaya, bertemu dengannya sudah sebesar ini. Aku melewatkan banyak hal saat tumbuh kembangnya, Sayang."
Ara memeluk tubuh sang suami dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu kekar milik lelaki itu. "Dia juga merindukanmu, Mas. Bahkan kata pertama yang diucapkannya adalah ayah, Ori yang mengajarinya."
"Ori?"
"Iya. Seorang dokter yang membantuku mengumandangkan adzan untuk putri kecilmu ini saat ia lahir. Dan membersamainya sampai sekarang. Dia masih di luar kota, tidak bisa dihubungi. Nanti kalau sudah pulang pasti mampir kemari." Ara menjelaskan tentang siapa Oryza.
"Siapa namanya, Sayang?" Adrian sepertinya mencoba mengingat seseorang.
"Dokter Oryza Satrio, Mas. Dia dokter spesialis anak di rumah sakit tempat aku melahirkan."
"Ohhh ... Kalian tidak....?" Adrian ingin menanyakan ada hubungan atau tidak antara dokter itu dan istrinya. Namun lidahnya serasa kelu, karena takut reaksi dari wanita yang dicintainya itu.
"Apa yang Mas pikirkan?" Ara mendelik kesal. "Mas mencurigai ku, jadi_"
Ciuman lembut dengan sedikit ******* Adrian berikan ke bibir sang istri. "Jangan keras-keras, nanti putri kecil kita bangun," ucap Adrian memperingatkan.
"Tapi Mas mengambil kesem_" Adrian mengulangi perbuatannya. Membuat Ara hanya pasrah dan menerimanya.
"Kita hanya berdua disini, jadi kalau aku mengambil kesempatan sudah kulakukan sejak tadi. Aku hanya mengambil hakku," bisik lelaki itu lirih.
Adrian menggendong Merra yang berada dalam pelukannya ke kamar putri kecilnya itu. Dan setelahnya menghampiri kembali sang istri yang sekarang tengah berada di halaman belakang yang penuh dengan bunga-bunga milik wanita itu.
Ara terjingkat kaget saat merasakan hangatnya dada sang suami yang menempel di punggungnya. Namun wanita itu tidak menolak, ia menelusupkan jemarinya ke dalam jemari sang suami yang memeluknya dari belakang.
"Balkon kamar kita juga seperti ini. Bukan hanya aku yang merindukanmu tapi juga bunga-bunga itu, Sayang."
"Mas merawatnya?" Adrian mengangguk. "Kukira tidak, Mas pasti repot dengan pekerjaan di kantor,"
"Aku repot memikirkanmu, bukan urusan kantor. Kalau semua yang berhubungan dengan kantor itu adalah hal biasa bagiku, Sayang."
"Mas merindukanku?"
"Pertanyaan macam apa itu? Apa kau selama ini tidak merindukanku dan hanya berpura-pura merindukanku?"
__ADS_1
"Awww...." Adrian memekik kaget saat tangan Ara menepuk lengannya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali. Lelaki itu hanya manja.
"Mana ada rindu pura-pura. Mas menyangsikan perasaanku?"
"I love you, Sayang."
"Jangan merayu!" geram Ara.
"Aku tidak merayu ... I love you, sweetheart," ulang Adrian menggoda.
Wajah Ara memanas. Selama ini Adrian tidak pernah memanggilnya begitu. Kerasukan apa kira-kira suaminya itu. M
Namun, perbuatan Adrian sukses membuat pipi Ara merona bak kepiting rebus.
Sialnya, sang suami menyadari efek dari panggilan sayangnya itu, " Pipimu kenapa?"
"Tidak apa-apa, jangan dilihat!" pekik Ara panik.
Adrian memutar paksa tubuh kecil itu meski sang istri mati-matian menahannya. Begitu Ara tidak kuasa menolak, ia menyusupkan wajahnya di dada sang suami dan mendekapnya dengan erat.
"I love you ... I love you ... I love you." Adrian mencium pipi chubby yang masih terlihat meski disembunyikan itu.
Adrian mengangkat wajah Ara ke depan wajahnya. "Tatap aku. Aku bahagia sekali menemukanmu. Aku tidak pernah meminta pada Tuhan hal lain tentang masa depan selain untuk menemukanmu kembali, dan Tuhan sangat baik. Hingga memberikan bonus princess kecil yang cantik itu. Apa kau kerepotan saat merawatnya, ceritakan padaku Sayang?"
Adrian melingkarkan lengannya di pinggang sang istri dan menyatukan dahi mereka berdua hingga mereka sama-sama merasakan hembusan napas mereka masing-masing.
"Dia menemaniku dari nol membangun toko bunga ini hingga sebesar sekarang. Akupun setiap hari hanya memohon pada Tuhan, semoga di masa depan masih diberi kesempatan untuk mempertemukan kalian."
Adrian membawa tubuh kecil itu kembali dalam pelukannya. "Saat-saat seperti inilah yang kurindukan setiap malam sejak kau meninggalkanku. Aku seperti mati rasa Sayang." Jemari milik Adrian membelai lembut surai hitam milik sang istri.
"Jangan tinggalkan aku lagi, atas alasan apapun. Karena aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap disini bersamaku."
"Semuanya sudah takdir, Mas. Membahagiakan melihat Dani tersenyum kepadaku. Bagiku itu melebihi apapun. Apalagi rasa sayangnya pada Merra. Aku tak menyangka Tuhan benar-benar melembutkan hatinya."
"Semua berkat dirimu Sayang. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, bukan?"
Adrian mengulurkan tangannya menangkup wajah kecil yang menurutnya semakin cantik.
"Bersiaplah, besok pagi-pagi benar kita harus ke Jakarta. Secepatnya juga kalian harus pindah kesana."
"Tokoku?"
"Kita beli tempat yang baru di Jakarta. Tempat ini kamu berikan saja pada sepasang suami istri yang ikut denganmu itu. Mereka tidak memiliki tempat tinggal juga penghasilan selain disini bukan? Jadi jika kita berkunjung ke Bandung kita masih bisa datang kesini sebagai tujuan."
__ADS_1
"Baiklah , aku ikut saja."
\=\=\=\=\=≠≠≠\=\=\=\=\=\=\=
"Jadi, anda ini ayahnya Merra?" ucap pak Santo yang saat ini tengah duduk berhadapan dengan Adrian.
Ara sudah menceritakan semuanya tadi, saat pasangan suami istri itu tiba di rumah ini pagi-pagi sekali.
"Iya, Pak. Saya ayah Merra dan juga Dani. Pemuda yang meminta tolong pada bapak tempo hari," jelas Adrian.
"Oh ... iya, pantas wajah kalian mirip. Saya malah yang berterima kasih sama Nak Dani."
"Terima kasih telah membantu saya menjaga Merra dan Ara selama ini, Pak."
"Nak Adrian bisa saja. Justru Ara lah yang menjaga kami. Kami berdua ini sebatang kara, Nak. Tenaga kami sudah kalah dengan anak-anak muda. Tapi istrimu itu tetap mau mempekerjakan kami. Dan kami juga diberi tempat tinggal, itu adalah sesuatu yang istimewa bagi kami," ucap Santo berkaca.
"Rencananya, Ara, Merra dan mami Esther akan kami ajak pindah ke Jakarta, Pak."
Pak Santo nampak mengangguk pasrah. Matanya basah, tempat ini memang bukan miliknya tentu dan saja jika Ara ingin pindah ke Jakarta dan menjualnya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Selama ini, wanita itu sudah sangat baik padanya dan juga sang istri. Memperlakukan mereka layaknya orang tua dan bukanlah pekerjanya.
"Saya pasrah saja, Nak. Apa yang terbaik untuk kalian, lakukanlah. Kami hanya bisa mendoakan semoga kalian selalu berbahagia diberi kesehatan serta ... Semoga kita masih dapat bersua kembali meski entah kapan." Pak Santo mencoba mengulas senyum diantara hatinya yang perih, mengkhawatirkan nasibnya dan sang istri.
"Bapak dan Ibu ada rencana pindah dari sini?" tanya Adrian yang merasa aneh dengan ucapan pak Santo.
"Kalau kalian pindah dari sini, kami juga tentu harus pergi dari sini, Nak." Pak Santo menatap Adrian, sejenak kemudian mengalihkanya pada yang lain. Ia tidak ingin Adrian melihat kegelisahan hatinya.
"Wah ... Padahal rencananya. saya yang meminta Ara untuk tidak menjual tempat ini. Biar Ibu dan Bapak tetap disini, mengelola toko bunga ini. Karena bagaimanapun, banyak kenangan yang yang ada di rumah ini yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh istri saya. Jadi kalau kami ke Bandung, kami punya tujuan selain ke panti asuhan."
"Hah? Benarkah Nak? Alhamdulillah ... Ya Allah. Terima kasih, Nak. Bapak sudah khawatir akan tinggal dimana jika kalian pindah dan rumah ini dijual." Pak. Santo menyeka keringat serta air matanya yang malah berurai karena haru. Ara masih memikirkan mereka berdua yang jelas-jelas adalah orang lain.
"Saya juga berpikir seperti itu. Jika tempat ini dijual, saya dan istri saya mengkhawatirkan Bapak dan Ibu."
"Kami janji akan merawat rumah dan toko ini dengan baik, Nak. Jika perlu dengan nyawa kami," ucap pak Santo berjanji.
Adrian mengangguk dan mengulas senyumnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Cari tahu identitas asli, keluarga atau orang-orang yang dekat dengan dokter spesialis anak Oryza Satrio. Aku tunggu secepatnya!"
"Baik, Tuan."
__ADS_1
"Jika dugaanku tidak salah, berarti selama ini dialah pelakunya."’
💜💜💜💜💜