Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Pingsan


__ADS_3

"Dad aku nggak mau sampai gadis sialan itu jadi istri nya Kak Erlan Dad cuma aku yang boleh jadi istri Kak Erlan Dad."ujar Anita.


"Terus Daddy harus apa Nita kamu pikir Daddy rela biarin anak sialan itu jadi istri Erlan pasti bakalan dia yang terkenal bukan keluarga kita karna menikah dengan laki-laki kaya, apalagi Erlan termasuk orang kepercayaan Kenzo."ujar Andi.


"Daddy harus ngelakuin sesuatu buat batalin pernikahan itu Dad."ujar Anita.


"Daddy nggak punya keberanian untuk berurusan dengan Erlan karna apa pun yang terjadi dengan Erlan pasti Kenzo akan turun tangan Nita."ujar Andi.


"Jadi Daddy nggak mau buat batalin pernikahan anak sialan itu."ujar Anita.


"Daddy nggak mau berurusan sama Kenzo nanti malah berimbas sama perusahaan Daddy."ujar Andi.


"Ya udah kalau gitu Daddy nggak mau bantuin aku biar aku sendiri yang lakuin."ujar Nita.


"Kamu jangan macam-macam ya Nita Daddy nggak mau nanti kamu salah ambil jalan bakalan berimbas sama perusahaan Daddy."ujar Andi.


"Daddy kok nggak dukung aku sih kalau berhasil rencana aku pasti Daddy juga bakalan dapat untung nya."ujar Nita.


"Terserah kamu Daddy nggak mau ikut campur dalam urusan kamu Daddy nggak mau nanti semua berimbas sama perusahaan yang udah Daddy kembangin dari nol berantakan cuma gara-gara kamu."ujar Andi


"Oooh ya udah biar aku sendiri yang lakuin nya."ujar Nita dan langsung pergi dari hadapan Andi dengan perasaan kesal karna Daddy nya tidak mau membantu rencana nya.


••••••••••••••••••••


"Mas kok perasaan Ara nggak tenang gini ya."ujar Ara mengutarakan kegelisahan hati nya pada Erlan.


"Mungkin hanya perasaan kamu aja sayang."ujar Erlan.


*Tapi aku merasa kalau Kak Nita pasti punya rencana untuk membatalkan pernikahan kita, karna Kak Nita nggak suka sesuatu yang dia sukai di ambil oleh orang lain.*batin Ara.


"Udah tenang aja sayang pernikahan kita bakalan tetap berlangsung tanpa ada yang boleh membatalkan dan menghancurkan pernikahan kita."ujar Erlan yang mendengar batin Ara berbicara.


"Ehhh kok Mas tau kalau Ara ngomong seperti itu."ujar Ara.


"Mas hanya menebak saja sayang."ujar Erlan.


"Ooo Ara pikir Mas bisa baca pikiran orang lain."ujar Ara yang langsung mempercayai ucapan Erlan.


"Ya nggak lah sayang."ujar Erlan yang tak ingin orang lain mengetahui kelebihannya yang bisa membaca pikiran orang lain termasuk kedua sahabatnya.


"Kamu mau makan sayang di sini ada makanan enak banget, kamu mau cobain sayang."ujar Erlan.

__ADS_1


"Belum Mas kebetulan juga perut Ara udah lapar Mas."ujar Ara.


"Ya udah kita makan yuk."ujar Erlan.


"Ba..baik Mas."ujar Ara yang tiba-tiba merasakan pusing yang teramat di kepalanya.


"Kalau kenapa sayang."ujar Erlan yang langsung menanyakan kondisi Ara.


"Nggak apa-apa Mas."ujar Ara sambil memijit pelan kepalanya untuk meredakan sedikit pusing di kepalanya.


"Kamu serius sayang."ujar Erlan yang tak percaya sepenuhnya pada Ara.


"Ara serius Mas."ujar Ara.


"Ya udah mending kamu tidur dulu nanti kalau udah sampe Mas bangunin."ujar Erlan.


"Baik Mas."jawab Ara yang langsung menutup matanya.


Tanpa Erlan ketahui Ara bukan tidur melainkan pingsan karna rasa sakit yang teramat di kepalanya.


Selang beberapa menit kemudian tibalah Erlan dan Ara di restoran yang di bilang Erlan tadi.


"Sayang bangun kita udah sampe nih katanya tadi lapar."ujar Erlan yang membangunkan Ara dengan lembut.


"Sayang bangun."ujar Erlan yang sudah mulai panik karna Ara tak kunjung membuka matanya.


"Sayang jangan bikin Mas khawatir gini sayang."ujar Erlan yang tak sengaja menyentuh kening Ara dan merasakan panas yang tak biasa di kening Ara.


"Astaga sayang kok badan kamu panas gini sayang."ujar Erlan yang langsung panik dengan kondisi Ara.


"Sayang."ujar Erlan.


Ara perlahan membuka matanya saat mendengarkan Erlan terus memanggil namanya.


"Mas."ujar Ara.


"Sayang kamu bikin Mas panik tau nggak."ujar Erlan merasa lega setelah Ara membuka matanya.


"Kepala Ara sakit Mas."ujar Ara.


"Kita pulang aja gimana biar kamu bisa istirahat."ujar Erlan.

__ADS_1


"Mas kok rasa nya Ara mau muntah ya Mas."ujar Ara yang langsung membekap mulutnya saat merasakan akan muntah.


"Sayang aduh ini gimana kita keluar dulu gimana mungkin mabuk perjalanan kali sayang."ujar Erlan yang tambah panik saat melihat wajah Ara yang sangat pucat.


Ara langsung membuka pintu dan keluar dari sana memilih untuk mendudukkan dirinya di tepi jalan mana tau bisa menghilangkan sedikit rasa mabuk perjalanannya.


Uwekk uwekk


"Ya Tuhan sayang kamu muntah darah sayang."ujar Erlan yang panik karna Ara muntah darah.


"Mas dada Ara sesak Mas."ujar Ara yang kesulitan untuk bernafas karna rasa sesak di dadanya.


"Kita ke rumah sakit ya sayang."ujar Erlan yang ingin Ara kenapa-kenapa.


"Baik Mas."jawab Ara.


Belum sempat berdiri Ara langsung pingsan untuk dengan sigap Erlan langsung menangkap tubuh Ara.


"Ya Tuhan sayang kamu kenapa lagi sayang jangan bikin Mas khawatir kayak gini sayang."ujar Erlan yang tambah panik karna Ara pingsan.


Erlan langsung mengendong tubuh Ara dan membawa ke mobil untuk pergi ke rumah sakit.


"Sayang kamu harus bertahan sayang jangan tinggalin aku sendiri."ujar Erlan yang begitu mengkhawatirkan kondisi Ara sekarang.


"Kita bakalan nikah sayang kamu harus kuat kamu udah janji sama aku kalau kamu bakalan kuat untuk sembuh sayang."ujar Erlan yang tak bisa menahan air matanya untuk menetes karna mengkhawatirkan kondisi Ara.


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Erlan sampai di rumah sakit terdekat, Erlan langsung keluar dan langsung memanggil Dokter agar segara menangani calon istrinya.


"Dokter tolong cepat periksa calon istri saya Dok."ujar Erlan berteriak memanggil Dokter.


Suster yang mendengar teriakan Erlan langsung mendorong brankar ke arah Erlan.


"Tuan di tidurkan di sini saja Tuan."ujar Suster itu yang melihat Erlan yang sudah kelelahan karna mengendong Ara.


Erlan langsung menuruti perintah Suster itu untuk meletakkan tubuh Ara di atas brankar.


"Ayo cepat Sus periksa calon istri saya."ujar Erlan yang tak sabaran.


"Baik Tuan."ujar Suster itu dan langsung mendorong brankar Ara ke dalam ruangan UGD untuk di periksa secara intensif.


"Maaf Tuan Anda tunggu di luar saja biarkan kami para tenaga medis yang menangani calon istri Anda."ujar Dokter itu.

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik untuk calon istri saya Sus."ujar Erlan penuh harap.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk calon istri anda Tuan."ujar Suster itu dan langsung menutup pintu UGD untuk melaksanakan tugasnya.


__ADS_2