Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
bab 174 Bencana Dasi


__ADS_3

"I love you, Sayang," ucap Adrian, yang sayangnya sama sekali tidak tersambung ke pendengaran sang istri. Karena wanita itu terburu melesat keluar kamar, mengambilkan obat untuknya.


"Minum ini, ya." Ara telah kembali, bergegas membuka obat dan meletakkannya di tangan Adrian. Kemudian wanita itu melepas kancing kemeja suaminya dan mengoleskan minyak angin ke dada, perut hingga kebelakang punggung kekar lelaki itu.


Adrian tersenyum samar melihat perlakuan istrinya itu padanya. Tentu masih segar dalam ingatannya, saat dulu malam-malam ia menghubungi wanita itu kerika ia sedang sakit. Padahal hubungan mereka saat itu benar-benar buruk. Tapi wanita yang berhasil membuat Adrian jatuh cinta itu selalu mengedepankan kemanusiaannya. Hingga ia mengurus Adrian sampai lelaki itu sembuh.


Apalagi melihatnya menggosok punggung dan dan dadanya. Rasanya seperti bernostalgia, seperti keinginannya tadi. Namun kali ini tentu saja tidak ada ucapan kasar dan ketus.


"Mau kemana?" Lelaki itu menahan Ara menjauh.


"Meletakkan pakaian Mas ke bawah."


"Disini saja. Biarkan itu semua dibersihkan bibi Yulia."


"Masih sakit? Atau ada bagian tubuh Mas lainnya yang terlewatkan belum kuobati?"


"Sudah agak mendingan. Istriku perawat terbaik yang aku punya. Aku tidak butuh apapun selain dia."


Ara bersemu mendengarnya. Wanita itu menyembunyikan wajahnya. Bagaimana ia tidak cinta mati dengan suaminya itu, bahkan saat lelaki itu ketus padanya saja ia sudah jatuh cinta. Apalagi semanis ini. Namun Ara lekas berdiri dan pura-pura sibuk melakukan apa saja agar bisa menjauh dari ranjang tempat Adrian berbaring. Rasanya malu ketahuan merona dengan ucapan manis lelaki itu.


"Ehem." Ara menghalau hatinya yang luar biasa bahagia hari ini.


"Sayang, kemarilah, " ucap Adrian ketika melihat istrinya salah tingkah dan malah menjauh darinya.


"Apa masih ada lagi yang kau butuhkan, Mas?"


"Kemarilah,"


Perlahan Ara mendekat, kemudian karena tidak sabar Adrian menarik lengan istrinya itu, hingga wanita itu terjatuh di dekatnya.


"Aku hanya ingin kamu ada disini."


"Benar perut Mas sudah mendingan?" tanya Ara memastikan.


"Sudah lebih baik, hanya tinggal sedikit." Adrian mengangkat tangannya dan dengan jemari tangannya memberi kode. "Aku lebih khawatir denganmu. Sungguh aku minta maaf." Tampak raut penyesalan dan bersalah dalam wajah Adrian.


Ara mengerti arah pembicaraan suaminya. Tiba-tiba Adrian memegaang erat jemarinya dan menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah cantik di depannya itu.

__ADS_1


"Sungguh aku ... Aku minta maaf, Sayang. Aku bukan sengaja melakukannya. Dasi yang kau siapkan tadi pagi masih untukku kan?" Adrian menatap sang istri yang hanya diam tanpa reaksi.


"Aku terlambat mengetahuinya," ucapannya melemah. Nampak sorot wajah khawatir jika wanita yang ada didepannya itu belum juga memaafkannya.


"Dasi itu, pemberian Laura?" Demi apa Ara menahannya sejak tadi untuk tidak cemburu. Tapi apa mau dikata, ia lemah juga. Ya, Ara mengetahuinya saat tidak sengaja ia bertanya pada bibi Yulia.


Flashback


"Bibi tahu dasi mas Adrian yang garis-garis?" tanya Ara pagi itu selepas Adrian meninggalkan rumah pagi ini.


"Garis-garis? Yang mana ya, Nyonya? Hampir semua dasi Tuan bermotif garis-garis," jawab bibi Yulia memgernyitkan dahinya.


"Yang warna hitam putih. Aku ingin membeli warna itu beberapa lagi. Sepertinya mas Adrian sangat menyukainya. Apa Bibi tahu dimana membelinya?"


"Bukankah yang motif garis warna hitam putih, Tuan hanya memiliki satu satunya Nyonya?" Wanita paruh baya itu nampak memikirkan sesuatu.


"Iya, Bi. Makanya aku ingin membelikannya beberapa lagi. Bibi memikirkan apa? Tidak fokus menjawab pertanyaanku."


"Maaf Nyonya. Seingat saya, dasi itu dibeli di luar negeri."


"Jauh sekali. Memangnya disini tidak ada? Tapi iya juga, kemarin saat aku ke store, aku tak menemukan dasi dengan motif dan warna yang sama persis seperti itu. Limited edition mungkin ya?" Ara menebak-nebak sendiri.


Apalagi kini melihat raut wajah sang nyonya yang berubah sangat datar dan kosong.


"Nyonya?"


"Tidak apa-apa bi. Tidak usah dipikirkan. Anggap saja aku tidak pernah bertanya tadi," Menepukkan tangannya pada pundak bibi Yulia, Ara langsung memutar tubuhnya kembali ke kamar.


"Mati aku! Kenapa bisa keceplosan? Padahal mungkin, Tuan saja sudah lupa dasi itu pemberian siapa."


Off


"Yang mana, Sayang?" Adrian mengernyit bingung mendapat pertanyaan itu.


"Yang garis-garis hitam putih," sahut Ara tanpa menampakkan senyumnya.


"Yang aku pakai hari ini?" Wanita itu mengangguk. "Pemberian Laura? Aku tak mengingatnya. Kukira aku yang beli," ucap Adrian spontan. Dari caranya menjawab lelaki itu tengah jujur sekarang.

__ADS_1


Namun apa benar Adrian lupa siapa yang memberikan barang yang ia pakai itu? Padahal Ara saja masih mengingat siapa dan benda apa yang teman-teman pantinya berikan saat mereka berpisah dan ikut orang tua asuh mereka masing-masing. Mereka saling memberi benda kesayangan untuk menghalau rasa rindu saat mereka mungkin tidak ditakdirkan bertemu lagi. Dan itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu.


Apa semua lelaki seperti itu?


"Lalu darimana kau tahu dasi itu dari Laura? Sungguh aku tak mengingatnya sama sekali, Sayang," ucap Adrian meyakinkan sang istri.


"Bibi Yulia."


"Ohh, jadi bibi Yulia biang keroknya," ucap Adrian setengah meninggi.


"Bukan seperti itu. Bibi Yulia tidak sengaja mengatakannya saat aku bertanya. Jangan marahi beliau, Mas. Memang Mas benar-benar tidak ingat dasi itu dari siapa?"


Adrian menggeleng. "Aku menyukai warnanya, Sayang. Karena kau tahu sendiri hitam dan putih itu warna basic jadi selalu masuk di blazer warna apapun." Dalam hati Ara merasa lega mendengarkan penjelasan Adrian.


Lelaki itu menarik lebih dekat sang istri kepadanya. Melingkarkan tangan kanannya pada pinggang kecil wanita yang dinikahinya itu. Dan menatap dalam manik mata yang memiliki kelopak bulat itu dengan perasaan yang sangat dalam.


Kemudian Adrian meletakkan jari telunjuknya pada bibir sang istri, saat wanita itu hendak mendebatnya. "Rasa sukaku hanya pada benda itu, Sayang. Bukan pada siapa yang memberikan nya. Jika itu menyakitimu, akan kusingkirkan saja. Aku tak ingin ada sesuatu hal yang membuatmu tidak nyaman."


Ara melarai tangan Adrian. "Tidak! Jangan di buang, Mas menyukainya. Aku tidak apa-apa, aku hanya memastikan saja siapa pemiliknya." Wanita itu tertunduk, sangat berbanding terbalik dengan apa yang keluar dari bibirnya. Yang mengatakan ia baik-baik saja.


"Kau berbohong padaku tentang apa yang kau rasakan?" Adrian kembali mencekal pergelangan tangan sang istri yang terlihat ingin kabur menghindarinya. Di peluknya erat pinggang kecil itu dalam dekapannya.


"Tidak, Mas. Aku_"


Cup!


"Aku tidak marah. Aku_"


Cup!


"Hentikan! Biarkan aku bicara dulu." Ara menahan bibir Adrian dengan kedua telapak tangannya. "Aku hanya cemburu."


Ara tidak dapat lagi menahan malunya. Bahkan wanita itu menunduk lebih dalam dan memejamkan matanya.


Dengan dua jarinya, Adrian mengangkat dagu sang istri ke hadapannya. "Ohhhh ...."


Ara langsung membuka matanya, ia kaget dan akhirnya terbelalak mendapati wajahnya yang begitu dekat dengan sang suami. Bukankah seharusnya wanita itu terbiasa berada dalam posisi seperti ini? Mereka kan suami istri. Tapi ternyata ketika sepasang suami istri itu salah paham hingga akhirnya hubungan mereka membaik kembali. Rasanya seperti ... Entahlah tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

__ADS_1


Bahagia dan bahagia. Dan tentunya semakin cinta.


"Kau tak bisa kabur kemana-mana!"


__ADS_2