Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 104


__ADS_3

"Sayang, kau darimana saja. Mommy mencarimu daritadi," Lina menyapa sang menantu yang baru saja memasuki dapur.


"Aku keluar sebentar Mom, membeli ini," Ara mengangkat bungkusan plastik putih ditangannya. Plastik berisi buah-buahan segar yang beraneka warna.


"Wahhh... ini kesukaan Mommy. Ayo, sana cepat bikin jus sayang," Ara segera mengambil juicer sedangkan sang mertua asyik membantunya mengupas dan membersihkan buah-buahan itu.


Kedua orang wanita berbeda usia itu sibuk berkutat di dapur, membuat jus dan memasak berbagai makanan untuk makan malam. Hingga mereka melupakan Dani, yang sejak siang sama sekali tidak turun ke lantai bawah.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Ara. Gadis itu bergegas mencuci tangan kemudian membukanya. Adrian mengabarkan jika dirinya lembur dan pulang jam 9 malam. Seketika ia lemas, padahal ia dan dan sang ibu mertua memasak berbagai makanan hari ini.


"Mas Adrian pulang lembur Mom," ucap Ara yang terduduk lesu membayangkan banyaknya makanan yang sedianya akan ia hidangkan saat sang suami pulang.


"Tidak apa. Itu hanya beberapa jam lagi," ucap Lina yang menepuk bahu Ara memberi semangat. Selanjutnya ia segera naik ke atas, memanggil Dani untuk makan malam bersama.


Dan saat ini, mereka sudah duduk bertiga menghadap meja yang penuh dengan makanan. Hingga dani mengernyit, melihat pemandangan di depannya yang lebih seperti pesta perayaan itu.


"Ini ada acara apa, Oma?" tanya Dani. Matanya bergerak kesana kemari menatap setiap piring yang ada di depannya.


"Tidak ada. Oma hanya ingin masak banyak saja. Tapi Daddymu malah pulang malam."


"Sayang, makan yang banyak ya, " ucap lina, wanita paruh baya itu sampai berdiri, hanya untuk mengambilkan nasi cucunya. Setelah sebelumnya ia memberi kode pada menantunya, agar ia saja yang menggantikan tugas Ara.


"Iya. Kamu butuh banyak tenaga. Tante tadi masak ikan salmon kuah asam. Dicoba ya," Ara menyambung sang mertua mengambilkan lauk untuk Dani. "Tante juga membuat jus, kata oma kamu suka jus sirsak," Ara menyodorkan segelas penuh jus yang dibuatnya.


"Terimakasih," sungguh membuat senyum Ara tidak berhenti mengembang. Meski hal ini sudah kesekian kali, anak itu mengucapkannya pada Ara.


Acara makan malam yang mengesankan, meski tanpa Adrian. Sedikit mengobati kekecewaan Ara akan ketidakhadiran sang suami. Perubahan Dani sangat luar biasa, dan membuat gadis itu lebih bersemangat.


Pada akhirnya kasih sayanglah yang bisa meluluhkan hati seseorang. Sekuat apa kita menolak berinteraksi karena rasa benci, namun kita tidak bisa menolak yang namanya perhatian, kesabaran dan cinta.

__ADS_1


"Apa kau mau melihat film dengan tante sambil menunggu mengantuk? Tante akan bantu kau kesana jika mau," Ara menawarkan diri menemani Dani, daripada anak itu hanya berkutat sendirian di kamarnya, lagipula jam belum terlalu malam.


Anak laki-laki itu mengangguk setelah beberapa lama. Memang butuh waktu untuk menumbuhkan sebuah kepercayaan. Namun bukan berarti tidak bisa bukan?


Dan anak itu membuat Ara bahagia, dengan membiarkan lengan ibu sambungnya itu memapahnya, hingga ke sofa coklat di ruang santai.


"Apa film yang kau sukai? Action? Horor? Komedi?" tanya Ara pada Dani yang nampak mencari tempat ternyaman dengan menggeser sendiri tubuhnya.


"Aku ikut apa yang tante ingin lihat saja,"


Ara menggaruk rambutnya yang tidak gatal, mencoba berpikir cepat film apa yang disukai anak seusia Dani. Sebenarnya usia mereka tidak terpaut jauh, namun terkadang perbedaan kepribadian juga mempengaruhi seseorang dalam menyukai suatu hal.


"Tante suka action dan juga ho-ror namun terkadang juga tidak menolak film ko-medi," ucap Ara, tanganya aktif membalik tumpukan benda kotak yang berisi lempengan disc dalam laci dibawah layar TV.


"Berarti tante sengaja menggiring ku kesana?" Ara tercekat, secara tidak sadar ia memang menggiring Dani untuk melihat film kesukaan gadis itu. Bukankah tadi ia juga hanya menyebutkan tiga genre itu sebagai pilihan.


"Hahh?" gadis itu membalik tubuhnya kemudian tersenyum kikuk sambil berkata, "Aku hanya memberi contoh, kalau kau suka yang lain juga tidak apa-apa,"


Rupanya film Stephen Chow dan Vicky Zhao keluaran 2001 yang dipilih Ara, judulnya Shaolin Soccer. Film fenomenal yang bergenre komedi dengan sedikit sentuhan action yang mendunia saat itu.


"Tidak ada yang lebih baru?"


"Emmm, sepertinya kalian jarang menonton film dirumah ya? Hampir semuanya film lama," demi Dani, gadis itu kembali lagi ke depan laci tempat menyimpan disc film di rumah besar itu.


"Tidak. Daddy sibuk bekerja,"


Ara menghentikan gerakan tangannya. Suasana menjadi mendadak canggung, karena jawaban Dani. Apa Adrian benar seperti itu?


"Nanti aku bilang Daddymu supaya membeli film-film action dan komedi terbaru. Kita luangkan wanktu untuk sesekali nonton bersama saat hari libur. Aku...juga lama tidak pernah nonton film," Ara memasang senyum tipisnya demi menciptakan suasana nyaman untuk obrolan mereka.

__ADS_1


"Nonton itu saja, Tan," ucap Dani yang kemudian diikuti oleh ibu sambungnya. Ara duduk tidak jauh dari anak laki-laki itu, menempelkan tubuh ke sandaran sofa.


Mereka berdua nampak menikmati jalan ceritanya. Terbukti tawa Ara yang terdengar meski samar hingga ke luar ruangan.


Ceklek!


Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya sosok Adrian yang baru saja pulang bekerja. Ia hanya berdiri di depan pintu menatap sang istri dan anak satu-satunya yang duduk bersama menonton film.


Ara seketika beranjak menghampiri sang suami. "Disitu saja, tidak apa-apa," ucap Adrian.


"Aku sudah izin, nanti kita kesini lagi," ucap Ara menjawab Adrian yang ingin mengatakan bahwa ia memperbolehkan sang istri duduk disana menemani Dani lebih dahulu.


"Capek, ya?" tanya Ara menggandeng lengan sang suami dan membawanya ke dapur, kemudian mengangsurkan segelas air hangat yang langsung ditenggak habis oleh lelaki itu.


"Makan dulu atau mandi dulu? Tapi belum aku panaskan makanannya, jadi harus menunggu sebentar," menaruh gelas, kemudian Ara memutar tubuhnya dan mendapati Adrian menatapnya tanpa menjawab pertanyaannya.


"Nas, baik-baik saja?" tanya Ara kemudian.


"Tidak."


"Sakit?" tangan lembut itu langsung terulur ke atas kening lelaki yang ia rindukan sepanjang hari ini. Padahal, mereka baru seharian ini tidak bersama, nanti jika sudah di kamar rencananya Ara ingin meminta lagi pekerjaannya.


lelaki itu menangkap tangan sang istri kemudian meletakkan punggung tangan lembut itu di kedua pipinya.


"Apa kau sesibuk itu di rumah?"


"Aku tidak sibuk Mas. Aku malah menikmati berada di rumah," Ara mengerjap, mengapa justru pertanyaan seperti itu yang keluar dari bibir sang suami.


"Tapi kau sama sekali tak mengingatku. Ataupun sekedar menghubungiku," ucap lelaki itu sendu. Sepertinya bukan hanya lelah fisik yang membuatnya begitu, tapi lebih ke psikisnya.

__ADS_1


"Hari ini, pertama Mas masuk kembali setelah cuti yang lumayan lama. Tentu saja banyak pekerjaan kemarin-kemarin yang menunggu untuk diselesaikan. Aku takut mengganggumu. Sungguh tidak ada maksud melupakanmu," ucap sang istri manja, dan kemudian malah memberikan tubuhnya untuk dipeluk sang suami.


Adrian hanya diam. Membawa tubuh langsing sang istri kedalam pelukannya. Bahkan berkali-kali terdengar helaan napas panjang lelaki itu. Menandakan jika ia benar-benar lelah. Dan sang istri hanya bisa mengusap lembut punggung lebarnya untuk menenangkan.


__ADS_2