
"Tante kenapa, Mas?" Ara langsung merapikan piyamanya dan berjalan menghampiri sang suami.
"Akio masuk rumah sakit, Sayang. Aku hubungi Ardi dulu, .....atau Elang saja yang lebih dekat," ucap Adrian meninggalkan sang istri dan segera menelpon asistennya itu.
"Aku ikut ya, Mas,"
"Nanti saja biar dijemput Elang. Ini sudah hampir pagi, lagipula aku buru-buru, Sayang. Istirahatlah dulu ya," selesai berucap, Adrian langsung masuk ke kamar mandi.
"Sayang? Suruh menunggu sebentar kalau Elang sudah datang," teriak Adrian dari dalam. Ara tidak menjawabnya. Tanpa istrinya tahu, Adrian terpaksa menuntaskan hasratnya di kamar mandi.
Setengah jam kemudian, lelaki itu keluar. Aroma wangi sabun menguar dari tubuhnya yang nampak segar dan rambutnya pun basah.
"Katanya buru-buru, tapi masih sempat mandi," sindir Ara yang duduk di ranjang dengan bibir mengerucut.
"Sayang, aku mandi karena...karena panas. Nanti aku bau," jawab Adrian sekenanya. Segera diambilnya tshirt putih dan celana pendek untuk dikenakan. Ia tidak ingin sang istri terus penasaran dan menanyainya.
Cup! "Aku pergi dulu, ya. Jangan marah nanti agak siangan biar dijemput Elang, hemm," setelah memgecup bibir sang istri lelaki itu bersimpuh di depannya.
"Janji?" Adrian mengangguk. "Padahal aku tinggal ganti pakaian sebentar, Mas. Aku_"
"Sssst... aku janji, aku yang akan menjemputmu. Aku sendiri bukan Elang, oke?" ganti Ara yang mengangguk. Wanita itu akhirnya menurut untuk ditinggal di rumah.
"Jangan lupa memberi kabar jika ada sesuatu," pesan Ara sebelum lelaki itu masuk ke dalam mobil bersama Elang.
"Kabar Akio? Tentu saja," jawab Adrian yang segera berbalik membelakangi sang istri.
"Kabar Kakak dan juga..kabarmu," ucapan sang istri menciptakan seulas senyum samar di bibir Adrian.
"I love you," ucap Adrian tanpa suara, lelaki itu hanya berbalik untuk mengatakannya pada sang istri . Dan Ara membalasnya dengan menyatukan kedua jari dari kedua tangannya berbentuk hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Addd....., " Aimi menghambur saat melihat sang keponakan datang. Dipeluknya Adrian dengan tangis yang tak juga berhenti semenjak ia sampai di rumah sakit tadi.
"Bagaimana Kio, Tan?"
__ADS_1
"Belum keluar, Kak," Hiro yang menjawab pertanyaan adrian. "Sudah hampir satu jam, Kio terlalu nekat. Padahal aku sudah melarangnya." diwajah lelaki Jepang itu menampakkan rasa bersalah yang sangat ia sesali.
"Memangnya dia melakukan apa?"
Bersamaan dengan itu seorang dokter nampak keluar dari ruangan kemudian mendekati mereka. "Keluarga pasien atas nama Tuan Akio Ilyasa?"
"Ya, Dok benar."
"Syukurlah kalian cepat membawanya kesini. Terlambat sedikit saja akan berakibat fatal bagi nyawanya, Bu. Kondisinya sangat lemah. Dia harus bedrest total." Nasihat dokter pada mereka.
"Boleh dijenguk, Dok?"
"Silahkan. Bergantian,
ya," ucap lelaki berjas putih itu seraya pamit meninggalkan mereka.
Kedua orang lelaki itu mendahulukan Aimi sebagai yang pertama masuk ke kamar Akio.
Begitu pintu terbuka, nampaklah Akio yang terbujur di atas bed dengan alat bantu pernapasan, pecahlah kembali tangis Aimi. Padahal wanita paruh baya itu sudah sering melihat Akio mengenakannya, namun tetap saja rasanya selalu membuat hatinya sakit.
Aimi menguatkan diri. Ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak menunjukkan airmata di depan anaknya. Apapun yang terjadi, ia harus kuat karena ia tahu ia adalah salah satu kekuatan dan kelemahan Akio selain wanita yang dicintai anaknya itu.
Ditariknya kursi dengan lemas. Duduk dengan mencoba tegak, Aimi mengulurkan tangannya menggenggam tangan putih yang nampak semakin pucat itu. Tangan Akio begitu dingin, membuat sang ibu sedikit meremang.
"Ki ... Kamu baik-baik saja, kan?" Pertanyaan yang tidak butuh jawaban bukan? Namun terkadang hanya itulah yang bisa keluar dari bibir kita disaat rasa khawatir pada orang yang kita sayangi berada pada puncaknya. Dan Aimi hanya ingin menghibur dirinya sendiri. Berharap sang anak menjawab baik-baik saja saat ini.
"Mama mencintaimu. Entah berapa kali mama sudah mengucapkannya hari ini. Tetap kuat ya Sayang, kami semua menunggumu. Kita akan lakukan apa saja yang kau mau, bersama-sama. Kemarin adikmu menangis saat menelpon mama. Ia mengatakan rindu sekali denganmu. Namun ia baru bisa pulang bulan depan untuk memelukmu."
Aimi berceloteh sendiri, ia mengatakan banyak hal pada Akio yang bahkan belum membuka matanya sama sekali. Layaknya seseorang yang sedang bercakap-cakap, dan sesekali wanita paruh baya itu nampak mengusap bulir bening yang membasahi matanya.
Sampai tanpa terasa, Aimi tertidur berbantal lengan Akio. Dengan memeluk sangat anak erat. Di luar, Hiro tertidur di ruang tunggu. Sedangkan Adrian, lelaki itu sesekali memejamkan matanya yang terasa berat.
Hari sudah terang, ketika Adrian menyadari bahwa sang tante belum nampak keluar dari kamar sepupunya. Kemudian lelaki itu berinisiatif untuk menyusul ke dalam.
"Tan." Adrian mengusap lembut bahu sang tante. Aimi pun bangun, karena merasakan dinginnya tangan Adrian. "Tante mau pulang sebentar, mungkin ada sesuatu yang ingin diambil. Biar aku yang menjaga Kio disini."
__ADS_1
"Tidak. Mungkin hanya beberapa pakaian ganti Kio dan tante. Biar Hiro saja yang mengambilnya. Tante tidak ingin kemana-mana sampai Kio bangun, Add. Kamu saja yang pulang, Ara pasti khawatir," ucap Aimi yang menolak tawaran keponakannya.
"Sungguh, Tante tidak apa-apa kutinggal?" Aimi mengangguk. "Hiro sudah aku suruh untuk membeli sarapan. Tante jangan terlambat makan, ya. Butuh tenaga yang kuat untuk menjaga Kio. Aku tidak ingin tante juga sakit. Nanti sore, aku akan kesini lagi dengan Ara." Aimi mengangguk kembali dan berterimakasih pada Adrian yang sigap datang saat ia menghubunginya tadi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=
"Hai, Cantik," sapanya saat memasuki dapur dan melihat sang istri tengah ikut sibuk dengan yang lain menyiapkan sarapan. Wanita itu hanya mengerling, menjawab panggilan sayang sang suami, kemudian kembali meneruskan aktifitas masaknya.
Adrian mengambil kursi dan meletakkan bokongnya disana. Menikmati segelas air yang sebelumnya ia ambil dari kulkas.
"Hai ... Kok pulang? Bagaimana keadaan Kak Akio?" tanya Ara kemudian, tangannya sibuk mengaduk sup kacang merah kesukaan Adrian.
"Baik. Jadi ... tidak ada yang mengkhawatirkanku?" sindir Adrian yangemasang wajah sendu.
"Tidak, Mas. Aku juga mengkhawatirkanmu, aku ...." Ara tak dapat berkata-kata ketika melihat sang suami yang hanya terdiam saja diatas kursinya. Bahkan para penghuni dapur yang lain sampai meninggalkan mereka satu persatu karena tidak ingin mengganggu.
Ara meletakkan sendok supnya kemudian setelah mematikan kompor, wanita cantik itu mendekati sang suami.
"Maaf, ya." Tangan Ara menggenggam jemari sang suami. "Bukan maksudku seperti itu, Mas." Adrian masih terdiam, entah mengapa Ara merasa suaminya itu mudah cemburu akhir-akhir ini.
Lelaki itu kaget, saat tiba-tiba sang istri duduk di pangkuannya dan memeluknya. "Aku bau," ucap Adrian yang memundurkan tubuhnya.
"Aku juga. Meskipun sudah mandi tapi bau masakan lagi," ucap sang istri yang melerai pelukannya, kemudian mengendus aroma tubuhnya sendiri.
"Tapi aku suka." Sang istri tersenyum mendengar ucapan Adrian, lalu memainkan hidungnya dengan gemas. "Jangan khawatir, hidung anak kita nanti akan semancung aku."
"Dia pasti cantik ataupun tampan sepertimu." Ara mengusap lembut wajah Adrian. Membayangkan memiliki malaikat kecil membuat pipinya merona. Anak itu pasti akan mirip dengan suaminya, karena ia berjanji pada dirinya sendiri jika nanti ia hamil ia akan memikirkan suaminya itu setiap saat. Biar anak mereka yang lahir lebih mirip suaminya daripada dirinya.
"Dia juga akan mirip denganmu, Sayang." Cup! Kecupan bibir tak terelakkan apalagi Adrian menyadari jika disana hanya ada mereka berdua.
"Mirip Mas saja. Biar kalau aku merindukanmu. aku bisa memeluknya," ungkap Ara jujur.
"Memang aku mau kemana? Kenapa harus rindu-rinduan. Kita akan bersama selamnaya,"
"Aminn ... sarapan dulu, Mas. Selanjutnya mandi lalu istirahat. Jangan lupa kau janji menemui Dani siang nanti." Ara mengingatkan Adrian akan agendanya hari ini.
__ADS_1
"Hampir saja aku lupa, Sayang. Untung kamu mengingatkannya. Berarti aku harus cuti lagi hari ini." Mendesah pelan, Adrian melepaskan napas beratnya kini.
"Tidak apa-apa. Kepentingan keluarga harus diprioritaskan. Apalagi menyangkut Dani," hibur sang istri.