
Sebelum sampai di rumah, Adrian sengaja menghubungi bibi Yulia untuk mengetahui posisi sang istri dan apa yang dilakukan wanita itu saat ini.
Rupanya wanita cantik istri pemilik perusahaan Ilyasa itu sedang berada di kamarnya dan bersiap mandi.
Kebetulan sekali beberapa menit lagi, lelaki itu sampai di rumah. Jadi saat ia tiba, Ara pasti tidak akan mengetahui kedatangannya.
Adrian sudah menyiapkan kejutan untuk wanita yang dicintainya itu. Kejutan dalam rangka meminta maaf. Sungguh, belum juga sampai rumah, lelaki itu sudah ketar-ketir jika apa yang dilakukannya akan gagal, atau wanita yang ia nikahi itu betah untuk ngambek dan mengulur waktu untuk memaafkan. Bahaya kan?
Memasuki gerbang tinggi menjulang menuju rumah utama, Adrian bersenandung lirih. Bukan kebiasaannya memang, tapi lelaki itu hanya ingin menghalau kegugupannya. Seumur hidup baru kali ini lelaki itu galau hanya karena berbuat salah yang sangat-sangat sepele pada sang istri. Meskipun sepele, Adrian tahu ia menyakiti hati wanita yang ia cintai itu.
Bibi Yulia yang mendengar mobil sang majikan datang, bergegas menyambut.
"Istriku masih diatas?"
"Iya, Tuan. Saya sudah memastikan nyonya masih di dalam kamar mandi," jawab bibi Yulia seperti detektif. Ia begitu bersemangat saat sang majikan mengatakan akan membuat kejutan.
"Bagus. Siapkan ini, Bi." Adrian membeli bakso beranak porsi jumbo dan meminta bibi Yulia untuk menghidangkannya.
"Ini ... untuk nyonya, Tuan?" Menelan salivanya, bibi Yulia bertanya untuk memastikan keinginan sang majikan. Bakso itu terkenal pedas dan bahkan memberikan cabe utuh di setiap bulatan anak-anak bakso yang ada didalamnya. Meskipun tidak semuanya, seperti ranjau begitu.
"Kami berdua. Kenapa, Bi?"
"E ... Tidak ada, Tuan. Tapi ... ini pedas Tuan, isian didalamnya_"
"Aku tahu. Ara suka pedas dan ia sudah lama sekali ingin kesana tapi aku belum bisa mengantarnya. Tidak ada salahnya aku ikut mencoba untuk membuatnya senang," ungkap Adrian yang juga membayangkan jika sang istri pasti sangat bahagia mendapatkan kejutan tak terduga ini.
"Tapi, Tuan?"
"Ahh ... Bibi, tapi-tapi terus. Tidak apa-apa, Bi.
Hanya sedikit." Adrian mengerti kekhawatiran wanita paruh baya yang sama cerewetnya dengan ibunya itu.
Merasa lega dengan penjelasan Adrian, bibi Yulia bergegas ke dapur menyiapkan makanan yang dibeli sang majikan itu.
Secepat mungkin Adrian menuju gazebo memberikan sedikit sentuhan girly warna pink kombinasi bunga dan balon bentuk cinta pada tempat itu. Sungguh makan malam yang sempurna, itulah yang ada dipikiran Adrian.
Lelaki itu dibantu Elang sang asisten untuk menyelesaikannya. Meskipun mereka bukan ahli dalam hal dekorasi seperti itu, tapi mereka tidak kehabisan akal. Ada pembimbing online yang selalu siap sedia membantu bukan? Siapa lagi kalau bukan Youtube.
Hanya dalam sepuluh menit, semua yang memang sudah di rancang dari awal itu selesai tepat waktu dan cepat.
Setelah itu, Adrian naik ke lantai atas mencari sosok sang istri. Begitu sampai disana, lelaki itu bernapas lega karena sang istri nampaknya belum selesai dari ritual sorenya.
Lelaki itu mengatur kembali napasnya sembari mengingat-ingat apa yang sudah dipelajarinya dari sebuah situs internet, tentang cara meminta maaf dan meluluhkan hati sang istri.
"Sayang, maafkan aku. Aku ... Sungguh aku tidak tahu ... Hasss ... lanjutannya bagaimana tadi?" Lelaki itu menyugar kasar rambutnya.
"Sayang, aku tahu aku salah. Maafkan aku ... Dasi itu, dasi itu_"
"Ehem ...." Dan buyarlah apa yang telah dipelajari lelaki itu tadi.
"Sayang, kukira kau masih didalam." Adrian kaget mendapati sang istri ada dibelakangnya. Mendadak pikirannya ke mana-mana, bagaimana jika istrinya itu sudah berada disana sejak tadi, dan mendengarkan gumamannya.
Namun apa daya, bukannya menjawab, istrinya itu malah melenggang melewatinya begitu saja.
"Sayang?" panggil Adrian lembut dan mesra.
Hening.
Dan Adrian langsung mengurungkan niatnya untuk membahas sesuatu yang sangat sensitif itu.
Dasi.
Wanita itu menuju meja riasnya, mengacuhkan panggilan Adrian dan duduk dengan anggun di depan cerminnya.
"Aku sudah menunggumu untuk makan malam." Berjalan mendekat, Adrian sebenarnya ragu bisa meruntuhkan dinding tinggi yang tercipta akibat kecerobohannya pagi ini.
__ADS_1
"Dandan yang cantik ya, aku tunggu dibawah." Bahkan hanya sekedar untuk mencuri kecupan, yang biasa lelaki itu lakukan selama ini jika sang istri sedang marah pun ia urungkan. Adrian memilih mendinginkan hatinya sendiri, dan mencoba untuk sabar dengan sikap istrinya yang sedang merajuk itu.
Dan juga menghalau rasa khawatirnya yang berlebihan akan sesuatu yang belum terjadi.
Sepeninggal Adrian. Ara bukannya berdandan seperti layaknya orang yang akan diajak makan malam. Mengenakan dress dengan make up on yang kentara. Tidak!
Wanita itu justru berpenampilan kasual. Kaos putih pendek dan celana jeans cut bray kesukaannya. Dan tidak ketinggalan rambut kuncir kuda dengan sapuan bedak tipis serta warna lipstick yang natural.
Yes, she is. Itulah Ara yang sebenarnya. Dia tidak ingin menjadi orang lain atau meniru orang lain hanya untuk menimbulkan rasa suka pada orang-orang didekatnya.
Ara sengaja, ingin mengetahui reaksi sang suami melihatnya hanya menggunakan pakaian sederhana.
Pakaian itu hanya identitas, begitu juga pekerjaan dan semua hal yang menempel pada raga seseorang. Namun perilaku dan pembawaan seseorang itulah hal yang utama.
Di taman belakang, di salah satu gazebo yang sudah dihias sedemikian rupa. Tampaklah Adrian yang harap-harap cemas menunggu sang istri.
Rasanya mirip seperti kencan pertama. Tapi hei, tunggu! Memang dia pernah kencan pertama dengan Ara? Bukannya mereka itu adalah majikan dan tawanan. Alih-alih memikirkan tentang kencan. Kebersamaan mereka hanya diisi dengan kerja, kerja dan makan bersama, itupun makan di apartemen dengan menu seadanya pula.
Mereka berdua itu bagaikan Nobita dan Doraemon. Karena Ara selalu menuruti perintah Adrian bagaimanapun tidak masuk akalnya. Cocok seperti Doraemon yang rela mengorek kantung ajaibnya hanya demi mengikuti kemauan Nobita.
Hahh ... Rasanya lucu sekali mengingat saat-saat itu. Ingin sekali mengulangnya. Tapi itu jelas sesuatu yang tidak mungkin. Karena hubungan mereka sudah jauh dan jauh lebih baik sekarang. Tidak mungkin Adrian akan mengulang sesuatu yang menyakiti wanitanya itu bukan?
Namun jika sekedar mengenangnya, sepertinya sangat membahagiakan.
Lelaki itu menghela napas panjang sejenak. Mendadak rasa nyeri menelusup didadanya. Ia merasa bersalah pada istrinya itu, yang bahkan tidak menuntut dirinya romantis seperti pasangan lainnya. Selalu menerima dia apa adanya. Termasuk anak lelakinya yang bahkan bersikap buruk pada wanita itu.
Adrian mengangkat kepalanya, saat dilihatnya Ara datang. Demi apa, lelaki itu malah tersenyum gemas melihat penampilan sang istri yang santai tanpa mengikuti pesannya tadi. Fix, istri cantiknya itu sedang merajuk tingkat dewa.
Semakin dekat jarak antara mereka, mata Ara membola melihat gazebo tempat ia biasa bercengkerama saat sore hari dengan sang suami, penuh dengan hiasan bagaikan ada acara istimewa yang akan dirayakan saat ini.
Namun wanita itu dengan cepat mengendalikan dirinya, memasang raut wajah biasa saja karena ia tidak mau sang suami melihat reaksinya.
Adrian berinisiatif menjemput, sedikit berlari dengan antusias lelaki itu menggandeng tangan sang istri, kemudian dibawanya untuk duduk disana.
"Ini acara apa?" tanya Ara dengan nada yang ia buat sedatar mungkin.
Setelahnya, bibi Yulia muncul membawa bakso beranak porsi jumbo di bakinya. Wanita paruh baya itu bahkan mengerling menggoda pada sang nyonya. Ia menuruti apa perintah sang majikan dengan benar.
Ara kaget. Bukan hanya pada kerlingan bibi Yulia, tapi juga apa yang dihidangkannya. "Ini ... Kapan Mas membelinya?" Masih dengan dahinya yang mengernyit heran, Ara menatap bergantian antara Adrian dan bakso favoritnya yang tengah terhidang di depannya itu.
"Tadi. Tapi, jangan dimakan dulu." Tangan Adrian melerai tangan Ara yang hampir menyentuh sendok di sebelahnya itu.
"Sayang kalau hanya dilihat saja, Mas. Mana bisa kenyang?" ucap Ara cepat. Wanita itu bahkan menelan salivanya berkali-kali menahan keinginannya untuk segera melahapnya. Makanan kesukaannya yang lama sekali tidak ia nikmati, hanya karena sang suami yang dengan segudang kesibukannya tidak memiliki waktu untuk menemaninya makan di kedai bakso langganannya itu.
"Aku senang, kau sudah banyak bicara."
Deg!
Apa-apaan ini, receh sekali hatinya itu. Bagaimana mungkin ia lupa jika sedang merajuk hanya karena bakso.
"Kata siapa? Aku masih tetap sama. Jangan lupakan nanti malam, Mas menginap di ruang kerja saja. Atau kalau tidak, biar aku saja yang tidur disana." wanita itu menabuh genderang perangnya.
Namun yang mengejutkan, Adrian sama sekali tidak protes ataupun menolak. Karena yang ia sadari, istrinya itu masih selalu mengedepankan sesuatu. Apa itu? Rasa sayang dan cintanya pada Adrian. Darimana lelaki itu tahu? Bukankah Ara memberikan pilihan, Adrian harus tidur di ruang kerjanya atau dirinya sendiri yang pindah kesana.
Selalu ada embel-embel dibelakangnya, semarah apapun dia pada suaminya itu. Dia tidak pernah benar-benar memikirkan dirinya sendiri.
"Iya. Aku pindah kesana nanti malam." Adrian menjawab dengan tenang, kemudian lelaki itu mengangsurkan sesuatu dari balik punggungnya.
Setangkai mawar putih yang berdiri tegak dan segar. Adrian tahu pasti sang istri akan menertawakannya, ia bukan sosok yang sering menghujani wanita itu dengan perbuatan romantis seperti ini. Tapi tidak ada salahnya bukan, demi menggagalkan rencana gencatan senjata.
Ara menerimanya, kemudian tanpa sadar wanita itu mendekat kemudian menghidu aroma mawar putih yang cantik itu.
"Wanginya seperti dirimu. Seseorang yang akan selalu kurindukan," ucap Adrian tiba-tiba.
Ara menarik kedua sudut bibirnya. Belajar darimana suaminya itu merangkai kata-kata romantis semacam itu.
__ADS_1
Kemudian seperti sebuah candu, Ara menghidu lagi dan lagi tanpa memperdulikan Adrian yang tengah menunggu reaksinya.
"Aku menyukainya."
"Benarkah? Berarti aku dimaafkan, Sayang?" Adrian berbinar menatap Ara. Ia tidak menyangka akan semudah ini meminta maaf. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mentraktir pemilik toko bunga tempat ia membelinya tadi. Karena mas-mas itulah yang memilihkannya mawar putih untuk mengungkapkan cinta kemudian meminta maaf.
"Aku hanya mengatakan menyukainya," Ara terdiam sejenak. "Kalau untuk itu, aku belum bisa."
Duar!
Seketika wajah Adrian kembali terlipat, namun sebisa mungkin tidak diperlihatkan pada istrinya itu. Karena bisa-bisa perang akan benar-benar terjadi.
"Aku tahu, Sayang. Sudah jangan pikirkan itu. Makanlah," Adrian mengambilkan sendok untuk istrinya. "Atau, mau kusuapi?"
Kesempatan emas! Tak melepas mawar putih dari tangannya, wajah berbinar Ara langsung mengangguk. Biarlah sekali-kali, seharian ini lelaki yang dicintainya itu memanjakannya.
Satu suapan, dua suapan, Ara nampak senang. Selain karena baksonya memang enak, rasa pedas dari cabe yang tanpa sengaja terkunyah karena memang tidak di setiap bakso kecil terisi cabe utuh itu, sangat menakjubkan. Pedas dan nikmat, sangat cocok untuk memperbaiki moodnya yang tinggal setengah.
"Mas juga makan." Ara mengambil sendok dan berinisiatif menyuapi sang suami.
"Sedikit saja, ya."
"Banyak juga tidak apa-apa. Siapa yang akan membantuku menghabiskan kalau bukan Mas." Tanpa banyak bicara Ara langsung memasukkan sendok berisi beberapa butir bakso kedalam mulut Adrian.
Satu, dua, tiga ... Wajah Adrian langsung memerah menahan pedas. Dari ketiga butir bakso yang masuk kedalam mulutnya, hanya satu yang tidak berisi cabe. Rasanya luar biasa pedas dan panas.
"Enak kan? Lagi ya? Aku sudah sebanyak ini dan Mas baru sedikit ... Jangan curang!" ucap Ara yang tanpa perhitungan lagi langsung menyuapi sang suami dengan beberapa butir lagi.
Sungguh rasanya ingin mengibarkan bendera putih untuk menyerah, namun itu tak kuasa dilakukan seorang Adrian yang tengah membujuk istrinya yang sedang merajuk. Lelaki itu beberapa kali terlihat menenggak minumannya hingga habis. Dan rasa pedasnya yang luar biasa, masih sangat terasa di ujung lidahnya. Bahkan kini hidungnya tengah berair dan ada sensasi rasa mulas yang menyelinap begitu saja di perutnya.
"Sudah Sayang. Kamu saja yang habiskan, aku ...." Lelaki itu tidak mampu meneruskan kata-katanya. Ia hanya mendesis sembari tangannya memegang area perutnya.
"Mas?" Ara memperhatikan mimik muka Adrian yang menahan sakit. Ia sangat khawatir hingga meletakkan sendoknya begitu saja, kemudian membawa tubuhnya mendekati Adrian.
"Tidak apa-apa, Sayang. Jangan khawatir. I'm fine, teruskan makanmu."
"Apanya yang fine!? Kesakitan seperti itu. Ayo kita kedalam saja." Ara mengalungkan lengan Adrian kebelakang lehernya kemudian memapah lelaki itu menuju rumah.
"Maaf, Sayang. Aku hanya merusak suasana, ya?" Ditengah rasa mulas yang mendera, Adrian masih sempat meminta maaf pada sang istri.
"Tidak! Aku yang salah, Mas. Aku yang memaksamu ikut makan," ucapnya dengan raut wajah khawatir dan bersalah. Ia yang didera euphoria karena bisa menikmati makanan pedas itu bersama Adrian, sampai lupa jika lelakinya itu tidak bisa makan pedas berlebihan.
"Bi, tolong buatkan teh hangat untuk Tuan," teriak Ara ketika ia menginjakkan kakinya di ruang tamu.
Bibi Yulia tergopoh-gopoh datang dari arah dapur. Wanita paruh baya yang sudah mengenal Adrian dari kecil itu kaget, melihat apa yang terjadi pada sang majikan seperti dugaannya yang hanya dianggap angin lalu oleh Adrian tadi.
"Bibi antar ke atas ya, minumnya. Aku akan mengurus Mas Adrian dulu," ucap Ara selintas lalu, karena ia mempercepat langkahnya ketika mendengar sang suami semakin sering mendesis kesakitan.
"Pelan ... Sayang," ucap Adrian ngeri. Bagaimana tidak? Mereka sedang berada di tangga dan hendak naik ke lantai dua. Namun istrinya itu bagai mempunyai kekuatan super hingga bisa berjalan cepat sambil memapah Adrian pula.
Wanita memang tiada duanya, ya. Selalu ada yang mengejutkan, tersembunyi di dalam diri mereka.
"Aku memegangmu kuat, Mas. Sudah ayo cepat! Kau sudah berkeringat seperti ini." Ara yang sudah sangat khawatir bahkan ikut berkeringat dan pucat, padahal bukan dia yang sakit.
Adrian hanya pasrah. menahan rasa mulas nya yang sebentar melilit sebentar hilang membuatnya tidak ingin mengucap apapun jika tidak perlu.
"Duduk disini." Tepuknya pada ranjang kemudian wanita itu membantu sang suami melepas blazer nya, ikat pinggangnya bahkan sepatunya.
"Merebahlah," Adrian hanya diam, menatap sang istri yang bergerak gesit kesana kemari. Menaruh blazernya, menata bantalnya setengah duduk, menyingkirkan sepatu ke sudut kamar dan terakhir mengambilkan minuman hangat dari atas nakas, yang dibuatkan oleh bibi Yulia.
"Mas? Merebahlah, kau sakit." ucap Ara setengah meninggi, karena sang suami tidak mengikuti perintahnya.
"Sayang ...."
"Nanti saja bicaranya. Minum tehnya dulu. Aku keluar ambil obat, ya," ucap Ara sambil berjalan meninggalkan sang suami yang tersenyum tipis di antara rasa mulas yang lelaki itu rasakan.
__ADS_1
"I love you, Sayang."