
Malam itu setelah membuat kejutan terakhir untuk Adrian, Ara terdiam duduk di balkon. Membuat semua ini tidak mudah. Menghias tempat itu dengan lampu, membuat tulisan kelap kelip sebagai ucapan. Dan menata kursi serta tanaman hiasnya sedemikian rupa sehingga indah. Semuanya tidak mudah.
Bukan! Bukan karena tingkat kesulitannya. Namun karena setelah ini, wanita itu harus meninggalkan semuanya dengan rela.
Tentu yang paling berat bukan segala kemewahan ini. Namun hati, yang sudah tertaut dan perasaan yang sudah saling bersemayam yang membuat wanita itu laksana di himpit beban yang sangat berat dalam melakukannya.
Apalagi saat ia membuat video ucapan ulang tahun sekaligus perpisahan pada suami yang dicintainya itu. Dia menangis, dan meski sekuat tenaga mencoba menahan air mata yang keluar, tetap saja tidak bisa. Maka setelah video itu dibuat, Ara mengunci diri di kamar cukup lama. Ia menangis sekeras-kerasnya melampiaskan semua kesedihannya.
Berat memang. Melakukan hal yang tidak ingin kita lakukan tapi harus dilakukan. Demi pengorbanan untuk orang-orang yang ia cintai.
Malam ini, dirinya akan pergi. Dia sengaja memberi jarak waktu sangat tipis antara kepergiannya dan kepulangan suaminya. Bukan karena ia ingin diketahui, jika ia ingin meninggalkan suaminya itu. Namun ... Ara yang sebenarnya tidak sanggup berusaha terus menguatkan dan meyakinkan dirinya bahwa keputusan ini yang terbaik untuk Adrian dan dirinya. Bahkan belum juga Ara pergi meninggalkan rumah itu, Ara sudah merasa rindu dengan sosok suaminya itu, padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu.
Tepat setengah jam sebelum kepulangan Adrian. Ara melangkah pelan, keluarga kamarnya. Hanya berbekal ponsel, buku tabungannya sendiri, dan tas kecil untuk menaruh semuanya itu serta tote bag sedang, berisi beberapa pakaiannya. Dia tidak ingin dicurigai oleh bibi Yulia atau yang lain.
"Nyonya mau kemana?"
"Aku mau keluar sebentar, Bi. Tadi sudah izin Tuan," ucap Ara meyakinkan. Bahkan wanita itu tersenyum seperti biasa pada kepala pelayannya itu.
"Ohh, iya Nyonya." bibi Yulia pun meninggalkan Ara yang masih terpekur menghentikan langkahnya di tangga.
Semua ini pasti akan membuatku rindu, terlebih lagi para penghuninya. Ara mengusap air mata yang terus saja mengalir. Untung saja bibi Yulia tidak terlalu memperhatikannya tadi.
Sampai di depan pintu gerbang pun, sang satpam bertanya pada Nyonya mereka. Untunglah dengan alasan yang tepat, lelaki berbadan tegap itu tidak curiga dengan sang Nyonya yang sebenarnya akan pergi.
Dengan naik taxi online, wanita itu menuju stasiun. Berusaha menghemat ongkos untuk sampai ke tempat tujuan. Kemana lagi, kalau bukan ke panti asuhan yang jaraknya lumayan jauh dari Jakarta.
Beberapa hari yang lalu, ia sudah memesan tiket kereta secara online. k
Kemarin hampir saja ia membuangnya, namun mengingat kembali ucapan Dani malam itu, rasanya ia memang sudah tidak pantas berada dikeluarga ini.
Dani seperti ayahnya, bersifat keras kepala. Jadi anak itu tidak akan merubah sama sekali keputusan yang telah dibuatnya. Dan ini adalah satu-satunya cara agar anak itu mau kembali ke sisi ayahnya. Ara tahu, selama ini Adrian memendam kerinduan yang mendalam pada anak lelakinya itu.
Memasuki lantai stasiun yang dingin malam itu, membuatnya bergegas. Wanita itu duduk seorang diri menunggu datangnya kereta yang akan membawanya dari tempat yang penuh kenangan ini. Tempat ia dibawa pertama kalinya oleh sepasang suami istri yang mengangkatnya menjadi anak asuh. Juga tempat pertama kali dirinya mengenal seorang Adrian.
Sepanjang menunggu, Ara terus saja menangis. Meski tidak terisak namun matanya terus saja basah oleh air asin itu.
Drrrt
Drrt
Wanita itu kaget mendengar ponselnya sendiri bergetar. Sudah bisa ditebak bahwa yang menghubunginya adalah sang suami. Ara hanya melihat sekilas tanpa membukanya ataupun membalas banyaknya pesan yang masuk.
Kereta yang akan membawanya sudah tiba. Dengan buru-buru wanita itu masuk. Dia tidak ingin ada yang menggagalkan rencananya. Semuanya sudah bulat, dan tidak boleh gagal.
Di langkah pertamanya menjejakkan kaki di kereta, wanita itu berkata dalam hatinya. "Semoga Tuhan menjaga aku dan kamu Mas, dan aku pasrahkan hubungan ini hanya padaNya. Jika waktu mengubah segalanya termasuk perasaan kita, maka aku akan ikhlas melepaskanmu. Namun biarkan aku mencintaimu seumur hidupku."
Ara melanjutkan langkahnya menuju kursi sesuai yang ada pada nomor tiketnya. Ponselnya masih terus bersuara tanpa henti. Dia tahu, Adrian tentu tidak akan menyerah begitu saja melepaskannya.
Hanya ini yang bisa Ara lakukan. Dia tidak bisa berbuat hal lain untuk mengembalikan kebahagiaan mereka seperti sedia kala, yaitu saat ia belum masuk ke keluarga itu.
Tanda kereta berangkat sudah terdengar. Wanita itu mencengkeram tasnya dengan erat. "Tuhan semoga ini menjadi keputusan terbaik untuk kami, dan berikan selalu kebahagiaan untuk orang-orang yang aku cintai," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Di dekat jendela tempatnya duduk, Ara terpejam cukup lama. Hingga saat membuka mata, ia menangkap sosok sang suami yang berlari panik diluar. Matanya yang merah dan wajahnya yang nampak lelah merebut perhatiannya. Batinnya teriris pedih. Biasanya jika lelaki itu pulang dan lelah, dialah yang memeluknya. Karena Adrian selalu mengatakan, bahwa sang istri adalah obat dari segala macam keluhannya.
Wanita itu menempelkan tangan dan juga pipinya, pada kaca bening disebelahnya itu. Mencoba merekam memori sosok yang dicintainya itu dalam otaknya.
Mereka nampak dekat, namun kereta ini akan segera membawanya jauh. Ara menangis dalam diam, melihat perpisahan mereka yang begitu dramatis. Wanita itu sampai membuka mulutnya, meneriakkan nama Adrian dan mengatakan mencintainya tanpa suara.
Kereta yang membawanya ke masa kecilnya semakin lama semakin menjauh. Menyisakan kepedihan yang mendalam, bagi dua sosok manusia yang saling mencintai itu. Juga kenangan yang mungkin seumur hidup tidak akan pernah bisa terhapus.
Selamat tinggal jakarta, selamat tinggal Mas. Pertemuan dan perpisahan kita sudah menjadi bagian dari jalan takdir yang harus kita lalui. Semoga masih ada kesempatan untuk kita meski entah kapan itu untuk berdua kembali sebelum kita sama-sama menutup mata.
Ara memejam erat, merasakan tubuhnya yang kedinginan meski wanita itu sekarang tengah memakai jaket sang suami yang sengaja ia bawa. Mulai saat ini dan seterusnya, dingin seperti ini akan menjadi temannya, karena pelukan Adrian tidak lagi akan dapat ia rasakan, entah untuk berapa lama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul empat pagi, kereta yang membawa Ara berhenti di sebuah stasiun. Ia tidak memiliki siapapun disana. Kecuali panti asuhan, tempat ia dibesarkan bersama sang sahabat, Mela.
Membayangkan akan merepotkan kembali ibu panti untuk menerimanya lagi baru terpikirkan oleh Ara. Namun jika tidak ke sana, ia tidak tahu akan kemana lagi.
Dengan menaiki ojek online, Ara sampai di bangunan penuh kenangan masa kecilnya itu. Baru saja sampai ia sedikit kaget jikan panti tempat ia tinggal dulu telah direnovasi menjadi bangunan yang sangat layak, dan bahkan lebih luas dari sebelumnya.
Wanita itu melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam halaman. Disana, ia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu.
"Selamat pagi, Bu"
Wanita itu tersentak kaget melihat kedatangan tamu sepagi ini. Kemudian ia mendongak dan tersenyum menyapa, "Ada yang bisa saya bantu?"
"Ibu ada?"
"Saya Ara. Dulu saya dibesarkan disini, Bu." Ara memperkenalkan diri pada wanita yang menyebut dirinya bu Sri.
"Sebentar ya, Nak Ara tunggu disini." Bu Sri melangkah ke dalam rumah kemudian kembali dengan seseorang yang tentu tidak pernah membuat wanita itu pangling.
"Ibuuuuu...." Ara berlari memeluk bu Fatimah. Orang yang sama yang telah merawatnya dahulu.
"Nak. Sepagi ini kau sudah sampai disini. Kamu datang dengan siapa?" tanya bu Fatimah menyelidik.
"Ara ... Ara datang sendiri, Bu." Ara nampak bingung menjawab, matanya berembun.
"Ayo masuk ke ruangan ibu." Bu Fatimah mengajak Ara ke ruangannya. Wanita sepuh itu tahu, pasti terjadi sesuatu hingga Ara sendirian sampai di kota ini, apalagi sepagi ini. Namun tentu tidak elok membicarakannya di luar, apalagi banyak lalu lalang penghuni panti.
Selama diruangan ibu Fatimah, Ara tidak berhenti menangis sambil menceritakan masalahnya dengan Adrian. Bu Fatimah hanya mendengarkan sambil sesekali memgusap lembut punggung Ara untuk menguatkan.
"Nak, apa kau tak kasihan dengan suamimu? Dia orang yang sangat baik," ucap bu Fatimah menyeka air matanya sendiri. Wanita sepuh itu ikut merasakan dilema dalam kehidupan anak asuhnya itu.
"Aku mencintainya, Bu. Dan aku tahu ia sangan mencintai anak lelakinya." Isakan Ara terdengar kembali, rasanya air mata wanita itu tidak akan pernah habis saat menceritakan tentang segala sesuatu tentang Adrian.
"Dia juga sangat mencintaimu." Bu Fatimah menggenggam erat kedua tangan Ara. Kedua wanita itu duduk bersisian. "Tahukah kamu, Nak? Jika semua yang membiayai renovasi panti asuhan ini adalah suamimu."
"Apa, Bu?" Ara menganga kaget. Adrian tidak pernah menceritakan apapun tentang semua itu. "Kapan ini dimulai, Mas Adrian tidak pernah bercerita apapun."
"Dua bulan yang lalu Nak. Dan rencananya akan menjadi hadiah ulang tahun pernikahan kalian." bu Fatimah menatap nanar anak asuhnya itu.
__ADS_1
Apalagi Ara. Saat ini, hatinya benar-benar seperti tercabik. Ulang tahun pernikahannya tinggal beberapa bulan lagi. Dan Ara sudah mematahkan harapan Adrian untuk merayakan bersamanya.
Ara tidak pernah menyangka jika suaminya menyimpan kejutan sebesar ini. Adrian pasti sangat kehilangan dirinya.
"Izinkan aku tinggal disini ya, Bu. Aku tidak memiliki siapapun lagi. Tolong jangan hubungi Mas Adrian atau mengatakan apapun jika ia bertanya tentangku pada Ibu. Biarkan aku disini, membantu ibu sambil mencari pekerjaan untukku. Aku janji tidak akan merepotkan." Ara memohon untuk bisa tinggal di panti yang merawatnya sedari kecil itu.
"Ibu bukan tidak mau menerimamu, Ra. Tapi ibu tidak tega dengan suamimu."
"Ara mohon, Bu. Ara akan segera pergi jika sudah mendapatkan pekerjaan."
"Jangan seperti ini. Kau tidak bekerja pun ibu tetap akan menampungmu, Ra," ucap bu Fatimah tidak tega. Dia menyayangi semua anak asuhnya seperti anaknya sendiri. "Bantu ibu mengurus adik-adiknu ya?"
Ara tersenyum lega. Paling tidak ia menemukan tempat berteduh untuknya sambil mencari pekerjaan. Sebenarnya ia tidak ingin merepotkan ibu Fatimah, dan penghuni panti lainnya. Namun jika dia datang pada Mela, gadis itu pasti akan membawanya ke Adrian kembali. Karena Mela pun tahu jika Ara dan Adrian tidak bisa terpisahkan.
"Bersihkan dirimu dan tempati kamarmu yang dulu," titah bu Fatimah.
"Kamarku? Apa tidak ada yang menempati, Bu?" tanya Ara heran. Padahal jumlah anak disini bertambah, terbukti dari papan putih di ruangan bu Fatimah dimana disana tertera jumlah keseluruhan penghuni panti yang hampir dua kali lipat dari saat Ara tinggal disini dulu.
"Adrian yang memintanya. Dia memperbanyak jumlah kamar di gedung ini untuk menampung anak-anak yang baru datang dan semua boleh ditempati kecuali kamarmu. Bahkan apa yang ada didalam sana tdak boleh di pindahkan, hanya boleh diperbaiki saja beberapa yang telah rusak," jelas bu Fatimah yang membuat dada Ara semakin sesak.
Wanita itu menghela napas panjang. Kemudian memekik dalam hatinya menyebuat nama sang suami. Mengapa semua ini dilakukan tanpa sepengetahuannya. Hingga ketika ia mantap meninggalkan Adrian, yang terjadi malah seperti ini. Mengetahui banyak hal yang dilakukan lelaki itu dibelakangnya, membuatnya hatinya susah mengucap ikhlas.
"Lihatlah kamarmu. Semuanya masih tetap sama. Mintalah kuncinya pada bu Sri. Ibu ada pengajian di masjid sebentarsebentar," ucap bu Fatimah lembut.
"Ayo beristirahatlah, Nak. Kamu nampak pucat dan lelah," ucap bu Fatimah seraya pamit. Wanita sepuh itu meninggalkan Ara sendiri di ruangannya.
Dengan langkah berat Ara melangkah menuju kamarnya. Kamar yang ia tempati bersama Mela dulu.
Baru saja masuk, mata Ara sudah berembun kembali. Menghirup udara yang sama seperti beberapa tahun silam saat disini, mengingatkannya pada gadis muda nan pemberani yaitu Mela dan dirinya. Mereka adalah dua sahabat yang bertemu di panti ini dan hanya mereka berdua lah penghuni panti paling besar setelah para pengurus yang hampir kesemuanya sudah paruh baya.
Ibu panti berpesan kepada mereka untuk selalu melindungi adik-adiknya yang masih kecil hingga membentuk mental mereka menjadi pemberani. Namun meski begitu, Ara memang lebih tidak tega kepada orang daripada Mela. Gadis yang terkenal ceplas ceplos itu selalu menjadi penyelamat ketika Ara dilanda kebingungan mengambil keputusan karena sifat tidak teganya.
"Ranjangnya masih sama, meja inipun hanya diperbaiki. Lemarinya...." Ara membuka pintu lemari tempatnya bermain petak umpet bersama Mela dulu. "Tidak ada yang berubah, dan...." Ara melihat ke luar jendela, tanaman-tanaman hias beraneka macam ada diluar jendela. "Apa yang kau lakukan, Mas? Kau membuatku semakin merindukanmu. Bahkan dihari pertamaku meninggalkanmu"
Ara terduduk di ranjangnya. Ditaruhnya tas kecil yang hanya berisi beberapa helai pakaiannya dan ia simpan di lemari. Kemudian melepas jaket yang ia kenakan, namun kemudian Ara malah memeluknya. Wangi parfum bercampur keringat sang suami dari jaket yang belum sempat dicuci, entah mengapa bisa menenangkan kegundahan hatinya saat ini.
Setelah wanita itu membersihkan diri, ia mengaktifkan ponselnya yang sengaja ia matikan. Hanya ingin melihat beberapa saat. Namun baru saja ia nyalakan, belasan pesan masuk bertubi-tubi. Membuat benda canggih itu terdengar berisik.
Sudah bisa ditebak pesan siapa yang masuk. Wanita itu tak kuasa membacanya. Pasti pesan-pesan cinta dan kehilangan sang suami untuknya. Dia tidak boleh ragu oleh apapun.
Ara mengetik sebuah pesan terakhir dengan cepat dan mengirimnya, tanpa membaca pesan-pesan diatasnya. Kemudia sesegera mungkin mematikan kembali ponselnya.
"Aku harus mengganti ponsel dan nomornya. Mas Adrian pasti akan melacaknya," gumam Ara. Kemudian wanita itu mendekat ke cermin. Penasaran dengan wajahnya yang dikatakan pucat.
"Benar juga kata ibu. Aku nampak pucat. Mungkin karena semalam saat perjalanan tidak bisa tidur sama sekali. Sebaiknya aku istirahat saja," ucap Ara dalam hati
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sayang ... Kamu dimana?"
❤️Hai readers, terima kasih ya sudah membaca. Like dan komenmu sangat berarti untukku, Terima kasih❤️
__ADS_1