
Tujuh hari berlalu. Sejak kepergian Nyonya Besar di rumah utama itu, semua memang serba berbeda. Keceriaan seakan hilang dari setiap penghuni rumah termasuk para pelayan yang rata-rata sudah bekerja bertahun-tahun lamanya. Apalagi ditambah dengan kepergian Dani, yang sedikit banyak menambah beban pikiran sang ayah denga rasa bersalahnya.
"Mas yakin sudah siap ke kantor?" tanya Ara pada sang suami saat wanita itu memasangkan dasi padanya. Sedikit mendongak, wanita dengan tinggi hanya sebahu suaminya itu mencoba berjinjit dengan dua kakinya.
"Hemm.." lelaki itu mengangguk sambil mengancingkan kemeja panjang putihnya. "Aku sudah terlalu lama cuti, Sayang. Semua pekerjaan akan terbengkalai kalau aku di rumah lebih lama lagi.
"Massss... Ini susah sekali," keluh Ara karena meskipun ia berjinjit, Adrian yang tidak mau membungkuk sama sekali membuat sang istri tetap saja tidak bisa pas memasangnya.
"Ahhhh...," pekik Ara ketika tanpa bicara Adrian mengangkat tubuhnya hingga ia sekarang berada diatas ranjang dengan kaki bertumpu pada benda empuk dibawahnya itu.
"Sudah pas kan?"
"Hemm.. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi ya, Mas?" gumam Ara dengan mata yang berfokus pada simpul dasi yang dibuatnya.
"Karena kau sibuk memikirkan aku. Dari tadi kamu hanya menanyaiku ini itu, hingga kau melupakan kebiasaanmu sendiri," jawab Adrian. Kedua ujung jarinya mencubit hidung Ara dengan gemas.
"Ha.. ha.. ha.. iya ya," seloroh Ara yang kemudian meloncat dari kasur ketika kewajiban kecilnya di pagi hari itu telah selesai.
Cup! Sebuah kecupan dicuri Adrian dari pipi putih yang merona seperti buah persik milik istrinya itu. "Ayo kita sarapan," ajaknya kemudian.
"Bawa bekal ya?"
"Tidak usah, Sayang. Aku ingin kau ke kantor hari ini. Bawakan makan siangku dan kita makan bersama, seperti dulu," mata Adrian mengerling genit pada sang istri yang menatapnya malas.
"Asal jangan diulang saja, yang dulu itu," sengit Ara.
"Ha ha ha.. Apa kau trauma akan perlakuanku padamu, Sayang?" kelakar Adrian dengan memiringkan kepalanya menatap wajah sang istri.
"Tentu saja. Mas jahat sekali, waktu itu,"
"Maaf. I love you," bisik Adrian lirih didekat telinga sang istri. Cup.. Cup.. Cup Adrian kembali mencuri kecupan yang selalu membuatnya menginginkan lebih itu. Kali ini, bibir ranum sang istrilah yang menjadi sasarannya.
"Masssss.. Kita sedang menuruni tangga. Nanti bisa jatuh," pekik Ara yang kaget dan sontak mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
"Kalau begini aku bisa benar-benar jatuh, dan tidak ingin bangun lagi." jawab Adrian. Lelaki itu langsung membopong tubuh sang istri hingga tangga paling bawah . "Jatuh kepelukanmu maksudku,"
Tatapan mata Adrian menyiratkan sesuatu. Membuat sang istri kelabakan dan langsung turun serta melepaskan tangannya yang ada di leher suaminya itu. Ahh tidak...tidak, ini masih pagi. Membayangkannya saja, membuat pikiran Ara kacau sekali.
"Ayo sarapan nanti kau terlambat," Ara berjalan lebih dulu ke meja makan. Memangkas tatapan mata sang suami sebelum berlanjut ke jenjang yang lebih berbahaya. Diikuti sang suami yang berjalan dibelakangnya, dengan senyum yang ditahannya.
"Mas, apakah penyebar berita itu sudah ditemukan?" tanya Ara setelah mereka duduk dan menikmati sarapan paginya.
__ADS_1
"Sudah. Bahkan sebelum Mommy pergi. Tapi aku belum sempat mengurusnya. Kau ingin tahu orangnya, Sayang?"
"Hemm.. Boleh?" Ara mengangguk penasaran.
"Tentu saja boleh. Nanti kukabari. Oh iya, coba kau hubungi tante Aimi. Ia bilang Akio mau kesini tapi sampai hari ini tidak muncul juga batang hidungnya," ucap Adrian yang sedikit kesal dengan sepupunya itu. Padahal selama tujuh hari ini tantenya itu selalu datang dan bercerita jika Akio juga sudah ke makam sang ibu. Tapi mengapa sepupunya itu sendiri seperti enggan untuk datang ke rumahnya.
"Apa kak Akio sakit ya, Mas?"
"Sakit apa? Ia pasti baik-baik saja. Dia memang sering seperti ini, bertindak sesuka hati,"
"Tapi dia benar-benar menghilang beberapa bulan ini," tatapan Ara menerawang. Bukan beberapa bulan, lebih tepatnya setahun ini. Seumur pernikahannya dengan Adrian, lelaki dengan wajah khas Jepang itu seperti menghilang ditelan bumi. Bahkan ketika ia berbulan madu ke Jepang, tak dijumpainya juga lelaki itu dirumahnya.
"Apa kau merindukannya?"
"Hem....," Ara kaget. "Mas bicara apa? Dia sepupumu, dan kita lama tidak mendengar kabarnya. Bukankah sepantasnya kita mengkhawatirkannya," Ara membela dirinya sendiri dengan wajah cemberut.
"Hemm... "
"Ngambek? Ya ampun, Mas.. "
Cup! Kecupan kecil dengan sedikit *******. "Aku berangkat ya," tentu saja Adrian tidak ingin mendebat istrinya. Karena bisa rugi dirinya jika mereka marahan. Bukankah ia sudah pernah merasakan tidak bisa sekalipun memejamkan matanya ketika harus tidur terpisah dengan Ara. Tidak, tidak. Ia tidak ingin mengulangnya lagi.
"Aku tunggu makan siangnya.. Dan... Tanyakan saja pada tante tentang Akio, juga kabarnya,"
"Sungguh?" Adrian mengangguk, berikutnya ia malah mendapat pelukan erat sang istri.
"Mas tidak... "
"No! Aku percaya padamu,"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mama kembali saja tidak apa-apa, kasihan papa," ucap Akio pada mamanya yang sejak tadi kelihatan melamun. Jika tidak begitu pasti sebentar-sebentar melihat ponselnya, menunggu telepon dari sang papa.
"Kau mengusir mama ki?" Aimi kaget mendengar ucapan anaknya. Ia rela untuk pulang belakangan demi menemani Akio tapi malah diusir oleh anak lelakinya itu.
"Mana mungkin aku berani. Disini sudah ada Hiro, Ma. Dia sudah lebih dari cukup untuk menemani
dan mengurusku. Mama juga harus istirahat," Akio menenangkan sang mama.
Hiro adalah dokter muda sekaligus anak dari dokter Harada. Ia menjadi asisten sang ayah untuk mengambil pengalaman dan ilmu yang tidak didapatnya di bangku universitas.
__ADS_1
"Tapi mama tetap ingin menemanimu. Mama baik-baik saja, Ki. Lagipula kau janji akan melakukan pengobatan disini."
Drtd.. DrrT.. Drrrt ponsel Aimi berbunyi dan nampaklah disana siapa pemilik kontak yang menghubunginya.
Tatapan Aimi bersirobok dengan Akio yang spontan juga melihat siapa penelpon karena ponsel itu diletakkan di atas kasur.
"Ya Nak," Aimi menyapa seseorang yang menelponnya. Setelah memutuskan mengangkat karena anak lelakinya itu mengangguk mengiyakan.
"Tante, nanti sore Tante ke rumah?"
"Iya tentu saja. Kau mau dibawakan sesuatu, Nak?"
"Tidak Tan, terimakasih. Hanya saja, Tante mengatakan kak Akio akan kesini, tapi sampai hari ini dia tidak terlihat,"
Aimi memandang wajah Akio yang sedikit sumringah. Panggilan Ara memang sengaja di nyalakan speakernya oleh Aimi. Jadi tentu saja lelaki itu mendengar ucapan gadis yang masih menjadi penghuni hatinya itu.
"Akio... " masih menatap Akio yang duduk tidak jauh darinya, Aimi menunggu izin sang anak. Untuk beberapa menit ketiganya terdiam.
"Ehem.... Hai Ra," sapa Akio kemudian, dengan suara pelan.
"Ya ampun, Kak. Kakah kemana saja? Kakak..kenapa tidak ke rumah? Padahal kau ikut ke Indonesia kan?" todong Ara. Mendengar suaranya saja, Akio sumringah. Seperti tanaman layu yang tersiram air hujan. Segar.
"Mmm.. iya. Nanti sore aku kesana. Masak yang enak ya...," ucap Akil menyunggingkan senyum manisnya meski Ara tidak melihatnya.
"Siapp.. Kami menunggumu, Kak. Tante juga datang, ya," ucap Ara, dan wanita itu mengakhiri panggilan setelah mendapat jawaban kepastian dari ibu dan anak itu.
Senyum samar yang lepas dan tak biasanya tengah memghiasi wajah cekung dan pucat milik Akio. Hal itu menarik perhatian sang ibu. Entahlah, tiba-tiba ada rasa ketakutan luar biasa yang menyusup dalam hatinya.
Firasat seorang ibu. Sejak sakit, Aimi hanya melihat Akio yang berjuang dan mencoba kuat demi dirinya serta ayah dan adiknya. Namun hari ini, setelah mendengar suara wanita yang sebenarnya tidak boleh dirindukannya, wajahnya berbinar dan nampak sangat bahagia. Aimi hanya takut, karena pasti ada banyak kekecewaan nantinya.
"Kau yakin mau kesana?" tanya Aimi yang menjadi ragu sendiri atas keputusan Akio. Tiga hari yang lalu, dia mengatakan mengurungkan niatnya untuk bertemu Ara. Setelah perjuangan panjang mengalahkan kehendak ibunya yang melarang. Namun baru saja mendengar suara istri Adrian itu, Akio berubah pikiran kembali.
"Tentu saja, Ma. Sedari awal ketika aku meminta Mama untuk pulang ke Indonesia, aku sudah yakin," ucap Akio yang kini lebih terdengar bijak.
"Baiklah," sahut Aimi mengalah.
"Ma, kita ke makam bibi dulu ya."
"Bukankah kemarin kau sudah kesana dengan Hiro. Cuaca Indonesia sedang tidak baik, mama takut itu mempengaruhi kondisimu," protes sang ibu. Karena kemarin anak laki-lakinya itu sempat terkena air hujan hingga akhirnya pusing dan pingsan.
"Hanya sebentar, Ma. Meletakkan bunga untuk bibi saja," Aimi mengangguk, kemudian wanita itu bergegas keluar kamar memanggil Hiro.
__ADS_1
Brukkk!!