
"Tuan ... Anda kenapa? Tuan...." Dan semakin lama, suara yang memanggilnya itu terdengar lirih kemudian menghilang sama sekali. Tidak ada suara apapun lagi, selain bunyi napasnya sendiri. Seperti sebuah dengkuran halus yang teratur.
Mata Adrian mengerjap. Akibat silau oleh sinar matahari pagi yang nampak redup, tidak panas namun tidak juga mendung. Hawanya sejuk dan terasa sangat damai. Tempat ini seperti impian semua orang.
Setiap kali Adrian mencoba menarik napas, memasukkan bulir-bulir oksigen yang mengalir ke paru-parunya, entah mengapa, rasanya begitu nyaman.
"Ini tempat apa?" gumam Adrian lirih. Sejauh mata memandang hanya nampak hamparan rumput hijau yang luas. Sangat luas hingga langit dan bumi nampak dekat, menempel tanpa batas. Belum lagi, diantara rerumputan hijau itu tumbuh beberapa tangkai dengan bunga yang nampak menyembulkan kuncupnya. Bergoyang riang diterpa angin pagi yang berhembus pelan.
Adrian sendirian, tidak ada seorangpun ia jumpai disana. Bahkan hewan dengan ukuran paling kecil pun tidak nampak di tempat itu. Seakan-akan, makhluk hidup bernyawa satu- satunya yang ada adalah dirinya.
Tempat ini indah, tidak mampu jika hanya digambarkan dengan kata-kata. Karena akan banyak menghabiskan kata wah, wow, dan ungkapan lainnya yang dimakamkan berlebihan, namun memang seperti itu kenyataannya. Disini, rasanya damai dan ringan. Semua beban bagai terlepas dan hilang.
Andaikan saja, selama ini ia hidup disini...
Adrian berjalan menyusuri rerumputan. Sesekali, lelaki itu menjatuhkan dirinya pada rumput hijau yang membentang seindah zamrud yang menawan itu.
Setiap kali Adrian menjatuhkan dirinya disana, tidak sekalipun badannya terasa sakit. Rumput hijau ini bagaikan matras tebal yang mampu menampung berapapun beban tubuhmu. Sangat tebal dan empuk, juga mirip bentangan permadani milik Raja- Raja pada zaman dahulu kala.
Napas Adrian berhembus teratur. Saat matanya terpejam bau basah rerumputan sungguh bisa mendamaikan hatinya. Namun ketika lelaki itu berniat menampilkan segala keindahan yang ditangkap oleh kedua matanya kedalam pikirannya, hal itu tidak dapat ia lakukan. Sungguh, baru kali ini ia tidak bisa membayangkan keindahan suatu tempat yang dikunjunginya. Sepertinya, tempat ini memang memiliki misteri yang luar biasa.
"Nak ... Buka matamu." Suara lirih mendayu memanggilnya. "Nak ... Bukalah matamu." Suara itu seperti terbawa hembusan angin, namun terdengar jelas di telinga Adrian.
Lelaki itu membuka matanya, kemudian matanya melirik kesana kemari mencari sumber suara. Adrian mendapati ada seseorang yang tiba-tiba tiba berdiri membelakanginya. Dilihat dari sosoknya, lelaki itu sangat mengenalnya. Tapi tidak mungkin. Adrian masih bingung berada dimana ia saat ini. Dan disini, ia malah bertemu sosok yang disayanginya itu.
"Kau lupa padaku?" Suara itu terdengar sedih.
"Mommy?"
"Iya, Nak. Ah ... Kukira kau lupa padaku. Apa kau baik- baik saja?" Wanita paruh baya dengan wajah 85 persen mirip Adrian itu itu memutar tubuhnya. Masih sama cantiknya seperti saat masih berada di dunia fana.
Wajahnya begitu bersinar, hingga Adrian tidak dapat menatapnya dengan jelas. Lelaki itu nampak beberapa kali menyipitkan kelopak matanya hanya untuk melihat wajah sang ibu dengan jelas.
"Aku ... Aku baik Mom. Bagaimana Mommy bisa ada disini?" Dengan raut wajah yang masih tidak percaya, Adrian menatap sosok sang ibu dari atas hingga ke bawah.
"Kenapa kau melihat Mommy seperti itu? Apa kau lupa wajah Mommy?" Lina melangkah mendekati Adrian, kemudian wanita paruh baya itu duduk di sebelahnya. "Apa kau tak rindu dengan Mommy, Sayang?"
"Sangat. Mommy yang mungkin tidak pernah merindukanku. Hingga sekalipun tidak pernah mendatangiku meski dalam mimpi." Adrian menunduk, lalu ia mengingat sesuatu. "Berarti saat ini aku sedang mimpi. Buktinya Mommy mendatangiku?"
"Itu tidak penting, Sayang. Mau mimpi ataupun bukan, yang jelas sekarang Mommy ada disini. Apa tugasmu kau laksanakan dengan baik?" tanya Lina menatap kedalam mata Adrian.
"Tugas apa Mom? Bukankah Mommy pergi tanpa pamit sama sekali padaku, bahkan tidak menungguku. Hanya pada Ara Mommy pamit."
"Ahh ... Apa kabar menantu kesayangan Mommy itu hem....?"
"Ara ... Ara ... Mommy pasti sudah tahu apa yang terjadi. Dia pergi meninggalkanku, Mom." Adrian seperti anak kecil yang sedang mengadu.
"Apa kau merindukannya?"
"Pertanyaan macam apa itu Mom!? Bukan lagi sebuah kerinduan yang kurasakan. Aku bagaikan raga tanpa nyawa. Karena ia membawa semua hatiku dan separuh jiwaku." Dada Adrian sesak mengingatnya.
"Itu jalan takdir yang harus kalian lewati, Sayang. Banyak kerikil tajam dan juga butuh pengorbanan. Selama ini menantu Mommy itu memang sangat spesial. Dia kuat dan teguh pendirian," ucap Lina berapi-api. Namun sejenak kemudian hatinya meluruh melihat sang anak terdiam melamun.
"Terlalu lama, Mom. Masih adakah kesempatan untuk kami?"
"Baru satu tahun Add, itu belum ada apa-apanya. Perpisahan kalian saat ini adalah takdir Tuhan. Dan yakinlah Tuhan selalu mengetahui apa yang terbaik. Memintalah padaNya, karena keputusan mutlak hanya milikNya," ucap Lina mengusap punggung kekar milik Adrian.
Bagaimanapun kuatnya seorang lelaki, hatinya pasti patah jika dihadapkan pada masalah menyangkut orang yang dicintainya. Seperti Adrian saat ini. Lelaki itu nampak kokoh di luar, bahkan pencapaiannya semakin gemilang, usahanya bertambah maju. Namun hatinya kosong. Karena sang istri telah membawa satu-satunya hati yang ia miliki.
"Apa aku bisa memintanya, untuk menjaga istriku dimanapun ia berada?"
"Tentu saja. Sejak kapan kau meragukanNya?"
"Juga tali jodoh kami agar tetap terikat kuat menjadi satu?" tanya Adrian seperti sosok anak-anak yang selalu mengharapkan dijawab iya.
"Itu tergantung padamu, Add." Lina menepuk pelan dada sang anak. "Dan juga kemurahan hatiNya." Jari telunjuk Lina mengarah ke atas, seakan-akan Dia ada disana.
Adrian menatap sang ibu, kemudian tersenyum dan menghapus butiran airmata yang hampir jatuh dari kelopaknya.
__ADS_1
Sang ibu dalam dunia nyata ataupun dunia mimpi tetaplah malaikatnya. Seseorang yang membuatnya tenang saat dunia hampir menjatuhkannya dititik lelah bertahan.
Anak lelaki meskipun sudah dewasa, tetap akan menjadi seorang anak bagi ibunya. Dia tetap butuh bimbingan dan kesabaran.
Lelaki itu merangsek kedalam pelukan sang ibu. Mencium aroma tubuh wanita yang ia rindukan itu, yang juga selalu berhasil membuatnya kuat.
"Terimakasih sudah melakukan yang terbaik sampai saat ini. Kamu mampu menjaga orang-orang yang kau sayangi dengan baik." Lina menepuk-neouk punggung anak lelakinya memberi kekuatan. "Jangan pernah menyerah Add! Kemenangan sesungguhnya hanya milik orang-orang yang kuat dan mampu bertahan." Lina menasehati anaknya.
"Bolehkah aku ikut Mommy?"
"Belum waktunya, Add. Apa kau tak ingin bertemu Dani dan mereka? Mereka menunggumu, Add. Kembalilah!" bisik Lina.
Tubuh Adrian mendadak ringan. Rasanya ia seperti sedang mendekap angin. Hembusannya sangat kuat namun tidak mempengaruhinya sama sekali. Kemudian lelaki itu sadar jika raga sang ibu yang dipeluknya tiba-tiba berubah, berganti sebuah cahaya yang semakin lama semakin menjauh darinya. Hngga akhirnya menghilang dari pandangan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di depan UGD sebuah rumah sakit, Elang sedang yang dilanda kepanikan. Mondar mandir kesana kemari. Ia menghubungi siapapun keluarga dari sang majikan, namun tak satupun yang menjawab. Apa mereka mempunyai kepentingan diwaktu yang bersamaan. Mengapa kebetulan sekali.
Hanya bibi Yulia yang menjawab, dan langsung meraung pilu meninggalkan telepon yang tidak dibiarkan tetap tersambung.
Elang meluruh di lantai UGD sore itu.
Sepanjang perjalanan karirnya sebagai bodyguard, Adrian adalah satu-satunya majikan terlama yang ia miliki. Meski lelaki pengusaha itu sering menyindirnya atau mengatasinya namun itu menjadi ciri khas tersendiri seorang Adrian yang sebenarnya memperhatikan setiap orang disekitarnya dan mungkin tidak semua orang menyadarinya.
Satu jam yang lalu,
Adrian memanggil Elang yang sedang berada di ruang berkas. Tidak biasanya lelaki itu menghubunginya hanya untuk buru-buru mengajaknya pulang. Perasaan Elang mendadak tidak enak, perintah singkat yang diucapkan Adrian membuat Elang gelisah sepanjang ia kembali ke ruangan majikannya itu.
"Tuan ... Anda kenapa? Tuan...." teriak Elang yang panik. Lelaki yang telah lama ikut Adrian itu baru saja masuk dan langsung berlari melihat Adrian yang tiba-tiba terhuyung kemudian jatuh. Untung Elang masih sempat menangkapnya.
Tanpa berpikir lama, dibantu oleh Vina, Elang menghubungi rumah sakit untuk meminta ambulance. Hanya elang yang ikut menemani di dalam mobil inventaris rumah sakit itu, sedang Vina disuruhnya pulang. Karena sekretaris Adrian itu belum hilang gemetar akibat kaget melihat sang majikan tidak sadarkan diri. Sungguh, Adrian tidak pernah dalam keadaan hingga hilang kesadaran seperti ini sebelumnya sekalipun banyak pekerjaannya yang menuntut diselesaikan bersamaan ataupun kelelahan.
Dan disinilah Elang. Diliputi kecemasan tingkat tinggi karena sang majikan yang sudah berada di ruang gawat darurat itu hampir satu jam. Dan selama itu pula tidak ada keluarga yang menghubunginya kembali padahal ia melakukan banyak panggilan keluar tadi. Waktu seakan berhenti.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=
"Iya Dokter." Elang bangkit menguatkan pijakannya. Kemudian menghampiri seorang lelaki muda yang keluar dari ruang gawat darurat.
"Terima kasih membawanya tepat waktu." Dokter yang menolong Adrian masih nampak muda. Lelaki itu seumuran Elang, saat ini nampak masih mencoba menetralkan napasnya. "Terlambat sebentar saja kita bisa kehilangannya." Lelaki yang mengenakan jas putih itu menepuk bahu Elang salut.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Sejauh ini stabil. Kita observasi dulu, ya. Anda tunggu saja di ruang rawat inap. Kira-kira satu jam lagi, pasien akan dipindahkan ke kamarnya, kalau kondisinya terus membaik."
Elang mengangguk setelah mengucap terima kasih. Memudian suara panggilan dan pesan beruntun masuk ke ponselnya.
"Iya, Tuan Muda?" Elang nampak menjauh dari pintu masuk UGD, menjawab panggilan dari Dani.
"Daddy kenapa, Lang?" Suara napas memburu dan panik terdengar dari Dani.
"Tuan Besar sudah stabil, Tuan Muda." Elang sendiri masih mengatur napasnya yang satu dua akibat memikirkan sendiri kondisi majikannya.
"Stabil bagaimana!? Aku tanya Daddy kenapa? Bicara yang jelas!" bentakan Dani membuat Elang gelagapan.
"Anu, Tuan. Tuan Besar tiba-tiba pingsan. Saya juga tidak tahu kenapa. p
Padahal beberapa hari terakhir ini Tuan nampak baik-baik saja dan tidak mengeluh apapun. Saya juga kaget."
"Dimana Daddy sekarang? Ambil gambarnya?" titah Dani pada asisten ayahnya itu.
"Masih di ruang gawat darurat, Tuan. Tapi Dokter mengatakan kondisinya sudah stabil, satu jam lagi dipindahkan ke kamarnya. Saat ini belum boleh masuk, Tuan. Nanti saya kirimkan gambarnya setelah Tuan Besar sampai di kamarnya."
"Jaga Daddy dengan ketat, Lang. Kerahkan semua anak buahmu. Tidak ada media yang meliput, kan? Aku akan berusaha pulang secepat mungkin," ucap Dani yang kemudian mengakhiri panggilannya.
Elang memasukkan ponsel dalam sakunya. Mungkin ini jalan satu-satunya yang dibuat Tuhan agar Tuan Mudanya bersedia pulang. Namun mengapa harus dengan sakit begini? Rasanya ia tidak tega melihat majikannya seperti ini. Meskipun membawa hikmah tersendiri bagi ayah dan anak itu.
\=\=\=\=\=\=≠\=\=
__ADS_1
"Tuan...." Elang telah mengirim gambar kondisi terakhir Adrian pada Dani. "Anda ingin sesuatu?"
"Aku dimana, Lang?" tanya Adrian dengan mata yang masih terpejam. Lelaki ini masih mengenakan selang oksigennya meski napasnya sudah mulai lega.
"Ini di rumah sakit, Tuan. Tadi anda pingsan," jawab Elang. Lelaki itu membenarkan letak selimut yang sempat disingkap oleh Adrian hingga ke pinggang.
"Tadi aku di padang rumput yang luas, bertemu ibuku, Lang. Rasanya cepat sekali."
Elang terhenyak. Padang rumput? Sang majikan sejak tadi berbaring di bed rumah sakit dan tidak kemana-mana. Dan apa itu katanya, Adrian bertemu dengan ibunya itu berarti Nyonya Besar? Padahal, Nyonya Besar sudah meninggalkan dunia ini.
Elang merasakan tubuhnya bergidik ngeri, mendengarkan celotehan Adrian yang absurd, selepas najikannya itu bangun dari keadaannya yang hilang kesadaran.
Adrian membuka mata. "Ibuku menemuiku dalam alam bawah sadarku. Berapa lama kau kehilanganku?"
"Kira-kira satu jam, Tuan,"
"Oh ya? Disana waktunya lebih cepat dari itu, Lang."
"Tuan pasti sangat merindukan Nyonya Besar," ucap Elang menatap nanar sang majikan. Mata Adrian berkaca-kaca mendapati dirinya kembali pada kehidupan nyata, setelah berada di alam bawah sadarnya.
"Tuan. Tuan Muda mengatakan akan pulang. Maaf tadi saya menghubunginya karena panik,"
"Benarkah?" Adrian tidak nampak terkejut mendengarnya. "Memang sudah waktunya ia pulang. Namun sungguh menyedihkan ia baru sadar harus benar-benar pulang, saat aku jatuh sakit." Tampak kekecewaan dalam sorot matanya meski Adrian mencoba tidak menunjukkannya.
"Bagaimana perkembangan pencarian mu, Lang?"
"Maaf, Tuan. Masih nihil."
"Mengapa keberadaannya seperti tidak terendus olehku. Apa ini cara Tuhan menghukumku?"
"Tuan orang baik. Mana mungkin Tuan dihukum. Mungkin Tuhan hanya mencoba seberapa kokoh rasa yang Tuan dan Nyonya miliki satu sama lain hingga nanti suatu saat jika Tuan dan Nyonya masih ada jodoh untuk bersama kembali, tidak akan ada lagi luka dan air mata."
"Kamu sok bijak sekali, Lang."
"Itu nasihat Nyonya Besar pada saya Tuan. Saat saya jatuh karena ditinggal oleh ... calon istri saya." Elang menunduk, mengubur kenyataan sekian tahun rupanya tak membuatnya lupa kisahnya sendiri.
Adrian menoleh menatap asistennya. Bahkan sosok yang menemaninya sekian tahun itu juga dekat dengan ibunya. Lina memang sosok yang mengayomi dan keibuan, namun ia tidak menyangka bahwa Elang pun mempunyai memori tersendiri dengan wanita yang ia panggil Mommy itu. Misteri? Sang ibu rupanya malaikat tak bersayap untuk seisi rumah besar yang sekarang tanpa nyawa itu.
"Kalau Tuan sudah pulih, saya akan coba ke Bandung sendiri untuk memeriksanya, Tuan. Saya akan memastikannya sendiri," Elang akhirnya ikut turun tangan mencari sang Nyonya.
"Ok! Jika kamu tidak mendapatkan apa-apa disana, lekas kembali saja. Mungkin Ara memang tidak ingin ditemukan." Sorot kerinduan bercampur kesedihan terpancsr dari mata Adrian. Mungkin saat ini lelaki itu mencoba berdamai dengan keadaan. Mengikhlaskan semuanya meskipun tidak sepatah katapun mengucap menyerah dalam hatinya.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Tuan," ucap Elang meyakinkan. Paling tidak dengan ia turun tangan sendiri disana, sang majikan lebih yakin dengan hasilnya. Karena kesibukan Adrian sekarang membuatnya hanya bisa mnegawasi dari jauh.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Wahhh si tampan semakin besar sekarang, bibi sampai tidak mengenalimu, Tuan muda." Bibi Yulia sampai harus mendongak didepan Tuan Mudanya itu karena tingginya yang menjulang.
"Aku tampan sedari dulu, Bibi mengejekku?"
"Ha ha ha ha ... Mana berani bibi begitu, Tuan." Bibi Yulia menepuk pipi Dani yang lebih berisi sekarang. Pemuda itu merawat tubuhnya dengan baik.
"Daddy bagaimana Bi?"
"Ya, Tuan sudah sehat. Beliau mengawasi perusahaan dari tempat tidurnya. Dokter masih belum memperbolehkan ia beraktivitas berlebihan. Kenapa pulangmu lama sekali anak tampan! Padahal Elang mengatakan jika Tuan Muda langsung mengatakan mau pulang setelah mendengar Tuan Besar sakit."
"Jangan panggil aku anak, Bi. Aku sudah dewasa. Yang benar pemuda tampan bukan anak tampan. Aku harus melimpahkan dulu wewenang ku pada temanku yang lain. Aku juga mempunyai usaha disana yang tidak mungkin kutinggalkan begitu saja, Bi."
"Baiklah, Tuan Muda ingin dibuatkan apa? Nanti biar Bibi yang mengantar ke kamar." Bibi Yulia mencegah Dani menaiki tangga lebih dulu hanya untuk menanyai Tuan mudanya itu.
"Aku mau langsung menemui Daddy. Jus apel saja, Bi. Letakkan di lemai es biar aku sendiri yang mengambilnya," ucap Dani setengah berteriak karena ia langsung berlari menuju kamar sang ayah.
Bibi Yulia menggeleng pelan. Remaja yang kini beranjak dewasa itu masih sama keras kepala dan semaunya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ini hari ketiga Elang berada di kota Bandung. Lelaki itu telah mengitari tempat-tempat yang mungkin saja disinggahi oleh sang Nyonya. Namun hingga hari ini tidak didapatinya jejak wanita itu sama sekali. Apa mungkin Ara pergi ke kota lain? Tapi tidak mungkin. Ia yakin karena kereta terakhir malam itu yang berangkat dari jakarta merupakan tujuan kota Bandung. Lagipula dugaan kuat lainnya Ara ada di kota ini adalah panti asuhan tempat dia dulu berasal juga berada di kota ini. Namun bukankah bulan kemarin Elang sudah masuk bahkan menginap di panti itu, namun tidak ada hal mencurigakan atau tanda-tanda sang nyonya ada disana. Lagipula tidak mungkin ibu kepala menyembunyikan keberadaan Ara disana.
__ADS_1
❤️grazie mille