
Seorang lelaki tengah duduk terpekur di dalam mobil. Tiga hari ini sungguh waktu yang amat panjang baginya. Lebih mudah mengikuti sang majikan rapat, menggantikan tugasnya, atau tugas-tugas lain di kantor yang berat meskipun ia harus lembur. Turun ke lapangan rupanya tidak semudah kelihatannya, apalagi ia sendiri. Namun sebenarnya dititik- titik tertentu masih ada anak buahnya yang membantu. Sepertinya benar kata sang majikan, bahwa istrinya itu tidak ingin ditemukan, dan mungkin, Tuhan meridhoinya.
Elang menyandarkan dagunya, pada kedua punggung tangannya yang berada di atas kemudi. Mata lebar lelaki itu mengamati setiap pembeli yang masuk dalam supermarket kecil diseberang jalan. Bukan untuk mencari sosok sang Nyonya. Namun ia sedang pusing karena ini adalah pencarian yang terakhir. Setelah ini tidak akan lagi ada anak buah yang diterjunkan ke lapangan. Adrian sudah pasrah.
Lelaki ini bagai seseorang yang kurang kerjaan. Hampir sepuluh menit ia ada disana, tanpa menggubris sama sekali laporan anak buahnya melalui handie talkie, karena dari yang terdengar, semua melaporkan hal yang sama. Nihil.
Elang beranjak keluar, pantatnya panas akibat terlalu lama duduk. Belum lama sebenarnya, namun lelaki yang jarang duduk lama kecuali meeting ini tidak terbiasa dengan hal itu. Harus diam dan tidak melakukan apapun.
Cuaca redup kota Bandung tak membuat orang-orang kehilangan rasa haus sekejap pun. Termasuk Elang yang akhirnya terpaksa mengikuti arah kakinya melangkah ke dalam supermarket, sekedar mencari minuman sebagai pelepas dahaga.
Lelaki itu mengambil satu botol air mineral dalam kemasan, kemudian menuju tempat beberapa roti dipajang. Ternyata bukan hanya haus, namun cacing dalam perutnya juga meminta snack untuk membuat mereka diam. Padahal tadi siang ia sudah makan. Namun ternyata itu tidak cukup, mungkin otaknya yang digunakan berpikir terlalu keras menghabiskan cukup banyak tenaga hingga ia sudah merasa lapar lagi.
Lelaki itu mengambil beberapa bungkus roti isi coklat, kemudian segera memutar tubuhnya tanpa menyadari ada seseorang sedang lewat.
"Eh ... Maaf, Mas saya ... Kamu...."
"Nyo_"
Belum juga selesai ia menyebut orang yang ditemuinya. Wanita yang mengenakan jaket hoodie longgar itu buru-buru pergi keluar supermarket. Sepertinya ia meninggalkan keranjangnya begitu saja, karena tidak nampak antri di kasir.
Tidak ingin kehilangan. Elang berlari mengejar, bahkan ia melemparkan selembar uang kertas warna merah kepada kasir setelah memperlihatkan belanjaannya yang tentu saja total harganya tidak sampai lima puluh ribu rupiah itu. Elang pun sempat berteriak meminta maaf, karena membawa kabur belanjaannya.
"Nyonya, tunggu!"
"Jangan ikuti aku!" Orang itu terus berjalan tanpa sedikitpun memperlihatkan wajahnya.
"Nyonya! Saya tahu itu Anda. Saya mohon pulanglah bersama saya." Elang tidak menyerah begitu saja, lelaki itu terus mengikuti.
"Jangan ikuti aku, pergi!" ucap wanita yang memakai hoodie yang ternyata adalah Ara. Wanita itu juga panik tiba-tiba saja bertemu Elang di tempat tidak terduga seperti ini. Apalagi tempat itu tidak jauh lokasinya dari panti asuhan, ia takut persembunyiannya diketahui.
"Nyonya, apa anda tidak kasihan dengan Tuan, pulanglah bersama saya." Elang masih terus membujuk. Namun langkah kaki Ara tidak melambat sedikitpun, hingga Elang juga gigih berjalan mengikuti.
__ADS_1
"Kamu yang pulang. Jangan ikuti saya terus!" Suara Ara serak dan tidak selantang yang tadi. Wanita itu sepertinya tengah menahan tangis.
Tanpa diketahui Elang, ucapannya tentang Adrian membuat wanita itu lemah.
"Tuan sakit, Nyonya."
Ara langsung berhenti. Napasnya memburu kembali, mendengar tentang suaminya. Kemudian perlahan, wanita itu memutar tubuhnya hingga akhirnya ia berhadapan dengan Elang.
"Mas Adrian sakit apa, Lang?" Ara hanya diam ditempatnya, tidak berani berada lebih dekat dengan sang asisten dari suaminya itu. Wanita itu juga menolak ketika diajak duduk oleh Elang. Akan semakin mempersulit kepergiannya, karena jika dalam posisi duduk sudah pasti perutnya yang membuncit tidak akan dapat ia tutupi.
"Pulanglah dengan saya, Nyonya. Tuan sangat membutuhkan Anda. Kemarin beliau sempat hilang kesadaran. Sejak Anda pergi, beliau tidak lagi memperhatikan kesehatannya sendiri."
Ara berusaha menahan isakannya. Sekali lagi ia tidak boleh terlena dan akhirnya menyerah. Ini sudah kedua kalinya ia ditempa sesuatu yang membuatnya lemah, yang hampir merobohkan kuatnya dinding pertahanan dirinya setelah kehamilannya. "Dia ... baik-baik saja bukan? Saat ini?"
"Sudah lebih baik, Nyonya. Tapi Dokter masih melarang Tuan melakukan aktifitasnya di kantor, jadi semua di monitor dari rumah. Tuan muda juga sudah kembali. Maka dari itu Anda harus pulang Nyonya." Elang mencoba meyakinkan Ara kembali.
"Demi apapun. Jangan beritahu pada mas Adrian tentang pertemuan kita disini," pinta Ara dengan tatapan memohon.
Ara mengangkat telapak tangannya yang membuka, ia tidak ingin dibantah. "Ada hal yang tidak kau mengerti, Lang. Aku tidak bisa kembali. Semuanya lebih baik seperti ini. Aku tidak pernah memohon padamu. Hanya kali ini saja Lang, jangan mengejarku lagi apalagi mencariku. Aku titip Mas Adrian dan juga ... Dani." Ara langsung berbalik meneruskan langkahnya menjauh dari Elang dan juga arah ke panti asuhan. Ia harus berjalan memutar agar asisten suaminya itu, tidak curiga.
Elang tidak dapat mencegah kepergian Ara. Dari sorot mata wanita itu mengatakan ada beban berat yang ia tanggung sendirian. Namun siapalah dia itu, tentu saja istri dari Tuan nya itu tidak akan mengatakan apapun padanya.
Drrtt.
Drrtt.
"I-iya Tuan." Elang seketika gugup. Kedua majikannya itu bagaikan berbagi jiwa yang sama. Bagaimana mungkin sang Nyonya baru beberapa saat yang lalu pergi, lalu berganti Tuan nya menghubungi.
"Kau menemukan sesuatu?" pertanyaan menjebak. Adrian seperti merasakan kehadiran sang istri barusan. Namun apa mau dikata, wanita itu membuatnya berjanji untuk tidak dicari lagi.
"Emm ... Anu Tuan ... tadi saya_"
__ADS_1
"Kamu seperti anak kecil saja! Bicara yang jelas!"
"Maaf, Tuan. Saya sudah ikut turun tangan sendiri untuk mencari Nyonya serta menyebar semua anak buah, namun kami tidak menemukannya." Elang menunduk meski Adrian tidak dapat melihatnya. Untung saja mereka berbicara lewat telepon. Jika berhadapan langsung, sudah bisa dipastikan Elang tidak akan dapat menyembunyikan kebohongannya.
Adrian beberapa lama terdiam. Hanya helaan napasnya saja yang berulang kali terdengar. "Baiklah, kembalilah ke Jakarta, dan tarik semua anak buah kita." Adrian mengakhiri panggilannya.
Elang terduduk di pinggir trotoar. Jaraknya lumayan jauh dari mobilnya, karena tadi ia mengejar Ara tanpa memperhatikan sekitarnya. Lelaki itu hanya terus berjalan mengikuti, yang ternyata semakin jauh dari mobilnya yang terparkir.
Awalnya Elang berpikir Ara pasti tinggal di panti asuhan. Karena letak supermarket tadi hanya satu kilometer dari panti asuhan yang ia kunjungi kemarin. Namun rupanya wanita itu menuju arah yang berlawanan.
Akhirnya, Elang berjalan kembali menuju mobilnya. Kemudian mengambil handie talkie di dalam dan menghubungi semua
anak buahnya.
"Kita pulang, sekarang!" titahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah melewati belokan dan memastikan Elang tidak mengejarnya, Ara berhenti sejenak. Dengan menyandarkan tubuh di pohon yang tumbuh di tepi jalan wanita itu menyeka keringatnya yang bercucuran.Ia lelah, harus berjalan cepat agar segera menghilang dari pandangan asisten suaminya, baru setelah itu ia akan merasa aman.
"Kenapa kau tidak menjaga dirimu dengan baik, Mas?" gumam Ara melirih., Wanita itu meremas jaketnya untuk menetralkan detak jantungnya yang masih menderu. Apalagi yang didalam sana menendang-nendang terus.
"Sabar Sayang, Daddy tidak apa-apa. Dia akan sembuh, daddy lelaki yang kuat. Itulah mengapa mama mencintainya." Ara mengusap lembut beberapa bagian perutnya yang menonjol, entah kaki atau tangan bayinya itu memang selalu meninjunya jika mendengar segala sesuatu tentang ayahnya.
"Kita pulang sekarang, ya. Hari sudah sore, mama takut nenek akan mengkhawatirkan kita." Baru saja Ara melangkahkan kakinya kembali, Tiba-tiba suara klakson motor mengagetkannya.
"Kak ... ya ampun, kupikir kakak hilang." Sinta datang dengan wajah panik dan khawatir. Gadis kurus itu segera turun dan memeriksa seluruh bagian tubuh Ara. " Kakak tidak apa-apa kan? Kemana saja tadi? Aku bertanya pada penjaga supermarket katanya kakak sudah keluar, "
"Maaf, Sin. Aku kabur tadi, tidak sempat menghubungimu. Aku bertemu Elang, aku panik dan langsung lari." Bahkan Ara tidak sempat mengingat bahwa ia tadi datanrg bersama dengan Sinta. Gadis itu meninggalkannya untuk belanja karena ia akan mengantarkan pesanan pelanggan lebih dulu.
Ara mengajak Sinta untuk berjualan kue- kue kecil di box secara online. Karena ia tidak tahu lagi harus bekerja apa. Bu Fatimah mengharuskannya tetap di panti dan ia tidak mungkin diam begitu saja karena setiap hari ia harus memenuhi kebutuhannya.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita pulang sekarang. Jangan lewat jalan yang tadi, mobilnya disana," ucap Ara sambil mengangkat kakinya untuk naik di motor Sinta.