Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
bab 142 Tertunda


__ADS_3

"Jadi kau mau tinggal disini, Ki?" tanya Adrian menyeruput tehnya. Suasana lebih santai kali ini, karena mereka telah berpindah ke ruang keluarga. Saat ini Hiro asyik bermain game, sedangkan Ara dan Aimi mengobrol di dapur bersama bibi Yulia.


"Iya. Sekalian ingin berobat disini saja," jawab Akio. Sebahagia apapun hatinya, kondisi lemah tubuhnya tidak bisa dibohongi, lelaki tampan mirip Hideaki Takizawa itu nampak pucat dan lelah.


Adrian tidak pernah tahu maksud Akio ke Indonesia. Ia hanya berpikir, mungkin karena Adrian adalah keluarga satu-satunya dari pihak sang ayah yang ada disini, maka dari itulah sang sepupu memutuskan tinggal di negeri ini.


Adrian pun sampai tidak berani bertanya, apa penyakit yang diderita adik sepupunya itu. Jika dilihat secara kasat mata, tentu suatu penyakit yang parah. Dan ia hanya berani menebak-nebak dalam hatinya saja.


"Bukankah pengobatan di Jepang lebih mutakhir? Disana semua mendukung, banyak daerah masih memiliki udara yang sehat dan alami serta makanan pun juga begitu,"


"Dimanapun berobatnya sama saja. Tergantung kita dan... " Akio mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Menyebut Tuhan penentu segalanya. Lelaki itu memang telah menyerahkan segalanya pada Sang Pemilik Hidup. Bahkan ia pasrah jika harus menjemput ajalnya di negara ini. Apalagi keinginan terakhirnya telah terlaksana.


"Semangatlah, Ki. Jangan seperti itu?" Adrian mengusap pelan bahu sang sepupu. Rasanya iapun akan kehilangan semangat jika menjadi Akio.


"Aneh ya. Kita biasanya tidak pernah akur. Namun kali ini, aku baru merasakan hubungan kita ternyata luar biasa, Kak," menatap sayu Adrian. Lelaki yang juga mencintai istrinya itu hanya tersenyum. Bersyukur dan menertawai nasibnya, mengapa harus ada sakit untuk membuat setiap orang menjadi lebih sabar dan lebih baik.


Selanjutnya mereka malah menertawakan Hiro yang kalah main game, dan lelaki itu marah-marah dengan siapa saja ketika ditanyai. Sedikit mengurai segala kecemasan dan logika Akio yang tak lagi bisa diajak berpikir sempurna.


Sementara itu di dapur,


"Nyonya, semoga Tuan Akio segera sembuh dan pulih seperti sedia kala," ucap bibi Yulia mengungkapkan rasa ikut sedihnya.


"Terima kasih, Bi. Doa kalian saja sudah sangat luar biasa bagi kami," mereka bertiga berpegangan tangan dengan erat dan saling menguatkan. Yulia yang tidak mengenal Akio dari kecil saja sangat menyayanginya. Apalagi Aimi yang ibunya.


Beberapa saat lamanya, ketiganya tenggelam dalam diam. Mengurai pemikiran masing-masing yang harus menerima takdir Tuhan tentang seseorang yang dekat dengan mereka. Ya, baik dan buruk sekali lagi itu hanya pemikiran manusia. Sedangkan menurut pemilikNya, semua hal adalah yang terbaik.


"Ayo Tante, kita susul mereka," ajak Ara memecah keheningan. Wanita itu segera berdiri kemudian menggandeng tante dari suaminya itu.


"Iya. Ini juga sudah terlalu malam. Waktunya istirahat, Sayang. Sebaiknya kami pulang,"


"Menginap disini saja, Tante," Ara menahan wanita paruh baya itu untuk pulang.


"Tidak bisa, Sayang. Peralatan medis Hiro ada di hotel. Nnti akan sangat merepotkan kalau tiba-tiba Akio drop," padahal Aimi hanya beralasan. Tentu saja ia tidak menyetujui ajakan Ara untuk menginap di rumah besar itu. Ada dua hati yang harus dijaga nantinya. Dan hati Akio sangat rapuh kini. Bukankah lebih baik tidak sering bertemu daripada terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Tante tinggal disini saja. Katanya Kakak akan berobat disini," susah payah Aimi mencari alasan agar tak menginap malah ditawari tinggal disini selama pengobatan oleh istri keponakannya itu.

__ADS_1


"Tida, Sayang. Sungguh, ini akan sangat merepotkan kalian,"


"Tidak repot, Tan. Mas Adrian juga pasti akan sangat setuju jika Tante tinggal disini."


"Tidak usah. Biar papa Kio saja yang mencarikan rumah untuk kami. Kamu tenang saja," Aimi merangkul pinggang Ara. Wanita cantik yang ada didekatnya itu memang layak dicintai. Ia begitu tulus dan baik. Terkadang terbersit rasa kecewa dalam hati Aimi, mengapa bukan Akio yang mengenalnya lebih dulu. Namun bukankah semua itu jalan takdir. Dimana kita tidak bisa memilih yang terbaik menurut pemikiran kita.


"Tan... Tante tidak boleh menolak kali ini. Om pasti sangat sibuk di sana, biar kami yang membantu mencarikan rumah disini," Ara yang terus memaksa akhirnya membuat Aimi menyerah dan mempercayakan pada suami istri itu untuk mencarikan rumah tinggal bagi dirinya dan juga Akio.


"Sudah malam. Kita pulang ya, Ki," ajak Aimi pada sang anak begitu mereka sampai di ruang besar yang sering digunakan untuk bercengkerama itu.


"Iya, Ma," balas Akio seraya mengangguk. Segera ia tepuk bahu Hiro yang masih asyik dengan permainannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hemmm... wangi," Adrian tidak berhenti mengendus surai hitam milik sang istri yang tengah disisir.


"Iihh.. sudah duduk sana. Biar aku selesaikan ini dulu," jemari Ara sempat berhenti beberapa kali akibat ulah sang suami. Didorong nya tubuh kekar sang suami yang sayangnya tidak bergeser sedikitpun. Malah membuat lelaki itu semakin menempel dan usil. "Mass...... awas ah, itu tangannya dikondisikan," setengah kesal Ara sampai mendelik saat memgucapkannya.


"Salah sendiri kamu menggemaskan," bisik Adrian lirih dan menggoda. Lelaki itu mencubit cuping hidung sang istri yang tidak semancung dirinya. Dengan kedua tangan yang melingkar di pinggang, Adrian telah berhasil mendekap sang istri dari belakang.


Namun yang terjadi berikutnya sungguh diluar dugaan. Tanpa aba-aba, Adrian memutar tubuh sang istri, melahap bibirnya, ******* dan menggigit bibir bawah wanita yang selalu cerewet dengan segala hal itu.


"Mmmmmmphhhh.... Mas... Mpphhh.." sudah lepas dan dilahap lagi. Begitu seterusnya. Hingga Ara memukul-mukul dada sang suami pun tetap tidak mempan. Lelaki itu masih saja berpagut disana menikmati benda kenyal itu dengan bernapsu.


"Auwwww...."


"Hahhhh.... Hahhhh... Ya ampun, kau mau membunuhku? Aku kehabisan napas dan Mas masih terus saja," protes Ara. Jurus terakhir ia keluarkan demi lepas dari kungkungan lengan kekar itu. Mencubit dan menggelitik pinggang sang suami. Dan berhasil. Namun ternyata tidak membuat lelaki itu melepaskan dirinya sepenuhnya. Ya, hanya melepas pagutannya saja.


"Aku rindu sekali denganmu," alasan yang tidak masuk akal bukan. Padahal setiap hari mereka bersama-sama.


"Apa kau tidak lelah?" tanya Ara yang melepaskan pegangan tangannya pada lengan sang suami. ia merapikan rambutnya yang acak-acakan padahal sudah dirapikan.


"Lelah jika tidak melihatmu," tatapan sarat makna dilayangkan Adrian pada wanita yang pernah dan akan selalu dia tawan itu. Ya, hatinya tertawan pada tawanannya sendiri.


Ada gelenyar aneh yang menjalar di dada Ara. Bergerak cepat laksana aliran listrik. Membuat hatinya selalu berbunga tiap kali menatap senyum indah Adrian. Lelaki yang selalu membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


Tanpa sadar, Ara lantas mendekatkan wajahnya. Menggigit bibir bawahnya pelan seperti adegan slow motion yang berulang. Tentu saja adegan itu sangat menggoda sang suami yang memang sudah menahan rasa dan memasang kuda-kuda sejak tadi.


Entah siapa yang memulai, bibir itu sudah bertaut tanpa celah. Suara mencecap satu sama lain menyelimuti hingga sudut kamar. Ara yang sudah terbawa gairah pun hanya pasrah ketika sang suami sontak mengangkat tubuhnya tanpa melepas tautan bibir mereka.


Lelaki itu membaringkan istrinya di ranjang. Dengan tangan yang tak berhenti bergerak seakan ini kesempatan emas baginya. Membuka satu demi satu kancing piyama bagian atas yang dikenakan sang istri. Piyama berbahan satin itu melorot hingga setengah badan bagian atas tubuh Ara.


Baru melihat leher dan bahu putih nan rapuh milik Ara saja rasanya lelaki itu ingin meremukkan nya membawanya dalam dekapan tanpa ingin melepasnya. Padahal ia telah melihatnya dan merasakannya berkali-kali, karena itu adalah tempat favoritnya membuat stempel kepemilikan. Namun seakan-akan lelaki itu tak pernah bosan memainkannya.


Adrian segera menyusupkan kepalanya. Menggulung kepalanya dari belakang telinga hingga ceruk leher sang istri yang terdengar mengerang. Menikmati setiap jengkal kulit putih, dingin nan wangi yang tak pernah ia lewatkan.


"Mmasss... ahhh....," ******* Ara tentu saja membuat suaminya itu semakin bersemangat untuk lebih dalam lagi menyusupkan diri. Hingga tanpa sadar kepala Adrian sudah berada diantara 2 bukit yang bahkan belum terbuka dari pagar satu-satunya pelindung yang membentenginya.


Takk! Suara kancing yang terputus paksa dan terpelanting jauh entah kemana, tak diperdulikan oleh keduanya. Adrian semakin memperdalam aksinya. Tanpa membiarkan sejengkal pun kulit sang istri tanpa tersentuh olehnya.


Drrrrtttt.... Drrrtttt...


Suara ponsel teredam dan tak terdengar oleh keduanya akibat ******* Ara yang memenuhi gendang telinga Adrian dan mengacaukan otaknya. Tepat ketika jeda, dan Adrian hampir saja melahap ujung coklat muda yang selalu menantangnya itu,


Drrtttt.. drrtttt


"" Mas... Suara ponsel, angkat dulu" dalam keadaan terengah Ara menahan dada suaminya hingga lelaki itu akhirnya berhenti. Menopang tubuhnya dengan kedua tangannya dengan bibir manyun dan pasrah mengikuti mau sang istri. Memastikan apakah benar ada suara ponsel, karena jujur ia tidak perduli hingga tidak mendengarnya tadi.


"Tidak ada apa-apa," lelaki itu maju dan mendekati istrinya kembali hendak melanjutkan aksinya. Kemudian terdengarlah kembali suara ponsel Adrian. "Pasti telpon tidak penting, Sayang. Kita selesaikan dulu apa yang kita mulai, ok!


Namun tak seperti sebelumnya. Suara ponsel itu terus menerus tak berhenti. "Tak mungkin tidak penting, Mas. Ini sudah lewat tengah malam. Apalagi tidak semua orang memiliki akses menghubungimu," ucap Ara tetap kukuh meminta suaminya untuk mengangkat ponselnya lebih dahulu.


Benar juga, pikir Adrian. Memang nomor ponselnya memiliki limited acces yang tidak sembarang orang bisa dengan mudah mengacak nomor dan salah menghubunginya.


Dengan setengah hati lelaki itu bangkit, hanya mengenakan celananya lelaki itu menuju nakas memeriksa ponselnya.


"Tante," gumam Adrian lirih. Lelaki itu langsung mengangkat panggilannya.


"Iya, Tante,"


"Addd.... Maafkan tante mengganggu. Kio... Kio di rumah sakit sekarang. Tante bingung harus menghubungi siapa disini," suara Aimi terdengar panik. Bahkan isak tangisnya mengiringi setiap ucapannya.

__ADS_1


"Apa? Iya Tante aku kesana sekarang. Tante tenang ya,"


__ADS_2