
"Biar aku yang turun," ucap Adrian setelah mengenakan pakaiannya.
"Jika mas butuh bantuan untuk berperang sesama wanita, aku siap," ucapan Ara yang lantang membuat Adrian tiba-tiba berhenti.
"Apa kau yakin?" Lelaki itu bertanya setelah memutar tubuhnya.
"Tentu saja. Karena aku tahu Mas pasti tidak tega untuk melakukannya, karena selain ia sepupu Mas ia juga seorang wanita." Alasan sang istri sungguh membuat Adrian tidak bisa menahan tawanya.
"Pertanyaanku belum selesai, Sayang. Apa kau yakin melakukannya, sementara kau juga orang yang tidak tega terhadap orang lain. Meski orang itu menyakitimu." Ara terdiam. Apa yang diucapkan sang suami sangat benar seratus persen.
"Hemm ...." Mencoba menahan malunya, Ara berkedip-kedip tidak jelas. "Tapi aku akan berani jika membelamu, Mas, " lanjutnya. Tanpa Ara sadari, bahwa ucapan sang suami hanyalah alasan untuk menenangkannya. Mana mungkin Adrian teriak minta tolong sementara ia adalah orang yang berkuasa di rumah ini. Ia bisa melakukan apapun terutama di rumahnya sendiri.
"Baiklah. Tunggu aku teriak meminta tolong dan kau harus segera datang membantuku. Ok!"
"Siap. Bos." Teriak Ara lantang.
"Mandilah dulu. Nanti Lola bisa pingsan jika kau turun tanpa membersihkan dirimu," titah Adrian. "Semoga nanti saat kau selesai mandi, Lola sudah pergi," ucap Adrian dalam hati.
Ara menuju kamar mandi sementara Adrian turun menuju lantai bawah.
Di meja makan, Lola sudah menunggu. Gadis yang senang berpenampilan seksi layaknya artis ibukota itu, mulai menyusun rencana untuk membuat Adrian semakin tersudut dan kasihan dengan sang ibu.
"Ehem ...." Adrian berdehem untuk memberitahu kedatangannya pada tamu tak diundangnya itu. Lelaki itu tidak menyapa ataupun berbicara, ia hanya duduk di kursinya dan mengambil sarapannya.
"Add ...." Wajah sedih penuh airmata Lola tampakkan pada sepupunya itu. "Mama semakin mengkhawatirkan, ia mulai mengigau dan bicara banyak hal yang tidak masuk akal. Menginginkan kematiannya lebih cepat karena ia tidak kuat."
"Makanlah lebih dahulu," ajak Adrian tanpa menatap gadis itu.
"Aku ... Bisakah kau mempercepat menyetujui pembayarannya Add? Kumohon. Aku kasihan dengan mama." Tangisan Lola semakin menjadi. Tidak terlihat sama sekali keculasan gadis itu seperti biasanya, ataupun sikap ketusnya yang sudah melekat dalam dirinya.
Adrian masih meneruskan sarapan paginya. Dan Lola terus saja terisak di depannya. Membuat lelaki itu sedikit canggung ketika akan menghabiskan makanannya.
"Bawa saja mamamu ke rumah sakit. Soal pembayaran, jika tindakan itu benar-benar dilakukan aku pasti membayarnya. Jangan khawatir. Kalau soal kau meminta cepat, aku tidak bisa janji, karena itu bukan uang yang sedikit, tentu aku masih membutuhkan pertimbangan yang matang." ucapan Adrian sangat tepat. Ia tidak bisa menggelontorkan uang begitu saja.
"Pertimbangan apalagi, Add? Mama itu tantemu, meskipun statusnya hanya adek ipar mamamu. Jika Tante Lina masih ada, pasti dia tidak akan banyak berpikir sepertimu," mengusap airmatanya yang menganak sungai, Lola kembali duduk setelah ia sempat berdiri untuk condong kedepan mendekati Adrian.
"Jangan bawa nama mamaku. Mamaku memang baik, tidak ada yang pernah meragukan itu. Tapi sayangnya mamaku tidak tahu memiliki saudara semacam kalian. Apa kau lupa, kalau kalian berdua telah memfitnah istriku? Dan sekarang tanpa malu kalian meminta bantuanku," ucap Adrian lantang. Dia berkata dengan nada tinggi dan tegas.
__ADS_1
Berani-beraninya Lola yang hanya saudara jauh membawa nama mamanya sebagai alasan untuk menekannya.
"Itu sudah berlalu, Add. Apa salahnya kita melupakan yang sudah lewat." Adrian menatap sinis pada Lola. Apa memang selalu seperti itu, pelaku selalu menganggap enteng apa yang ia lakukan pada korbannya.
"Sayangnya aku tidak pernah lupa." Adrian meletakkan sendoknya kemudian berdiri. Ia sudah tidak bernapsu lagi menghabiskan makanannya karena mendengar ucapan Lola yang melupakan begitu saja semua perlakuannya pada sangat istri.
"Seharusnya kau berterimakasih kepada istriku, karena dia yang membuatku sedikit masih memiliki hati pada orang-orang seperti kalian," lanjut Adrian. "Jika kau menginginkan bantuanku, kau harus mengikuti alur sesuai apa yang kumau. Jika tidak, silahkan membiayai pengobatan dengan uang kalian sendiri," Adrian pergi tanpa mengucap apapun lagi. Meninggalkan Lola yang masih ternganga mendengar ancaman Adrian. Rupanya mengalahkan lelaki itu tak semudah yang ia pikirkan.
Adrian menuju kolam renang belakang. Pikirannya masih menerawang pada Lola dan ibunya. Benarkah sang tante menderita sakit separah itu? Atau sebenarnya hanya sakit biasa namun dibuat berat?
"Mas, mana Lola?" tanya Ara yang datang dari arah belakang.
"Sepertinya sudah pulang. Tadi dia di meja makan, Sayang."
"Tidak ada siapapun disana. Hei ... Mas lupa memanggilku. Sampai kesemutan aku menunggu diatas," bibir Ara meruncing, ia kesal dengan sang suami yang melupakannya.
"Aku bisa mengatasinya. Bukankah tadi aku mengatakan kalau aku akan meminta tolong jika akun tidak sanggup mengatasinya." Adrian tersenyum melihat wajah Ara yang cemberut.
Lelaki itu menarik sang istri duduk di pangkuannya. "Nyonya tidak usah mengotori tangan ini. biarkan aku yang melakukannya,"
"Apa sih?" Ara mendelik dengan memundurkan tubuhnya. kemudian mereka berdua saling bercanda hingga akhirnya saling berpelukan.
\=\=\=\=\=\=\=
"Mama duduk dulu sini," jawab Akio yang menarik lengan sang ibu yang terpaku menatapnya.
"Jawab dulu pertanyaan mama," ucap Aimi datar. Tidak mungkin Akio akan pindah hari ini dari hotel ke rumah yang telah disewakan Adrian untuk mereka. Karena rumah itu masih dalam tahap direnovasi dan dibersihkan. rencananya baru minggu depan mereka bisa menenmpatinya.
Akio mengedikkan dagunya pada Hiro, memberi kode dokternya itu untuk keluar. Hiro yang sudah paham mau Akio, segera melangkahkan kakinya keluar kamar dan menutup rapat pintunya.
Puk ... puk ... Tangan Akio menepuk bagian kosong di depannya. Ia yang tengah duduk diatas ranjang, menyingkirkan sejenak koper berisi sebagian pakaian yang sudah ia tata rapi tadi.
Dengan terpaksa Aimi mengikuti mau sang anak. Meletakkan bokongnya di atas ranjang kosong menghadap Akio.
"Mama jangan kaget. Aku memutuskan untuk pulang ke Jepang besok, kita bertiga," ucap Akio tenang. Dari raut wajahnya terlihat jika lelaki itu pasti sudah memikirkan masak-masak keputusan terbesarnya itu. Karena tidak ada keraguan sama sekali dalam setiap kata yang ia ucapkan.
Namun sang ibulah yang sekarang malah bingung. Apa yang ada dipikiran anak laki-laki nya itu? Di sini semua telah hampir seratus persen siap untuk mendukung Akio. Tempat tinggal terbaik yang sudah dipilihkan oleh Ara dan dirinya yang pada akhirnya dibiayai oleh Adrian seluruh sewanya.
__ADS_1
Belum lagi pengobatan terbaik dari rumah sakit dinegeri ini yang telah ia pesan untuk Akio.
"Apa yang terjadi, Ki?" Akio menggeleng. Lelaki itu meremas kuat jemari sang ibu yang ada dalam genggamannya, bersamaan dengan helaan napas panjangnya dalam senyum tulus seperti biasa yang ia tunjukkan selama ini.
"Itu keputusanku, Ma," ucap Akio meyakinkan sang ibu. Tidak ada lagi kata-kata yang terucap, ataupun alasan yang diungkap oleh lelaki itu untuk menguatkan keinginannya.
Aimi terdiam. Secepat ini hati Akio berubah. Masih jelas di ingatannya saat anak laki-laki nya itu memohon untuk pulang ke Indonesia. Hingga segala alasan yang diungkap oleh sang ibu untuk membatalkan ditolak mentah-mentah. Namun apa yang terjadi sekarang? Belum genap 2 bulan mereka ada di Indonesia, Akio justru berubah pikiran.
"Kita belum membeli tiketnya, Ki,"
"Aku sudah memesannya lewat online Mam, tenang saja. Mama hanya perlu berkemas sekarang. Besok pagi-pagi benar kita harus sudah ada di bandara." Akio menarik kembali kopernya kemudian melanjutkan merapikan pakaiannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sayang, ini surat-surat yang harus ditandatangani Dani sebagai kelengkapan perpindahannya. Kirimkan saja, tidak usah kesana." Setelah menghabiskan sarapannya, Adrian memberikan setumpuk berkas pada sang istri untuk Dani.
"Tidak apa-apa, kalau harus kesana, Mas."
"Kirimkan saja. Ini perintah, Sayang," ucap Adrian, nadanya biasa namun sang istri tahu lelaki itu ingin melindunginya.
"Baiklah.Mas bolehkah aku menjenguk kak Akio?"
Wanita itu pamit lebih dahulu.
"Hem ... Salam untuk Bibi Aimi, ya. Kemungkinan nanti aku pulang agak malam. Ada sesuatu yang harus kulalukan." Cup ... Mengecup singkat sang istri, Adrian segera berlalu setelah sang istri menempelkan pipi lembutnya ke punggung tangan lelaki itu. Bukan apa-apa, lelaki itu ingin menghindar dari pertanyaan sang istri tentang alasan untuk keterlambatannya pulang. Ia tidak. ingin membebani sang istri dengan itu semua.
Mobil sedan hitam yang membawa Adrian, melesat membelah jalanan. Ia sengaja berangkat pagi untuk menghindar dari macet dan menyelesaikan pekerjaannya di kantor lebih awal.
Hari ini, tidak sopir yang pergi dengannya. Hanya Elang dan satu bodyguard lainnya.
"Tuan, kita berangkat jam 10 nanti, " ucap Elang mengingatkan.
"Semua pekerjaan yang harus selesai hari ini sudah kau siapkan?" tanya Adrian. Mata lelaki itu sibuk memeriksa macbook yang ada ditangannya.
"Sudah, Tuan. Tinggal Tuan periksa kembali," ucap Elang sedikit menoleh ke belakang. Semua berkas sudah Elang simpan di dalam benda yang ada ditangan Adrian itu.
"Dokter Kim?"
__ADS_1
"Beliau izin praktek lebih dahulu sampai jam 9, Tuan." Adrian mengangguk mengerti.
Ciiiiitttttt ... Brakkkkkkk!!!!