Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 185 Yang Berlalu (2)


__ADS_3

Auuwwww ...." Laura memegang dahinya yang terbentur body mobil. Tampak cairan merah kental dan segar menempel di telapak tangannya.


Ada seorang laki-laki berlari sangat cepat melewati mobil mereka setelahnya. Entah apa yang dilakukannya tiba-tiba lelaki itu memotong pembatas tengah jalan kemudian naik ke boncengan sebuah motor yang yang nampaknya sudah menunggu.


Kejadian yang begitu cepat membuat Laura bahkan tidak menyadari apa yang terjadi. Termasuk Adrian yang kaget dan lelaki itu pikir Laura sedang mengantuk hingga kepalanya terbentur.


"Kau baik-baik saja, Lau?" tanya Adrian yang duduk di depan.


"Kepalaku berdarah Add. Dan aku ..."


Brukk!! Wanita itu jatuh terjengkang. Dan ternyata ia pingsan sebelum bisa menjawab pertanyaan Adrian.


"Dia kenapa?" Adrian kaget dan malah menatap Elang yang fokus dengan kemacetan luar biasa di depannya.


"Saya tidak tahu, Tuan." Dengan wajah tanpa merasa bersalah, Elang menatap balik sang majikan yang terheran. "Bukankah tadi Tuan yang terakhir berbicara dengannya?"


"Iya, tapi aku tidak tahu dia kenapa. Cepat tolong dia Lang! Perbaiki itu posisinya!" Bukannya menolong wanita itu sendiri, Adrian malah menyuruh sang asisten melakukannya. "Sini biar kugantikan!" titahnya.


Elang hanya menurut. Bagaimana dia mau protes saat yang menyuruh adalah majikannya sendiri.


Tidak terbantahkan, bahwa Laura wanita yang cantik dan seksi apalagi dengan pakaian yang super ketat seperti itu. Namun rupanya, kedua lelaki yang bersamanya saat ini sedikit risih dengan apa yang wanita itu kenakan. Ya, wanita baik-baik tidak akan melakukannya hanya untuk menarik perhatian lelaki. Apalagi yang ia datangi adalah mantan kekasih yang sudah menjadi suami orang lain. Terlihat disengaja bukan?


Adrian melajukan mobilnya pelan- pelan, setelah barisan mobil di depannya perlahan merangkak maju.


Mereka menuju rumah sakit, karena Laura membutuhkan pertolongan saat ini. Dan juga menengok sang istri yang menginap disana.


Begitu sampai di UGD, perawat membantu Elang mengangkat Laura. Dan selanjutnya Adrian meninggalkan asistennya itu untuk menemani Laura, sedangkan ia sendiri malah pergi ke kamar istrinya.


Saat berjalan menuju tempat Ara dirawat, mata Adrian menangkap sesosok orang yang dikenalnya. Meski lama tidak bertemu, namun wajah itu tentu ia tidak lupa.


"Al?"


Lelaki itu berbalik. "Hei, Kak Adrian. Ada disini juga?" tanya lelaki muda itu yang juga kaget bertemu dengan Adrian.


"Istriku dirawat disini. Kamu?"


"E ... Eh anu. Kak Alfa terkena musibah, Kak. Dia menabrak pasangan suami istri yang naik becak pagi tadi. Karena Kak Alfa sedang sibuk mengurus perusahaannya yang baru berkembang kembali, jadi aku yang menggantikannya disini, Kak," jawab Aldo seperti orang yang tengah bingung. Sesekali matanya menatap ke segala arah seperti orang yang sedang mencari sesuatu.


"Oh, oke. Aku duluan ya! Kasihan istriku, sudah kutinggal dari pagi tadi. Salam untuk Alfa."


"Iya, Kak. Salam juga buat istrinya, semoga cepat sembuh!" Aldo setengah berteriak mengucapkannya, akibat Adrian yang sudah agak jauh jaraknya.


"Ibu tadi kemana? Saya kebingungan mencari, cepat sekali ibu menghilang?" tanya Aldo ketika seorang perempuan paruh baya yang bersamanya sempat menghilang saat ia menyapa teman SMP kakaknya tadi.


"Ibu ke toilet, Nak. Maaf ya. Ibu tadi lari begitu saja meninggalkanmu. Sudah tidak tahan," ucap Esther beralasan sambil mengusap perutnya. Padahal wanita itulah yang tahu kedatangan Adrian lebih dulu, tadi.


Tentu saja Esther kabur melihat Adrian, ia tentu tidak lupa siapa lelaki itu. Orang yang telah berjasa membantu suaminya, namun malah dibalas dengan kabur dan tidak bertanggungjawab oleh Damar.

__ADS_1


Wanita yang melihat kedatangan Adrian lebih dulu itu panik, dan tanpa berpikir panjang. Ia mencari tempat bersembunyi sementara.


Mereka sedang berbicara bertiga dengan dokter, saat dari kejauhan nampak Adrian menuju ke arah mereka berada.


"Ibu langsung ke kamar Bapak, ya. Bapak sudah dipindahkan dari ruang pemulihan pasca operasi. Saya mau mengurus administrasi dulu," ucap Aldo pada Esther. "Oh iya, ini ada makanan untuk ibu. Saya lihat dari pagi ibu tidak makan apapun. Ibu harus menjaga kesehatan juga untuk bisa merawat Bapak." Aldo mengangsurkan sebuah kantong kresek pada wanita paruh baya di depannya itu.


"Iya Nak. Terima kasih banyak," ucap Esther menatap kepergian Aldo. Ia merasa beruntung bertemu dengan kedua kakak adik itu. Meski bukan pertemuan yang menyenangkan alias hanya seseorang yang bertanggung jawab pada kecelakaan yang melibatkan mereka. Namun tetap dikatakan beruntung bukan, karena sang penabrak sangat bertanggung jawab, dibalik banyaknya kejadian tabrak lari.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kenapa aku ada disini?" Laura terbangun dengan kepala terbalut perban. Wanita yang masih merasa pusing itu langsung memegang bagian kepalanya yang terluka.


"Istirahatlah sebentar sebelum pulang, Nyonya," ucap Elang yang berdiri disampingnya. Lelaki yang diberi tanggung jawab Adrian untuk menjaga Laura itu, sebenarnya bingung harus mengatakan apa pada mantan kekasih sang majikan itu.


"Pulang? Dimana Adrian? Bukankah dia sudah setuju untuk berbicara sebentar denganku. Kenapa hanya kamu yang ada disini?" Laura memberondong Elang dengan banyak pertanyaan.


"Tuan sedang ada urusan, Nyonya."


"Penting?"


"Tentu saja. Sangat penting, dan lebih penting dari urusan yang lain," jawab Elang penuh teka-teki.


"Ck. Caramu menjawab tidak beda jauh dengan majikanmu. Aku tidak mau pergi kalau belum berbicara dengan Adrian. Dia sudah berjanji." Laura yang keras kepala malah memberikan ancamannya pada asisten Adrian itu.


"Tapi Tuan mengatakan pada saya untuk segera mengantar Anda pulang setelah Anda siuman, Nyonya."


"Jangan Nyonya. Biar saya saja. Nyonya tunggu disini dulu." Setelahnya, Elang melangkahkan kaki keluar UGD. Disana lelaki itu menghubungi sang majikan dan mengatakan tentang Laura. Tidak lama kemudian, Elang masuk kembali menghampiri wanita yang masih terbaring di bed UGD itu.


"Mari saya antar bertemu, Tuan." Elang membungkuk dan menunggu wanita itu turun.


Laura berjalan mengikuti Elang. Sesekali ia berhenti, saat merasa kepalanya sedikit sakit. Namun yang tak kalah membuat ia pusing adalah, herannya wanita itu mengapa Adrian ada ditempat ini.


"Memang Adrian disini?"


"Iya, Nyonya?"


"Siapa yang sakit?"


"Nanti anda bisa bertanya pada Tuan langsung," jawab Elang tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Lelaki itu hanya terus berjalan sambil sesekali melambatkan langkahnya sampai berhenti sejenak ketika Laura meminta istirahat.


Akhirnya mereka naik lift dan sampai di lantai lima. Dan Laura hanya mengikuti langkah lebar Elang yang sama sekali tak membantunya.


"Apa masih jauh? Aku sudah lelah," ucap Laura menyandarkan tubuhnya di dinding setelah keluar dari lift.


"Sebentar lagi Nyonya. Sudah dekat," ucap Elang yang hanya memutar tubuhnya 180 derajat. Padahal tas wanita itu Elang yang membawanya, namun ia mengeluh lelah hanya untuk berjalan membawa tubuhnya saja.


Ceklek!

__ADS_1


Setelah nampak berhenti sebentar, Elang membuka sebuah pintu kamar ruang VVIP yang pada pintunya tertulis sebuah nomor .


"Silahkan, Nyonya," Elang mengangguk memberi tanda pada Laura untuk masuk.


Wanita itu melangkahkan kakinya dengan gontai.


Deg!


Pemandangan yang nampak di dalam sungguh mencengangkan. Langkah Laura terhenti begitu melihatnya. Tiba-tiba menyusup rasa nyeri didalam dadanya.


Adrian sedang duduk dan menyuapi seorang wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dan jelas sekali wanita itu adalah orang yang sama, yang dikenalkan Adrian sebagai asisten pribadi sekaligus kekasihnya saat lelaki itu datang pada pernikahannya dulu. Ternyata benar yang diungkap media jika kedua orang itu menikah diam-diam.


Mereka bercanda dan saling tertawa, serta sesekali lelaki itu mencuri kecupan dari pipi sang istri yang asyik bercerita. Sepertinya mereka tak menyadari kedatangannya.


Nyeri? Laura tahu itu tidak boleh, sangat dilarang! Karena yang terjadi antara dia dan Adrian adalah masa lalu. Dan wanita itulah sekarang masa depan Adrian.


Senyum tulus yang tercetak jelas di wajah tampan Adrian seperti menampar Laura. Terlihat dengan jelas bahwa Adrian lebih bahagia dengan wanita itu daripada dengannya dulu.


Ternyata membayangkan memang tidak seindah kenyataannya. Dalam pikirannya beberapa bulan ini sebelum ia memutuskan untuk mendekat kembali pada masa lalunya, berbagai kenangan indah dengan lelaki itu tersaji dengan sempurna.


Mengharap cinta di masa lalu itu bagaikan kita sedang berjudi. Jika menang, berarti kita masih berjodoh dan beruntung. Namun jika kalah, pasti sebuah kenyataan lebih menyakitkan yang akan kita terima. Sekali lagi, jodoh tidak yang tahu bukan?


Ketika Laura masih terdiam di depan pintu dan berperang dengan pikirannya. Elang bergerak maju melewatinya.


"Maaf, Tuan. Tamu Anda sudah di depan," ucapan Elang membuat pasangan suami istri itu seketika diam.


"Persilahkan duduk Lang," titah Adrian yang sudah tahu siapa yang dimaksud Elang dengan tamunya.


Ara terdiam. Ia tentu tidak lupa, milik siapa wajah cantik yang berdiri menjulang dibelakang Elang, meski wanita itu sedikit tertutup oleh tubuh tegap lelaki itu.


"Aku membawanya kesini, karena tidak ingin menyembunyikannya darimu, Sayang," ucap Adrian menggenggam erat jemari sang istri.


Ara mengangguk, memberi izin sang suami menemui orang dari masa lalunya. Bagaimanapun, ia menghargai keputusan suaminya yang tetap menemui Laura. Dan lelaki itu bahkan tidak menemui mantan kekasihnya itu dibelakang Ara.


Adrian berdiri, menghampiri Laura yang nampak kikuk duduk di sofa. Meskipun Elang sudah keluar beberapa menit yang lalu dan kini ia hanya berdua dengan Adrian, namun jangan lupakan ada Ara yang dapat melihat dan mendengar segala ucapannya meski jarak mereka lumayan jauh.


Padahal ia ingin membicarakan hubungannya dengan Adrian di masa lalu saat ini. Namun kalau posisinya seperti saat ini, tentu saja sangat tidak menguntungkan untuk pihaknya.


"Kau mau bicara apa?" Adrian duduk sambil bersilang tangan diatas dada. Tatapannya biasa saja, dan malah terkesan tidak tertarik dengan apa yang akan ia sampaikan.


"E ... Bisakah kita hanya berdua saja? Hanya sebentar, aku janji akan segera pergi setelahnya," pinta Laura berbisik. Untung saja wanita itu tidak mendekat ke tubuh Adrian. Jika sampai mendekat, tentu ia tidak akan selamat oleh gigitan Singa yang saat ini sedang menatap tanpa berkedip sedikitpun ke arahnya.


"Katakan saja disini. Aku sudah tidak ada waktu lagi," ucap Adrian yang menoleh pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Laura berpikir dengan keras, ia harus membuat Adrian tertarik dengan apa yang dikatakannya. Sedikit berbohong mungkin tidak mengapa, begitu pikir Laura.


"Ini tentang Tony."

__ADS_1


"Kenapa dengan Tony?"


__ADS_2