
"Aman, Tuan." Elang ikut masuk ke dalam kamar Tony yang ada di ruangan paling belakang. Asisten Adrian itu mengabarkan jika keadaan aman untuk segera melakukan penyelamatan.
Namun, tadi mereka harus menunggu dulu beberapa lama, agar obat tidur yang diberikan mbok Darmi kedalam minuman yang ia buat untuk pengawal Laura itu bereaksi.
Elang sudah memeriksanya. Beruntunglah mereka hari itu karena ternyata Siti sang pelayan baru, ikut meminumnya hingga mereka bertiga tertidur pulas di kamar belakang.
Sementara itu di depan, Black dan yang lain meluncur masuk gerbang setelah mendapat kabar dari Elang. Mereka masuk menembus penjagaan gerbang depan dengan membuat pingsan kedua satpam yang bertugas tadi.
Sedangkan keempat pelayan yang sudah masuk kedalam kamar dipastikan tidak akan terganggu tidurnya. Kamar mereka paling belakang, serta ada sebuah pintu yang membatasi dengan rumah utama. Dan pintu itu sudah terkunci oleh mbok Darmi.
Suara derit kursi roda memecah keheningan malam itu. Meski sepelan apapun mereka mendorongnya, tetap saja benda bergerak itu menimbulkan kegaduhan.
"Sudah kau hubungi Dokter Kim?" tanya Adrian yang berjalan paling depan.
"Sudah, Tuan. Pihak Rumah Sakit juga sudah bersiap menunggu kita. Bahkan mereka mengatakan siap menjemput jika dibutuhkan," lapor Elang.
"Tetap waspada, Lang. Sewaktu-waktu darurat langsung hubungi mereka untuk menjemput. Yang penting mereka berdua pergi dulu, urusan dengan yang lainnya kita yang bereskan!" tunjuk Adrian pada Tony dan juga pelayannya yang setia itu.
Suara hardikan dan bersitegang terdengar diluar. Bunyi bedebum seperti sebuah benda terbanting mendominasi. Sesekali suara tendangan pun tak dapat dielak.
"Seperti suara, Nyonya Laura, Tuan," bisik Elang yang mendapat anggukan sang majikan.
Adrian maju, kemudian membuka sedikit gorden dari sebuah jendela yang berdiri gagah didepannya.
Benar saja, Laura pulang dengan membawa keempat pengawalnya. Para lelaki dibelakang Laura itu memiliki badan besar dan gagah, lebih mirip ke tukang pukul atau preman daripada pengawal.
"Hubungi polisi, Lang!" titah Adrian begitu melihat mantan kekasihnya ada di halaman depan saat ini.
Yang Laura perbuat kepada istrinya adalah sebuah kejahatan. Apalagi kini, Adrian telah memegang bukti CCTV meski tidak begitu jelas karena letak kamera yang lumayan jauh.
"Baik, Tuan."
Keempat anak buah Adrian masih berdiri tegak di tempatnya, itu berarti mereka sanggup menghadapinya tadi. Anggap saja tadi hanya pemanasan karena kedua belah pihak nampak masih utuh personilnya.
Kemudian terdengar rintihan keras seseorang. Rupanya, ada satu pengawal Laura yang tumbang. Dari lelaki itulah suara bedebum tadi terdengar.
Ceklek!
Adrian keluar sendiri. Tatapan tajam lelaki tampan pemilik Ilyasa Corporation itu menghujam. Emosinya menyeruak melihat wanita yang dulu pernah mengisi hatinya itu, menjadi seseorang yang paling ia sesali untuk dikenal.
Laura kaget, ia pikir para pengawal di depan bukan milik Adrian tapi hanya orang lain, atau kawan Tony yang datang menyelamatkan sang suami. Namun rupanya ia salah.
Wanita itu merasa seperti sedang menyerahkan diri. Susah payah ia menghindar bertemu Adrian setelah kejadian hari ini, ia malah bertemu lelaki itu di rumahnya. Rumah baru yang bahkan rekanan kerja pun tidak ada yang tahu.
__ADS_1
Sudah selarut ini, dan Adrian masih menunggunya datang. Untuk apa jika bukan karena kejadian tadi sore yang menurut Laura tidak ia sengaja, namun berakibat fatal pada istri mantan kekasihnya itu.
Lidah Laura mendadak kelu dengan napas yang tak beraturan.
"Besok, aku tunggu itikad baikmu di kantor polisi. Mengakulah dengan jujur apa yang kau lakukan dan bertanggungjawablah. Karena jika tidak hukumku yang akan mengadilimu!" ancam Adrian dengan keras.
"A-aku tidak melakukan apapun, Add." Laura memberanikan diri membela perbuatannya. "Aku hanya mendorongnya, karena kesal melihat wajahnya yang sok baik, dia tidak terluka sedikitpun bukan?"
"Calon anakku meninggal karena perbuatanmu. Dan kau masih mengatakan tidak melakukan apa-apa?" Suara Adrian tegas dan geram.
"Aku tidak tahu kalau Ara hamil. Bukan salahku kan kalau ia kehilangan bayinya. Aku_"
"Mendorong dengan sadar itu sudah suatu kejahatan Lau! Jangan bersembunyi dibaliknya! Terlepas istriku hamil atau tidak kau tetap tidak boleh melakukannya!"
"Aku tidak mau! Aku tidak bersalah!" teriak Laura yang mulai terintimidasi ucapan Adrian.
"Ditambah lagi, perbuatanmu pada suamimu? Kau ingin membunuhnya pelan-pelan?" Adrian melirik Laura dengan tajam.
"Itu urusanku! Jangan ikut campu!" Laura gegas melangkahkan kakinya hendak masuk ke rumah, namun dihadang oleh Adrian.
"Menjadi urusanku karena aku mengetahuinya Lau! Kalau kau tidak juga menyerahkan diri, kau akan tahu apa yang akan kulakukan, bukan!"
"Cukup! Sudah kubilang aku tidak sengaja dan jangan mencampuri urusan keluargaku!"
Laura yang tidak bisa menembus pertahanan Adrian karena dihadang oleh empat pengawal mantan kekasihnya, memerintahkan pengawalnya yang berbadan besar- besar itu untuk maju.
"Nyonya, mereka melawan."
"Lakukan apa saja agar aku bisa masuk!" perintah Laura dengan berteriak.
Dug!
Dug!
Bum!
Perlawanan sengit diberikan oleh anak buah Adrian. Meski tubuh mereka kalah besar dari anak buah Laura, namun rupanya para lelaki berbadan besar itu tidak memiliki ilmu beladiri yang mumpuni. Mereka asal pukul dan tendang, sehingga mereka kalah di teknik dan dengan mudah dirobohkan oleh anak buah Adrian yang masing-masing jago ilmu beladiri.
"Aku membayar kalian bukan untuk kalah!" teriak Laura tidak terima karena sekarang keempat anak buahnya terkapar tidak berdaya. Hanya bersisa satu orang yang masih memasang kuda-kuda di depannya.
"Amankan jalan! Bawa Tony keluar!" titah Adrian pada para pengawalnya itu. Keempatnya sigap dan siap dengan senjatanya.
"Apa? Apa yang kau lakukan, Add? Kau tidak boleh membawanya. Dia tidak akan kemana-mana!" pekik Laura kalut. Wanita itu histeris dan panik. Tentu akan menjadi masalah besar untuknya jika sampai Tony keluar dari rumah ini.
__ADS_1
Namun lebih dari itu, ada sebuah rasa kehilangan yang tidak terjelaskan, tiba-tiba menyusup dan membuatnya tanpa sadar mengeluarkan air matanya.
"Tahan dia Black! Kita harus cepat. Ini sudah terlalu larut."
"Add, hentikan!!" teriak Laura panik. Wanita itu menghentak-hentakkan kakinya kesal, karena kalah jumlah dan juga tenaga.
Pengawalnya yang tinggal satu orang itu merangsek maju hendak memukul Adrian. Ia mencari celah saat dua pengawal Adrian membantu mengeluarkan Tony dari rumah dan menyiapkan mobil.
Namun dengan cepat Adrian memukul balik dengan telak senjatanya, hingga lelaki berbadan gempal itu meringis bahkan mengaduh kesakitan dan berlari meninggalkan Laura.
"Ayo!" perintah Elang sambil menarik kursi roda yang membawa Tony dari depan. Dan Black mendorongnya dari belakang, diikuti oleh mbok Darmi.
"Nyonya!?" Mbok Darmi mengerjap takut.
"Mbok bawa Tuan kembali! Ini perintah!" titah Laura. Saat ini, wanita itu di pegangi oleh salah satu anak buah Adrian agar tidak mengganggu jalannya evakuasi Tony.
"Maaf, Nyonya." Dengan tidak mengurangi rasa hormatnya, mbok Darmi mengangguk pamit dan berjalan lebih dulu ke dalam mobil.
"Berhenti ... berhenti sebentar," ucap Tony lirih hampir saja tidak terdengar jika Eang tidak berada tepat di depan wajah lelaki itu.
Semua anak buah Adrian menghentikan aksinya membantu Tony.
"Add, aku mohon beri waktu aku sebentar untuk berbicara dengan istriku," ucap Tony yang sudah berkaca-kaca sejak masih berada didalam rumah tadi, saat mendengar teriakan Laura.
"Dengan syarat tetap pada posisi seperti ini Ton! Istrimu tidak dapat dipercaya," ucap Adrian yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Tony berkedip pada Adrian. Memberi kode temannya itu untuk mengiyakan.
"Sayang, maafkan aku. Semua yang terjadi padamu adalah salahku. Aku sangat mencintaimu."
Tidak ada jawaban dari Laura. Wanita itu hanya diam tanpa ekspresi. Padahal tadi ia berteriak-teriak melarang Adrian membawa Tony.
"Ayo Add," ucap Tony setelah beberapa lama menunggu, namun sang istri tidak kunjung merespon ucapannya.
Adrian mengedikkan dagunya pada para pengawalnya. Dan mereka membawa Tony ke rumah sakit yang sudah di siapkan oleh Adrian.
Sepeninggal mobil yang membawa Tony, Laura yang dari raut wajahnya nampak rapuh tiba-tiba tubuhnya melorot ke tanah.
Pandangannya kosong seperti orang yang tengah melamun.
Disana tinggal Adrian dan Elang, yang menunggu polisi datang untuk membawa Laura.
❤️benci dan cinta selalu dibatasi tembok yang rapuh, jangan berlebihan pada keduanya💪
__ADS_1