Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 112 PMS atau?


__ADS_3

"Donat?" Adrian mengernyit, makanan dengan topping dominan manis yang teksturnya hampir mirip roti ini ada di meja makan dalam jumlah banyak. Ya, ada dua dus donat dengan isi masing-masing 6 dan topping yang cantik menggoda. Namun tidak untuk lelaki itu, dia tidak begitu suka manis dan tidak akan pernah memakannya jika tidak terpaksa.


"Mas mau?" tanya sang istri yang berdiri dibelakangnya. Karena dilihatnya sang suami tampak berputar-putar sambil menatap donat yang siang tadi ia beli bersama sang anak.


"Tidak. Apa tidak ada kue yang lain, sayang?" tanya Adrian yang seketika berhenti ketika mendapat tawaran dari sang istri.


"Yang lain? Ini enak sekali, Mas. Kalau adanya yang seperti ini mengapa menanyakan yang lain?" Adrian tercekat, tidak biasanya sang istri yang lembut itu menjelaskan dengan menaikkan nada suaranya satu oktaf.


"Aku tidak suka yang terlalu manis sayang, apalagi toppingnya seperti ini. Lebih enak ku_"


"Ohhh, jadi aku tidak manis makanya Mas sukanya sama aku," Adrian menahan tawanya mendengar ucapan sang istri. Ada apa dengan wanita yang dicintainya itu hingga bersikap seperti ini. Namun tak urung malah membuatnya gemas.


"Ya ampun. Kita sedang membicarakan si donat sayang, bukan yang lain apalagi kamu," lelaki itu mencubit kedua pipi sang istri kemudian menggulung wanita itu dalam pelukan. Cup! dicurinya kecupan dari bibir ranum yang kini mengerucut itu.


"Katanya aku tidak manis. Kenapa malah menciumku?" Ara mendorong dada Adrian yang hendak mendekat lagi padanya, tanpa berani menatap suami tampannya itu. Dan setelah itu ia malah memalingkan wajahnya ke samping.


"Hei," Adrian menarik dagu sang istri hingga berada di hadapnnya. Namun wanita itu masih saja menunduk. "Lihat aku jika sedang bicara denganku. Kau kenapa sayang? Hemmm.. Apa aku melakukan kesalahan?"


"Tidak. Aku yang salah. Bukannya memang selalu aku yang salah," tiba tiba sang istri berderai airmata. Adrian sampai bingung dibuatnya.


Lelaki itu kemudian merangkul sang istri dan membawanya untuk duduk. Sang istri yang kini berada di pangkuannya itu dipeluknya dengan mesra hingga tidak dapat beringsut sedikitpun.

__ADS_1


"Sayang?" lelaki itu sekali lagi berusaha mengatur emosinya. Ia yang bahkan tidak tahu apa masalahnya malah terkena sindir dari istrinya. Jika yang membuatnya kesal adalah orang lain, mungkin lelaki ini sudah berbuat lebih tadi. "Aku minta maaf jika aku salah, tapi jangan seperti ini. Bahkan aku tidak tahu apa salahku. Apa aku menyakitimu?" Adrian berusaha mengalah pada sang istri yang nampak sedikit pucat.


"Apa mas marah karena aku tidak menjawab telepon. Hingga pulang pun telat dan tidak menyapaku sama sekali malah langsung mandi. Setelah itu juga meninggalkan aku begitu saja di dalam kamar," bibir ranum yang terus berbicara itu mendapat kecupan lagi berkali kali dari sang pemiliknya.


"Aku tidak marah. Aku hanya lelah sayang. Banyak sekali pekerjaan beberapa hari ini yang harus segera ku selesaikan karena aku janji akan membantu_" lelaki itu hampir saja keceplosan tentang bantuannya pada Tony. Jika pun ia jujur, pasti istrinya itu tidak melarangnya. Namun ia hanya tidak ingin membuat sang istri terlalu khawatir. "Ya, aku hanya lelah. Dan kau tahu aku tidak suka makanan manis bukan?" lelaki itu langsung mengalihkan perhatian.


"Tapi aku membelinya untukmu dan Mommy, Mas. Meski sebenarnya Dani sudah mengatakannya tadi, " Ara bergumam lirih, memainkan jari sang suami yang berada di pangkuannya.


"Baiklah. Tapi kau tidak apa-apa kan? Atau ada yang sakit, karena kau nampak agak pucat sayang," tanya Adrian, tangannya terulur memegang kening kemudian leher. Dan istrinya tidak sedang demam karena suhu tubuhnya sangat normal.


"Aku baik-baik saja, Mas. Namun entahlah, emosiku tiba-tiba naik turun sepulang aku dari sekolah Dani tadi. Mungkin saja.....karena mau datang bulan," Ara nampak mengingat-ingat tanggal datang bulannya yang lalu


"Pantas. Kau membuatku khawatir saja," ucap Adrian yang kemudian mengulurkan tangannya ke dalam kotak berisi donat yang ada di sebelahnya.


"Tapi sudah terlanjur dibeli. Bukankah tadi kau mengatakan membelikannya untukku dan Mommy? Jadi biarkan aku memakannya, tapi satu saja ya," ucap Adrian yang langsung memasukkan satu donat kedalam mulutnya.


Ara segera mengambil ponselnya untuk mengambil gambar Adrian yang pipinya menggembung akibat memasukkan makanan itu secara utuh. Dan langsung mengirimkan kepada anak laki-lakinya yang sedang berada di kamar.


"Hei kau mengirimkan fotoku pada siapa, sayang?" dengan mulut yang masih mengunyah lelaki itu berusaha mengambil ponsel sang istri, namun tidak bisa karena Ara langsung memasukkannya kedalam kantong celananya.


"Rahasia," ucap Ara yang segera kabur meninggalkan sang suami yang masih mengambil minum untuk membantu makanan didalam mulutnya turun ke kerongkongan.

__ADS_1


"Awas saja! Akan ku hukum kau hingga besok pagi," gumam Adrian dengan senyum menyeringai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hei, sayang kenapa kau membawanya kemari," tanya seorang lelaki tambun yang menyambut wanitanya yang baru datang dari luar negeri.


"Kenapa harus menanyakannya. Seharusnya kau senang aku datang tanpa harus menyinggung tentang wanita itu," Magda kesal dengan sang kekasih, Danang Perkasa. Lelaki itu tanpa kabar sebulan ini dan melarangnya pulang ke Indonesia untuk menyusulnya.


"Iya. Tapi kau tahu kan, sangat mengganggu melihatnya disini," tunjuk Danang pada kotak besi yang tengah diangkat oleh anak buahnya menuju gudang.


"Dia alatku satu-satunya untuk mengancam Tony. Jadi harus ikut kemanapun aku pergi. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan kali ini," Magda tersenyum membayangkan Tony akan bertekuk lutut memohon kebebasan sang istri, dan ia dengan leluasa bisa menguasai lelaki itu.


"Bagaimana jika Tony tidak mau?"


"Dia pasti mau, dan harus mau. Atau aku bunuh istrinya yang sekarang sudah tidak secantik dulu itu," tangannya mengepal sambil melihat marah ke arah ruangan dimana kotak besi yang berisi Laura diletakkan.


"Itu berarti kau akan membuangku jika kau berhasil kembali padanya?" tanya Danang penuh penegasan.


"Tentu saja tidak sayang," wanita yang memiliki hati tak secantik wajahnya ini menggelayut manja di bahu Danang. Pengusaha yang membantu ia kabur dari negeri ini dan berhasil menyembunyikan Laura tanpa bisa terendus oleh Tony selama beberapa bulan ini. "Kita masih akan tetap seperti ini. Dibelakang Tony," senyum manja dan menyeringai menghiasi wajahnya kini. Wanita yang selalu penuh rahasia itu tengah melakonkan rencananya sendiri.


"Baiklah. Istirahatlah dahulu kau pasti lelah dengan perjalanan panjang hari ini," lelaki tambun itu mengelus punggung wanitanya dan kemudian mengangguk pada seorang pelayan yang memberi jalan pada Magda untuk mengikutinya.

__ADS_1


Setelahnya, lelaki tambun itu hanya tersenyum tipis. "Kucing tetaplah kucing, jangan pernah mencoba menjadi Kancil. Karena kau tidak akan bisa secerdik ia, sampai kapanpun,"


__ADS_2