
"Kau mau kabur kemana!" ucap Adrian yang langsung memegang kedua lengan sang istri hingga wanita itu tidak bisa bergerak bebas.
"Aku tidak kabur, Mas." Ara mencoba melepaskan diri. Dia bergerak sekuat tenaga, namun apa daya tak sedikitpun tangan Adrian merenggang di lengannya. Padahal lelaki itu sedang sakit, tapi tenaganya tak main-main. "Lepaskan dulu, Mas lagi sakit. Hemat energimu, nanti melilit lagi perutnya," ucap Ara yang mengingatkan suaminya.
"Tetaplah disini. Aku menyukai kecemburuanmu." Cekalan Adrian merenggang. Kemudian lelaki itu malah merengkuh tubuh sang istri, meletakkan kepala wanita yang dicintainya itu didadanya dan membawanya berbaring bersamanya.
"Iyakah? Maaf ya, gara-gara aku Mas jadi sakit." Menempelkan pipinya pada dada sang suami, wanita itu menggambar pola abstrak pada bagian terbuka milik Adrian. Kemudian ia menghidu aroma minyak angin yang ia oleskan tadi.
Tapi sepertinya ia salah mengoleskan. Ini bukan aroma minyak angin tapi minyak kayu putih. Aromanya segar dan membuatnya mengingat sesuatu.
Rasanya seperti mencium bau makhluk kecil yang ia rindukan untuk tumbuh di rahimnya. Oh Tuhan, apa Ara terdengar mengada-ada dalam keadaan seperti ini. Karena ia sempat memanjatkan doa supaya mereka lekas dipercaya untuk menerima anugerah Tuhan yang satu itu.
"Kalau dengan sakitku bisa membuatmu tersenyum dan memaafkanku, aku lebih senang mengalaminya, Sayang," ucap Adrian lirih. Lelaki itu terdengar menghela napasnya.
"Mana boleh begitu! Jangan berkorban yang membuat dirimu kesakitan, Mas." Ara langsung bangkit dengan menyangga beban tubuhnya dengan sebelah tangannya menghadap Adrian. "O ... Iya, maaf Mas aku salah mengoleskan minyak, kukira minyak angin ternyata minyak kayuputihku."
"Sama-sama minyak kan, Sayang?" tanya Adrian tanpa berpikir panjang.
"Memang sama-sama minyak. Tapi sepertinya jika minyak kayu putih tidak terlalu mempan untuk Mas." jawab Ara masih tidak habis pikir dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya karena panik malah salah ambil. "Untung bukan minyak goreng," gumam wanita itu lirih.
"Kalau minyak goreng ya tinggal masukkin aku ke wajan terus digoreng sampai mateng, enak deh jadi kriuk-kriuk."
"Masss!" Ara memekik keras hingga membuat sang suami tertawa gemas.
"Ha ha ha, aduh ... perutku sakit lagi." Adrian memegangi perutnya yang kembali terasa mulas. Ia yang senang menggoda sang istri malah berakibat buruk pada perutnya. Ara jadi ikut panik dibuatnya. "Lagian kamu ini, sudah terlanjur ya tidak apa-apa. Kenyataannya aku sembuh kan meski salah minyak. Yang penting siapa yang mengoleskannya bukan apa yang dioleskan." lelaki itu tersenyum menggoda.
Drrttt
Drrtttt
Sebelum Ara membalas godaan suaminya. Ponsel Adeian berbunyi. Ara langsung bangkit menuju nakas dan melihat nama sang pemanggil adalah Aimi.
"Mas. Tante." Ara mengambil ponsel Adrian dan menyodorkannya pada lelaki itu.
"Angkat saja, Sayang
atau kalau tidak nyalakan speakernya."
__ADS_1
Ara menggeser tombol hijau setelah meletakkan bokongnya di tepi ranjang di sebelah Adrian.
"Halo Tante apakabar?"
"Ra, Adrian ada?"
"Iya Tante. Aku disini. Kami sedang berdua. Tante dan keluarga apa kabar?" Sapa Adrian pada Aimi.
"Tante dan Keluarga baik, Add. Semoga kamu sekeluarga juga sehat."
Hening.
Hanya terdengar deru napas Aimi yang tak beraturan.
"Tan? Tante baik-baik saja, kan?" Adrian dan Ara saling menatap mendapati sang tante yang tiba-tibah terdiam.
"Tante baik, tapi tidak dengan Kio,"
"Maksud Tante apa?" Pasangan suami istri itu berucap bersamaan.
"Kio meninggalkan kita, setengah jam yang lalu."
Hening kembali.
Kemudian terdengar isak tangis Aimi yang tertahan.
Genggaman tangan Ara pada ponsel Adrian lepas. Ara tidak histeris, namun air mata wanita itu menganak sungai dengan raut wajah yang kaku belum bergerak sedikitpun.
Sedangkan Adrian, lelaki itu lebih tenang. Ia hanya tidak percaya Kio pergi secepat ini. Rasanya seperti mimpi.
Melihat sang istri yang terdiam, Adrian menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya.
"Kita doakan yang terbaik untuk Kio, ya," ucap Adrian menenangkan. Lelaki itu membelai puncak kepala sang istri kemudian menghapus air mata yang membasahi pipi putih tanpa noda itu.
Namun yang terjadi, tangis Ara tiba-tiba luruh. Di peluknya tubuh Adrian dengan erat, kemudian wanita itu terisak dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Tan, tante masih disana?"
__ADS_1
"Iya, Add"
"Kami tidak bisa langsung kesana Tan. Mungkin beberapa hari lagi," ucap Adrian.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya tidak kesini pun tidak mengapa, karena jenazah Kio tidak dikebumikan disini Add."
Adrian mengernyit, kalau tidak di Jepang lalu dimana jenazah sepupunya itu berada. "Lalu?"
"Semenjak koma, salah seorang sahabat lama Kio membawanya ke Swiss. Kami tidak bisa mencegahnya, Add. Orang itu menunjukkan rekaman sebelum operasi yang menyatakan jika Kio sampai koma, dia bersedia ikut temannya itu untuk menjalani pengobatan di Swiss, dibawah pengawasan ayahnya. "
"Lalu kenapa tidak dibawa pulang ke Jepang, Tan? "
"Itu juga permintaan terakhir Kio. Ia ingin dikebumikan disana. Rencananya baru besok kami bertiga kesana, Om kamu sedang benar-benar repot Add. Dia harus memegang dua perusahaan, belum lagi memeriksa beberapa anak cabang. Semua pekerjaan Kio, papanya yang menggantikan."
"Ya ampun, Tan. Maafkan kami yang tidak bisa langsung kesana." ucap Adrian dengan penyesalan. Ia sendiri juga tengah sibuk disini.
"Sudah, Add. Selesaikan dulu urusanmu kalau kamu ingin kesini. Jangan meninggalkan perusahaan yang juga membutuhkanmu, kami semua mengerti posisimu."
"Terimakasih, Tan. Tante yang kuat ya, Kio orang baik. Tuhan lebih menyayanginya daripada kita."
"Iya Add. Dia sudah sembuh sekarang. Tidak kesakitan lagi. Maafkan semua kesalahan Kio kepada kalian, ya."
"Kami bahkan sudah melupakannya, Tan. Salam kami untuk semuanya."
"Iya. Salam juga untuk Ara."
Adrian meletakkan ponselnya setelah Aimi mengakhiri panggilannya. Lelaki itu menatap sang istri yang masih sesenggukan.
"Sayang, maaf aku tidak bisa secepatnya kesana. Apa barangkali kau ingin kesana sendiri? Biar aku siapkan tiket pesawatnya." Adrian menawari sang istri untuk ke Swiss tanpa dirinya.
"Berdua saja, Mas. Selesaikan yang disini dulu." Ara mengusap jejak airmatanya, ia sudah lebih tenang sekarang.
"Baiklah, aku mandi dulu. Tunggu aku untuk makan malam," ucap lelaki itu sambil berlalu menuju kamar mandi.
"Lagi? Bukankah tadi sudah makan, Mas?"
"Tadi hanya appetizer saja kan? Sekarang baru benar-benar makan yang sebenarnya. Tanpa pedas yang bikin perut mulas!" Adrian tersenyum menyindir dirinya sendiri. Saking semangatnya memberikan kejutan untuk Ara, ia sampai lupa untuk menjaga dirinya sendiri yang malah mengikuti begitu saja kemauan sang istri.
__ADS_1
Tapi tidak mengapa. Bukankah karena itu juga akhirnya mereka kembali berbaikan. Rasanya ia tidak sanggup marahan terlalu lama. Sehari saja cukup menyulitkan untuk istrinya itu merajuk, apalagi jika sampai harus berhari-hari.