
"Dok."
"Hei, kamu sudah bangun rupanya." Ori mendekati Sinta yang membuka mata dan langsung memanggilnya. "Ara sangat khawatir denganmu."
"Iya, Dok." Mata Sinta berkaca, rasanya ia ingin menangis. Dia malu kabur begitu saja dari rumah Ara. Karena faktanya, wanita itu begitu perduli padanya. Tentu dia mendengar semuanya tadi, percakapan mereka berdua, Ori dan Ara.
"Kamu sudah aman, Sin? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada seseorang yang ingin berbuat jahat denganmu?" Ori khawatir karena Sinta terlihat menahan isakannya.
"Tidak, Dok. Aku tidak apa-apa. Aku hanya terjatuh karena sangat pusing saat itu. Kak Ara kemana?" tanya Sinta mengalihkan pertanyaan Ori. Dia tidak mungkin mengaku jika dia pingsan karena kelaparan.
"Aku menyuruhnya pulang. Kasihan Merra. Dari semalam ia menunggumu disini," ucap Ori yang segera membuka kotak makanan dan menyerahkannya pada gadis itu. "Makanlah," titahnya pada gadis itu.
"Terima kasih, Dok," ucap Sinta menerimanya.
"Aku tidak bisa menemanimu terlalu lama, karena aku harus praktek Sin.
Nanti Fatma atau bu Sri yang akan menggantikanku."
"Aku sudah merasa lebih baik, Dok. Ditinggal sendiri juga tidak apa-apa. Orang-orang di panti pasti sibuk. Biar aku menghubungi mereka lagi, untuk membatalkan kedatangan mereka. Emmm ... Bolehkah aku pulang hari ini?" pinta Sinta dengan tatapan memohon. Sungguh ia sudah merasa baikan, selain rasa nyeri ringan akibat kepalanya yang terluka saat jatuh kemarin.
"Kau ini terburu-buru sekali. Tunggu kunjungan dokter yang merawatmu nanti siang. Dia yang akan memutuskan boleh tidaknya kamu pulang."
"Iya terimakasih, Dok."
"Berterimakasihlah pada Ara. Karena dia yang dari awal mengajakku untuk mencarimu setelah ia menghubungi panti asuhan dan mereka mengatakan kau belum juga sampai di tempat itu," ucap Ori yang akhirnya pamit pada Sinta. Setengah jam yang lalu, ada perawat mendatanginya. Ori harus menggantikan dokter senior yang berhalangan hadir untuk ikut rapat rutin yang diadakan rumah sakit.
Sepeninggal Ori, Sinta menangis sejadi-jadinya. Bahkan Sinta merasa Ara memang lebih pantas bersama dokter Ori daripada dirinya. Apalah dia yang masih di penuhi rasa iri, diantara lingkungan baik yang diciptakan ibu kepala panti selama ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan, Anda mau makan malam apa?" tanya bibi Yulia pada sang majikan. Ia berharap dengan bertanya seperti itu, keinginan untuk makan malam di rumah kembali muncul dari dalam diri Adrian.
"Makan seperti biasa saja. Memang Bibi masak apa? Tidak biasanya bertanya seperti itu," ucap Adrian yang merasa heran dengan pertanyaan kepala pelayan itu.
"Barangkali Tuan mau dimasakkan sesuatu oleh saya. Dengan senang hati saya akan memasaknya, asalkan Tuan selalu makan malam di rumah," sindir bibi Yulia. Tentu ia tidak akan mengatakannya di awal.
"Apa saja, Bi. Dani sudah pulang?"
__ADS_1
"Belum, Tuan. Mungkin sebentar lagi," jawab bibi Yulia yang kemudian pamit untuk turun.
"Kemana anak itu? Tidak biasanya dia belum pulang," gumam Adrian yang bangkit dari tempat tidurnya.
Lelaki itu keluar kamarnya menuju kamar sang anak. Dan benar saja, belum ada tanda-tanda pemuda itu berada di kamarnya. Karena ruangan itu masih rapi dan belum tersentuh sama sekali.
Adrian akhirnya turun hendak menuju meja makan.
"Hai, Dad! Tumben Daddy sudah di rumah? Kukira tadi belum pulang," ucap Dani yang baru saja tiba dan berpapasan dengan sang ayah.
"Daddy sudah dari tadi di rumah, menunggumu untuk makan malam bersama. Tapi kamu malah terlambat pulang."
"Ck! Kukira Daddy pulang lebih malam seperti biasanya," ucap Dani berdecak.
"Sudah, mandi sana! Daddy tunggu di meja makan." Adrian mendorong Dani untuk segera naik ke atas dan membersihkan diri.
"Tuan, silahkan," ucap bibi Yulia yang mendatangi sang majikan setelah Dani tidak ada disana.
"Aku menunggu Dani, Bi."
"Sudah, dia_"
"Apa?" Dani nampak muncul dari atas dan kembali menghampiri mereka berdua. "Jadi Daddy sakit?"
"Iya, Tuan Muda. Tadi siang, Tuan Besar pulang kesakitan. Untung saja dokter Kim datang tepat waktu," ucap bibi yulia menjelaskan. Tanpa ia ketahui jika tatapan tajam Dani mengarah pada sang ayah yang hanya melirik melihat reaksinya.
"Jadi Daddy pulang karena sakit, bukan karena ada urusan?" lelaki yang sekarang nampak matang di usianya yang hampir setengah abad itu tak bisa mengelak lagi. Ia hanya mengangguk pasrah. Sepertinya ia akan kalah berdebat seperti apapun keadaannya.
"Apa kata dokter Kim, Bi?" tanya Dani ingin tahu.
"Aku tidak apa-apa, Dan. Berhentilah khawatir berlebihan," ucap Adrian menenangkan sang anak.
"Aku bertanya pada Bibi!" Dani melirik sang ayah, kemudian melayangkan tatapannya pada bibi Yulia yang sudah sepucat kapas. Kepala pelayan itu baru menyadari jika apa yang ia lakukan memantik emosi Dani.
Kedua lelaki ini memang tidak sedang baku hantam ataupun adu mulut. Tapi sangat terlihat jika apa yang dilakukan Adrian membuat marah sang anak.
"Emmm ... Anu, Tuan." Bibi Yulia menatap Adrian, memberi kode apa yang harus ia katakan. Namun sang majikan sama sekali tidak membalasnya.
__ADS_1
"Katakan saja, Bi. Aku yang bertanya bukan Daddy!" sahut Dani kesal.
"Iya, Tuan Muda." Bibi Yulia menunduk demi menghindar dari sorot mata mengancam milik Dani.
"Tuan Besar memang kesakitan saat pulang siang tadi. Setelah diperiksa, dokter Kim mengatakan jika asam lambung Tuan Besar naik. Dan kemungkinan hal itu disebabkan karena terlambat makan, minum kopi berlebihan saat lambung kosong serta ... banyak pikiran." Bibi Yulia mengulangi apa yang sempat ia cetuskan tadi, dengan menambah beberapa hal yang dirasa perlu ia sampaikan pada Tuan Mudanya itu.
Adrian mendelik. Sekarang ia menatap tajam bibi Yulia yang sengaja menambahkan beberapa hal. Padahal ia mendengar semuanya tadi. Dan dokter Kim sama sekali tidak menyinggung masalah itu.
"Maaf, Tuan Besar. Saya hanya menyampaikan apa yang sebenar-benarnya. Dokter Kim menambahkannnya saat saya mengantar beliau kedepan tadi."
Ketiganya terdiam cukup lama. Adrian meski ia marah, namun apa yang diucapkan bibi Yulia memang benar. Hatinya tidak baik-baik saja sepeninggal sang istri. Itu yang mengganggu pikirannya selama ini. Ia hanya mencoba menyembunyikannya sendiri. Dan sekarang malah hal itulah yang menjadi penyebab sakitnya.
Sementara Dani. Kekesalannya berubah menjadi penyesalan. Begitu banyak hal yang ia lewatkan tentang sang ayah. Karena meskipun ia berada disini beberapa tahun belakangan ini, rupanya ia tetap saja belum bisa memahami ayahnya.
Masih terlalu banyak hal yang tidak ia ketahui dan tidak diungkapkan oleh ayahnya itu padanya. Ia merasa seperti dirinya saat remaja dulu. Padahal ia ingin dewasa dan mengerti jalan pikiran ayahnya. Ia ingin ayahnya itu berbagi dengannya. Tapi ternyata ia belum mampu. Dan belum dipercaya oleh lelaki yang ia panggil ayah itu.
"Apalagi yang diucapkan dokter kim?" Suara Dani melunak, tidak selantang saat ia berbicara pada awalnya.
"Itu saja, Tuan Muda," jawab bibi Yulia.
"Baiklah, ayo makan sekarang!" ajak Dani yang melangkahkan kaki lebih dulu menuju meja makan.
"Bukankah kau belum membersihkan diri?" Adrian mengikuti sang anak dari belakang.
"Daddy menungguku untuk makan malam bersama bukan? Jadi mau makan bersama atau makan sendiri?" Pemuda itu menghentikan langkahnya. Tubuhnya berputar, hanya untuk meminta jawaban pada sang ayah.
"Baiklah." Adrian mengalah pada anak lelakinya yang semakin lihai membuat alasan untuk mendebatnya. Ia berjalan mendahului pemuda itu, kemudian mengambil duduk di tempat biasanya.
"Anggap saja aku masih anak-anak, Dad. Bukankah seusia mereka aku bebas makan tanpa harus mandi lebih dahulu." Dani melepas blazernya yang diterima oleh salah satu pelayannya. Kemudian pemuda itu menggulung kedua lengan kemejanya hingga ke siku. Ia siap untuk menemani sang ayah makan malam.
"Tapi kau sudah dewasa, Boy," ucap Adrian disela suapan yang masuk kedalam mulutnya.
"Sssttt ... Tuan berdua hendak makan malam, bukan bertengkar," ucap bibi Yulia mengingatkan. Hingga kedua majikannya itu terdiam.
"Maaf Tuan-tuan. Saya hanya menjalankan pesan Nyonya Besar. Saya harus menjadi wasit diantara kalian berdua. Selamat makan Tuan." Bibi Yulia undur diri, kemudian menuju dapur.
💕 ciao, apa kabar semuanya. terimakasih masih mengikuti kisah receh saya ini. love u
__ADS_1