
"Le, sudah kamu beli semua yang aku pesan?"
"Sudah, Tuan." Leo mengangkat dua kantong kresek penuh susu kotak dan snack. "Masih ada lagi, Tuan?"
"Note book kecil, alat tulis dan juga ambilkan 5 hoodie yang sudah aku pesan di Art design, nanti alamatnya aku kirim," titah Dani. Jemarinya menggeser ponsel untuk mencari bukti transfer yang sudah ia kirimkan pada jasa bordir jaket itu.
"Siapp, Tuan."
"Aku ikut saja. Apa kau tahu note book yang gambar-gambar kartun kesukaan anak-anak?" tanya Dani menatap Leo dengan melotot. Ia tidak yakin asistennya itu tahu karena setiap hari hanya bergelut dengan kertas dan macbook.
"Saya tidak setua itu, Tuan," ucap Leo membela diri.
"Ayo! Aku ikut saja. Kalau keliru tidak bisa ditukar."
Leo menarik kedua sudut bibirnya ke samping, kemudian menggeleng pelan melihat tingkah sang majikan yang masih seperti anak SMA. Dia yang seperti anak kecil tapi tidak mau dikatakan demikian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
-Selamat datang di TK Tunas Bangsa Bandung-
Tulisan besar yang tertera di gapura menandai bahwa kini Dani berada di kawasan Yayasan terpadu yang terdiri dari KB, TK dan SD Tunas Bangsa.
Mobil fortuner hitam dove membawa lelaki itu berhenti di depan sebuah gedung. Disana ada beberapa guru yang semuanya perempuan, menyambut kedatangan lelaki itu.
"Selamat datang Pak Dani. Saya hampir tidak percaya saat Anda menghubungi kemarin, Anda benar-benar kesini," ucap seorang yang nampak lebih berumur daripada yang lain. Kemudian satu persatu para guru yang ada disana menyalami Dani dan tidak ketinggalan sang asisten, Leo.
Tentu orang- orang disana tahu siapa Dani. Yayasan Tunas Bangsa berdiri di bawah naungan yayasan sosial yang dimiliki oma Lina. Setelah sang oma meninggal, semuanya diurus oleh orang-orang kepercayaan Nyonya Besar keluarga Ilyasa itu.
Dani seorang yang sibuk. Dan semua mengenal karakter pewaris keluarga Ilyasa itu, baik Adrian maupun Dani. Mereka tidak pernah sekalipun datang kesana, jika tidak dipaksa oleh Lina. Itulah mengapa Kepala Sekolah mengatakan jika ia kaget dengan kedatangan Dani. Apalagi ia memilih anak TK yang masih sering rewel daripada anak SD.
"Anak-anak sudah menunggu, mereka sangat senang sekali saat saya menyampaikan akan ada seseorang yang datang untuk berbagi ilmu tentang petualangan di alam bebas." Ibu Kepala Sekolah nampak sangat bersemangat hari ini, terbukti senyum hangatnya terus mengurai sejak kedatangan pemuda itu.
"Ada yang tidak masuk hari ini, Bu?" tanya Dani saat mereka dalam perjalanan menuju kelas.
"Syukurlah, tidak ada. Mereka masuk semua, Pak Dani."
Sampai di depan kelas, ibu Kepala Sekolah bercerita sebentar, tentang apa yang sudah mereka pelajari tentang alam dengan ibu guru pengampu kelas masing- masing. Jadi Dani tidak perlu panjang lebar menceritakan dari awal.
"Tuan, Anda tidak salah gedung?" tanya Leo yang mendekati Dani dan berbisik lirih di sebelahnya.
"Tentu saja tidak. Ibu Kepala sendiri yang mengantar. Memang kenapa?" tanya Dani sebelum lelaki itu masuk ke dalam kelas.
"Saya kira, Tuan akan mengajar anak SD, tidak tahunya malah TK," ucap Leo menggaruk tengkuknya.
"Mereka lebih menarik bagiku. Masih polos. Belum terkontaminasi," ucap Dani asal. Lelaki itu tidak memperdulikan sang asisten yang beberapa kali nampak menyenggol lengannya.
Mau tidak mau, Leo harus tetap ikut masuk. Karena semua barang yang dibeli Dani, Leo lah yang bertanggung jawab menjaganya.
Dani menyapa anak-anak, kemudian memperkenalkan dirinya sendiri dan Leo. Setelah itu mengambil daftar nama dan memanggil mereka satu persatu untuk sekedar mengenal mereka.
Acara hari itu hampir seperti pengenalan pertama kegiatan kepramukaan. Dani dibantu para guru untuk mengawasi mereka semua.
Jadi setelah teori yang dipaparkan Dani dengan gayanya mengajar seperti yang ia lakukan di Swiss, anak-anak itu harus praktek. Seperti sebuah simulasi, mulai dari menentukan tempat yang aman buat istirahat saat pergi ke gunung ataupun hutan. Menyalakan api dengan media yang ditemukan disekitar, memasak hingga cara mendirikan tenda.
Leo hampir tidak percaya jika yang ada didepannya sekarang adalah majikannya yang biasanya hanya bergelut dengan kertas, pena dan benda-benda canggih itu.
Di Jakarta, Dani tidak nampak menyukai anak-anak. Pemuda itu hanya menghabiskan waktu di kantor, pusat kebugaran, berenang atau istirahat di rumah. Namun semuanya berbeda dengan yang Leo lihat sekarang. Sisi lain seorang Dani Ilyasa, yang ternyata menyukai berpetualang, pramuka dan berteman dengan anak-anak kecil disini. Bahkan Dani seperti seorang kakak saat membimbing mereka. Manikannya itu nampak melindungi dan menjaga mereka dengan baik.
Sore pun tiba. Setelah membantu anak-anak mendirikan tenda, Dani pamit untuk membersihkan diri di hotel tempat ia menginap. Dia lupa membawa pakaian ganti tadi.
Malam menjelang, ada acara api unggun dan sesi terakhir adalah beramah tamah. Setelah makan bersama usai, langsung disusul acara selanjutnya yaitu api unggun. Mereka bernyanyi bersama mengelilingi api unggun yang membantu menghangatkan tubuh.
Kemudian sebelum semua kembali ke tenda masing-masing, mereka semua berkumpul termasuk para ibu guru. Anak-anak anak dibebaskan bercerita tentang keseruan kegiatan seharian ini. Mereka bisa lebih saling mengenal satu sama lain.
Disudut yang lain, ampak Dani yang sedang duduk dikelilingi oleh anak-anak kecil itu. Hal itu dikarenakan, ia mengatakan akan membagikan 5 hoodie spesial untuk lima anak yang berani mengucapkan impian mereka di hadapan teman-temannya.
Seorang anak lelaki nampak maju kedepan. Dani memanggilnya untuk mendekat.
"Siapa nama jagoan kita pertama kali ini?"
"Rafandra, Kak."
"Oke Rafandra, katakan apa impianmu?" Dani melengkungkan punggungnya kedepan. Mendekatkan tubuhnya untuk memberi semangat anak laki-laki pemberani itu.
"Aku mau menjadi pilot, Kak. Supaya bisa terbang tinggi seperti ayah yang bisa melihat awan dan dekat dengan langit," jawab Rafandra polos.
__ADS_1
"Ayah kamu seorang pilot?"
"Ya, Kak. Tiap kali Ayah pulang, dia selalu bercerita banyak hal yang dia temui di atas sana, aku senang sekali." Rafandra sampai melonjak- lonjak memperlihatkan kebahagiaannya.
"Ok, jagoan pemberani! Semoga kamu bisa menjadi kebanggaan orang tuamu kelak." Dani membelai puncak kepala Rafandra. Sosok pilot kecil masa depan. Dan sebelum anak laki-laki itu duduk, ia mendapat satu hoodie dari Dani.
Selanjutnya, disusul Alea yang ingin menjadi guru seperti neneknya. Ada Bagas yang ingin menjadi polisi seperti ayahnya. Dan juga ada Sheran yang ingin menjadi pemadam kebakaran karena sering melihat film kartun Baby Bus.
Dan tibalah sosok yang terakhir mengacungkan tangannya. Seorang gadis kecil cantik yang membuat Leo terkesima, apalagi Dani.
Pikiran keduanya sama. Gadis kecil ini sangat mirip dengan Dani, seperti versi perempuan dari pemuda tampan itu.
"Tuan, Tuan." Leo yang duduk bersebelahan dengan sang majikan menyenggol lengannya.
Dani terdiam dan tertegun awalnya, namun ia segera bisa menguasai keadaan. Begitupun Leo yang menegakkan punggungnya dan terpaksa menarik sudut bibirnya untuk ikut tertawa dengan anak-anak yang lain.
"Siapa namamu?"
"Merra. Ermerra Safior, Kak," jawab gadis kecil bernama Merra yang kini melangkah lebih mendekat lagi pada Dani.
Gadis kecil yang nampak lebih tinggi dibandingkan teman-temannya itu memang cantik. Berkulit putih, dengan rambut lurus setengah punggung, yang dibando warna merah jambu.
"Nama yang cantik, " puji Dani namun di dalam hatinya mengatakan lebih dari itu. Ada getaran aneh yang menjalar dalam dadanya. "Kau sudah siap mengatakan impianmu di hadapan teman-temanmu, Merra?"
Gadis kecil itu mengangguk. "Aku ... Aku ... Ingin bertemu Ayah, Kak." Mata merra berbinar sekaligus sendu. Dia bahagia bisa mengatakan sesuatu yang selama ini dipendamnya sendiri. Namun kemudian mendadak sedih, karena bahkan sang mama tidak pernah memperlihatkan foto sang ayah padanya.
"Ayah Merra kemana, Nak?" Mendadak Dani menjadi terenyuh mendengarnya. Pemuda itu merengkuh bahu Merra yang sedikit lebih tinggi darinya.
Beberapa kali menelan salivanya, Dani mencoba untuk merangkai kata hingga apa yang keluar dibibirnya jangan sampai menyinggung gadis kecil itu sama sekali. Jangan lupa! Dani terbiasa berkata ketus pada setiap orang yang bahkan dikenalnya namun tidak ia suka.
Gadis kecil itu diam, kemudian menunduk. Tidak lama kemudian, dia menghapus airmatanya dan tersenyum seolah dia baik-baik saja.
"Kata mama, Ayah Merra pergi jauh untuk bekerja. Tapi setiap kali Merra tanya kapan pulangnya, mama tidak bisa menjawab. Apa karena Merra masih kecil ya, Kak? Jadi ayah belum mau bertemu dengan Merra? Mungkin Merra harus besar dulu seperti kakak, agar ayah mau bertemu."
Ungkapan polos seorang gadis kecil di depannya ini, seperti memukul hebat dada Dani. Sorot matanya menggambarkan kerinduan yang mendalam, dan pemuda itu merasa ia sangat mengenalnya. Namun ia lupa siapa.
"Bisa juga seperti itu. Jika Merra sudah besar, Merra bisa kemanapun bahkan bertemu dengan ayah Merra." Dani membesarkan hati gadis kecil itu.
"Benar, Kak?" Wajah Merra tersenyum penuh harap.
"Tentu saja. Semangat, ya! Ini hadiahnya karena Merra sudah menjadi pemberani." Dani memakaikan hoodie warna putih yang terakhir pada gadis kecil itu.
"Apa ini?"
"Kita berteman. Maukah Kakak menjadi temanku?" ucap gadis kecil itu polos.
Pemuda itu tersenyum. "Baiklah, kita berteman." Dani berbisik kemudian mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Merra. "Tapi Kakak galak, apa kau tidak takut?" Dani melirik Leo agar mempertegas ucapannya. Namun Leo malah mengerutkan dahinya dan kemudian tidak bereaksi apapun. Leo tentu tidak tega iseng dengan Merra.
Merra tertegun mendengarnya. "Tapi Kakak tidak kelihatan galak. Apa Kakak menggigit jika marah?"
"Ya ... bukan begitu juga, Merra." Dani kehilangan kata-katanya. Ucapannya diartikan berbeda oleh gadis kecil itu.
Leo menutup mulut, menahan ketawanya. "Kak Dani memang galak, tapi hanya pada orang yang tidak disukainya atau membuatnya tidak nyaman, Merra." Leo mengusap puncak kepala gadis kecil itu, mencoba memberi pengertian dengan bahasa paling mudah dicerna oleh anak-anak.
"Berarti Kak Dani menyukai Merra dan teman-teman disini, kan? Buktinya Kak Dani baik sama kami, dan bahkan terus tersenyum sepanjang hari ini."
Dani terdiam. Rupanya disini ia seperti menemukan jati dirinya yang hilang. Masa anak-anaknya yang bagai direnggut paksa oleh perpisahan kedua orang tuanya. Belum lagi perbuatan sang mama yang membuatnya menyimpan sebuah ketakutan.
Tapi hari ini, ia seperti dipukul dengan palu raksasa. Yang mengingatkannya akan masa lalunya. Saat dia anak-anak, dirinya tidak bisa berbaur dengan yang lain. Akibat rasa tidak percaya diri yang tinggi karena memiliki orang tua yang sudah tidak utuh. Rasa itu mengendap dihatinya sampai ia remaja, sekalipun banyak yang mau menjadi temannya, namun Dani cenderung menolak.
Kepergiannya ke Swiss membuatnya mau tidak mau harus bisa beradaptasi dengan teman-temannya dari berbagai negara. Hal itu sedikit membuka hatinya, meski tetap saja ia masih antipati dengan makhluk yang disebut wanita, terutama yang sedang mendekatinya atau memberi perhatian padanya.
Sebenarnya ia lelah, namun ketakutannya itu mengikat kuat kedalam hatinya. Apalagi saat tahu ayahnya menikah kembali. Trauma itu mengganggu dan semakin menghujamnya.
"Kak? Kakak tidak suka, ya? Maaf." Gadis kecil itu terlihat sedih karena tak kunjung mendapatkan respon dari Dani.
"Tidak Merra. Kalau kakak tidak memiliki tanggung jawab di Jakarta, Kakak ingin sekali lebih lama disini. Kakak menyukai semua yang ada disini, termasuk kamu."
Gadis kecil itu tersenyum senang. Berulang kali dilihatnya hoodie putih pemberian Dani itu.
"Sini, berdiri dekat Kakak," Dani bangkit dari duduknya. "Halo semuanya! Berhubung ini sudah malam, kita sudahi dulu kegiatan kita hari ini. Sayang sekali Kakak tidak bisa ikut kalian tidur di tenda. Kakak harus kembali ke rumah kakak malam ini juga, karena besok pagi sudah harus bekerja." Dani terlihat mengatur napasnya. "Kakak senang sekali berada disini, dengan kalian semua. Nanti malam tidur di tenda kalian masing-masing dan bangun esok pagi dengan semangat, ya. Oke!?"
"Oke!" Semua anak beserta ibu guru kompak menjawab Dani.
Perpisahan selalu menyedihkan. Ada beberapa anak yang menangis memeluk ibu guru mereka karena kegiatan hari ini telah selesai. Mereka masih enggan berpisah dengan Dani.
__ADS_1
"Merra, salam untuk mamamu ya."
"Siap Kak!" Merra bergaya hormat pada Dani. Tanpa terasa, dia pun juga ikut meneteskan air mata sama seperti teman -temannya.
"Hei ... Kalau Kakak ada waktu lagi, Kakak pasti kesini mengunjungi kalian. Nanti kita bermain lagi, ya." Dani mengangkat tangannya hingga terlentang. Dan anak-anak menghambur, berebut untuk memeluknya. Membahagiakan sekali. b
Bahkan Leo sampai terharu dan mengambil foto mereka.
Apakah trauma itu pergi? Mungkin hanya menipis, tapi itu merupakan perubahan besar dalam hidup pemuda tampan itu. Trauma benar-benar akan hilang oleh kerelaan sang penderita. Jika dia mampu berdamai dengan dirinya, maka trauma itu akan hilang seutuhnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam itu juga Dani menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan, Dani hanya senyum-senyum sendiri melihat galeri ponselnya. Semua kegiatan hari ini terekam disana.
Sungguh, satu hari berada disana rasanya seperti mendapat mood booster berkali kali lipat.
"Tuan."
"Hemm ... Kamu lelah atau lapar?" tanya Dani yang sudah hafal kebiasaan Leo. Biasanya lelaki itu mengajak Dani beristirahat sebentar hanya untuk sekedar ngopi dan makan.
"Bukan keduanya, Tuan. Saya sudah kenyang makan di sekolah tadi," sungut Leo.
"Lalu?"
Leo mendadak ingin berubah menjadi anak-anak disana. Karena sang majikan sangat ramah pada mereka.
"Itu, Tuan. Gadis kecil itu siapa tadi namanya?"
"Merra?"
"Ya. Kenapa pikiran saya mengatakan ia sangat mirip dengan Tuan, apalagi Tuan Besar."
"Di dunia ini kan memang ada orang yang memiliki wajah sama namun tidak ada hubungan darah, Le. Atau kamu berpikir macam-macam padaku ?" hardik Dani yang melirik Leo disebelahnya.
"Maaf, Tuan. Bukan seperti itu maksud saya." Leo menggaruk rambutnya dengan sebelah tangannya. "Ya. Mungkin hanya mirip saja, Tuan." Akhirnya Leo mengiyakan saja. Daripada berbuntut panjang.
\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ara melambaikan tangannya pada gadis kecil diseberang jalan. Hari ini ia menjemput Merra di sekolahnya, setelah seharian kemarin mengikuti kegiatan dan dengan acara menginap segala alias kemah satu malam.
"Sayang, ceria sekali? Pasti kemarin menyenangkan." Merra menarik tangan sang mama untuk dicium, setelah itu memeluk wanita yang melahirkannya itu dengan sayang.
"Kok mama tahu?"
"Ya, Mama kan dukun. Jadi tahu Merra melakukan apa saja semalam," ucap Ara yang membelai puncak kepala gadis kecilnya.
Wanita itu membawa sang anak untuk duduk sebentar di kursi yang ada di halte depan sekolah.
"Mama selalu tahu tentang Merra." Gadis kecil itu sama sekali tidak nampak lelah.
"Apa benar Merra semalam tidur di tenda?" tanya sang mama.
Apa tidur gadisnya itu nyenyak? Ah, dirinya jadi merasa bersalah. Membiarkan gadis kecilnya tidur tanpa bantal dan guling, juga boneka kesayangannya yang tidak pernah lepas jika ia tidur di rumah.
"Tentu saja. Bahkan ibu guru sempat mengambil foto kami saat tidur. Kata bu guru, sudah dikirim ke grup pesan orang tua murid, Ma."
"Iyakah? Mama belum sempat melihatnya, Sayang."
"Merra tidur dengan nyaman, Ma. Ternyata asyik ya tidur bersama teman-teman. Rame. Bahkan kami sempat cerita-cerita sebelum tidur. Bu guru juga baik, tidur di paling pinggir Ma, katanya biar semua aman," celoteh Merra pada Ara.
"Wahh ... Menyenangkan ya. Merra tidak kedinginan?" Padahal seingatnya semalam udara sangat dingin. Ara yang tidur saja kedinginan, apalagi gadis kecilnya yang hanya diatas tanah.
"Mama pasti lupa. Merra kan bawa sleeping bag, Ma."
"Oh iya, ya ampun." Ara meringis menahan malu. Padahal dirinya sendiri yang menyiapkan perlengkapan Merra sebelum berangkat. Karena rasa khawatirnya yang tinggi, juga karena ia tidak pernah berpisah dengan gadis kecilnya itu sekejap pun, membuat pikirannya tidak bisa berpikir jernih.
"Mama dapat salam dari Kak...." Merra nampak mengingat-ingat sesuatu. "Kak Dan ... Dan siapa ya ma?" gadis kecil itu melihat hoodie barunya. Sepertinya disana ada nama kakak pembinanya itu kemarin.
"Ini!" tunjuk Merra pada sebuah nama di dekat kantong depan hoodie barunya itu.
"Danzel_ily. Namanya aneh sekali, " gumam Ara yang membacanya.
"Kami memanggilnya Kak Dan. Dia baik sekali Ma." Merra tidak berhenti memuja teman barunya itu.
"Iya. Lanjutkan ceritanya di rumah saja, kasihan Nenek dan Kakek. Nanti kalau ada pembeli, mereka kerepotan karena mama tidak ada," ucap Ara. Wanita itu lalu menggandeng sang anak untuk menyeberang. Selanjutnya masuk ke dalam sebuah mobil dengan ukuran mini yang hanya cukup untuk tiga atau empat orang.
__ADS_1
Time flies, Ara menjadi sosok yang mandiri seperti dia pada awalnya.
💞Hai readers tercinta. Terima kasih sangat atas perhatiannya. Jangan lupa like dan komennya ya juga vote nya. love u so much💗