Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 197 Jatuh


__ADS_3

"Sayang, aku lembur hari ini. Lihatlah masih banyak yang harus kuperiksa," ucap Adrian ketika jam dinding menunjuk di angka 5 sore.


Saat ini memang jam pulang kantor. Namun keluhatannya pekerjaan suaminya itu memang masih banyak, dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


"Baiklah, jangan pulang terlalu malam ya, Mas. Kalau_"


"Oke, Sayang! Aku akan pulang tepat waktu."


Cup! Kecupan bibir mereka berdua membuat siapapun iri melihatnya. Termasuk kedua orang yang kini malah saling melirik canggung itu. Mela dan juga Elang, dua jomblo yang terlihat merana menatap kemesraan majikan dan juga sahabatnya.


Ya, dua orang berbeda jenis itu seperti obat nyamuk yang tidak dianggap keberadaannya. Karena komunikasi yang terjadi hanya antara pasangan suami istri itu saja, yang lain tidak terdengar juga tidak terlihat.


"Ehem!"


"Heh! Mas ada mereka, lepaskan!" Ara kaget mendengar deheman Mela. Ia begitu saja terbawa perasaan jika berdekatan dengan suaminya.


Wanita itu mencoba melepaskan diri dari suaminya. Awalnya hanya kecupan, lalu ******* hingga akhirnya malah pelukan erat yang menuntut.


"Biarkan saja. Mereka sudah dewasa. Mereka pasti maklum, lagipula kita kan sudah halal, Sayang," ucap Adrian enteng. Suaminya memang seperti itu sekarang, tidak canggung menunjukkan kemesraan di depan umum.


"Tapi ini di kantor, Mas."


"Ini ruanganku, Sayang. Aku bebas melakukan apapun disini." Lelaki dominan itu tidak mau diatur oleh siapapun, termasuk sang istri.


"Aku tunggu di luar ya, Ra." ucap Mela yang sudah panas dingin melihat adegan mereka tadi. Gadis itu nampak beberapa kali menyeka keringat di dahinya. Ia salah tingkah, dan serba salah sendiri.


Adegannya tidak lama, juga sebenarnya biasa. Hanya saja tentu membawa masalah tersendiri bagi gadis itu, karena ia memiliki perasaan pada orang yang bersamanya, Elang. Hingga membuat pikirannya berkelana ke mana-mana.


Mela setengah berlari keluar ruangan, dan menutup pintunya dengan cepat. Tubuhnya masih menempel di daun pintu sekarang, memegang dadanya yang kembang kempis tidak karuan akibat melihat adegan horor tadi. Gadis itu merutuki dirinya yang tidak keluar saja sedari awal, malah sempat menikmatinya pula.


Bagi orang yang sudah menikah hal itu tentu biasa saja, tapi bagi dia yang bak jomblo abadi, batinnya meronta-ronta melihatnya.


"Auwww...." pekik Mela saat merasakan tubuhnya terjengkang ke belakang akibat pintu yang tidak kuat menyangga beban tubuhnya.


Namun yang terjadi sebenarnya diluar dugaan. Ia bukan jatuh menimpa pintu, tapi terjatuh pada tubuh kekar Elang yang padat dan hangat. Jemari besar milik lelaki itu tidak sengaja mencengkeram kedua lengannya.


Tadi, Elang kaget karena saat ia membuka pintu ia langung ditimpa tubuh Mela yang seperti hilang keseimbangan dan secepat kilat ia menahan tubuh kecil gadis hitam manis itu agar tidak jatuh.

__ADS_1


"Kamu!"


Ucapan Elang tak dilanjutkan. Lelaki itu memilih untuk menguasai emosinya. Segera ia tutup pintu ruangan Adrian dari luar, kemudian membantu Mela berdiri tegak.


"Lain kali jangan nempel-nempel di pintu. Tempat duduk disana kan masih banyak!" Elang berkata dengan ketus kemudian pergi setelah sempat hampir emosi. Mela masih bisa melihat Elang yang meraup wajahnya beberapa kali sebelum hilang dari pandangan.


Gadis itu menghela napasnya dalam. Kemudian mengambil duduk di kursi tunggu di depan ruangan Vina, sambil mengatur detak jantungnya yang berlarian tak tentu arah.


Jangan tanya bagaimana keadaannya saat ini? Wajahnya semerah tomat dengan senyum malu-malu yang tak juga hilang. Untung saja, sebagian karyawan sudah pulang, termasuk Vina yang memiliki ruangan di depan gadis itu duduk. Kalau tidak, ia pasti dikatakan gila saat ini.


Tapi sungguh, Mela rela dikatakan seperti itu. Karena nyatanya ia bahagia sekali tadi, meski hanya sebentar. Rasanya ia ingin mengulanginya lagi dan lagi.


"Mel."


"Mela!"


"Hei! Kamu melamun?" Ara yang kesal memanggil sahabatnya itu berkali-kali tanpa jawaban langsung mencubit lengannya.


Mela menoleh sambil cengengesan, bahkan ia tidak mengeluh sakit akibat cubitan itu. Wajahnya masih saja nampak berbunga-bunga bahagia.


"Tadi kesana," tunjuk Mela. "Mungkin ke toilet," lanjutnya.


"Biarlah. Nanti juga masuk sendiri, ayo kita pulang," ajak Ara yang diikuti Mela dari belakang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tadi katanya mau pulang, tapi mampir nya banyak banget," keluh Mela yang membawa beberapa paper bag ditangannya.


"Namanya juga kepengen, Mel. Nanti anakku ileran kalau tidak dituruti." Ara masih asyik menikmati es krim sambil berjalan ke tempat berikutnya.


"Sariawan kali makanya ileran. Bukan salah si Emak yang makan nggak keturutan," protes Mela. Ara hanya tersenyum meringis menanggapinya. Kalau bukan Mela siapa lagi yang bisa menemaninya untuk keliling mencari makanan kesukaannya. Ralat, makanan yang ia inginkan dengan dalih keinginan sang anak. Kalau menunggu Adrian sudah pasti tidak akan bisa. Suaminya itu sangat sibuk, ketika libur pun Ara tidak akan tega mengajaknya.


"Masuk lagi? Ini sudah penuh lo, Ra. Lihat tanganku sampai tidak muat membawanya. Besok-besok saja, ya," bujuk Mela.


Jangankan Mela, ditangan Ara juga penuh paper bag berisi makanan yang entah nanti siapa yang akan menghabiskan di rumah. Yang penting dibeli dulu, bukankah ada bibi Yulia dan bala kurawanya yang bisa ia paksa untuk ikut memakannya. Hah, jangan lupakan Mela, gadis itu juga bisa ia paksa untuk ikut membawanya ke kos-nya.


Rupanya keluhan Mela tak juga menyurutkan langkah Ara untuk memasuki kedai-kedai makanan yang ada di food court yang terletak di lantai dasar sebuah Mall.

__ADS_1


"Ini enak Mel, cobain!" Tangan Ara mengambil satu tester yang memang disediakan oleh penjual. Menyuapkannya pada Mela yang berdiri disebelahnya.


"Enak sih, tapi asem...." Mela meringis ketika satu buah mangga muda masuk ke dalam mulutnya.


"Kalau pakai kuahnya tidak asem malah seger, nih coba!" Disendoklah kuah merah merona itu kedalam mulut Mela.


"Iya enak Ra. Dari kesemua makanan yang kamu beli, ini paling enak," puji Mela, bahkan gadis itu minta disuapi lagi.


"Selera kita sama rupanya, Mel. Suka makanan daerah yang rasanya asem manis." Mereka tertawa bersamaan.


"Ehh, ada souffle pancake. Kue yang lagi viral Mel, nyoba ah." Ara langsung pergi begitu saja meninggalkan Mela yang bingung karena Ara memesan dua porsi asinan buah. Sementara ibu penjual baru saja mau disiapkan, Ara sudah pergi entah kemana.


"Masukkan kesini saja, Bu. Jangan kantong lagi. Saya tidak bisa membawanya," pinta Mela pada ibu penjual asinan. Mela terburu-buru karena tidak mau kehilangan jejak Ara.


Gadis itu seketika berlari mengejar sang sahabat yang lebih dulu menghilang entah kemana. Ia kebingungan kearah mana tadi Ara pergi.


Berlari kesana kemari, tak juga ia menemukan sahabatnya itu. Kemudian dilihatnya di sebuah kedai ada banyak orang ramai-ramai berkumpul.


"Ada apa ya, Bu. Kok ramai banget?" Mela bertanya pada salah satu ibu-ibu yang terlihat keluar dari kerumunan.


"Ada yang jatuh, Mbak. Berdarah lagi. Sebentar ya Mbak, Saya coba hubungi rumah sakit dulu." Ibu-ibu itu nampak panik namun ia bisa menguasai dirinya. Sambil berlalu meninggalkan Mela, ia nampak menghubungi seseorang.


Dalam hati Mela bertanya-tanya identitas korban. Sementara itu, ia tak juga menemukan Ara disana.


Mela yang penasaran, perlahan mencoba untuk bisa menembus barisan kerumunan orang itu. Untung saja badannya kecil, meski dengan banyaknya barang yang gadis itu bawa, ia nampak gigih hingga sampai di depan korban. Dan yang lebih mengejutkan, gadis itu mengenal siapa korbannya.


"Ara, Ara?" Betapa kagetnya Mela melihat yang jatuh adalah Ara.


"Bu, tolong beri saya jalan, dia sahabat saya," Mela tidak memperdulikan sekitarnya, pun barang-barang yang ia bawa ia biarkan begitu saja. Ia yang panik langsung mengambil ponselnya di dalam tas, dan menghubungi Adrian.


Mela sempat menggantikan seorang ibu yang memangku sebagian tubuh Ara. Dan ia merasakan ada yang basah dibawah sana. Tangannya gemetar, memikirkan hal yang buruk yang mungkin saja terjadi.


Dengan mengumpulkan keberanian, gadis itu mencoba mengangkat tubuh bagian bawah Ara untuk melihat apa yang terasa lembab dan basah disana.


"Darah!" pekiknya kaget meski lirih.


"Melll ... Aku ...."

__ADS_1


__ADS_2