
"Dani!" bentak Adrian pada anak lelakinya supaya mengecilkan volume suaranya.
"Bukankah semua ini karena kau," tunjuk remaja lelaki itu pada Ara. "Oma sakit karena kau dan sekarang oma pergi juga karena kau,"
Adrian menjadikan dirinya tameng untuk sang istri. Ia menyembunyikan tubuh Ara dibalik punggungnya karena takut anak lelakinya itu akan berbuat nekat.
"Tante minta maaf, Dan," ucap Ara terbata. "Tante.. Tdak bermaksud seperti itu," tangis Ara meledak kembali, mengingat apa penyebab sang ibu mertua jatuh sakit. Semua ini memang karena perjanjian pra nikah itu, yang sengaja dilakukan oleh mereka berdua. Rasa bersalah akan semua itu seperti menusuk jantungnya saat ini.
"Sayang.." Adrian memeluk istrinya. "Sudah.. sudah," ucap Adrian kemudian. Ia jadi serba salah disana, kesalahpahaman ini terus berlanjut. Padahal Lina sendiri sesungguhnya sudah memaafkan mereka.
"Maaf? Apa maaf tante bisa mengembalikan Oma? Katakan!" teriak Dani lantang.
"Dan, ini rumah sakit. Kendalikan dirimu dan pulanglah, tunggu dirumah. Biar daddy yang mengurus semua urusan disini," Adrian menengahi, ia tidak bisa mengendalikan kekecewaan sang anak.
Tanpa berucap sepatah kata ataupun pamit, anak laki-laki Adrian itu pergi dari sana. Membawa segenap rasa kecewa yang belum terlampiaskan. Juga rasa kehilangan yang dalam akan kepergian sang oma yang mendadak. Bahkan anak itu tidak berada disana, disaat-saat terakhir oma yang sangat dicintainya pergi.
"Mas.. Aku.. Sungguh aku minta maaf," Ara mendongak menatap sang suami yang juga tengah sedih.
"Sudah kubilang dari awal, kalau ada yang harus disalahkan itu adalah aku. Kau hanya kebetulan menjadi wanita yang dipilih Tuhan untuk masuk kedalam kehidupanku. Aku selalu bersyukur wanita itu adalah kau. Juga Mommy yang sedari awal menyadari jika hanya kau yang pantas untukku.,"
"Benarkah?"
Adrian mengangguk, "Mommy yang begitu kukuh agar aku menikahimu begitu ia melihatmu. Kita doakan Mommy ditempatkan disisi terbaik Tuhan," ucap Adrian mengingat mendiang ibunya yang selalu memaksanya untuk segera menikahi Ara.
"Tunggulah disini, biar aku menghubungi Ardi untuk mengurus semuanya," lanjut Adrian yang keluar setelah sang istri mengangguk.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mama mau kemana?"
"Mama berubah pikiran?"
__ADS_1
"Sungguh Ma, kita benar-benar ke Indonesia?"
"Syukurlah, akhirnya Mama mengizinkan,"
"Kita berangkat sekarang, Ma?"
"Maaaaa... "
Dan sederet pertanyaan hingga panjang seperti kereta yang tiada henti keluar dari bibir Akio. Ia begitu bersemangat melihat sang ibu mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
Aimi masih diam, dan belum mengatakan apapun. Hanya mengangguk disetiap ujung pertanyaan sang anak. Wanita cantik keturunan Jepang itu sedang menata hatinya akibat kaget atas berita meninggalnya sang kakak ipar satu-satunya yang ia miliki.
Akio belum memperhatikan wajah sang mama yang bengkak akibat menangis setengah jam sebelumnya. Ia terlalu bersemangat melihat sibuknya sang ibu bersiap, serta sibuk mempersiapkan hatinya yang tidak sabar bahwa sebentar lagi ia akan bertemu lagi dengan wanita pujaannya.
Selesai dengan pakaian dan segala perlengkapan Akio yang lumayan banyak, karena tentu saja kondisi sang anak yang berbeda dengan orang sehat pada umumnya yang akan melakukan perjalanan, Aimi meluruskan punggungnya sejenak. Wanita paruh baya itu menyeka airmata yang membanjiri pipinya tanpa ia rasakan.
"Ma? Mama menangis? Ada apa?" tanya Akio saat ia menyiapkan sendiri syal yang akan ia bawa dan tanpa sengaja tatapannya jatuh pada wajah dan mata sang ibu yang memerah.
"Ma? Katakan ada apa?" Akio mencekal pergelangan sang ibu yang akan pergi saat anak lelakinya itu memutar kursi rodanya mendekat.
Mengusap airmatanya dengan kasar, Aimi jatuh terduduk di ranjang Akio. "Bibi Lina meninggal ki," ucapnya dengan kepala menunduk.
"Apa? Kenapa? Bukankah Mama bilang hanya hipertensi Bibi yang kambuh?" Akio mencengkeram sandaran tangan dari kursi rodanya. Matanya berkaca, mendadak segala kenangan tentang bibinya yang di Indonesia itu berputar di otaknya. Kondisi Akio yang lemah membuatnya limbung, memegang kepalanya yang berdenyut, dan pandangannya mulai mengabur.
"Ki.. Kioooo.. " pekik sang ibu yang terdengar keras di telinga Akio namun makin lama makin menghilang.
Akio tidak sadarkan diri di kursi rodanya dengan kepala berada di lengan sang ibu.
Beberapa menit kemudian,
Akio memgerjap ketika ia rasakan sesuatu yang dingin menempel di keningnya. Saat ia membuka mata ada sang ibu dan Dokter Harada di sampingnya.
__ADS_1
"Ma.." Akio memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Dengan dibantu sang ibu lelaki itu merubah posisinya setengah duduk dengan mengangkat bantalnya agak keatas.
"Syukurlah kau sudah bangun. Masih pusing?" tanya Aimi dengan nada khawatir.
"Hanya sedikit" ucap Akio menenangkan. Padahal sebenarnya nyeri dikepalanya masih sangat terasa.
"Jangan memikirkan sesuatu terlalu berlebihan Tuan, itu akan mempengaruhi kondisi Anda," nasihat dokter Harada yang baru saja datang. Aimi menghubungi dokter yang merawat Akio karena rasa khawatirnya akan kondisi anak lelakinya itu semakin tinggi.
"Tadi tubuhnya juga sempat hangat dan menggigil, Dok. Tapi sepertinya sudah normal," ucap Ami sambil meletakkan punggung tangannya pada leher dan kening Akio.
"Saya resepkan obatnya, Nyonya. Untuk mengurangi rasa sakit Tuan Akio," ucap dokter yang segera pamit setelah memberikan resep.
"Kamu istirahat saja dulu. Biar papa dan mama saja yang kesana," ucap Aimi yang akan membatalkan keikutsertaan Akio ke Indonesia mengikuti pemakaman Lina.
Padahal rencana awal adalah menemui Ara. Namun dengan kepergian Lina, maka mereka memutuskan bahwa mereka ke Indonesia hanya untuk mengikuti pemakaman tidak ada yang lain.
"Tidak.. Tdak! Aduhh,," Akio yang kaget dengan ucapan sang ibu langsung bangkit, sebagai reaksi tidak setujunya pada keputusan sang ibu. Namun, ia malah jatuh karena kepalanya yang sebenarnya masih sakit dan ditahannya.
"Kii... Hati-hati," pekik Aimi. Ia baru saja akan keluar meninggalkan Akio untuk istirahat, setelah mengantar dokter Harada sampai depan pintu. Akhirnya sang ibu malah kembali lagi membantunya berbaring di tempat tidur.
"Aku baik-baik saja, Ma. Aku kuat," Akio mencekal lengan Aimi, meyakinkan sang ibu bahwa ia mampu.
"Tidak! Kondisi kamu lemah, Ki. Jangan membuat mama khawatir dengan keras kepalamu itu," Aimi berucap tegas pada anaknya. Perjalanan panjang dari Jepang ke Indonesia tentu akan membuat Akio lelah. Dan tentu saja ia khawatir akan hal itu.
"Ma, Mama mau mengingkari janji Mama padaku?" Akio mengiba pada sang ibu. "Aku juga ingin ikut ke pemakaman Bibi. Apakah aku tidak boleh mengantarnya untuk yang terakhir kali?"
Mendengar kata terakhir kali yang diucapkan sang anak membuat telinga Aimi menjadi sensitif. "Bukan begitu, Ki. Mama hanya khawatir dengan kondisimu. Kam_"
Akio mencengkeram erat lengan sang ibu. "Aku takut tidak ada lain kali, Ma. Aku tidak pernah tahu perpanjangan usia yang Tuhan berikan padaku. Aku tidak ingin menyesal hanya karena memanjakan kondisiku. Aku mohon," mata Akio berkaca, tentu saja itu hal yang menyakitkan bagi Aimi. Jka bisa, ia ingin memohon pada Tuhan untuk menggantikan setiap kesakitan yang dirasakan Akio. Bukankah ia sudah tua ,anak-anaknya juga sudah besar. Tidak seperti Akio yang masih mempunyai masa depan panjang.
Namun tentu saja tidak bisa. Tuhan sudah menulis jodoh hidup dan mati seseorang jauh sebelum ia lahir. Dan tidak akan bisa tertukar oleh apapun, karena sejatinya setiap hal kecil yang terjadi pada manusia selalu memiliki alasan baik meski menyakitkan pada awalnya.
__ADS_1
💪terimakasihhhhhh untuk yang masih mengikuti.. maaf saya lama updatenya🙏