Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 255


__ADS_3

Pesta ini tetap meriah, meski hanya private party, karena hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu saja.


Suasana lebih dekat malah semakin terasa. Durasi yang berlangsung lama dan orang yang hanya itu-itu saja, secara otomatis mereka akan mencoba mengenal satu sama lain. Itulah harapan Dani membuat pesta dengan konsep seperti ini.


Dani tetap pribadi yang sama. Namun pemuda itu sudah lebih baik dari dirinya yang dulu.


"Dan!" Ara memanggil anak lelakinya itu untuk mendekat. Dani yang memang sedang tidak sibuk dengan siapapun, langsung menghampiri sang ibu yang kini sudah berganti dress setelah izin sebentar pada para tamunya untuk membersihkan diri.


Bagaimanapun, ia baru saja tiba dari perjalanan jauh. Dan baik Ara maupun Adrian, tidak mempersiapkan diri dan berpenampilan apa adanya. Karena memang mereka sama sekali tidak tahu jika Dani menyiapkan kejutan.


"Kenapa Rheina tidak diundang?" tanya Ara sambil berbisik. Dani sampai menunduk dan menajamkan telinganya untuk mendengar ucapan sang ibu. Tinggi badan keduanya selisih lumayan jauh.


"Kenapa harus mengundang dia? Siapa yang memberitahu Mama? Leo!? Biar kuurus dia." Dani mendadak geram dengan asisten sekaligus bodyguard nya itu.


"Ehhh ... Bukan Leo." Ara menarik tangan anaknya yang sedang marah dan menuduh asistennya sendiri. "Mama tahu dari Vina."


"Tante Vina? Aku pindah saja dia ke divisi lain. Lagipula dia kan sekretaris Daddy dulunya, bukan aku!"


"Dani ... Jangan berbuat macam- macam dengan tante Vina! Kalau kamu melakukan sesuatu, mama yang akan menjadi sekretarismu!" ancam Ara.


Dani terkesiap. Jika sang ibu yang menjadi sekretaris, sudah bisa dipastikan kantornya akan menjadi ajang perjodohan dengan banyak protes disana sini.


Setahun terakhir, Ara tidak berhenti bertanya pada Dani tentang calon yang sama sekali belum dikenalkan sang anak pada wanita itu. Mana mungkin mau dikenalkan, kekasih saja tidak ada.


"Ralat, Ma. Cukup tante Vina saja yang menjadi sekretarisku, jangan Mama," ucap Dani dengan tatapan memohon.


"Baiklah. Untuk tante Vina, dia hanya akan menjadi sekretarismu sampai dua tahun ke depan. Setelahnya dia pensiun. Dan itu berarti, jika kau tidak lekas mencari istri dalam kurun waktu dua tahun itu, jangankan posisi sekretaris, posisi istrimu pun mama yang akan mencarinya."


"Hah, dua tahun? Tidak, Ma!" Tanpa sadar dani menggeleng panik akan keputusan sang mama.


"Kalian asyik sekali, ada apa ini?" Adrian mendekat setelah menyapa sejenak beberapa petinggi perusahaan yang hadir disana. Dia tersenyum tipis melihat kembali kedekatan Ara dan anak laki-lakinya itu. Sesuatu yang dulu sempat hilang, sudah kembali lagi.


"Bukan asyik Dad! Ini pemaksaan," protes Dani seraya mencebik.


"Pemaksaan apa, Sayang?" Adrian meminta penjelasan pada sang istri.


"Aku memberi waktu dua tahun pada Dani untuk mencari calon istri, Dad. Aku tidak salah, bukan?" Ara sekarang sudah menjelma menjadi ibu seutuhnya untuk Dani. Wanita itu mulai memikirkan masa depan sang anak. Dia juga harus mencari calon menantu yang sesuai kriterianya.


Jika masalah menantu, dia akan berpegang pada apa yang pernah diajarkan oleh mommy Lina padanya.


"Ayolah, Ma. Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Sudah tidak ada yang seperti itu." Dani mendebat keputusan sang ibu yang dinilainya sudah ketinggalan zaman.


"Siapa bilang ini zaman Siti Nurbaya?Mama tidak memaksamu atau menjodohkanmu, Dan. Hanya saja jika kau tidak bisa mendapatkannya sendiri, maka mama akan membantumu. Bukankah semua itu harus ada batas waktunya. Kau pasti malas-malasan jika dibiarkan saja."


"Dad?" Dani melirik sang ayah. Memberi kode dengan bibirnya 'help me'. Berharap ia akan mendapatkan bantuan dari satu-satunya sekutu di rumah. Karena jika minta tolong Merra, dia pasti akan mendukung sang ibu. Merra terlalu mudah dipengaruhi, gadis itu masih anak-anak.


"Sayang, anak kita sudah besar. Lihatlah dia seorang pemuda yang tampan, smart juga dengan masa depan yang cerah. Siapapun pasti mau dengannya. Jadi jangan terlalu khawatir seperti itu," Adrian mengusap pelan bahu sang istri kemudian merangkulnya.


"Aku hanya antisipasi, Dad. Lihatlah dia terlalu nyaman dengan kesibukannya di kantor. Bisa-bisa dia lupa untuk menikah, seperti Daddy," tunjuk Ara pada suaminya. Sekarang lelaki itu yang kena tuduh istrinya.

__ADS_1


"Aku bukan lupa. Aku kan sudah duda sayang, jadi aku memang harus berhati-hati memilih kembali calon istriku." Adrian beralasan. Ia tersenyum masam mengingat perjanjian itu.


"Tapi bukan itu yang Daddy lakukan."


"Daddy terjebak dengan +6kata-katanya sendiri Mam." Dani menertawakan sang ayah yang kelimpungan mencari alasan. "Aku pergi, hadapi mama dengan tangguh. Aku yakin cuma Daddy lawan Mama," bisik Dani pada sang ayah.


"Bye Mam!" teriak Dani sambil kabur dari obrolan yang memojokkan status single nya.


"Ehhh ... Mama belum selesai bicara Dan!"


"Ssstt sudah, biarkan saja," Adrian menghalau istrinya yang hampir bangkit dari duduknya menghadang Dani yang kabur.


"Tapi Dad, Aku mendapat amanah dari mommy. Jadi aku memang harus ikut campur."


Adrian terus saja berusaha menenangkan istri cerewetnya itu yang belum juga berhenti mendebat ucapan Adrian.


"Kakak!"


"Sinta! Bu Sri, kalian datang juga akhirnya," sapa Ara.


Sinta datang bersama dengan bu Sri dan oma Esther. Dan tidak ketinggalan dokter muda yang mirip bintang kpop itu, Oryza Satrio. Mereka berdua nampak bergandengan tangan saat datang tadi, namun tiba-tiba saling melepaskan diri. Mungkin mereka belum siap untuk saling mengakui.


"Om Ori...!" pekik Merra yang langsung menghambur ke pelukan dokter tampan dan imut itu. Adrian sampai menganga dibuatnya. Anak gadisnya terlihat sangat dekat dengan sosok yang sering diceritakan oleh Ara dan juga Merra. Baru hari ini, sosok itu nampak tidak asing baginya.


Setelah menyapa para wanita, baik Ara maupun Adrian menghampiri Ori yang baru saja menurunkan Merra dari gendongannya.


Merra segera pergi mengikuti oma Esther, setelah Adrian memberi kode padanya untuk menjauh.


"Tuan." Ori mengulurkan tangannya untuk menjabat Adrian. Namun lelaki itu malah menatap tajam adik sepupu Tony itu.


"Dad. Kalian belum berkenalan," senggol Ara pada lengan sang suami.


"Aku sudah mengenalnya. Kenapa harus berkenalan lagi," ketus Adrian yang membuat nyali Ori menciut. Dokter spesialis anak itu menarik kembali tangannya yang terabaikan.


Sungguh aura lelaki berkharisma yang berdiri didepannya itu benar-benar sesuai dengan apa yang dikatakan kakak sepupunya. Ia pikir Tony hanya menakutinya.


"Daddy!" Ucapan Ara lirih, namun menekan.


"Terima kasih telah mengumandangkan adzan untuk putriku. Serta menjaga mereka beberapa tahun yang lalu." Tanpa Ara sangka, Adrian mengucapkannya.


"Sama-sama. Un-tuk itu, Tu-an tidak perlu berterima kasih." Ori mulai gugup karena merasa terintimidasi.


"Tentu saja! Dimana sekarang kakakmu? Suruh dia kesini sekarang juga! Seenaknya saja mengirim orang untuk mendekati istriku," kesal Adrian.


"Daddy bicara apa? Tidak ada yang mendekatiku." Ara mencoba membela Ori yang banyak menolongnya disaat ia jauh dari Adrian.


"Emmm ... Tuan, itu kak_"


"Hubungi dia sekarang juga! Katakan aku ingin bicara," titah Adrian tidak ingin dibantah.

__ADS_1


"Kak To-ny sedang di luar negeri, Tuan." Susah payah Ori menjawabnya, padahal ia tidak sedang berbohong karena Tony memang sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Pagi tadi baru saja berangkat.


"Tony siapa? Kalian menyembunyikan sesuatu?" Ara bergantian menatap Ori maupun suaminya. Meminta jawaban atas kebingungan yang melandanya.


"Ori adalah adik sepupu Tony, Sayang," jelas Adrian pada istrinya.


"Tony? Tony suami Laura!?" Mata Ara melotot menuntut jawab pada sosok lelaki yang merupakan dokter spesialis anak di rumah sakit tempat ia melahirkan dulu itu.


Adrian mengangguk, dan begitu juga yang dilakukan Ori.


"Jadi selama ini?"


"Kak Tony tidak berniat buruk pada kalian. Ia hanya ingin menjaga Ara, karena Tuan Adrian sudah sangat baik dengannya. Begitulah yang disampaikannya. Setelah pulang dari luar negeri, dia akan langsng menemui Tuan," ucap Ori menjelaskan.


"Lalu, pernyataan cintamu pada istriku?"


Ara menatap terkejut suaminya. Begitu juga dengan Ori yang nampak beberapa kali menelan salivanya. Seingat wanita itu, ia tidak menceritakan apapun tentang ungkapan Ori padanya. Karena menurutnya, itu hanya perasaan sesaat akibat kedekatan mereka untuk beberapa lama.


Karena meski bagaimanapun keadaannya, sedari awal ataupun terakhir kali, Ara masih tetap pada pendiriannya. Hanya Adrian yang ia cintai, dan ia tidak mampu berpaling.


"Itu Tu-an, maaf. Saya salah mengartikan baiknya Ara pada saya. saya_"


"Sudah- sudah! Dokter ori cari Sinta dan yang lainnya, ajak mereka makan," Ara terburu-buru memotong penjelasan Oryza, karena ia sudah tahu tidak ada yang menang jika berdebat dengan Adrian kecuali dirinya. Itupun harus dengan tipu muslihat.


"Sayang, kenapa kau menyuurhnya pergi?"


"Dad, aku mencintaimu. Ori atau siapapun yang mengungkapkan cinta padaku, aku tetap akan bertahan padamu, Daddy tidak mempercayaiku?"


"Ini bukan tentang kepercayaan, Sayang. Berani-beraninya dia ingin bersaing denganku," geram Adrian.


"Tidak ada yang ingin bersaing denganmu, Mas." Ara segera mengeluarkan jurus terakhirnya. Memeluk sang suami dan mengecup bibirnya disini, diantara para tamu yang entah memperhatikan mereka atau tidak. Ara tidak perduli, ia hanya ingin menenangkan Adrian.


"Mama, Daddy, kenapa berpelukan tidak mengajak Merra. Apa Merra tidak terlihat?" gadis kecil itu menarik-narik pakaian yang dikenakan keduanya.


"Mana mungkin gadis cantik daddy tidak kelihatan hem...." Adrian mencubit kecil pipi Merra kemudian menggendong gadis yang tingginya hampir setengah dari tingginya.


"Mama, selepas pesta ini, tunggu daddy di kamar," titah Adrian yang melirik memaksa diiyakan.


"Iyaaa...." Meski mendelik kesal, Ara menuruti kemauan sang suami.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Lang,"


Elang memutar tubuhnya. Tiba- tiba tubuhnya mematung melihat Mela yang sangat cantik hari ini.


Amiciđź’•


Terima kasih banyak. menemaniku sampai sejauh ini,,,

__ADS_1


__ADS_2