
"Hah ... Akhirnya, si cantik chubby pulang." Bu Sri sengaja menunggu kedatangan Ara dan bayinya di halaman depan, karena kalau siang seperti ini anak-anak sedang istirahat, jadi dia memiliki waktu senggang untuk melakukan kegiatan yang lain.
"Siapa Sri?" Bu Fatimah ikut berdiri di depan, saat mobil Oryza memasuki halaman panti asuhan.
"Menunggu Merra, Bu," tunjuk bu Sri pada mobil putih yang berhenti di depan mereka.
Namun yang aneh, begitu muncul sang sopir, bukanlah sopir taxi seperti dugaan mereka. Tapi seorang lelaki muda dengan pakaian kasual rapi, dan ramah pula karena lelaki itu sempat mengangguk saat tidak sengaja matanya tertumbuk pada kedua orang wanita yang memandangnya dengan heran. Lebih terlihat seperti eksekutif muda daripada seorang sopir.
"Hei ... Nenek sudah kangen meski baru sehari tidak melihatmu." bu Sri maju dan membantu Ara dengan mengambil Merra dari pangkuannya. Kemudian disusullah sang sopir yang mengeluarkan tas dari belakang mobilnya.
"Dokter tidak masuk dulu? Istirahat barang sejenak didalam," tawar Ara. Wanita itu tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa.
Sinta sudah memasang senyum tercantiknya saat ini. Dalam hati ia berharap, Dokter Ori menerima tawaran tersebut. Memandang dokter tampan itu lama- lama membuatnya memiliki perasaan berbeda.
"Baiklah, tidak ada salahnya saya meminta minuman. Anggap saja kita impas," ucap Ori yang disambut tawa mereka semua. Karena itu artinya dia mengharapkan pamrih.
Bu Fatimah yang masih bingung hanya mengikuti alur, mempersilahkan mereka semua duduk di ruang tamunya. Tanpa di duga, Sinta sudah melesat ke belakang setelah sebelumnya pamit pada bu Sri bahwa dia saja yang membuatkan minuman untuk mereka semua.
"Jadi...." Bu Fatimah menunjuk Ori, namun matanya melirik Ara untuk menjelaskan.
"Ini Dokter Oryza, Bu. Dokter spesialis anak di rumah sakit yang membantu Merra lahir. Tadi, karena Pak Sapto tidak bisa menjemput, sebenarnya kami mau memesan taxi, tapi Dokter Ori memaksa mengantar."
"Merra sakit apa, Nak? Kenapa harus ke dokter spesialis?" Bu Fatimah yang saat ini memangku Merra menjadi terkejut. Lalu tangannya tanpa sadar mengusap pipi merah bayi kecil itu.
"Merra tidak sakit, Bu. Setiap ibu melahirkan dan bayi baru lahir di rumah sakit memang menjadi tanggung jawab dokter yang bersangkutan. Kalau Merra tanggung jawab saya, maka mamanya tanggung jawab dokter spesialis kandungan." Ori memberi penjelasan singkat yang langsung bisa dimengerti oleh wanita yang beda generasi dengannya itu.
"Ohh ... Ya ampun, ibu kira Merra sakit." Bu Fatimah mengusap dadanya sendiri. "Dulu tidak ada begituan. Bahkan zaman kita lahir, masih di dukun bayi, ya Sri."
Bu Sri mengangguk mengiyakan. "Itu zamannya kita, Bu. Sekarang sudah modern, semuanya ditangani Dokter. Bahkan tidak sakit pun juga harus bertemu Dokter."
Ucapan bu Sri disambut gelak tawa semuanya, termasuk Ori yang mudah sekali masuk kedalam perbincangan mereka, karena keramahannya.
Sinta masuk membawa nampan berisi teh hangat dan kopi untuk mereka semua.
__ADS_1
"Silahkan, Dok." Baru juga tiba, yang ditawari duluan adalah Dokter Ori. Bu Sri hanya menggeleng melihat tingkah anak gadis yang setiap hari membantu tugasnya itu.
"Kita tidak ditawari, Sin?" ejek wanita paruh baya itu.
Sinta yang terpesona dengan Oryza seketika terhenyak. "Kan bu Sri dan yang lain bukan tamu." Gadis itu mencari pembenaran sendiri. Setelah menghidangkan ia langsung duduk disamping bu Fatimah, ikut menggoda Merra yang sudah bangun. Gadis itu mengalihkan kecanggungan dirinya di depan Ori.
"Silahkan, Dok. Karena saya bukan tamu, saya mendahului Dokter untuk meminumnya." Bu Sri mengangkat gelasnya, sebelum meletakkan gelas pada mulutnya, wanita paruh baya itu lebih dulu mengangguk pada Ori.
Ara menutup mulutnya. menahan tawa akan reaksi Sinta yang menurutnya lucu. Sedangkan Ori, lelaki itu juga akhirnya ikut menikmati minuman yang dihidangkan untuknya.
"Saya hanya mampir sebentar, menghargai mama Merra yang menawarkan." Oryza melirik jam tangannya sejenak. "Saya ada praktek di rumah sakit lain, sore ini. Saya pamit sekarang ya."
"Terima kasih ya, Dok. Sudah mau direpotkan sama kami." Ara lebih dulu maju menjabat tangan Ori, kemudian diikuti yang lain.
"Terima kasihnya saya kembalikan. Saya sudah mengatakan, saya tidak repot sama sekali." Ori pamit pada mereka semua. Kemudian mencium Merra yang ada di pangkuan bu Fatimah.
"Jangan lupa jika mama kontrol nanti Merra juga dibawa ya, dia juga harus saya periksa," ucap Ori mengingatkan.
"Siapp, Dok!"
\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=
"Mama,"
"Apa?"
"Mama mau cake?" Sinta mendekat pada Ara yang sedang berbaring memeluk Merra. Bayi itu sudah tidur kembali setelah disusui dan dipindahkan ke ranjang oleh Ara.
"Cake apa sih?" Ara membuka matanya kemudian mengerjap melihat black forest kecil berbentuk hati di depannya.
"Selamat ulang tahun, Mama," bisik Sinta yang sudah memakai bando Mickey Mouse yang ada lampunya.
"Selamat ulang tahun," teriak yang lainnya namun dalam mode lirih. Karena mereka tidak mau membangunkan si chubby yang sedang nyenyak tidur.
__ADS_1
Ara menangis menatap keluarga satu-satunya yang ia miliki saat ini. Ia terharu mereka mengingat bahkan sampai membuatkan black forest untuknya. Padahal seharian ia mencoba melupakan jika hari ini, hari ulang tahunnya yang hanya selisih dua hari dari kelahiran bayinya. Karena setelah menikah dengan Adrian, ia selalu melewatkan setiap perayaan ulang tahun berdua. Dan kali ini, ia sendiri.
"Hei jangan menangis. Mama harus selalu bahagia. Ingat Merra. Merra akan sedih jika mama menangis," ucap Fatma yang langsung merangsek memeluk Ara. Berikutnya Sinta, kemudian dua orang wanita yang seperti ibu baginya itu.
Ara memeluk mereka semua. Rasanya tidak ada alasan untuk bersedih sama sekali. Benar kata mereka, ia punya Merra dan ia harus membesarkannya dengan rasa bahagia.
"Make a wish dulu." Sinta memukul jari Ara yang tiba-tiba mencolek coklat yang ada di atas cake itu.
"Hemm, kenapa resmi sekali. Aku sudah ingin memakannya," ucap Ara menahan liurnya yang sudah hampir keluar.
"Sabar, Kak. Make a wish dulu, baru tiup lilinnya, seperti yang di tayangkan di TV- TV itu," kelakar Sinta yang membuat semua orang sontak tertawa. Namun mereka kembali pada mode diam setelah mengingat ada Merra. Mereka sempat melirik sebentar pada bayi cantik itu, takut jika ia bangun.
Ara memejamkan matanya. Didalam pikirannya saat itu hanya terbayang Merra dan Adrian. "Semoga kalian dapat bertemu suatu saat nanti, dua orang yang merupakan nyawa dalam hidupku." Amin.
Selanjutnya, Ara meniup lilin kecil yang ada di atas black forest. Kemudian hanya sepersekian detik, coklat yang ada diatas cake berpindah ke wajahnya.
"Kalian!!"
"Ssstttt! Jangan berisik nanti Merra bangun," ucap mereka serempak. Semakin membuat Ara kesal.
"Kakak cantik sekali." Klik! Sinta mengeluarkan ponselnya dan langsung mengambil gambar mereka berlima.
"Ihhhh jahat...." Ara mencolek coklat yang tersisa dan menempelkannya pada wajah Fatma dan Sinta yang ada di dekatnya. Sedangkan bu Sri dan bu Fatimah sudah kabur karena takut kena balas Ara.
"Yahh kita kembaran." Mereka tertawa lepas meski suaranya mereka tahan.
"Kak, selamat ulang tahun ya. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kehidupan Kakak," ucap Sinta.
"Aku juga. Semoga Kakak dan Merra selalu sehat dan cepat ketemu sama papanya." Fatma menimpali.
"Huss kamu!" Sinta menepuk lengan Fatma sambil melotot. Sedangkan Ara menarik tangan Sinta, melarang gadis itu berbicara lebih jauh. Fatma memang hanya tahu jika Ara terpisah dari Adrian, tanpa mengetahui alasan sebenarnya. Karena memang hanya bu Fatimah, bu Sri dan Sinta yang mengetahuinya.
"Amin. Terima kasih ya, Fat."
__ADS_1
"Memang papanya Merra kemana kak?"
🌱Hai readers tercinta, terimakasih dukungannya sampai saat ini❤️ semoga kalian semua selalu dikaruniai kesehatan sehingga dapat menikmati kebahagiaan, aminn. 💐