Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 125 Ada yang Berubah


__ADS_3

Dua hari. Ya, sudah dua hari ini Ara menjaga sang mertua di rumah sakit. Tekanan darah Lina yang masih tidak stabil membuat sang mertua masih harus dirawat intensif disana. Bahkan, setiap beberapa jam sekali selalu ada perawat yang datang memeriksa tekanan darahnya. Memastikan bahwa angka yang muncul masih dalam ambang batas normal.


Dan sudah bisa ditebak, Adrian pun juga ikut pulang pergi rumah-kantor-rumah sakit sepanjang hari itu. Meski ia harus wara wiri namun sepertinya lelaki itu santai saja. Justru jika tidak seperti itu mungkin otaknya akan tegang karena pekerjaan.


Berbeda dengan Dani. Setiap pulang sekolah, anak lelaki itu selalu mengunjungi sang oma hingga malam baru pulang. Namun ada hal yang berubah, hubungan anak dan ibu sambung itu tidak pernah bisa sama lagi. Ada kekecewaan yang dipendam Dani, hingga sepanjang waktu meski berada di dalam ruangan yang sama dengan Ara, anak itu akan selalu diam dan seperti tidak menganggap jika wanita yang ia panggil tante itu berada disana.


Ara pun hanya bisa pasrah. Ia tidak ingin membuat hubungan mereka bertambah buruk. Wanita itu berbicara seperti biasanya saat di depan sang mertua meski tidak dianggap. Dan lebih memilih diam saat mereka hanya berdua.


"Dan. Sudah malam, pulanglah," titah Lina pada cucu kesayangannya itu.


"Sebentar lagi oma. Daddy belum datang kan," jawab Dani. Ia hanya melirik jam dinding yang menunjuk diangka 8.


"Mungkin Daddymu masih banyak pekerjaan. Tidak apa-apa, ada tante Ara ini,"Lina menatap jauh sang menantu yang nampak diam menatap TV. Tidak biasanya ia bersikap seperti itu.


"Baiklah. Oma cepat sembuh ya, aku kangen masakan Oma. Bisa kurus aku kalau hanya makan masakan bibi Yulia," kelakar remaja yang mencuri kecupan di pipi sang oma kemudian memeluk tubuh yang kini ringkih akibat sakit itu.


Senyum Lina mengembang. Cucu yang dari kecil ia rawat itu meskipun dingin dengan orang sekitar namun selalu manja denganya. "Anak nakal! Yulia tidak akan membiarkanmu kurus. Bisa aku hukum dia nanti. Sudah pulang sana, nanti kemalaman," Dani melingkarkan dua jemarinya membentuk huruf O. Kemudian anak laki-laki itu beranjak pergi tanpa sekalipun melirik Ara yang tengah duduk di sofa. Apalagi menyapanya.


Selepas sang cucu pergi. Lina masih memperhatikan sang menantu yang yang belum beranjak dari duduknya.


"Kalian baik-baik saja kan?" pertanyaan Lina membuat Ara yang menatap nanar kepergian Dani terhenyak.


"Baik, Mom," dan jawaban singkat itulah yang menjadi kata ajaib Ara untuk penenang sang mertua.


"Tapi ia sama sekali tak mengajakmu bicara sedari datang, Sayang," Ara terpaku, ternyata Lina memperhatikan segala gerak geriknya.


"Heh... Oh.. mungkin hanya sedikit kecewa mom, tapi aku yakin esok akan baik-baik saja. Dani belum begitu memahami alasan kami karena usianya.. Mommy jangan berpikir macam-macam," Ara berdiri, kemudian menghampiri sang mertua. Beberapa jam sejak anak lelaki Adrian ada disana, wanita itu hanya berlaku seperlunya. Bahkan baru dua kali ia menghampiri Lina.

__ADS_1


"Jelaskan dengan benar sayang. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman ini terus berlanjut. Padahal aku baru melihat kalian mulai dekat,"


"Tenanglah Mom. Aku pasti bisa mencairkan hatinya. Mommy mengenalku dengan baik kan," Ara memaksakan senyum manis yang sebetulnya pahit mengulas di bibirnya. Jika itu Adrian, mungkin ia masih bisa percaya diri mengatakannya. Tapi ini Dani, duplikat Adrian yang karakternya berlipat lebih sulit ketimbang sang ayah.


"Mommy percaya padamu. Kamu pasti bisa!" Lina menatap sayang sang menantu. Ya, kepercayaannya pada gadis itu memang tidak bisa luntur begitu saja, meski ia merasakan sedikit kecewa. Tapi bukankah mereka berdua sudah mengatakan kalau sekarang mereka benar-benar saling cinta. Jadi kemesraan mereka selama ini bukanlah sandiwara lagi. Lina juga merasakan hal itu.


"Terima kasih Mom. Mommy jangan memikirkan yang berat-berat, ya. Ada kami, biarkan kami yang mengatasinya. Aku hanya ingin Mommy cepat sembuh," Ara menangkupkan tangan sang mertua ke pipinya. Hingga Lina tersenyum lega, mendengar ucapan Ara.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Yess..gempar sekali media Indonesia memberitakan mantan suamiku itu," pekik Andina yang sedari tadi mengganti berkali kali saluran TV yang dilihatnya. Senyumnya mengembang, karena hampir setiap stasiun TV menayangkan berita heboh itu. "Aku menunggu kehancurannya, pasti lawan-lawannya senang sekarang melihat skandal yang dilakukan lelaki itu,"


Ceklek!


"Masuk Be," ucap Andina pada Abe yang hanya membuka pintu kamar sebagian. Lelaki kemayu itu berjalan gontai menghampiri sang sahabat yang masih memelototi TV layar datarnya.


Ya, sekarang Andina menumpang di rumah Abe. Ia tidak mau menempati kontrakan yang disewa Adrian untuknya. Karena ia tidak mau gerak geriknya terendus oleh anak buah mantan suaminya itu.


"Pertanyaan macam apa itu?" tangan Andina mengepal, meninju perut buncit Abe hingga tangannya mental.


"Aku hanya memastikan," tak terlihat gurat bahagia sama sekali di wajah chubby Abe. Bahkan mimik wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang tersembunyi.


"Kupastikan aku bahagia, Be. Terima kasih ya, Susilo itu hebat juga. Meski yang dia retas bukan urusan perusahaaan." Andina berdiri dan memeluk sang sahabat kemudian membawanya duduk disebelahnya. "Lihatlah, beritanya ada dimana-mana," jemari Andina menunjuk benda persegi panjang yang memiliki layar datar dan tengah menyala itu. Dengan lihai digantinya saluran TV berulang-ulang dan masih menampilkan berita yang sama.


"Tapi sungguh aku juga hampir tidak percaya kalau Adrian bisa melakukan hal seperti itu. Apalagi mereka benar-benar kelihatan seperti orang yang jatuh cinta. Apa itu juga cuma sandiwara? Hebat sekali akting mereka," Andina hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sendiri.


"Apa kau tak melihat ada yang janggal, Din?" tanya Abe tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa? Kamu hanya terlalu khawatir. Aku tahu memang butuh keberanian untuk berbuat seperti ini. Jadi jangan meracuni pikiranku dengan ucapanmu itu," jawab Andina sengit. "Sebentar lagi aku akan membuat drama ini lebih menarik. Orang yang kau sewa sudah mengawasi rumah Adrian?"


Abe mengangguk, "Tapi mereka belum dapat berita apa-apa, sepertinya kita harus mengganti orangnya,"


"Kuserahkan itu padamu. Yang penting aku segera dapat berita tentang mereka. Aku keluar dulu, ada urusan dengan sahabat lamaku," wanita cantik bak model itu kemudian meninggalkan Abe yang tercenung di kamar sendirian.


"Sepertinya berita ini hanya diulang-ulang dengan rekaman yang sama. Dan rekaman ini diambil sebelum berita ini mencuat," Abe bergumam. Meski lelaki kemayu itu mengganti saluran berulang kali, berita yang ditampilkan tidak berubah. "Sepertinya ada yang salah,"


Abe segera mengambil ponselnya. Dicarinya kontak Susilo, teman andalannya itu.


"Halo Beb,"


"Bab beb bab beb, memang Bebek?"


"Eh kebanyakan ya, harusnya Be bukan Beb," terdengar tawa dari seseorang dibelakang Susilo. Nampaknya lelaki unik itu tidak sendiri.


"Sontoloyo! Bagaimana? Kamu dapat apalagi?"


"Belum Be. Baru itu saja. Mereka memperketat pengamanannya. Semuanya, pusat maupun cabang," keluh Susilo.


Padahal seharusnya hal seperti ini adalah tantangan baru bagi ahli komputer plus hacker seperti dia. Namun sepertinya kualitas Susilo masih amatir, hingga baru seperti ini saja ia sudah mengeluh.


"Kerja cepat kalau begitu. Awas ya! kalau kamu ketahuan, jangan bawa-bawa nama kami," ancam Abe pada temannya itu.


"Tenang, aku tidak akan ketahuan Be," ucap Susilo yakin. Abe bernapas lega. Paling tidak, jaminan aman mereka berdua Susilo berikan.


Sambungan telepon diputus oleh Abe kemudian. Dan diseberang sana, Susilo bersama kedua temannya hanya terbahak.

__ADS_1


"Ucapanku tidak salah kan?"


"Tentu saja tidak. Mereka saja yang bodoh!"


__ADS_2