
(Dia sedang apa?)
(Masih menangis, aku ada di luar Tuan. Katanya dia ingin sendiri)
(Kalau terjadi sesuatu pada istriku, bagaimana? Kan sudah kukatakan untuk menjaganya!)
(Tuan, Ara bukan anak kecil. Meskipun terkadang dia seperti ini, tapi dia masih menggunakan logikanya dan tidak akan berbuat hal yang tidak baik)
Sepi. Pesan Mela tidak mendapat jawaban dari Adrian, lelaki itu hanya membacanya.
Lagipula kenapa sekhawatir ini, harusnya tadi tidak meninggalkannya. Pemikiran yang sama muncul di otak Mela.
Hari semakin malam. Beberapa lama berada diluar, membuat Mela akhirnya masuk. Ia berharap, hati sahabatnya itu sudah lebih baik sekarang.
Ceklek!
"Ra, kita makan yuk, ini_"
"Aku tidak lapar Mel!"
Mela mendengkus, jawaban sama yang selalu ia dengar ketika seseorang berada pada situasi marah yang belum mereda. Kalau ini terjadi pada Mela, sudah pasti ia melahap habis bermacam-macam makanan hari ini. Bukan malah puasa seperti ini.
Mela melihat kotak makan di tangannya. Sayang sekali jika dia memakannya sendiri. Ia pesan makanan online tadi, berpikir sahabatnya itu menyukainya. Namun yang ada malah ia yang harus menghabiskannya sendiri.
"Baiklah. Aku makan ya," pamit Mela. Dan hanya dijawab deheman oleh wanita yang masih meringkuk serta menyembunyikan wajahnya dibawah bantal itu. Sama sekali tak mau melihat Mela.
Drrt.
(Dia sudah makan?)
(Tidak mau, Tuan. Katanya tidak lapar)
(Apa kau mengatakan kalau makanan itu pemberianku?)
Ya, makanan itu dipesan oleh Mela dan dibayar oleh Adrian. Lelaki itu sengaja melakukannya agar sang istri mau makan.
(Tidak. Aku tidak mengatakan apapun, hanya mengajaknya saja)
(Berikan aku fotonya)
Mela mengambil diam-diam foto Ara dari belakang. Dengan posisi yang belum berubah dari tadi menguntungkan gadis itu untuk mencuri foto tanpa diketahui sahabatnya. Dapat! Dan langsung dikirim ke Adrian.
Mela sudah seperti detektif saja. Setiap kali, Adrian selalu menanyakan keadaan istrinya, belum lagi satu jam sekali meminta foto Ara. Lelaki itu memang sungguh-sungguh diluar dugaan.
Gadis itu meneruskan makan malamnya. Akhirnya ia makan dua kotak dan menyisakan satu kotak, mungkin saja nanti Ara mau memakannya. Perutnya sampai terasa begah, ia terlentang di sofa menatap langit-langit kamar, sambil sesekali menarik napas panjangnya.
__ADS_1
"Uhuk ... Huek ... Huek." Ara bangkit dari posisinya berbaring. Wanita itu menahan perut dengan satu tangannya, dan membekap mulutnya dengan telapak tangan yang lain.
Mela yang kaget mendengarnya langsung berlari menghampiri.
"Ayo kubantu ke kamar mandi," ucap Mela yang segera memapah sahabatnya menuju kesana.
"Huek ... Huek ...." Hanya sedikit makanan dan cairan lambung yang terasa pahit yang keluar. Napas Ara terengah, tubuhnya bertumpu pada wastafel dan Mela memegangnya dari belakang. Sesekali tangan Mela memijit tengkuknya, membantu memperlancar muntahan yang terkadang susah untuk dikeluarkan.
"Lagi?" Ara menggeleng, mengatakan sudah namun tanpa suara. Kemudian Mela membantunya kembali berbaring diranjangnya.
"Aku panggilkan suamimu, ya?"
"Jangan, tidak usah." Ara terpejam dengan mulut yang masih terbuka, berulang kali menghirup oksigen untuk menetralkan pernapasannya.
Mela membantu membersihkan mulut Ara yang masih basah. Kemudian mengangsurkan gelas berisi air putih yang langsung dihabiskan oleh wanita itu. "Makanlah, Ra. Asam lambungmu naik itu," tebak Mela.
"Aku tidak punya sakit lambung, Mel."
"Iya aku tahu. Tapi kalau perutmu kau biarkan kosong tentu saja dia akan protes seperti tadi. Apa kamu ingin lebih lama disini?"
"Tidak! Malah sebenarnya aku ingin cepat pulang. Rasanya tidak betah. Bau pewangi ruangan ini tidak enak. Membuatku pusing, dan mual. Entahlah ini karena perutku kosong atau memang aku saja yang sensitif," ucap Ara yang kemudian mengambil masker dari atas nakas dan mengenakannya.
"Hemm?" Mela mengernyit heran. Memang baunya beda dari yang kemarin. Mungkin baru saja diganti, tapi menurutnya ini enak, lebih wangi malahan.
Tidak lama kemudian. Pewangi ruangan sudah diganti oleh petugas dan Ara pun melepas maskernya.
"Makan ya," sahabatnya itu mengangguk. "Kamu pucat sekali," ucap Mela menatap khawatir Ara.
"Aku tidak apa-apa Mel. Biar aku makan sendiri, kamu pulang lebih cepat hari ini?" Ara mengambil sendok dari tangan Mela saat sahabatnya itu ingin menyuapinya.
"Satu minggu kedepan, butik mengadakan promo, Ra. Kami kerja efektif. Jadi jam kerja kami dipadatkan, tidak ada santai-santai tapi kami senang pulangnya cepat," ucap Mela yang nampak bahagia saat menceritakannya.
"Selamat ya, Mel. Semoga kamu betah dengan jabatan barumu. O iya, kamu sudah memilih salah satu Universitas di brosur itu?"
"Belum, Ra. masih ada waktu sampai kamu sembuh kan? Aku ingin kau yang menemaniku survei ke sana," Mela yang dulu hanya mencicipi satu bulan kuliah merasa tidak percaya diri memilih jurusan dan universitas sendirian.
"Baiklah. Sudah." Ara meletakkan sendoknya. Bahkan ia baru makan beberapa sendok saja. Namun perutnya sudah memberi peringatan untuk berhenti. Jika dipaksakan, Ara takut akan muntah lagi.
"Sedikit sekali? Nanti suamimu marah! Ups_" Mela menutup mulutnya yang keceplosan.
"Kenapa dia harus marah? Ini tubuhku sendiri!" jawab ara sengit dengan bibir mengerucut.
Drrt.
Mela langsung mengambil ponselnya. Nah kan, baru saja dibicarakan, lelaki itu sudah menanyakan istri tercintanya lagi.
__ADS_1
(Bagaimana? Istriku mau makan?)
(Sudah, Tuan. Tapi cuma sedikit)
(Kenapa cuma sedikit? Kau harus membujuknya untuk makan yang banyak!)
Mela nampak kesal di depan ponselnya. Bibirnya mengkerut, mengerucut, bahkan gadis itu nampak menjulurkan lidahnya mengejek. Entah siapa yang mengirim pesan padanya.
"Kau kenapa, Mel? Aneh sekali?" tanya Ara yang heran dengan tingkah sahabatnya. Apa gadis itu sedang jatuh cinta? Biasanya memang perasaan seperti itu membuat orang bertingkah bodoh, tapi juga tidak segitunya, kan?
"Ini ada orang yang menyebalkan, Ra. Mengirimiku banyak pesan yang harus dijawab. Juga meminta foto setiap satu jam sekali. Sudah marah-marah, apa yang ia suruh harus kulakukan. Huh! Dasar menyebalkan!" Mela tampak mengumpat di depan ponselnya, seakan-akan ia mengatakannya di depan orang yang membuatnya jengkel itu.
Fix! Mela sedang jatuh cinta. Itulah yang ada dipikiran Ara. Pasti laki-laki itu sangat menjengkelkan. Bayangkan saja, jika ia sering mengirimi pesan yang terkadang tidak penting tapi memaksa untuk dijawab. Setiap saat bertanya apa yang dilakukan Mela. Seperti CCTV saja, 24 jam harus tahu segala hal tentang kekasihnya. Hufft! Menyedihkan bukan, lelaki seperti itu?
Mereka posesif? Ups! Ara meringis, mengingat tentang dirinya sendiri. Bukankah Adrian juga seperti itu dulu? Sekarangpun masih tapi tidak separah dulu.
"Siapa lelaki beruntung itu, Mel? Kau tidak cerita padaku sama sekali," pancing Ara sambil menaikturunkan alisnya, meledek.
"Dia yang beruntung kenal aku. Sedangkan aku?Tdak sama sekali! Malah bencana!" Ucap Mela dengan sengit sampai-sampai matanya melotot, mungkin ia kesal dengan lelaki itu. "Dia memanfaatkan aku terus. Bertanya tentang banyak hal dan_"
"Kenapa tak kau kenalkan padaku?" sahut Ara memotong celotehan sahabatnya. " Kau mulai main rahasia denganku, Mel."
"Kenalkan? E ... Tapi dia, dia ..." Lidah Mela mendadak kelu untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Bagaimana kalau Ara tahu?
"Dia kenapa? Kamu malu? Kalau kamu menyukainya, kamu juga harus menerima kekurangannya Mel, bukan hanya kelebihannya. Kalian harus saling melengkpai," nasihat Ara sok bijak.
"Em ... Dia ... Dia suami orang! Dia_"
"Apa? Suami orang? Kamu gila, Mel. Sudah jangan dibalas lagi! Blokir saja nomornya, biar tidak mengganggumu lagi. Kamu kenal dimana sih?" Ara yang kaget langsung menarik ponsel dari tangan Mela.
Gadis itu panik, melihat perbuatan Ara. Dan segera menarik kembali ponselnya. "Mau diapain ponselku, Ra?"
"Memblokir nomornya! Aku tidak mau memiliki teman seorang pelakor! Camkan itu!" ucap Ara sinis dan mengancam. Mela terhenyak, susah payah menelan salivanya.
"Ini tidak seperti yang kau pikir. Aduhh ... Besok-besok saja menjelaskannya. Dia menelponku," Mela terburu keluar kamar. Meninggalkan Ara yang bingung, kenapa sahabatnya bisa mengenal seorang lelaki beristri.
Awas saja kalau Mela nekat meneruskan hubungan itu!!
Terima kasih ya...
Banyak cinta untuk kalian yang masih mengikuti...
Maafkan saya yang masih sangat jauh dari sempurna iniπ
makasih banyak juga untuk yg like dan meninggalkan komentar π
__ADS_1