
Sebuah sedan hitam mewah meluncur ke Restoran Sunda Alam Sari. Di depan hanya ada Elang tanpa sang sopir, mereka hanya berdua saat ini. Beberapa kali, Adrian nampak meraup wajahnya, entah apa yang dipikirkannya sekarang. Yang jelas, tingkah sang Tuan yang serba ambigu membuat Elang khawatir. Mungkin sang Tuan kurang a*ua hari ini. Tapi tidak mungkin kan menawarinya, bisa kena hukuman nanti.
Begitu mobil berhenti, sang Tuan langsung menuju toilet sedangkan Elang menunggu di pintu masuk. Lelaki itu bertanya kepada pelayan, tentang reservasi, dan sang pelayan menjawab jika Tony sudah datang beberapa menit yang lalu.
Adrian bersama Elang berjalan santai memasuki restoran. Lelaki tampan dengan fisik diangka 9,9 itu nampak sempurna bagi siapapun yang melihatnya. Tak terkecuali sang asisten yang juga tak kalah parasnya. Baik sang Tuan ataupun asistennya memang selalu memakai jas resmi setiap hari. Jarang sekali melihat Adrian berpakaian santai jika tidak dirumah ataupun sedang diluar namun bersama sang istri.
Beberapa pengunjung nampak menatap takjub, bahkan ada beberapa dari mereka yang bisik-bisik entah mengobrolkan apa. Untung saja Tony memilih tempat privasi di pinggir danau, yang jauh dari pengunjung lain. Kalau tidak, bisa-bisa makan siang mereka akan jadi acara jumpa fans.
Para bodyguard Tony yang tersebar di sekitar nampak menunduk hormat melihat tamu sang majikan datang. Adrian memasuki ruangan terbuka yang hampir aeperti gazebo ditengah danau yang merupakan ciri khas restoran Sunda. Dan yang paling mengesankan, Tony sampai berdiri dan berjalan mendekat, untuk menyapa temannya yang sudah lama menjadi rivalnya itu.
"Terima kasih sudah mau datang," ucap Tony sambil mengulurkan tangan kepada Adrian.
Lelaki itu tersenyum samar. Dia tetap nampak cool meski banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya. menyambut uluran tangan Tony. Kemudian duduk, setelah dipersilahkan lelaki keturunan Amerika itu.
Tony meletakkan kedua tangannya di atas meja. Disana hanya ada mereka berdua, karena Elang pun hanya menunggu di luar. Lelaki itu nampak mengatur napasnya sebelum akhirnya mengangkat kepala dan menatap Adrian.
"Maafkan aku Add," ucapnya pelan.
"Maaf untuk apa?"
"Untuk masa lalu dan masa sekarang. Dan aku.. kali ini aku memohon padamu. Bantulah aku menemukan Laura," Tony tiba-tiba menangkup kan kedua tangannya. Adrian yang kaget langsung menepis tangan itu agar tidak memohon padanya.
"Hei, Tony apa yang kamu lakukan. Hubungan kita memang tidak baik. Tapi aku tidak ingin kau merendahkan dirimu seperti ini," ucap Adrian. Mendadak kilatan kenangan masa muda mereka muncul di benak laki-laki itu. Mereka berdua yang pernah berteman hingga akhirnya bermusuhan tanpa sebab yang jelas.
"Kau mau membantuku, kan Add?" mimik bersalah serta penuh pengharapan nampak di wajah Tony. Lelaki yang kini berjambang itu terpaku, menunggu jawaban Adrian.
__ADS_1
"Apa teman-temanmu dari duniamu dulu tidak sanggup membantumu?" Adrian sangat tahu jika Tony dulunya pernah menjadi pemimpin mafia untuk beberapa waktu, jadi tidak mungkin ia tidak memiliki akses lagi untuk berhubungan dengan mereka.
"Sudah. Tapi aku tidak yakin cukup. Karena ternyata penculik Laura bersekongkol dengan Danang, pengusaha yang terkenal licik," Tony menggeram, menyebut nama Danang mmbuat emosinya membumbung. Lelaki yang hanya dikenalnya karena sama-sama pengusaha itu, telah mengganggu ketenangannya.
"Danang?" Tony mengangguk. "Danang perkasa?" Adrian tidak memyangka dia akan berurusan dengan orang yang sama lagi.
"Iya Add. Lelaki itu yang melindungi Magda, mantan tunanganku yang merupakan penculik Laura."
"Kau sudah mengetahuinya tapi belum bertindak juga?" Adrian membolakan matanya.
"Aku baru mengetahuinya Add. Bahkan aku tidak tahu Laura berada dimana sekarang. Magda di luar negeri. Dan kudengar, Danang baru saja tiba di Indonesia. Kemungkinan wanita itu juga akan kesini." Tony mengurai apa yang ia ketahui dari pencariannya.
"kau yakin danang terlibat menculik Laura?" tanya Adrian memastikan.
"Sangat yakin. Berbulan bulan aku menaruh orang untuk mengikutinya. Sebenarnya, aku tidak ingin bermasalah lagi. Maka dari itu aku hanya mengikuti keduanya, berharap bisa menemukan istriku. Namun sepertinya, mereka benar-benar bermain aman," Tony menyembunyikan wajahnya. Matanya memerah mengingat kembali akan waktu yang hampir menginjak satu tahun pencariannya.
Tony mengangkat kepalanya. Ucapan Adrian barusan membuatnya bersemangat. "Baik. Akan kulakukan yang terbaik, terimakasih Add," anggukan Adrian dan gestur tubuhnya yang mengisyaratkan bahwa lelaki itu hendak pergi menyadarkan Tony. Lelaki keturunan Amerika itu mengerjap, bahkan ia belum memerintahkan sang bodyguard untuk menyuruh pelayan restoran menhidangkan makanan. Sedangkan jam makan siang hampir berakhir.
"Add makanlah dulu. Anggap saja ucapan terimakasihku dan traktiran seorang teman yang hilang," Tony sangat berharap Adrian menerimanya.
Adrian melirik jam tangannya. "tidak usah. aku buru-buru harus kembali ke kantor,"
"Kalau begitu biar dibungkus, bawalah untuk istrimu," Adrian mengernyit, mendengar ucapan temannya. "Maaf aku mencari berita tentangmu," ucap Tony kemudian. Ia memang mencari berita tentang Adrian beberapa bulan yang lalu.
"Baiklah. Karena kau membawa-bawa istriku. Maka akan kukatakan kepadanya kalau kau yang mentraktirnya," ucap Adrian bergurau. Lelaki yang bahagia karena menyembunyikan pernikahannya dari khalayak ramai itu patut berbangga. Setidaknya orang tidak akan tahu siapa istrinya. Hingga sekelas Danang Perkasa bisa salah culik, yang malah menculik Mela sahabat sang istri.
__ADS_1
Karena sangat bahagia dengan hubungan pertemanan yang terjalin kembali dan Adrian yang bersedia membantunya untuk mencari Laura. Tony memesan berbagai menu untuk teman masa sekolahnya dulu itu. Dan bahkan ia menyuruh bodyguardnya untuk mengantarkan makanan itu langsung ke rumah adrian. Hingga lelaki itu tidak perlu menunggu dan langsung kembali ke kantor.
\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=
Tok.. tok.. tokk
"Nyonya ada yang mencari," suara pelayan dari luar membuat Ara terpaksa bangun dari aksi bermalas-malasan di dalam kamar.
Dalam hati wanita itu berpikir. Siapa yang mencarinya di hari siang menjelang sore begini sedangkan ia tidak ada janji dengan siapapun.
Wanita itu segera turun. Bahkan Bibi Yulia yang sedang membuat kue di dapur ikut penasaran dengan apa yang dikatakan anak buahnya. Ia segera meninggalkan pekerjaannya dan malah mengikuti Ara dari belakang.
Beberapa laki-laki berjas hitam membawa kotak-kotak makanan yang sangat banyak di depan.
Begitu pintu depan dibuka, sontak para laki-laki yang mempunyai wajah yang tidak bisa dikatakan biasa itu mengangguk hormat pada Ara.
"Selamat sore Nyonya Adrian,"
"Iya. Selamat sore,"
"Kami di suruh Tuan kami yang merupakan teman Tuan Adrian, mengirim makanan ke rumah in," ucap mereka sambil bergantian menyodorkan makanan yang mereka bawa ke depan Ara.
"Sebentar-aebentar. Aku hubungi suamiku dulu," ucap Ara mengambil ponsel di dalam sakunya. Dan ternyata suaminya itu malah menghubunginya lebih dahulu. Lelaki itu mengatakan untuk menerima kiriman makanan itu karena berasal dari temannya.
Ara mempersilahkan bodyguard pembawa makanan itu mengalihkan apa yang mereka bawa ke para pelayan yang telah dipanggil oleh Ara.
__ADS_1
Setelah membukanya, itu semua masakan Sunda yang sangat enak. Namun karena banyak sekali, wanita itu hanya menyisihkan beberapa untuk orang rumah dan membagikan sisanya kepada para pelayan.