
"Apa?" mata Ara membola mendengar pengakuan Dani. Tadinya wanita itu berpikir jika Andina hanya pergi begitu saja tanpa meninggalkan luka dan trauma pada anak dan suaminya. Namun ternyata, semuanya salah.
"Kapan itu, Dan?" tanya Ara. "Berarti Daddymu selama ini tidak pernah tahu?" lanjut Ara kemudian menghubungkan puzzle-puzzle peristiwa yang ia dengar dengan cerita anak itu.
Dani menggeleng, membuat kedua pundak wanita itu melorot. Napasnya sesak membayangkan bagaimana tega seorang ibu kandung mendorong anaknya. Jika pun Andina ingin pergi karena kehidupan Adrian yang belum membaik, tidak perlu melakukan itu bukan? Setiap anak pasti reflek menahan ibunya ketika sang ibu akan meninggalkannya. Mungkin ini trauma yang dimaksud dokter Realli?
"Lalu?"
"Lalu ketika dlDaddy datang, mama sudah pergi. Daddy menemukanku menangis diujung lemari kemudian menggendongku dan menitipkan ku pada Oma," lanjut Dani, ia mengusap matanya yang berkaca.
"Saat Daddy tahu keningku benjol membiru, ia bertanya padaku. Dan aku menjawabnya karena tadi siang aku tidak hati-hati saat bermain," ucap Dani, anak itu menunduk dalam.
"Kenapa tidak jujur, Dan?"
"Karena aku sayang mama, Tan," anak itu berurai airmata. "Aku sayang mama meski mama seperti itu. Tapi kemudian mama seperti melemparku ke jurang paling dalam, saat aku tahu jika ia kabur bersama lelaki lain yang lebih segalanya dari Daddy. Harta, kemewahan hidup, mama hanya perduli pada hal itu,"
"Kalau Dani sayang mama, kenapa kemarin mengusirnya. Padahal tante lihat mama Andina rindu dengan Dani," tanya Ara selembut mungkin. Ia takut pertanyaannya akan menyudutkan anak itu.
"Rindu? Dia hanya berbuat seperti itu untuk kepentingannlnya. Tante ingat ucapannya bukan, seharusnya mama meminta maaf padaku. Yang membuatku seperti ini adalah mama. Tapi apa? Ia bahkan menuduh tante yang bukan-bukan. Dia tidak akan pernah berubah, "
"Jangan membencinya, Dan. Sesalah apapun, dia mama kandungmu. Berusahalah untuk mengikhlaskan semua yang terjadi antara kalian. Anggap semua sudah menjadi suratan takdir, hingga kamu bisa hidup lebih baik kedepannya tanpa trauma," Ara mencoba memberi nasihat.
"Mana bisa tan? Selamanya aku membencinya. Aku.... Aku... Aku tidak akan pernah bisa memaafkannya," Dani membuang muka ke samping. Ia nampak menahan tangisnya.
__ADS_1
Dengan segera Ara menghampirinya, dengan posisi berdiri di peluknya anak laki-laki yang kini juga melingkarkan tangan di pinggang Ara itu.
"Menangislah jika itu bisa membuat perasaanmu lebih baik," wanita itu ikut sakit dan matanya pun nampak berkaca mendengar penuturan Dani. Ia kira ibu jahat itu hanya ada dalam sinetron, namun kini ia malah menemuinya pada orang terdekatnya.
Setelah perasaan Dani lebih baik, Ara mengajak anak itu untuk segera menghabiskan donatnya, karena mereka sudah cukup lama berada disana. Wanita yang telah membuat mode diam ponselnya itu tidak tahu jika sang suami menghubunginya sejak tadi.
Dan ketika Adrian berganti menelpon Ardi, ia malah mendapat kiriman pesan bergambar berisi sebuah foto dimana sang istri dan anaknya berpelukan di suatu tempat.
Lelaki itu tersenyum tipis, semoga semuanya membaik seiring waktu. Air akan bisa mengikis batu meski alirannya kecil bukan?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ahhhh... fuhhhhhhhhh," suara desisan terdengar dari sebuah kamar VVIP di sebuah rumah sakit yang ada di negeri sakura itu.
"Jangan! Tidak perlu! Aku masih mampu mengatasinya sendiri! Aku tidak lemah," ia adalah Akio yang untuk kesekian kalinya menjalani kemoterapi dengan efek yang luar biasa menyakitkan. Badannya lemas tak bertenaga, hingga imunitasnya turun dan membuat sariawan bersarang di mulutnya yang membuatnya tidak nafsu makan. Berat badannya pun merosot banyak, tanpa terkendali.
Ini kemo terakhirnya, jika tidak berhasil berarti harus operasi. Dan Akio sangat khawatir jika hal itu sampai terjadi.
Banyak hal yang ia pikirkan, hingga membuatnya tertekan dan malah memperburuk keadannya. Ia yang sudah satu bulan ini tidak pulang ke Sapporo dan lebih memilih tinggal di apartemen di Tokyo, sengaja melakukannya agar kedua orangtuanya tidak curiga.
Jika ia operasi tidak mungkin ia akan bisa menyembunyikan identitasnya. Dan sang mama pasti akan kaget melihat kondisinya seperti yang sekarang. Lelaki tampan yang kini nampak kurus itu memijat pelipisnya, ia belum menemukan solusi untuk masalahnya.
"Tuan, berdasarkan pemeriksaan kanker anda sepertinya kebal terhadap obat-obat kemo. Karena mereka tetap tumbuh padahal minggu depan adalah jadwal kemo anda yang terakhir. Anda harus segera menyiapkan diri kalau sewaktu -waktu operasi,"
__ADS_1
Kata-kata dokter kemarin sebelum kemo terakhir dilakukan, masih membekas di benaknya. Dan rasanya ia ingin menghilang saja, biar orang-orang yang disayangnya tetap mengingatnya sebagai orang sehat yang hilang daripada harus menjemput kematian dengan menatap satu persatu wajah yang sedih karenanya.
Kematian? Bahkan kenyataan itu seperti pil pahit yang terpaksa ditelannya. Begitu banyak hal yang belum dilakukannya, terutama akhir-akhir ini sang mama terus menerus menyinggung tentang pernikahan. Dan sang ayah juga mengatakan rindu ingin segera menggendong seorang cucu. Dan ia sendiri belum pernah bisa berpaling pada wanita lain. Hanya satu, Estsaffa Ahiara, yang kini menjadi istri dari sepupunya.
Akio meringis dalam kesakitannya. Mengapa ketika kita berada di fase seperti ini, seakan semua rencana yang tadinya kita anggap bukan apa-apa menjadi sesuatu yang harus kita capai. Semua keinginan, harapan seakan ingin kita tuntaskan sebelum kita benar-benar pergi meninggalkan dunia fana ini. Tapi apakah waktu berbaik hati mengulur usianya? Hanya Tuhan yang Maha Tahu.
Fuhhhh... lelaki yang tertunduk itu mengusap basah dibibirnya yang masih meninggalkan pahit sisa-sisa ia muntah tadi. "Tolong ambilkan saya minum."
Hiroaki, segera menuju nakas, kemudian mengulurkan segelas air putih yang sebenarnya sejak tadi ingin ia berikan pada sang Tuan. Sopir pribadi Akio yang bersamanya sejak ia kecil, menatap nanar sang tuan yang kepayahan akibat efek obat kemo. Bahkan ia hanya bergerak ketika disuruh saja oleh tuannya itu. Bukan karena ia tidak punya empati, tapi sang tuan lah yang melarangnya. Jadi ia hanya mematung sambil mengusap airmatanya menunggu perintah.
"Terima kasih. Kamu yang aku percaya menemaniku disini. Jika besok atau lusa terjadi sesuatu denganku. Cepat kau hubungi orang tuaku. Aku takut tidak ada waktu lagi," Akio membuka mulutnya menghirup oksigen dalam-dalam.
"Tuan kenapa berkata seperti itu. Tuan yang akan menyampaikan sendiri berita kesembuhan Tuan pada kedua orangtua Tuan. Anda pasti sembuh, bersemngatlah," Hiroaki yang juga ikut mendengar apa kata Dokter bahkan ikut menahan pilu. Apalagi saat ia mengucap 'bersemangatlah' suaranya sampai bergetar karena yang ia tahu, seorang penderita kanker apalagi stadium akhir sangat kecil kemungkinannya untuk sembuh. Walaupun bukan berarti tidak mungkin.
"Atau kita beritahu nyonya sekarang saja, Tuan. Sungguh Tuan benar-benar butuh mereka saat ini. Atau saya telepon Tuan Adrian, saya akan meminta izin beliau untuk membawa istrinya kesini," sebuah ide gila muncul begitu saja dari sang sopir yang hatinya lebih kalut dari Akio sendiri, karena rasa sayangnya kepada sang majikan seperti kepada anaknya sendiri.
Akio mengangkat tangannya. Memberi kode jika ia tidak setuju dengan ide itu. "Jangan! Jangan ganggu dia. Biarkan dia bahagia, Paman. Aku tidak ingin dia menangis melihat keadaanku. Dan mama, aku masih belum tega padanya,"
"Tuan..," lelaki bernama Hiroaki itu lalu menghambur memeluk begitu saja sang tuan yang tengah terduduk di ranjang rumah sakit. "Saya tahu Tuan sejak kecil, rasanya saya tidak percaya ini terjadi pada Anda,"
"Paman," Akio menepuk-nepuk punggung lelaki paruh baya itu. "Bukankah di dunia ini kita hanya menjalani takdir? Baik dan buruk sudah ditakar oleh-Nya. Hidup, mati dan rejeki sudah ditetapkan. Aku akan tetap berjuang untuk kalian yang mencintaiku," senyum getir nampak dibibir Akio yang kering dan memucat.
"Sayang, Ki..?" suara yang sangat ia kenal terdengar jelas di telinga Akio.
__ADS_1
"Mama? Siapa yang memberitahunya paman?"