Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 157 Sebuah Rencana


__ADS_3

Dua hari yang lalu,


"Mam, ini terlalu beresiko," ucap Lola yang menemani sang ibu menemui pemilik rumah sakit yang belum lama beroperasi itu.


"Ck ... Kamu tenang saja, ini urusan mama," sahut Laila sambil terus berjalan menuju lantai 4 dari gedung yang ia masuki. Sedangkan Lola hanya mengekor sang ibu dengan perasaan ragu.


"Tapi Adrian tidak sebodoh itu, Mam. Bagaimana kalau ia tahu yang sebenarnya?"


Masih dengan perasaan cemas, Lola terus saja membujuk sang ibu.


"Kau ini! Seperti tentara yang sudah menyerah sebelum sampai di medan perang saja. Ketakutanmu itu membuatmu lemah!" Bentak sang ibu yang sayangnya tidak membuat Lola marah, kecewa atau berkecil hati. Sepupu jauh Adrian itu masih saja mengikuti langkah kaki sang ibu dengan setumpuk beban dihati.


Lola tahu siapa Adrian. Meski ia termasuk pengusaha yang tidak banyak muncul di stasiun TV. Karena lelaki itu menyukai privasi. Namun pengaruh dan rekanannya mengular ke mana-mana. Siapa tahu Direktur rumah sakit yang katanya adalah teman lama ibunya adalah salah satu diantara sekian banyak partner kerja Adrian. Hingga mereka meminta bantuan, atau bersekutu dengan orang yang salah.


"Rumah Sakit ini masih sepi. Pengunjung bahkan bisa dihitung dengan jari. Atau sebenarnya tidak laku," gumam Lola lirih, bibirnya mengulas senyum yang gadis itu sembunyikan. "Auw ...." Gadis itu mengaduh akibat jitakan sang ibu yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hingga Lolapun tak ayal menabrak bahu orang yang melahirkannya itu.


"Jaga bicaramu!" Rupanya sang ibu mendengar gumaman anak gadisnya yang mengejek rumah sakit milik teman lamanya itu. Tentu saja Laila tidak terima, karena selain teman lama ternyata sang direktur juga adalah cinta lamanya.


"Sakit Mam." lola mengusap pelipisnya yang merah. Tumben sang ibu marah mendengar ucapannya. Padahal biasanya perempuan paruh baya yang tidak mau dipanggil ibu-ibu itu, mendukung setiap perbuatan Lola.


Lola sengaja melambatkan langkahnya. Gadis itu masih tak habis pikir dengan keanehan yang terjadi pada sang ibu sejak pagi sampai saat ini.


"Mama sangat aneh. Pagi-pagi sudah maskeran, lalu sekarang malah berpakaian dan berdandan seperti anak muda. Aku saja yang lebih muda malah kalah," ucap Lola dalam hati. Padahal mereka hanya akan menemui seseorang yang katanya teman sang ibu waktu muda itu. Jika seumuran, pasti lelaki yang juga Direktur Rumah Sakit Victoria itu adalah om-om dengan kisaran usia 50-an, perut buncit dan rambut depan yang lenyap alias botak. Mengapa harus seheboh ini?


"Ayo! Kenapa kamu malah berjalan seperti siput. Jangan katakan kamu lapar! Kamu bahkan sudah menghabiskan jatah makan ibu," Laila berhenti dan kesal melihat anaknya yang sangat lambat berjalannya hingga gadis itu tertinggal jauh dibelakang. Padahal ia tidak ingin terlambat menemui sang teman itu.


Lola berlari mengejar sang ibu yang hampir masuk lift. High heel lancip 7 cm menghambat langkah kakinya, apalagi dress diatas lutut yang dipakainya. Telapak kaki depannya sampai sakit akibat semua tumpuan tubuhnya jatuh dibagian itu.


Ting!


Pintu lift terbuka, dan mereka segera keluar dari kotak besi abu yang membawa mereka ke lantai 4 gedung baru itu.


Tidak banyak ruangan di lantai 4, karena ternyata di lantai itu dikhususkan hanya untuk Direktur bersama stafnya saja. Tanpa ada ruangan yang diperuntukkan sebagai tempat pelayanan umum.

__ADS_1


Laila menuju pintu dengan tulisan kapital tebal 'Ruang Direktur'. Wanita paruh baya itu masih sempat mematut wajahnya di kaca jendela ruangan yang ada di depannya, yang dapat memantulkan wajahnya layaknya cermin itu.


Tok ... Tok ...


Satu helaan napas berat keluar dari bibir Laila. Wanita paruh baya itu layaknya seseorang yang akan tes interview saja. Samapai-sampai Lola heran melihat kelakuan sang ibu yang menurutnya tidak seperti kesehariannya.


"Selamat pagi. Bisa saya bertemu dengan Pak Ferry?" ucap Laila, ia sampai berhenti didepan pintu.


"Iya, sa_ Laila? Hei ... kau tak mengatakan akan datang hari ini." Direktur sekaligus teman lama Laila yang ternyata bernama Ferry itu langsung berdiri, setelah meletakkan berkas yang ada ditangannya tadi.


Benar saja. Semua yang ada dipikiran Lola telah terwujud pada sosok yang menyambut sang ibu dengan tatapan aneh dan lebih mengarah ke genit itu. Padahal Lola sebenarnya sudah terbiasa dengan tatapan lelaki macam itu. Karena memang gaya berpakaiannya yang cenderung berani. Namun entah mengapa, ia malah jijik melihat lelaki tambun, botak dan berperut buncit itu melakukan hal yang sama pada sang ibu dan dirinya. Jadi ibunya berkelakuan aneh hari ini karena akan bertemu dengan teman lamanya yang seperti om-om ini, batin Lola. Lebih tampan ayahnya ke mana-mana.


"Aku ingin memberimu kejutan." gaya bicara Laila persis seperti seseorang yang baru saja bertemu kekasih hati. Membuat Lola terpaku di depan pintu dan tidak segera mengikuti sang ibu yang dipersilahkan Ferry untuk duduk di sofa.


"Siapa gadis cantik ini?" tanya Ferry, matanya menatap Lola tanpa berkedip.


"Ini anakku, perkenalkan namanya Lola." Laila menarik tangan Lola agar menjabat tangan Ferry. Hingga dengan terpaksa Lola melakukannya. Jabatan tangan yang demikian erat membuat Lola tidak nyaman. Gadis itu kemudian sengaja menarik tangannya di depan sang ibu hingga Ferry yang kaget menjadi malu dan akhirnya melepaskannya.


"Maaf. She is beautiful like her mom, Laila." Pujian dilontarkan Ferry begitu saja. Membuat Laila merasa kembali ke masa lalu, dimana Ferry selalu saja memujinya setinggi langit saat itu. Namun ia kembali dihempas kenyataan, pujian tinggal pujian, Ferry malah menikah dengan orang kaya yang dijodohkan oleh ayahnya, karena tidak ingin dicoret dari daftar pewaris keluarga.


"Apa yang bisa kubantu Laila, sepertinya ini sesuatu yang penting." Ferry bertanya dengan penuh selidik.


"Aku memiliki masalah dengan keponakanku, Fer. Biasanya dulu, dia rutin mengirim kami uang, namun setelah ibunya meninggal, dia melupakan kewajibannya," ucap Laila memulai cerita.


Kewajiban? Itu bukan sebuah kewajiban, karena hubungan mereka hanya kerabat jauh. Hal itu dilakukan oleh Adrian karena permintaan sang ibu yang setiap bulannya selalu berbagi sedikit rezeki dengan saudara-saudaranya. Dan tentu saja semuanya berhenti setelah hubungan mereka memburuk dan bahkan dengan berani memfitnah Ara yang nyata-nyata berstatus menantu. Air susu dibalas dengan air tuba.


"Lalu?" Ferry mengernyit, belum memahami arah pembicaraan Laila.


"Kami ingin meminta hak kami. Bukan dengan cara biasa tentunya. Keponakanku bukan orang yang miskin, Fer. Dia memiliki perusahaan besar dengan banyak cabang.


Jadi, ini bukan tentang uang recehan," ungkap Laila. Dibenaknya sudah terbayang uang ratusan juta yang akan menjadi miliknya jika rencana ini berhasil.


"Apa rencanamu?"

__ADS_1


"Kemarin, aku mengaku kalau aku sedang sakit keras dan membutuhkan uang untuk pengobatan. Tetapi keponakanku itu malah mengatakan kalau ia tidak akan memberiku uang. Ia hanya akan mengeluarkan uang untuk rumah sakit langsung, jadi ... Bagaimana kalau kau membantuku mewujudkan surat rincian pengobatanku?" Laila menatap Ferry yang bahkan tak menampakkan ekspresi apapun.


"Kau yakin?" Pertanyaan singkat itulah yang keluar dari lelaki tambun itu.


"Iya. Kau bisa kan membantuku? Ayolah, Fer. Bukankah ini sesuatu yang mudah untukmu?" Laila memohon dan mengiba demi terlaksananya semua rencana yang sudah mengakar diotaknya.


"Apa untungnya untukku?" Seringai licik Ferry terlihat bersamaan dengan ucapannya. Tentu saja itu sudah diketahui oleh Laila. Ferry adalah orang yang tidak mau memberikan sesuatu secara gratis, selalu ada imbalan untuk sesuatu hal yang dia lakukan.


"Ini angka yang besar. 75-25, jika kita berhasil," ucap Laila yakin. Ferry pasti akan tertarik. Meski lelaki itu lahir dari orang tua yang kaya raya, namun tetap saja jauh jika dibandingkan dengan Adrian. Dan lagipula, apa susahnya mengeluarkan secarik kertas rincian yang tentu saja adalah hal yang sangat mudah untuk Ferry.


"Hah? Resiko sebesar ini dan kau hanya memberiku 25%? Itu tidak adil, sepertinya aku tidak tertarik," ejek Ferry, matanya menatap Lola yang hanya duduk diam di samping Laila. Ketika tatapan mereka bertumbuk, Lola membuang muka. Gadis itu tidak suka dengan sosok Ferry.


"Lalu kau mau berapa? Kau sudah kaya Fer. Lagipula bukankah itu hanya selembar kertas. 25% itu besar, lo." Laila mulai bernego. Padahal ia berpikir bahwa ini langsung deal, ternyata Ferry juga serakah. Bahkan ini lebih buruk dari Ferry yang ia kenal dulu. Lelaki ini tidak sungkan meminta tambahan untuk bagiannya.


"Selembar kertas kau bilang? Laila, nama rumah sakitku dipertaruhkan pada selembar kertas yang kau minta itu. 50-50, " Laila terperanjat. Itu terlalu besar untuk sebuah kerjasama.


"70-30?" Ferry menggeleng. "Baiklah 60-40?" Kembali lelaki itu menggeleng. Laila nampak bingung. Ia tidak bisa mundur, semua akan gagal jika dia mengurungkan niatnya.


"Fer ...?"


"Atau, kau cari rumah sakit lain saja yang ber_"


"Iya ... Iya ... Baiklah Fer." Laila meringis, ini bukan tawar menawar tapi seperti pemaksaan. Dan bodohnya, Laila yang menawarkan dan akhirnya Laila juga yang harus mengalah. 50-50 itu bukan pembagian yang adil. Karena ia otaknya.


"Kapan surat itu selesai?" tanya Laila meminta kepastian.


"Besok bisa. Biar utusanku yang mengantar langsung ke kantor keponakanmu. Tinggalkan saja alamatnya. Kamu tahu beres saja. Persiapkan dirimu untuk membuat penyamaran yang benar-benar meyakinkan." Ferry meyakinkan Laila bahkan lelaki itu berencana menyediakan utusan khusus untuk ke perusahaan keponakan Laila.


"Baiklah. Kabari aku apa tanggapan keponakanku nanti ya, Fer. Biar aku lebih siap untuk mematangkan sandiwaraku," Laila segera berdiri diikuti Lola disampingnya.


"Emm ... oke. Laila ...." Ferry menggantung ucapannya.


"Apa?"

__ADS_1


Ferry menggaruk kepalanya. "Apa putrimu sudah menikah?" ucapnya melirik Lola yang sama sekali tidak melihat kepadanya.


"Hah?"


__ADS_2