
Lelaki tampan itu tidur dengan terduduk. Disebuah kursi tunggu ruang ICU. Sedih Ara melihatnya. Bahkan sejak Adrian pamit keluar dari kamar tadi hingga selarut ini, ia belum kembali sekalipun ke kamar.
Ara sampai bertanya pada Ardi, apakah sang suami sudah makan. Dan ternyata, sang bodyguard mengatakan jika Adrian belum beranjak dari tempat itu sejak jam 7 tadi.
Wanita itu bergegas menghampiri sang suami. Mengusap lembut kening hingga kebelakang kepalanya. "Mas. Mas, bangun," ucap Ara lirih.
"Hemmm," mengerjap malas Adrian perlahan membuka matanya, dan kaget saat mendapati sang istri sudah ada didepannya.
"Kamu?"
"Aku mencarimu, Mas. Kukira kemana, ternyata masih disini," ucap Ara menatap suaminya yang nampak lesu.
"Makan dulu ya," ajak Ara.
"Nanti saja, Sayang. Apa kau punya kopi?"
"Sudah selarut ini dan masih bilang nanti saja. Mau sakit perut? Belum makan sudah minta kopi," mendapat semprotan dari sang istri, Adrian hanya tersenyum saja. Kemudian lelaki itu menepuk pahanya, meminta sang istri duduk disana.
"Ini rumah sakit, Mas. Bagaimana kalau ada orang lewat," melirik tajam sang suami, Ara berucap sambil berbisik.
"Hanya duduk, tidak lebih. Ini sudah malam lagipula kita suami istri, tidak ada yang bisa protes," jawab Adrian santai.
Mencubit gemas pinggang Adrian, akhirnya wanita itu menuruti kemauan sang suami. Duduk disebelah pahanya dengan salah satu tangan melingkar dileher lelaki itu.
"Aku rindu sekali denganmu, biarkan begini sebentar saja, ya." Adrian langsung memeluk pinggang sang istri dan menyandarkan kepalanya disana. Perasaan damai menelusup di dada lelaki itu, sedikit mengurangi beban fisik dan mental yang ada dipundaknya.
Ara hanya mengangguk, meski ia tahu sang suami tidak melihatnya. Wanita itu mengusap lembut puncak kepala hingga punggung Adrian. Ia tidak mampu berkata-kata. Hanya bisa berdoa semoga Tuhan melapangkan hati sang suami dan juga keluarga kecilnya atas semua cobaan yang mendera.
Beberapa saat kemudian, suami istri itu kembali ke kamar setelah hampir dini hari.
"Tadi bibi Aimi menghubungiku?" ucap Adrian yang tengah duduk di sofa.
"Iya?" Ara menoleh dan menghentikan kegiatannya, membuka dan merapikan kasur lipat kecil yang dibawakan Ardi dari rumah.
"Mereka mau kesini. Oh ya Sayang, besok kita pindah ke ruangan yang disediakan untuk penunggu pasien ICU ya. Kamar ini terlalu jauh dari ruangan Mommy, aku hanya khawatir,"lanjut Adrian.
__ADS_1
"Kesini? Semuanya?" meski tidak ada hubungan, namun entah mengapa tiba-tiba otak Ara mengingat wajah Akio saat terakhir kali lelaki itu meninggalkan Indonesia.
"Kemungkinan hanya bibi," ucap Adrian yang menatap punggung sang istri. Ia penasaran apa reaksi istrinya itu, namun ia tak bisa melihatnya.
"Oh... Apa mereka tahu kalau Mommy sakit?" tanya Ara. Wanita itu menepuk tempat kosong di sebelahnya, setelah menata rapi kasur lipat tempat istirahatnya selama di rumah sakit.
"Aku mengatakannya. Hanya mereka saudara mommy, Sayang," lelaki itu melangkah mendekat. Kemudian membaringkan tubuhnya, dengan kepala berada dipangkuan sang istri.
"Iya, lebih baik seperti itu. Lalu kapan bibi kesini, Mas," jemari Ara memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sepanjang dagu persegi milik sang suami.
Ia sampai lupa, kapan terakhir kali Adrian mencukurnya. Biasanya, suaminya itu selalu tampil bersih setiap hari.
"Entahlah. Ia hanya mengatakan secepatnya. Hei... Sayang, kenapa kau menarik-narik jambangku?" Adrian memekik kesakitan kemudian reflek jemarinya mencubit punggung tangan sang istri yang usil.
"Ha.. Ha ha, aneh sekali melihatmu dengan bulu-bulu itu, mas. Aku jadi ingin memainkannya terus," wanita itu tersenyum gemas dengan memainkan tangannya yang seakan menarik jambang sang suami.
"Ini namanya jambang, bukan bulu-bulu. Apa aku masih terlihat tampan dengannya?" Adrian mengelus dagunya memamerkan aksesoris baru yang tumbuh alami itu.
Ara mengernyit, memasang wajah seburuk mungkin menanggapi pertanyaan sang suami. Kemudian wanita itu menggeleng dan menyilangkam kedua tangannya di atas dada. "Bagiku... Mau pakai jambang atau tidak kau tetap tampan, Mas,"
"Kamu pintar menggombal sekarang, ya," dan terdengarlah tawa ringan Ara yang merasa lucu dengan gombalannya sendiri.
"Mmmmph......Ini rumah sakit, Mas," halau Ara ketika sang suami melepaskan pagutannya sejenak. Buk.. bukkk... Ara memukul lengan Adrian ketika lelaki itu mulai melancarkan aksinya lagi.
"Ssstttt, ayo kita tidur." Ucap Adrian lirih, tepat di dekat telinga sang istri. Membuat sang empunya merinding hingga melayang sejenak, untung saja Ara lekas tersadar.
Lelaki itu membalik dan segera menarik tubuhnya mendekati bantal, kemudian membawa sang istri dalam pelukannya.
"Doakan Mommy cepat sadar dan pulih ya ,Sayang,"
"Always, Mas. Bicara apa kamu ini. Aku sudah menganggap Mommy adalah ibu kandungku sendiri," Ara memukul. dada sang suami yang seakan menganggapnya orang lain.
"Doakan juga suami tampanmu ini, selalu sehat dan bisa membahagiakanmu,"
"Amin,"
__ADS_1
"Rasanya.... Aku ingin mempunyai versi mini dari diriku. Seorang gadis kecil, berambut panjang, hidungnya mancung sepertiku dengan mata bulat sepertimu. Dan kulitnya perpaduan kita kopi dengan banyak krimer, pasti lucu," ucap Adrian menggambarkan keturunan baru yang suatu hari nanti akan tumbuh di rahim sang istri dengan menggerakkan tangannya.
"Iya. Amin, semoga disegerakan.. Sudah mulutnya dikunci dan mari istirahat, ini sudah hampir pagi," ucap Ara sambil menguap dan menutup mulutnya sendiri. Wanita itu tidak bisa menahan kantuk yang menyerang setelah kepalanya menyentuh lengan sang suami. Serta aroma tubuh alami bercampur parfum milik Adrian yang menjadi pengantar tidurnya selama ini.
"Good night, nice dream,"
Cup! Kecupan sayang diberikan Adrian pada kening sang istri yang bahkan sudah tenggelam dalam mimpi indahnya. Kemudian lelaki itu menyusul sang istri ke pulau mimpi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa Black? Kau yakin itu dia?" suara jawaban dari seberang terdengar keras karena Black mengaktifkan loudspeakernya.
"Iya, Bos. Sangat yakin. Saya menangkap lelaki itu tadi pagi. Masih anget, Bos. Dia sudah mengaku namun ia tidak ingin dilibatkan karena ia hanya menjual jasa."
"Kau kira nasi pecel, masih anget," tawa Black. membahana mendengar jawaban Elang. "Tangkap mereka berdua, wanita itu dan komplotannya. Bawa ke gudang tempat biasa. Biar besok aku yang akan membuatnya mengaku. Bawa juga hacker itu, ia perlu kuberi pelajaran,"
"Tidak perlu, Bos. Dibawah ancaman saja, dia bersedia menyerahkan rekaman percakapan kerjasama mereka,"
"Bagus Black. Lakukan tugasmu dengan rapi," ucap Elang tegas.
"Siapp Bos! "
Dan panggilan pun diakhiri.
Lelaki yang dipanggil Black itu kemudian mendekati Silo alias Susilo. "Kau dengar kan ucapan bosku. Itu baru tangan kanannya, kalau Bos besar mungkin kau akan kehilangan kepalamu karena berani mengusik ranah pribadinya,"
Dan seketika bahu Susilo nampak bergetar karena saking takutnya. Keringat sebesar biji jagung mulai muncul di pelipis dan menbasahi rambut ikal lelaki yang berpenampilan unik itu. Untung saja ia mau bekerjasama tadi. Kalau tidak, hah... ia tidak bisa membayangkan jika tubuhnya tanpa kepala seperti film horor yang ditontonnya.
"Ba-baik.. baik Tuan," tangan Silo aktif menyeka butiran peluh yang semakin lama semakin menggila. Hingga bukan hanya rambut namun juga pakaian yang ia kenakan kini telah basah oleh cairan berasa asin dan sedikit berbau itu.
"Hah...kau jorok sekali! Kenapa kau mengeluarkan cairanmu disini," Black mengumpat sejadi-jadinya dan kemudian menjauhkan diri dari bangku yang digunakan Susilo untuk duduk. Bahkan anak buah Elang itu menutup hidungnya rapat, akibat jijik.
"Cairan apa, Tuan? Ini hanya keringat. Tidak sebau itu," masih dengan tangannya yang aktif menghapus peluh, Silo berusaha menampilkan wajah baik-baik saja, padahal hatinya tidak tenang dan khawatir setengah mati.
"Keringat? Lihat itu dibawah kakimu! Bagaimana mungkin kau tidak menyadarinya," tunjuk Black dengan mengedikkan bahunya.
__ADS_1
Silo tercekat, napasnya tertahan sejenak mendengar ucapan Black. Kemudian perlahan tatapan matanya turun, dan matanya membola melihat celananya yang basah kuyup. Ia gerakkan kakinya yang ternyata juga basah. Dan... baunya... seperti....?
"Ampun Tuan.. Ampun...Saya kelepasan," 🤣