Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 189 Anugerah


__ADS_3

"Halo, Tuan."


"Dimana istriku?"


"Di kamarnya, memang dimana lagi!" Mela memasang wajah kesal meski Adrian tidak dapat melihatnya.


"Kau tidak menjaganya dengan benar. Bagaimana kalau ia malah sakit lambung sesudah pulang nanti?"


"Ara sudah makan, Tuan. Apa Anda masih disini?"


"Tentu saja. Aku tidak tenang meninggalkannya sendiri bersamamu."


"Hah? Anda sangat tidak sopan! Anda yang meminta tolong, anda juga yang mencaci saya." Menggelikan memang suami sahabatnya itu, sudah minta tolong tapi tidak ada baik-baiknya sama sekali.


"Salah sendiri kau tidak mengurus istriku dengan baik!" Bukannya berterima kasih, Adrian malah membuat Mela semakin kesal.


"Sudah ya, Tuan. Saya sudah mengantuk. Besok pagi saya harus bekerja. Saya tutup telponnya."


"Hei tunggu! Kirim dulu satu foto istriku ketika ia sudah tidur!"


Klik! Panggilan dimatikan sepihak. Adrian marah-marah tidak jelas dibuatnya. Mela hanya tidak ingin berdebat dengan lelaki itu.


Drrrrt.


Pesan masuk beberapa menit kemudian. Gadis itu mengirimkan foto istrinya, meskipun Adrian tahu jika Mela kesal dengannya. Apa boleh buat, ia juga kesal harus menjauh dulu dari istrinya.


Foto itu menampilkan Ara yang sudah terpejam dengan selimut sampai di dada. Demi apa, lelaki itu lega dan tersenyum sendiri hanya dengan melihatnya.


\=\=\=\=\=\=\=


"Mel," suara Ara serak saat memanggil sahabatnya itu. Klemarin ia banyak menangis, matanya terihat sembab dan merah.


"Kita hanya berdua?" tanya Ara yang melempar tatapan matanya ke sekeliling. Seakan mencari sesuatu yang hilang.


Semalam ia merasa ada yang memeluknya dari belakang.


Namun karena ia sangat mengantuk dan tak sanggup membuka matanya, Ara hanya pasrah. Apalagi wanita itu mencium aroma tubuh suaminya. Membuat ia malas untuk bangun meskipun hanya sekedar memastikan.


Dan pagi ini, ia kecewa mendapati dirinya hanya tidur sendiri diatas ranjang ini. Apa semalam ia bermimpi? Tapi terasa sangat nyata. Sampai-sampai ia merasa tidurnya sangat nyenyak semalam.


"Kamu sudah bangun? Hah? Me-mang ada siapa lagi?" Mela salah tingkah. Ia seperti pencuri yang takut ketahuan. Padahal Ara hanya bertanya.


Gadis itu membelakangi sang sahabat, mencoba sibuk membuka kotak nasi yang ia dapatkan pagi ini. Berharap Ara tidak bertanya lebih lanjut.


Ya, semalam ada yang memaksa masuk kamar ini. Memaksa pula tidur dan memeluk sahabatnya, padahal Mela sudah melarangnya karena takut Ara akan terbangun dan malah marah padanya. Namun apa daya, dengan senjata status 'suaminya', gadis itu akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya. l


Lagipula dilihatnya, Ara nampak tenang dalam dekapan Adrian. Meski ia merasa benar-benar menjadi obat nyamuk untuk kesekian kalinya.


Dan pagi-pagi sekali lelaki itu bangun, pergi sebentar, kemudian kembali membawa sarapan untuk sang istri.


"Sepagi ini, dan kamu sudah membelinya?" tanya Ara. Ia mengernyit membaca tulisan rumah makan yang tertera di plastik itu. Letaknya lumayan jauh dan langit masih gelap.

__ADS_1


Mela mengangguk. "Online," ucap Mela menjawab tanya di wajah Ara.


Wanita itu meraba nakas mencari ponselnya. Melihat waktu yang nampak disana. Lukul lima pagi, lantas saja masih gelap saat ia memgedarkan pandangannya ke jendela tadi.


Ara tertunduk lesu, baru saja ia bangun dan segera mencari ponselnya. Tentu bukan hanya untuk melihat jam berapa sekarang. Namun sekedar ingin melihat apakah suaminya menghubunginya atau mengiriminya pesan. Nihil! tidak ada satupun. Semakin mengukuhkan kalau apa yang ia rasakan benar-benar hanya mimpi.


"Nanti saja, aku belum lapar." Ara menolak kotak yang diangsurkan Mela padanya.


"Aku masuk pagi, Ra. Setelah ini aku berangkat. Ayolah, jangan membuatku khawatir." Mela mengiba pada sahabatnya itu.


"Bahkan aku baru bangun, Mel. Nyawaku belum kembali dengan benar dan kau sudah memaksaku makan," oceh Ara yang kemudian dibantu Mela memposisikan setengah duduk dengan menambahkan bantal di atas kepalanya.


"Kau ingat kata Dokter kemarin kan? Kalau hari ini ia akan mengizinkanmu pulang dengan syarat kau sudah benar-benar sehat. Kemarin kau sudah bisa ke kamar mandi sendiri meski aku harus mengawasimu. Hari ini kau terlihat pucat, apa kau ingin Dokter menunda kepulanganmu saat melihat keadaanmu seperti ini?"


"Tidak. Aku benar-benar ingin pulang. Entahlah rasanya aku sudah kangen dengan rumah." Ara menunduk, mengurai rasa hatinya yang semakin menggebu ingin pulang. Bahkan ia tak mengerti dengan suasana hatinya akhir-akhir ini.


Satu suap, aman. Dua suap, Mela tersenyum melihat Ara yang lahap. Suapan berikutnya, dan... "Huek ... Huek ..." Mela langsung meletakkan kotak makan yang ada ditangannya itu, dan membantu memapah sahabatnya itu ke kamar mandi.


"Huek ... Huek ...." Mela panik. Ara tak henti hentinya muntah padahal sepertinya tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Wajahnya pucat dan keringat membasahi seluruh tubuhnya.


"Ra, sebentar aku panggil ...." Mela mengambil ponselnya menghubungi Adrian.


Tidak berapa lama, Adrian muncul dengan berlari-lari dari luar.


"Sayang, kamu ...." Belum sempat bertanya lebih lanjut, Adrian ikut panik melihat wajah sangat istri sepucat kapas dengan tubuh melemas.


"Mass ...." Ara hampir jatuh tersungkur di lantai jika Adrian tidak segera menangkapnya. Tubuh yang nampak lemas itu bagaikan tanpa tulang yang menyangganya.


Sementara itu Mela datang dari luar dengan beberapa petugas. Gadis itu berinisiatif langsung memanggil dari pada harus menekan nurse call.


"Biar saya periksa dulu ya, Pak." Ucap dokter yah menyusul dibelakang mereka.


Adrian dan Mela menyingkir. Mereka duduk di sofa dengan pikiran kalut. Ia menyesal membawa Laura kemari meski itu tidak disengaja. Semua permasalahan ini muncul dari sana.


Adrian ikut tidak tenang. Apalagi melihat perawat bolak balik keluar kamar dan juga ke kamar mandi.


Apa keadaan istrinya separah itu?


"Pak Adrian."


"Iya, Dok. Bagaimana istri saya?"


"Istri anda tidak apa-apa. Nanti siang boleh pulang, ya,


. Tapi tetap harus kontrol meskipun lukanya sudah dibersihkan. Tadi ada yang menyampaikan pada saya jika Bapak menginginkan saya yang datang ke rumah, benar?"


"Iya, Dok. Saya meminta kontrol dirumah saja," jawab Adrian mengiyakan.


"Oke, saya atur jadwalnya nanti. Oh iya, Pak. Jaga baik-baik istri Anda ya, ka_"


"Tentu saja, Dok. Apa saya perlu diingatkan untuk menjaga istri saya sendiri," sahut Adrian yang kesal mendengar ucapan dokter itu.

__ADS_1


"Ini untuk Bapak," ucap Dokter menyerahkan sebuah amplop putih. Semoga apa yang diberikannya meredam amarah lelaki di depannya itu.


"Apa ini, Dok?" tangan Adrian bergerak membuka amplop yang sudah ada ditangannya. "Katanya istri saya tidak apa-apa, lalu ini?_" Dan hampir saja stik putih biru yang ada didalamnya jatuh jika ia tidak cepat menangkapnya.


Apa ini? aku pernah memegangnya tapi itu sudah sangat lama. Saat itu? Adrian tertegun, begitu menyadari apa yang ada dihadapannya adalah sebuah alat tes. Benda yang sama yang ditunjukkan mantan istrinya dulu, saat wanita itu mengatakan ia telah hamil. Ya benar! Ia mengingatnya. Berarti sekarang?


Adrian mengerjap, ditatapnya sang istri yang pucat dengan mata berkaca. "Sayang? Kamu ...."


Susah payah lelaki itu menelan salivanya, benarkah ini? Adrian sampai kehilangan kata-kata dibuatnya.


"Ya, Pak. Istri anda hamil. Jangan salah sangka dengan ucapan saya tadi, ya. Segera periksakan istri Anda ke dokter kandungan, supaya lebih yakin." Dokter itu menepuk pelan bahu Adrian. Kemudian meninggalkan lelaki yang masih terpaku tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Pantas saja kau aneh dari kemarin, Ra. Oh tidak! Aku akan segera dipanggil tante, bahkan ketika aku belum menikah," ucap Mela, gadis itu yang merangsek maju mendahului Adrian untuk memeluk sahabatnya.


"Selamat, ya," ucap Mela yang juga masih takjub dengan kejadian hari ini. "Kacang kecil, doakan tantemu ingin segera menikah, supaya ada yang kau panggil Om," bisik Mela sambil membelai perut Ara yang masih datar.


Ara sampai mengulas senyum melihat tingkah konyol Mela.


"Kau ini apa-apaan? Aku yang ayahnya saja belum menamainya malah kau panggil anakku kacang kecil!" Murka Adrian yang masih tidak terima dengan ucapan sahabat istrinya itu.


"Aku hanya memanggil seperti penampakan yang kulihat, Tuan. Di internet banyak bertebaran foto hasil USG janin yang baru beberapa minggu. Memang bentuknya seperti kacang bukan?" ucap Mela membela diri. "Aku pergi dulu ya, Ra. nanti ku hubungi." Gadis itu langsung kabur membawa tasnya begitu melihat wajah Adrian tegang tak karuan.


"Sayang, aku ..." Adrian mendekat. Ia bahagia, sangat bahagia. Kemarin saja ia sudah menyesal akan perbuatannya yang membuat sang istri cemburu. Ditambah lagi dengan kehamilan Ara yang baru diketahui.


"Maafkan aku." Adrian membungkuk, hendak memeluk sang istri yang ternyata malah menghambur dan memeluknya lebih dulu.


"Aku rindu sekali denganmu dari kemarin. Kenapa Mas sama sekali tak mengkhawatirkanku," tangis ara pecah. sungguh ia menjadi cengeng mengetahui ternyata dirinya hamil. Pantas saja ia mual dan pusing hanya mencium bau parfum ruangan. Padahal biasanya tidak apa-apa. Dan sekarang ia malah menyukai aroma tubuh suaminya itu meski lelaki yang ia peluk itu belum mandi.


"Aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak ke mana-mana, Sayang. Aku sampai tidur di mobil karena tidak ingin meninggalkanmu."


"Kenapa tidak kesini saja, Mas? Mana nyaman tidur di mobil," ucap Ara menyesali kekeliruannya kemarin.


"Aku takut kamu masih marah, Sayang."


"Padahal aku menunggumu disini," ucap Ara manja. Entah mengapa perasaan ingin bersama suaminya menggebu, sama sekali tidak ingin jauh.


"Maaf ya, Sayang. Maafkan daddy yang tidak peka dengan kehadiranmu." Adrian membelai lembut perut istrinya. Kemudian menciumnya dengan sayang.


"Mas tidak ke kantor?"


"Sebentar lagi. Aku menunggu Elang membawa pakaian gantiku. Lagipula ini masih pagi, Sayang," ucap Adrian yang melihat perubahan pada raut muka sang istri. "Kau kenapa? Mau makan apa biar aku belikan," tawar Adrian.


Ara menggeleng.


"Lalu, apa ada hal lain yang kau inginkan? Katakan saja, aku pasti mencarinya sampai ketemu," Muluk sekali ucapan suaminya itu.


Apa lelaki ini belum tahu jika permintaan ibu hamil itu sering kali aneh dan tidak masuk akal?


"Aku ingin makan soto, tapi tidak pakai kuahnya Mas,"


"????? Soto apa itu, Sayang?"

__ADS_1


"terimakasih readers semua... maaf saya kadang lupa menyapa☺. maklum ibu rumah tangga, terkadang bisa upload saja sudah senang sekali. Dua malaikat kecil saya sedang aktif-aktifnya🙏"


__ADS_2