
"Ada apa Tuan?" tanya satpam yang langsung bangkit begitu melihat majikannya berlari ke arah pintu gerbang.
"Buka pintu gerbangnya! Apa kau tidak melihat Nyonya masih di luar. Kenapa pintunya kau tutup!?" Setengah berteriak, Adrian mendorong paksa pintu masuk rumahnya yang menjulang tinggi itu.
Lelaki bertubuh gempal yang memakai seragam keamanan itu sampai menganga melihat sang majikan yang begitu panik. Kemudian ia ikut berlari membantu Adrian mendorong pintu gerbang itu.
"Tuan, Nyonya_"
"Jangan banyak bicara! Kalau terjadi sesuatu dengan istriku kau harus angkat kaki dari sini!" teriak Adrian yang berlari keluar, mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok sang istri.
Gluk!
Satpam bertubuh gempal itu menelan salivanya dengan susah. Ancaman sang majikan yang tidak pernah main-main membuatnya takut. Namun ia yang ingin menyampaikan sesuatu, malah mengurungkannya karena ancaman itu.
Lelaki berparas tampan itu lalu merogoh ponsel dalam sakunya. Beberapa kali menghubungi hanya nada sambung yang terdengar tanpa diangkat sekalipun.
"Tuan ... Tuan, ponsel nyonya ketinggalan di meja dapur," teriak bibi Yulia yang tergopoh-gopoh menyusul sang majikan.
"Hahh ... Kebiasaan dia tidak membawanya. Kalau begini bagaimana bisa dilacak." Kalau tidak ingat itu ponsel kesayangan sang istri, Adrian pasti sudah membantingnya. Lelaki itu mengumpat dalam hati, istrinya itu selalu meninggalkan barang sepenting ini disaat yang genting pula. "Kalian semua keluar! Cari Nyonya sampai ketemu!" titahnya pada segerombol laki-laki berjas hitam yang menghampirinya.
"Baik, Tuan." Para pengawal Adrian langsung berpencar mengitari kompleks perumahan elit itu, berikut Adrian yang juga ikut karena ia tidak mungkin berdiam diri akibat rasa khawatirnya.
"Jangan kembali sebelum kalian temukan istriku!" lanjutnya memperingatkan mereka.
Hampir satu jam mereka berputar berkali-kali. Bertanya kesana kemari pada orang-orang yang ada di sepanjang jalan ataupun yang kebetulan sedang lewat disana. Namun sosok Ara tidak nampak sekalipun. Entah lenyap kemana wanita itu.
"Kosong, Tuan. Tidak ada jejak Nyonya sama sekali," ucap salah seorang pengawal yang masih mengatur napasnya akibat ia berlari-lari tadi. Ia yang mencari ke arah utara tidak menemukan apapun yang dapat menjadi petunjuk keberadaan sang nyonya.
"Di selatan juga kosong, Tuan. Disana banyak ibu-ibu yang tengah berbincang. Dan mereka berada disana sudah hampir dua jam namun tidak melihat sama sekali ciri-ciri orang seperti Nyonya," lapor pengawal yang lain yang ditugaskan ke arah selatan.
"Saya juga, Tuan. Di sebelah barat ada pengajian dan jalannya buntu. Saya sudah sampai ke ujung, tapi tidak menemukan apapun."
"Hassss ...." Adrian memukul angin didepannya. Hatinya benar-benar khawatir dengan sang istri. Banyaknya orang yang memusuhi Adrian membuatnya khawatir akan keselamatan istrinya itu. Lengah sedikit saja, mereka akan mengambil kesempatan.
"Apa mungkin ... Nyonya diculik, Tuan?" celetuk bibi Yulia ditengah laporan para pengawal pada Adrian.
__ADS_1
"Bi ....! Jangan membuatku berpikir kesana. Lagipula kenapa Bibi membiarkannya keluar sendirian? Kenapa tadi Bibi tidak mencegahnya? Kenapa juga ponselnya tidak dibawa!?" pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan Adrian dengan nada tinggi pada wanita paruh baya yang sudah bertahun-tahun mengabdi padanya itu.
Bibi Yulia langsung gemetaran. Keringat sebesar biji jagungnya pun bercucuran dan wajahnya putih sepucat kapas. Padahal tadi menurutnya, ia hanya menyumbang ide, tidak disangka ia malah mendapat teguran keras dari sang majikan.
"Beri Bibi minum," titah Adrian pada satpam bertubuh gempal yang berdiri tidak jauh darinya itu. Sejenak lelaki itu menyadari telah membuat bibi Yulia ketakutan.
Lelaki berseragam navy itu langsung menghampiri bibi Yulia, kemudian menuntunnya ke pos dan mengambilkannya segelas air.
"Bi ... Kalau tuan sedang panik, lebih baik Bibi diam daripada kena semprot Tuan," nasihat satpam bertubuh gempal itu sambil memainkan matanya.
"Tapi aku hanya mengatakan kemungkinan, Jo. Siapa tahu," ucap wanita paruh baya itu pada satpam yang ternyata bernama Tarjo untuk membela diri.
"Aku tahu. Aku saja tadi mau mengatakan tentang Nyonya tapi tidak jadi," ungkap Tarjo yang mengambil kursi dan duduk di sebelah bibi Yulia.
"Katakan tentang apa? Kamu tahu Nhyonya kemana?" Selidik bibi Yulia yang mencoba mencerna ucapan Tarjo.
"Tidak tahu. Tapi nyonya tadi pamit katanya mau mengantar anak kecil tetangga sebelah sebentar."
"Tarjooo ... Tuan sudah pasti membunuhmu," pekik bibi Yulia menjewer telinga Tarjo yang seumuran adiknya itu. Lelaki itu sampai membungkuk dan mengikuti tarikan tangan bibi Yulia pada telinganya.
"Aduhh ... Kenapa Tuan hendak membunuhku, Bi. Aku tidak salah apa-apa." Tarjo mendelik sambil mengusap telinganya yang sakit.
Wanita paruh baya itu menarik tangan Tarjo hingga keluar gerbang menghampiri sangat majikan.
"Tuan ...."
"Sudah, Bibi istirahat saja." Adrian menyela ucapan bibi Yulia dengan cuek dan bahkan tidak menanggapi panggilannya. Lelaki itu sibuk berbicara dengan para pengawalnya untuk memperluas area pencarian.
"Tuan saya mempunyai kabar tentang_"
"Mas? Sedang apa ramai-ramai disini?" Suara Ara dari arah belakang membuat kaget semua orang yang ada disana. Wanita itu tiba-tiba muncul dari arah berlawanan dimana orang-orang itu berdiri.
"Ya, ampun Sayang!" pekik Adrian gemas. Ia langsung memeluk istrinya yang menatapnya kebingungan. "Kamu darimana saja? Aku mencarimu sejak tadi."
Para pengawal tersenyum kecut. Padahal bukan hanya sang majikan yang mencari istrinya, tapi mereka ikut andil juga. Namun apalah artinya seorang bawahan. Bukankah itu memang sudah menjadi tugas mereka?
__ADS_1
"Aku mengantar seorang anak kecil yang tadi menangis di depan. Ternyata rumahnya di sebelah sana," tunjuk Ara pada rumah bercat abu yang berjarak empat rumah dari rumah sang suami.
Adrian menggelengkan kepalanya. Ia harus maklum dan kelihatan tidak emosi di depan sang istri. "Kenapa tidak pamit, Sayang?"
"Aku pamit, Mas. Pamit sama ...." Ara melongok kesana kemari mencari sosok seseorang yang ia pamiti tadi. "Nahhh ... Aku pamit sama Mas Tarjo tadi." ucapnya.
Adrian mengeraskan rahangnya. Bagaimana mungkin satpamnya yang bertubuh gempal itu tidak memgatakan apapun padanya tadi. Dan tahukah dimana lelaki itu sekarang? Tangannya yang dicengkeram bibi Yulia telah terlepas dan ia memasukkan tubuhnya diantara para pengawal Adrian yang hampir semuanya memiliki postur tubuh tinggi hingga ia tidak begitu kentara.
"Tarjoo!" teriakan sang majikan seperti panggilan sayang yang tidak bisa ia tolak. Lelaki bertubuh gempal itu gegas berlari menuju tempat dimana sang majikan berdiri. Meski rasa takut mendera akan hukuman di depan mata.
"Maaf, Tuan. Tadi hal itu yang hampir saya sampaikan pada Tuan. Lalu ... Lalu saya terpaksa diam, karena Tuan mengancam saya," ucap Tarjo dengan kepala tertunduk antara merasa bersalah dan takut.
Adrian yang emosi hampir saja memarahi satpam rumahnya yang baru saja bekerja dua bulan yang lalu itu. Namun genggaman tangan sang istri mampu meredam dan mendinginkan hatinya.
"Kamu lari mengitari kompleks tiap pagi selama satu bulan kedepan! Zen awasi Tarjo,"
"Baik, Tuan." Zen mengangguk tanda mengerti perintah sang majikan.
"Hanya itu, Tuan?" Mata Tarjo berbinar, bukan hukuman pecat yang diberikan sang majikan. Namun lelaki bertubuh gempal itu tidak menyadari kesalahan ucapannya.
"Apa kamu mau tambah?"
"Eeee ... Tidak, Tuan. Maksud saya bukan begitu. Terima kasih, Tuan," Tarjo bergegas pamit pergi sebelum sang majikan berubah pikiran.
"Sudah. Bubar semuanya. Kembali ke tempat masing-masing," titah Adrian yang diikuti bubarnya para pengawal serta vibi Yulia.
"Sayang, jangan panggil Tarjo dengan sebutan Mas. Aku tidak mau kau memanggil seperti itu selain padaku," ucap Adrian setelah mereka hanya tinggal berdua saja kini.
"Tapi itu bukan panggilan sayang, Mas. Kalau orang Jawa menggunakan panggilan itu untuk menghormati seorang laki-laki yang usianya lebih tua. Kukira dulu Mas Tarjo itu sudah bapak-bapak, makanya aku memanggilnya Pak, ternyata usianya hanya beberapa tahun diatasku." Ara menjelaskan silsilah sebutan 'Mas'.
"Jadi panggilan itu bukan hanya untukku?" Ara menggeleng. Adrian terlihat kesal lalu malah berjalan lebih dulu meninggalkan sang istri.
"Meski Mas Tarjo lebih muda daripada Mas, tapi nyatanya suamiku lebih tampan dan awet muda daripada dia," celetuk Ara.
Adrian berhenti, mendadak bibirnya tersungging mendengar pujian sang istri yang manis. Tentu saja mereka berdua berbeda. Nasib mereka bagaikan bumi dan langit. Ibarat Adrian bermain di kolam renang, Tarjo harus puas hanya dengan main hujan diatas tanah lumpur yang becek. Itu sebabnya yang satu tampan dan yang satunya sedikit tampan.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, lelaki itu memutar tubuhnya kemudian membopong sang istri dan membawanya lari kedalam rumah.
"Mas ... Jangan! Aku takut, turunkan aku."Ara mencengkeram kuat pundak Adrian. Dibopong sambil jalan saja ia takut apalagi kali ini Adrian membawanya sambil berlari. Rasanya seperti mau dilempar tapi tidak jadi. Mau dilemparkan lagi dan gagal lagi. Pusing.