Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 156 Diagnosa yang Parah


__ADS_3

"Diagnosa yang tertera adalah kanker otak," ucap Dokter Kim yang tengah memegang dua lembar kertas yang diserahkan Elang.


Mereka bertemu di ruang tunggu sebuah rumah sakit tempat praktek dokter Kim. Karena lelaki berkebangsaan Korea yang sudah 3 tahun tinggal di Indonesia itu menolak penjelasan Elang dari telepon. Dia merasa kurang pantas dan kurang jelas jika tidak berbicara langsung.


"Dan semua yang tertera disini aneh," lanjutnya. Dokter Kim yang juga sudah fasih berbahasa Indonesia itu membaca satu persatu tulisan yang tertera disana. Kemudian lelaki bermata sipit itu nampak menarik sebelah ujung bibirnya.


"Kenapa, Dok?" Elang yang tidak mengerti apapun hanya menunggu lelaki itu bersuara. Namun yang didapatinya, sang dokter malah tersenyum sendiri.


"Ini parah. Parah sekali."


"Sakitnya, Dok?" Terkejut, mata Elang membola dengan bibir terbuka. Apa benar Nyonya Laila yang terkenal culas itu tengah menderita penyakit yang parah, kasihan sekali.


"Bukan." Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu apa yang parah? Dokter Kim seperti tengah bermain tebak kata saja.


"Aku ingin bertemu Tuan Adrian, Lang. Kalau bisa secepatnya. Kapan kita bisa langsung menjalankan rencana ini?"


"Secepatnya juga Dok. Karena kita hanya punya tenggat waktu satu minggu. Lebih cepat lebih baik," ucap Elang yang mendadak memegang perutnya yang sakit. Peliharaannya kelaparan didalam sana karena ia melewatkan makan siangnya.


"Kamu, kenapa?"


"Lapar Dok. Tadi lupa belum makan siang. Disini ada kantin?" tanya Elang, matanya memindai sekitar mencoba menemukan tempat yang ia maksud.


"Itu," tunjuk Dokter Kim dengan telunjuk kanannya ke arah belakang ruangan yang biasa ia gunakan untuk praktek. "Dari sini kelihatan. Tapi jangan mengajak saya, ya."


"Kenapa, Dok? Padahal saya mau traktir Dokter. Ayo, sekalian makan siang dengan saya. Sudah ... Dokter boleh makan apa saja, saya yang bayar," ucap Elang yang merangkulkan lengannya di punggung Dokter Kim. Namun serta merta, tangan itu dihalau oleh dokter yang lebih nampak seperti seorang model itu, karena tinggi badannya. Ya, dokter Kim mempunyai tinggi 183 cm dan wajah tampan seperti aktor Korea kebanyakan.

__ADS_1


"Terima kasih, lapar pun seperti apa saya tidak akan makan disana. Saya kembali ke ruang praktek saya saja." Tanpa memperdulikan lagi Elang yang masih nampak bingung dengan tingkahnya, dokter Kim berlalu dengan terburu-buru.


"Dok! Saya serius." teriak Elang karena jarakereka lumayan jauh. Lelaki Korea itu tidak menoleh sama sekali, hanya melambaikan tangannya, tanpa berhenti, atau memutar tubuhnya.


Belum hilang kebingungan Elang akan tingkah Dokter pribadi keluarga sang Tuan, tiba-tiba didepan Elang lewat seorang gadis dengan dandanan ala Korea, sedang membawa baki tengah menatap punggung dokter Kim. Sampai-sampai, gadis itu berhenti dan terpaku, menunggu hingga dokter Kim menghilang di balik pintu.


"Ya ampun, my hero, tetap tampan meski hanya melihat punggungnya. Dokter Kim benar-benar imut. Bagaimana mungkin ia bisa mirip Ahn Hyo Seop ya? Seperti saudara kembar," gumam gadis itu, terdengar sangat jelas karena jarak antara Elang dengannya sangat dekat.


Terjawab sudah mengapa dokter berkebangsaan Korea itu menolak untuk diajak ke kantin. Bahkan sudah seperti alergi saja dan malah memilih kabur. Rupanya ada pemuja rahasia disana. Saranghaeyo😍


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Satu jam lagi," gumam Adrian di sela-sela lelaki itu berganti pakaian di kamarnya. Setelah beberapa menit sebelumnya, lelaki itu sempat melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sang istri yang tengah duduk di ranjang mengernyit, meski suara Adrian pelan, namun karena suasana sepi, wanita itu dapat mendengarnya. "Mas, mau keluar lagi?"


Ara hanya diam, menatap sang suami yang tidak sadar dengan tatapan tidak relanya. Mungkin, dia akan sendirian sampai malam atau bahkan pagi. Karena Adrian saja tidak yakin, jam berapa sampai di rumah.


"Hei ... Kau kenapa?" Tangan Adrian melambai di depan wajah sang istri.


"Pasti sepi," jawab Ara singkat. Ia sebenarnya tidak rela ditinggal sendiri oleh sang suami. Rumah ini benar-benar telah sepi. Rasanya bosan saja jika harus di rumah sendiri tanpa suaminya. Adrian yang selama ini selalu membuatnya betah berada di rumah sebesar ini. Hallo? Sejak kapan Ara menjadi kecanduan dengan segala tentang sang suami. Entahlah.


Tersenyum menahan gemas, Adrian mencubit pipi sang istri. "Setelah selesai aku pasti langsung pulang, Sayang." Lelaki itu memberi sedikit kelegaan pada Ara.


"Baiklah. Hati-hati, ya." Ara memeluk sejenak tubuh sang suami. Dan lelaki itu mengecup singkat puncak kepala sang istri.

__ADS_1


"I love you,"


"I love you too," jawab Adrian seraya melangkahkan kaki, keluar kamar.


\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=


"Maaf saya terlambat." Dokter Kim hanya terlambat lima menit dan itupun membuat Adrian kesal. "Pasien saya tinggal satu, Tuan. Terpaksa saya selesaikan lebih dahulu praktek saya. Kasihan kalau ia harus menunggu lama." Lelaki bermata sipit itu, mengungkap alasannya.


"It's okay. Minumlah dahulu, sebelum kita mulai membahasnya."


Dokterr Kim menerima ide Adrian, ia mengambil sebotol air mineral yang ada di depannya. Karena ia pun sangat terburu-buru tadi, hingga berlari-lari untuk dapat mengejar waktu agar cepat sampai di tempat janjian mereka saat ini.


"Langsung saja, Dok," titah Adrian setelah dokter Kimm terlihat cukup tenang.


"Jadi, diagnosa yang tertera di surat ini memgatakan bahwa, Nyonya Laila menderita kanker otak Tuan. Dan segala pemeriksaan yang diambil adalah benar untuk mendukung diagnosa yang tersebut. Namun biaya yang tertera disini menurut saya sangat berlebihan. Bahkan rumah sakit swasta ternama yang sudah berpengalaman saja tidak sebesar ini angkanya." dr kim menerjemahkan bahasa -bahasa medis disana pada Adrian.


"Dan Rumah Sakit Victoria adalah rumah sakit baru yang nol pengalaman, begitu maksud Dokter?"


"Betul, Tuan. Saya mendengar bahwa pemilik rumah sakit itu seorang pengusaha. Dan ini adalah proyek layanan kesehatan pertama yang ia punya. Jadi minim pengalaman dan pengetahuan bukan hanya pada pemiliknya namun juga tenaga ahli yang mereka punya. Dokter mereka rata-rata dokter yang baru lulus kalaupun memiliki pengalaman tentunya dengan jam terbang yang rendah." Penjelasan dokter Kim sangat masuk akal, ketika Adrian mengingat kembali Bian yang mengaku sebagai Kepala Bagian Humas di rumah sakit itu. Tapi pengalaman dan pembawaan lelaki muda itu tidak menunjukkan pekerjaannya.


"Baiklah, ini semakin mudah untuk kita Dok. Saya mempunyai rencana yang harus segera kita eksekusi. Kosongkan jadwal Anda dua hari saja, Dok," ucap Adrian, bertiga mereka menyusun rencana untuk masuk ke Rumah Sakit Victoria tanpa dikenali.


Setelah menjelaskan apa yang akan mereka lakukan disana nanti, beserta siapa saja tim mereka. Adrian pamit pulang terlebih dahulu.


Dia yang sudah berjanji pada sang istri akan pulang secepatnya, ingin menepati janji.

__ADS_1


"Segala persiapan yang kau butuhkan langsung hubungi Elang saja, Dok," pesan Adrian sebelum pulang.


__ADS_2