
"Terima kasih Dok, telah menyempatkan waktu untuk saya," ucap Ara ketika wanita cantik yang berprofesi Dokter itu datang memenuhi undangan makan siang sekaligus membahas Dani yang merupakan pasiennya.
Senyum Dokter Realli mengembang. "Saya sudah katakan saya siap membantu bukan. Oh iya Bu, bagaimana kondisi kaki Dani?"
"Baru juga beberapa hari, Dok. Tapi syukurlah anak itu tidak manja, dia sama sekali tak mengeluh sakit," ucap Ara berbangga. Kemudian ia persilahkan Dokter Realli menikmati minumannya.
Siang itu juga, Ara nekat menghubungi Dokter yang pernah merawat Dani itu tanpa sepengetahuan siapapun. Setelah kejadian di rumah dan ia menunggui Dani dikamarnya hingga tertidur, ia pamit pada Bibi Yulia untuk keluar sebentar.
"Iya. Dia memang anak yang kuat. Bagaimana bu, apa yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Realli langsung ke inti permasalahan.
"Benar kata dokter. Sepertinya Dani memang mempunyai trauma, meski tidak parah menurut saya tapi cukup mengganggu mentalnya Dok," papar Ara yang selanjutnya menceritakan kejadian di rumah pagi tadi.
"Apa dia dekat dengan anda?"
"Tidak, Dok. Dani anak yang sulit, apalagi saya hanya ibu sambung. Tapi akhir-akhir ini lumayan Dok, dia tidak lagi menolak ketika saya membantunya. Meskipun untuk ngobrol masih nol," Ara menarik kedua sudut bibirnya, mengingat Dani yang tertidur dengan memegang tangannya. Mungkin saja anak itu tidak menyadarinya tadi, dan ia sangat butuh dukungan dimana saat kejadian baik sang ayah maupun oma tidak ada bersamanya.
"Tidak apa-apa, Bu. Perkembangan sekecil apapun itu sangat berarti untuk pasien, juga hal yang membahagiakan bagi kita. Yang penting, ibu harus total dalam membantunya. Jangan nanti di tengah jalan kabur karena pasien seperti ananda Dani ini emosinya tidak stabil," Dokter Realli menjelaskan tentang resiko pendampingan.
"Saya tidak mungkin kabur, Dok," ucap Ara meyakinkan. Bagaimana ia mau kabur, sedangkan ia telah jatuh cinta dengan ayah anak itu.
"Baiklah, yang pertama ibu harus bisa menyelami hatinya dulu. Jadilah temannya, dengarkan apa yang akan diceritakannya. Penting ataupun tidak penting, pasien seperti ini cenderung ingin didengar. Nah, sambil menyelam minum air, sambil mendengarkan ibu juga harus belajar mengenali karakternya. Faktor apa yang menyebabkan Ananda baik, tenang, juga saat ia marah penuh emosi dan sedih." Ucap Dokter Realli, penjelasannya lugas dan terperinci, hingga mudah dimengerti oleh orang awam seperti Ara.
Dokter Realli juga menjelaskan, bahwa kesembuhan dari seseorang yang trauma hanya terjadi karena niat dari dirinya sendiri. Orang-orang serta lingkungan sekitar hanyalah sebagai motivator.
Pada akhirnya, sikap menerima dengan ikhlas alias legowo kalau orang Jawa mengatakan, adalah obat yang paling manjur. Menerima bahwa semua yang terjadi merupakan jalan takdir yang harus dijalani.
__ADS_1
"Iya, Dok. Saya belum begitu mengenalnya. Tapi saya janji akan mencobanya. Dokter harus siap mendampingi saya sampai Dani sembuh ya," ucap ara penuh semangat dengan menangkup kan kedua tangannya.
"Pasti, Bu. Anda merupakan wali pasien saya pertama yang paling antusias. Saya suka itu," ucap Dokter Realli yang menyambut baik ketika orang terdekat pasien malah menghubunginya untuk konsultasi, seperti Ara.
Setelah bercerita panjang lebar tentang beberapa hal mengenai Dani, Ara mempersilahkan kembali Dokter Realli untuk menikmati hidangan yang telah gadis itu pesan. Akhirnya sore itu, Dokter Realli pamit karena ada jadwal praktek yang menunggunya.
Setelah itu, Ara kembali pulang ke rumah ketika hari beranjak sore. Sebelumnya, ia mampir ke toko buah untuk membeli beberapa macam buah yang rencananya akan ia buat jus untuk orang di rumah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan maaf. Tuan Tony sudah menanyakan kapan Tuan ada waktu senggang, beliau akan bertandang ke sini," ucap Elang mengingatkan Adrian yang sedari pagi ia datang, banyak sekali pekerjaan yang ia kerjakan. Memeriksa beberapa berkas, memantau anak cabang perusahaannya, menandatangani beberapa kerjasama yang sebelumnya dipegang oleh Elang. Hingga mereka berdua hanya berinteraksi seperlunya.
"Hemmm," jawab Adrian masih belum melepas fokusnya dari lembaran kertas yang ada di depannya.
"Beliau beberapa kali menghubungi hari ini,"
Sebenarnya, ia mengharapkan sang istri menghubunginya. Sekedar mengingatkannya sudah makan atau belum, itu saja sudah cukup. Namun sepertinya, Ara melupakannya. Atau mungkin, gadis itu masih kesal karena Adrian melarangnya ikut ke kantor.
Helaan napas berkali-kali keluar dari bibir lelaki tampan itu. Sungguh hari ini pertama kali ia bekerja tanpa didampingi sang istri. Setelah gadis cantik itu menjadi tawanannya, memang tidak pernah sekalipun lelaki itu tanpa Ara. Gadis yang ia pekerjakan sebagai asisten pribadinya sebagai konsekuensi dari ulah orang tua angkatnya. Yang sekarang justru sangat disyukuri oleh Adrian.
Biasanya, gadis yang sudah menjadi istrinya itu akan mengganggunya dengan izin ini itu yang tidak penting, namun justru membuatnya nyaman dan tenang dalam bekerja.
Mengapa jadi ia yang kelimpungan ketika sang istri tidak ada. Harusnya sebaliknya. Dan entah apa yang dilakukan oleh gadis itu sekarang. Apa ia juga harus memberi satu bodyguard di rumah untuk melaporkan segala kegiatan sang istri. Ahhhh...mengapa ia jadi seposesif ini sekarang. Adrian mengacak rambutnya asal, dan setelah itu malah merapikannya kembali ketika menyadari tingkah anehnya.
"Apa ada kabar dari Akio? Dia tidak menghubungiku sama sekali," Tiba-tiba Adrian mengingat sepupunya itu. Karena terakhir kali ketika ia bulan madu ke Jepang bersama Ara, tak didapatinya lelaki itu di rumah.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Tuan Akio menyerahkan semua keputusan yang berhubungan dengan perusahaan disini kepada Tuan," Elang mengangguk mengikuti arah gerak tubuhnya.
"Apa? Aku tidak salah dengar? Dia bicara apa lagi?"
"Tidak ada. Beliau hanya menitip pesan jika sekarang biar beliau saja yang menghubungi,"
Meski merasa aneh dengan tingkah Akio, namun Adrian tidak mau berspekulasi lebih jauh. Mungkin sepupunya itu mempunyai alasan yang belum bisa ia ungkapkan.
Adrian membuka ujung lengan jasnya dan melihat arlojinya. Waktu sudah menunjuk di angka 5, masih banyak sekali berkas-berkas di mejanya. Sebenarnya ia sudah lelah, namun pasti akan menumpuk jika tidak dikerjakan sekarang juga. Jadi hari ini, terpaksa lelaki itu lembur daripada esok ia harus melakukan hal yang sama lagi.
Waktu selalu berjalan cepat disaat kita sibuk. Hingga tanpa terasa jarum jam menunjuk diangka 9 malam.
Adrian menyudahi kegiatannya di kantor. Mendadak segaris senyum terbit dibibirnya yang tipis. Setelah bertahun-tahun lamanya, barulah sekarang ia merasakan rindu untuk pulang. Rindu bertemu semua orang di rumah terutama sang istri.
Istri? Sedang apa ia sekarang? Apa gadis itu sudah menunggunya dirumah, dan menyiapkan makan malam setelah ia datang. Atau Adrian akan digandeng lebih dahulu masuk ke kamar mempersilahkan lelaki itu mandi baru menemaninya makan malam. Ah, itu terlalu formal. Karena dulu saat mereka tinggal di apartemen, mereka selalu makan malam dahulu baru membersihkan diri.
Atau? Dia akan menunggunya dikamar, mengenakan lingerie warna hitam dan menggodanya. Ini akan membutuhkan banyak waktu dan akan menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua.
Lelaki itu mendadak senyum-senyum sendiri. Membayangkan hal-hal yang mungkin saja dilakukan sang istri untuk menyambutnya. Namun yang terus terbayang dan paling tidak mungkin adalah pikiran nakal Adrian yang terakhir. Lingerie?
"Tuan, semuanya sudah saya bereskan. Apa Tuan mau pulang sekarang?" ucap Elang yang membuat sang bos terkesiap karena kaget, dan sampai meraup wajahnya berkali-kali.
"Kau, mengganggu saja!" ucap Adrian yang kemudian segera melenggang untuk pulang.
Sambil berjalan mengikuti sang bos dari belakang, tangan kanan Adrian itu menggumam," Mengganggu? Bukankah Tuan tidak berhenti memikirkan nyonya dari tadi. Harusnya Tuan senang karena sebentar lagi sampai di rumah dan akan bertemu_"
__ADS_1
"Awasi jalanmu! Jangan hanya menggerutu saja!" mata Elang membola, semoga sang bos tidak mendengar gumamannya.