
"Sayang, menurutmu sekolah mana yang cocok untuk Dani?" tanya Adrian. Lelaki itu menyodorkan beberapa brosur sekolah menengah atas di luar negeri pada sang istri. Kebetulan sekali, Dani hanya tinggal menunggu kelulusan. Jika anak itu tidak terlibat masalah dengan temannya, dia akan melanjutkan sekolahnha di tempat yang sama.
Menerima brosur dari sang suami, Ara membaca satu-persatu kertas mengkilap penuh warna itu. Dia yang sama sekali awam dengan apapun yang berbau luar negeri, tentu bingung saat dimintai pendapat seperti ini. Pendidikannya saja hanya sampai sekolah menengah atas. Sekolah di luar negeri? Itu dulu impiannya sebelum bertemu Adrian. Dan memang gagal karena perbuatan Adrian. Namun sekarang, dia tidak ingin ke mana-mana. Hanya ingin bersama lelaki itu dan merawatnya.
"Sebaiknya, tanyakan pada Dani, Mas. Aku tidak paham tentang study di luar negeri. Kau tahu aku hanya lulusan SMA," Ara yang berdiri di sebelah Adrian mengernyit membaca satu persatu brosur itu.
"Pilih saja yang menurutmu bagus," ucap Adrian. Lengannya menarik pinggang sang istri dan membawanya untuk duduk di pangkuannya.
"Tanyakan Dani saja, Mas." Tentu saja Ara tidak berani, apalagi menyangkut anak lelaki Adrian yang kini jauh lebih sensitif dari sebelumnya.
"No! Tetap aku yang harus memilihkan, karena itu syarat aku mengizinkannya sekolah disana. Dan aku ... Aku mengikuti pilihanmu." Suaminya itu so sweet atau apa ya? Sudah jelas Ara tidak mengerti tentang pendidikan di luar negeri, malah menyuruh wanita itu memilihkan.
"Dani sendirian Mas, disana?" sang suami menggeleng.
"Ada teman kuliahku yang kebetulan tinggal disana. Aku tidak mungkin melepaskan Dani tanpa pengawasan, Sayang."
"Kalau begitu pilih yang terdekat dari rumah temanmu itu, Mas. Jadi jika ada apa-apa aksesnya cepat," usul Ara.
"Siap, Nyonya. Bagus juga pilihanmu, Sayang." Adrian memuji sang istri. Karena sebenarnya dia juga bingung harus memilih sekolah yang mana. Ketiganya sama bagus secara kualitas. Istrinya itu memang problem solver. Walaupun sepele, terkadang dia mencetuskan sesuatu yang terlewat dari pikiran seorang Adrian.
"Mas, benar-benar akan membiarkannya pergi?" Ara menatap sendu wajah sang suami. Karena ia tahu, di hati terdalam Adrian sesungguhnya sangat berat melepas anaknya itu.
"Bagaimana lagi? Keinginannya sudah bulat dan aku tidak bisa menahannya." Adrian memasang senyumnya yang nampak dipaksakan.
"Sesungguhnya aku bisa menahannya, Mas. Tapi aku tidak sanggup melakukannya," ucap Ara dalam hati. Wanita itu hanya menatap sang suami yang sangat nampak di buat baik-baik saja di depan istrinya.
"Pasti rumah ini akan sepi," ucap Adrian menundukkan wajahnya. Ya, rumah ini akan semakin sepi dengan perginya Dani. Namun tetap saja, jika Dani di sini tapi tidak tinggal dirumah utama bukankah kesepian itu tetap ada. Tapi paling tidak, Adrian bisa bertemu anaknya setiap saat, jika anak itu tidak memaksa pergi.
"Sepertinya kita harus menciptakan Adrian atau Ara junior. Atau ... Bagaimana kalau aku mau keduanya?" Adrian menatap genit pada sang istri kemudian berbisik lirih di telinganya.
"Emm ... Itu ... Apa nanti, Dani akan menerima dan mengakui adiknya, Mas?" Mendadak Ara berpikir sangat jauh. Dia takut jika memiliki anak dengan Adrian, anak itu akan dibenci oleh kakaknya sendiri. Ara rela dibenci seumur hidup oleh Dani, tapi tentu tidak rela jika anak lelaki itu nantinya juga membenci adiknya yang lahir dari rahim Ara.
__ADS_1
"Mengapa kau berpikir sejauh itu, Sayang? Yang terjadi sekarang adalah sebuah kesalahpahaman. Tidak akan lama. Seharusnya kau juga tak melarangku menceritakan kejadian sebenarnya." Adrian menatap sayang sang istri. Lengannya masih melingkar erat di pinggang kecil itu.
Ara memang menginginkan Dani benar-benar menyayanginya karena memang anak itu membuka hatinya untuk Ara. Bukan karena mommy Lina ataupun keinginan sang ayah yang memaksanya. Padahal dulu, ia hampir saja mendapatkan hati anak itu, namun siapa yang menyangka kejadian demi kejadian malah membuat hubungan mereka semakin terpuruk.
Pada akhirnya, wanita cantik itu hanya pasrah pada Tuhan dan sang waktu. Biarlah semua yang baik, terlihat dengan sendirinya tanpa intervensi dari pihak manapun.
"Aku sudah memilih, Mas," ucap Ara lirih. Wanita itu langsung memeluk sang suami, tubuhnya melorot hingga sekarang ia duduk diantara paha lelaki itu. Kemudian ia bersandar di dada bidangnya. "Biarkan saja tetap seperti itu. Aku menyayanginya tanpa berharap sebaliknya. Seperti padamu," ucapan Ara membuat hati Adrian seperti disayat. Perih, tidak mungkin dia tidak menyayangi istrinya itu. Seseorang yang kehadirannya paling disyukuri dalam hidup lelaki itu. Setelah anaknya. Cinta tanpa pamrih? Bukankah itu hanya ada di film, novel atau cerita rekaan saja.
"Kalau aku, mencintaimu dan selalu berharap sebaliknya. Karena aku tidak ingin yang lain, tidak ingin memiliki yang lain dan tidak ingin kamu menjadi milik orang lain. Titik,"ucapan tegas Adrian yang terdengar seperti orang yang sedang bucin, mengundang tawa sang istri.
"Kalau aku pergi?"
"Tidak boleh!"
"Kalau Mas yang pergi?"
"Tidak akan pernah!"
"Aku akan mengingatkanmu setiap hari tentang kita, cinta kita dan apapun yang pernah kita lalui bersama."
"Kalau Mas yang lupa ingatan?"
"Lakukan hal yang sama, Sayang."
"Jika kita terpisah karena ... sesuatu hal. Yang tidak bisa kita tolak?"
"Hal apa yang bisa membuatmu meninggalkanku?"
"Seumpama, Mas."
"Aku tidak akan menikah lagi, atau mencinta lagi, aku hanya ingin menunggumu, menunggu takdir mempertemukan kita kembali." Terdengar klise memang. Tapi begitulah yang terjadi pada Adrian sekarang.
__ADS_1
"Sampai?"
"Sampai aku tua, atau mati."
Ara langsung memeluk lelaki tampan yang entah mengapa Tuhan takdirkan untuknya itu. Sungguh, dia tidak pernah bermimpi menikah dengan seorang lelaki seperti Adrian. Paket lengkap yang meskipun sedikit keras kepala namun membuat wanita itu sangat bahagia.
"Kau tidak boleh lebih dulu dariku." Menahan isakannya dan air mata yang tiba-tiba menggenang, Ara menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
"Hei ... gadis polos ... Ah, maksudku istriku. Siapa yang mau mendahuluimu. Aku dan kamu tidak boleh ada yang lebih dulu. Kaupikir enak ditinggal sendirian." Adrian melengos, wajah kesalnya terlihat.
"Kau bisa menikah lagi. Mas tampan dan mapan, apapun yang kau mau bisa kaudapatkan," ucap Ara seraya menghapus air matanya.
"Aku tak mau!"
"Aku tak percaya."
"Terserah. Aku bisa saja membayar orang lain yang lebih profesional untuk bersandiwara denganku, tapi tak kulakukan,"
"Jadi benar, Mas menyukaiku dari sebelum kita dekat?" Ara mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami, membuat lelaki itu meringis bingung mencari jawaban.
Kemudian Adrian menaikkan alisnya, bagaimaa mungkin ia bisa keceplosan. "Sedikit."
"Jadi, cintanya cuma sedikit?"
"Ya ampun, Sayang. Jangan mencari masalah denganku. Karena aku tak ingin mencari alasan atau jawaban dari berbagai pertanyaanmu itu. Kita langsung selesaikan di ranjang saja," ucap Adrian. Lelaki itu langsung bangun dan menggendong sang istri.
"Kenapa harus kesana? Ini bukan tentang itu." Ara mendorong dada sang suami dan melawan ingin turun.
"Aku lebih suka menyelesaikannya disana." Setengah berlari Adrian mendekap erat sang istri yang masih saja melawan. Posisi bridal style dalam menggendong sangat menguntungkan Adrian.
"Massss ...."
__ADS_1