Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 182 Jodoh untuk Mela


__ADS_3

"Mas, tidak pergi ke kantor?" Ara bertanya pada suaminya yang sedari bangun sudah memegang macbook nya. Elang mengantarkannya pagi ini sebelum asistennya itu berangkat ke kantor tanpa sang majikan.


"Aku ingin bertemu dokter yang merawatmu dahulu, Sayang," jawab Adrian tanpa melihat ke istrinya. Mata lelaki itu fokus menatap layar macbook sambil sesekali menggumam.


"Pergilah, tidak apa-apa, Mas. Ada Mela yang menemaniku. Elang mengatakan ada pertemuan penting hari ini, kan."


"Tidak jadi. Sudah kutunda lusa, Sayang. Aku ke kantor agak siangan. Sebentar, jangan bersuara dulu, ya," ucap Adrian, tidak lama kemudian lelaki itu nampak mengangkat ponselnya dan melakukan panggilan video dengan seseorang. Pembicaraan itu berlangsung beberapa lama dan tidak begitu jelas ditelinga Ara karena keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa asing.


"Sssttt." Ara meletakkan telunjuknya pada bibir saat melihat Mela keluar dari kamar mandi dan hampir berteriak di depannya.


Gadis itu menaikkan alisnya, menanyakan apa yang dilakukan suami sahabatnya itu sampai-sampai mereka tidak boleh bersuara sama sekali.


Mela mendekat dan duduk di bagian kosong di sebelah Ara.


"Mas Adrian sepertinya tengah terlibat pembicaraan penting dengan rekan bisnisnya. Kamu disini dulu, ya," ucap Ara berbisik.


"Ohh ...."


"Aku kira kamu ketiduran di dalam, lama sekali mandinya, hampir satu jam. Mas Adrian sampai ke toilet luar tadi karena kamu tidak keluar-keluar," protes Ara pada sahabatnya itu.


"Hah? Salah sendiri kamar mandinya mewah, aku jadi betah didalam." Mela menahan tawanya yang hampir bersuara, akibat dipukul pahanya oleh Ara. Untung saja sahabatnya itu mengingatkan.


"Kamu mau menginap lagi disini? Tapi tidur di kamar mandi, ya, " goda Ara.


"Mau kalau dibayari, he he he." Mela terkekeh mendengar tawaran Ara. Dasar memang Mela ini, iya-iya saja ditawari menginap di kamar mandi.


"Eh, Si burung sudah kesini, ya?" tanya Mela yang masih harus berbisik karena Adrian belum juga selesai.


"Burung siapa? Tidak ada burung disini," jawab Ara yang keheranan dengan pertanyaan Mela.


"Itu asisten suamimu. Si Elang."


"Ohh ... Jangan sembarangan panggil orang, Mel. Ia baru saja pergi, Salah sendiri kamu terlalu lama di kamar mandi," jawab Ara sengit. "Eh, ada perlu apa tanya soal Elang?"


"Ya ampun, Ra. Kamu kan bisa mengetuk pintunya dari luar. Apes tidak bertemu lagi." Mela memukul jidatnya sendiri.


"Ada yang kangen nih," ucap Ara meledek. Segitunya, padahal kan_"


"Sayang, aku sudah menyuruh Ardi untuk membelikan sarapan, sebentar lagi ia pasti datang. Aku ke kamar mandi sebentar."


"Iya, Mas."


"Jangan ada yang menyentuh macbook ku ya, " pesan Adrian sebelum menghilang di balik pintu toilet.


Mela yang penasaran malah menghampiri macbook yang masih menyala itu. "Ini angka apa Ra? Kenapa bergerak terus padahal tidak ada yang mengendalikan." Tangan Mela menunjuk tepat di depan layar. Menatap satu persatu bagian dari benda canggih itu, kesana kemari ia tak juga bisa menemukan apa yang membuat angka itu terus bergerak. Semacam laporan neraca keuangan. Dan angkanya fantastis. Membuat kedua bola mata Mela hampir meloncat keluar. "Ini uang atau cuma angka saja?" gumamnya.

__ADS_1


"Mel, dilihat saja ya. Aku juga tak mengerti apa itu. Tapi kau ingat pesan suamiku, kan?" ucap Ara mengingatkan.


"He-em," jawab Mela singkat.


Tok


Tok


Ceklek!


"Nyonya, ini sarapan pesanan Tuan." Ardi datang membawa beberapa kotak makanan dan pakaian kerja Adrian.


"Letakkan dimeja saja, Ar. Kalian berangkat bareng, kan? " tanya Ara pada bodyguard nya. Bukan apa-apa, Adrian terlihat sangat lelah, wanita itu khawatir jika suaminya itu harus membawa mobilnya sendirian.


"Iya, Nyonya."


Ceklek!


Pintu toilet terbuka. Adeian terlihat segar setelah mandi. Bahkan lelaki itu membasahi rambutnya.


Mela yang tengah duduk di sofa sampai bingung harus menatap siapa. Baik Adrian, dokter pribadinya yang berkunjung kemarin, ataupun bodyguard nya, mereka adalah lelaki-lelaki tampan yang memanjakan mata. Bedanya jika Adrian sudah sold out, sedangkan yang lainnya menunggu dihalalkan.


Namun tentu saja Mela tidak akan berani dengan suami sahabatnya itu. Diajak bercanda saja ia galak apalagi serius, mungkin sudah bawaan orok lelaki itu hanya lembut pada istrinya.


"Saya tunggu diluar saja, Tuan," pamit Ardi.


"Ehh ... Kok keluar?" ucap Mela kecewa, padahal ia tadi berharap Adrian menyuruh bodyguard nya menunggu di dalam.


"Ayo makan dulu, Mel," ajak Ara.


"Nanti saja ya, aku belum lapar. Keluar sebentar boleh kan?" pamit Mela yang langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Ara. Senyum samar yang nampak dari gadis itu mengandung arti lain, sepertinya ia memilih keluar karena ada misi terselubung.


Adrian yang hampir mengambil kotak makanan, sampai berhenti dan menatap sahabat istrinya itu. "Temanmu itu aneh sekali, Sayang. Sebentar A sebentar B," ucap Adrian mengomentari.


"Biasa, Mas. Lagi gamang. Antara A, D dan E," jawab Ara memberikan teka-teki.


"Apalagi itu?"


Adrian mengambil satu kotak kemudian membawanya mendekat pada sang istri.


"Aaa ...." ucap Adrian menirukan anak kecil membuka mulutnya meminta disuapi.


"Biar aku makan sendiri, Mas. Mas juga pasti lapar, lekas makan dan berangkatlah."


Ayo buka mulutmu, kusuapi. Kita makan bersama saja," jawab Adrian yang tidak mengindahkan ucapan sang istri.

__ADS_1


"Mana kenyang kalau berdua?"


"Ya kita buka kotak berikutnya. Sudah ayo cepat dikunyah keburu dingin tidak enak makanannya," paksa Adrian hingga wanita itu akhirnya menurut untuk disuapi.


"Mela itu sedang naksir seseorang, Mas."


"Siapa? Kita mengenalnya?"


"Tentu saja. Bahkan semua berhubungan dengan Mas. Antara Elang, Ardi dan Daniel."


"Jadi yang kau maksud dengan inisial tadi mereka?"


"Hemm," jawab Ara mengangguk. "Memang Daniel masih single? Apa perlu kita yang menjadi comblangnya?"


"Ya, setahuku ketiganya masih single. Boleh- boleh saja. Menurutmu siapa yang cocok untuk gadis tengil macam sahabatmu itu? Aa ... Makan dulu." Di sela-sela mereka membicarakan Mela, Adrian dengan telaten menyuapi istrinya juga dirinya sendiri.


"Entahlah, aku tidak pernah tahu tipe lelaki apa yang menjadi idaman Mela. Yang jelas ia nampak terkesima dengan mereka bertiga."


"Berarti harus kau tanyakan dulu padanya. Dia lebih mantap dengan siapa. Jangan sampai nanti menyakiti yang lain," usul Adrian yang terdengar sebagai nasihat bijak ditelinga Ara untuk Mela.


"Sippp." Ara mengacungkan jempolnya tanda setuju.


"Kalau kau, tipe lelaki seperti apa yang kau idamkan sayang?" Sambil terus mengambil nasi dalam sendoknya Adrian menanyai istrinya untuk mencari tahu.


"Aku tak punya tipe idaman, Mas. Dekat dengan lelaki langsung menikah," Ara memasang senyumnya menyindir sang suami. "Duda pula dan galak! Aduh ...." Ara memgusap pipinya yang dicubit Adrian.


"Mengaku saja aku tipemu, Sayang. Pakai menyindir segala!" gemas Adrian.


"Tidak. Aku tidak pernah membayangkan seperti apa lelaki idamanku. Cukup berlaku baik padaku dan keluargaku. Sepertinya itu sudah sangat istimewa bagiku,"


Adeian menghentikan suapannya. "Tapi aku tidak pernah memperlakukanmu dengan baik kan?" tanya Adrian dengan tatapan datar.


"Entahlah. Mungkin Mas pengecualian. Semuanya mengalir, dan ... Aku tidak bisa menolak perasaanku padamu," terang Ara. "Jadi jangan pernah bertanya mengapa aku mencintaimu, karena jawabannya aku tidak tahu. Cinta itu terkadang tidak butuh alasan kan, mas." suapan dari tangan Adrian yang sudah sampai di depan mulut Ara berhenti.


Lelaki itu maju dan mengecup bibir istrinya yang berbaring setengah duduk didepannya. "Terimakasih untuk semuanya, Sayang." Setelah memberikan minum untuk istrinya, Adrian meletakkan sisa makanannya di atas nakas. Lantas setelah itu ia malah menyusupkan kepalanya di ceruk leher istrinya.


"Mas aku masih bau, jangan seperti ini." Ara ingin mendorong tubuh suaminya namun tidak kuat. "Mas ... Bangunlah. Nanti terlambat ke kantor."


"Sebentar saja, aku merindukan bau keringatmu."


Ara akhirnya menyerah karena suaminya malah menempel laksana ada perekat pada dirinya.


"Ehem ...." Mela hanya tersenyum kecut melihat dua sejoli halal itu melakukan adegan peluk memeluk diatas ranjang rumah sakit. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang sok baik mengikuti perawat yang hendak masuk ruangan sahabatnya itu.


"Ehem ..." diulang lah dehemannya setelah beberapa kali kedua orang itu tidak mendengar. Dan yang yang paling menjengkelkan, mas-mas perawat yang ia ikuti hanya tersenyum saja tanpa berniat mengganggu. "Ehem, ehem, ehem." Akhirnya Mela berdehem lantang.

__ADS_1


Sontak ara langsung membuka matanya dan kaget melihat ada orang disana.


"Iklan dulu sebentar ya, Tuan," ucap Mela yang membuat sang perawat terkekeh.


__ADS_2