Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 244


__ADS_3

"Bolehkah aku memelukmu?" Tatapan Adrian hanya terfokus pada wanita di depannya ini. Wanita yang membawa separuh nyawanya pergi. Wanita yang ia cintai dan memilih meninggalkannya, hanya agar putranya bersedia kembali ke sisinya.


Sementara dia? Mengorbankan perasaannya, rasa cintanya pada sang suami tercinta, pada lelaki yang tengah menatap rindu padanya saat ini. Dan ia pun sebenarnya memiliki rasa yang sama. Namun, tentu saja ia tidak cukup berani, karena dirinya masih belum benar-benar mencerna ucapan Dani.


Apakah anak sambungnya itu bisa menerimanya? Atau hanya Merra, yang memang berhubungan darah dengannya? Lihatlah, bahkan wajah mereka mirip. Sangat mirip. Apalagi dengan Adrian, lelaki itu menyumbang gen terbesar pada tubuh Merra. Mulai dari wajah, warna kulit hingga postur tubuh yang tinggi.


Mata Ara basah, tubuhnya bergetar karena menahan isakan. Wajah yang ia rindukan benar-benar ada di depannya saat ini.


Nyata.


Bukan lagi mimpi, apalagi halusinasi.


"Sayang, Merra anak ki-ta, kan?" tanya Adrian terbata.


Bukan.


Bukan karena ia tidak percaya. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri jika sang istri masihlah miliknya.


Perasaannya bahagia, sangat bahagia. Dan saat itu pula, ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak becus mencari keberadaan sang istri. Hingga ia terpisah dengan istri dan putrinya itu sekian tahun lamanya.


Ara berlari, langkahnya terasa ringan meski hatinya masih takut. Ia tidak memeperdulikan apapun lagi.


Biarlah.


Biarlah soal Dani ia pikirkan nanti. Yang jelas saat ini, ia sangat rindu dengan lelaki yang merentangkan kedua tangan untuk menyambutnya itu.


Ara menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Adrian. Wanita itu memeluk erat sang suami, menangis sejadi-jadinya. Begitu juga Adrian yang yang mengecup berkali-kali pipi, dahi hingga bibir sang istri. Hal kecil yang ia rindukan, dan sudah lama tidak bisa ia lakukan.


Tanpa menjawab, pelukan erat wanita itu sudah mengatakan semuanya. Mereka memang sama-sama setia, tidak bisa berpaling dan teguh pada pendirian untuk tetap saling mencintai meski tidak sedang bersama.


"Aku rindu sekali denganmu," ucap Adrian lirih. Lelaki itu berbisik tepat di dekat telinga Ara. Kesunyian yang mengendap lama dalam hatinya telah menguap. Bersamaan dengan hangatnya pelukan dari sang istri yang kembali ia rasakan.


"Apakah kita...?"


"Ssstttt, tidak ... Tidak akan ada lagi, dan tidak akan kubiarkan. Baik kamu ataupun Dani tidak akan kubiarkan berbuat semau kalian sendiri. Aku akan melakukan apapun."


"Tapi Mas...."


"Aku baru saja memelukmu dan kau bicara masalah itu lagi! Apa aku perlu mengajakmu kabur dari sini tanpa diketahui anak itu?" Adrian sedikit kesal dengan keraguan yang masih nampak di wajah istrinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika Dani masih tidak bisa menerima Ara. Maka ia bersedia pergi tanpa membawa apapun, termasuk identitas sebagai seorang Ilyasa yang tersemat padanya.


Ara menunduk, ia menyembunyikan dirinya di dada sang suami. Sungguh saat ini ia ingin sekali bersikap egois seperti yang Adrian katakan. Namun hati kecilnya tidak pernah bisa.


"Lagipula dia yang mempertemukan kita. Apakah dia hanya mau mempermainkan kita?" Adrian membelai sayang surai hitam Ara.

__ADS_1


"Berhentilah khawatir, Sayang. Aku akan menjagamu apapun konsekuensinya." bisik Adrian lirih.


Ara menarik kedua sudut bibirnya. Adrian selalu romantis pada saat yang tidak diduga. Celetukan lelaki itu yang terkadang dianggap tidak bermakna oleh orang lain, malah membuat hati sang istri meleleh.


Ara masih berada dalam dekapan hangat lelaki yang ia cintai itu. Rasanya tidak ingin melepasnya, meski sedetik saja.


"Sayang, sepertinya aku memang benar-benar sudah tua." Lelaki itu terlihat menghentakkan kedua kakinya bergantian.


Ara mendongak. "Bagiku sama saja, Mas. Kau tetap tampan sama seperti saat kita pertama kali bertemu," ucap Ara melirik canggung. Wanita itu tidak tahu mengapa tiba-tiba berucap demikian. Merayu? Memuji? atau romantis? Sepertinya, tidak masuk dalam kategori ketiganya.


"Akhirnya kau mengakuinya." Lelaki itu mencubit kecil hidung Ara. "Kakiku kesemutan, apa aku boleh masuk ke kamarmu?" bisiknya lirih yang kemudian malah mencuri kecupan dari bibir ranum yang menggoda untuk dikulum. Kalau ini di rumahnya, sudah pasti Adrian akan memintanya dengan paksa pada istrinya itu.


"Auw!" pekik Adrian ketika Ara mencubit pinggangnya.


"Mass ... Harusnya hanya meminta untuk masuk, bukan ditambah masuk ke kamar. Untung saja semua orang tidak ada. Tapi kenapa bisa kebetulan ya?" Ara mengernyit heran dengan situasi yang mendukung pertemuan mereka.


Dua hari yang lalu, Pak Santo beserta sang istri pamit pulang ke kampung halamannya, untuk menjenguk adik mereka. Dan pagi tadi, mami Esther tiba-tiba izin untuk pergi ke Jakarta dan menginap. Katanya ia harus mengurusi proses balik nama dari tanah yang dijualnya.


Mengapa semua serba kebetulan? Hingga yang di rumah tinggal Ara dan gadis kecilnya itu.


"Memang ada orang lain selain kalian yang tinggal disini?"


Ara mengangguk. "Mami dan sepasang suami istri yang membantuku,"


"Mas mau minum apa?" tawar Ara seperti biasa. Ternyata kangen juga tidak menyiapkan makanan atau minuman untuk suaminya itu.


"Kopi."


"Sejak kapan minum kopi? Mas punya asam lambung, pantas saja Mas sedikit kurus," Mata Ara melotot marah.


Adrian memang sedikit kurus, apalagi jambang halusnya yang dibiarkan tumbuh itu. Dan juga rambut putihnya yang tumbuh di beberapa tempat.


Lelaki itu hanya mengulas tipis senyumnya. Sungguh, ia merindukan istri cerewetnya itu, dan baru saja ia menemukan wanitanya itu kembali. Lelaki itu langsung mendapatkan hal yang bagi banyak orang mungkin hal yang sepele, tapi hal itulah yang membuat Adrian sangat mencintai Ara.


Terkadang, ketika kamu bisa membeli apapun dengan uangmu, termasuk cinta. Bukankah hanya hal kecil itu yang tidak pernah bisa dibeli.


Ya. Perhatian tulus dari seseorang yang mencintaimu, meskipun dalam bentuk omelan yang tiada henti.


"Sejak kau pergi malam itu." Lelaki itu menunduk. "Aku tidak tahu bagaimana caranya menenangkan diriku saat itu. dan aku menemukan kedamaian saat meminumnya secara tidak sengaja, saat melewati hari-hari panjang yang kuhabiskan di stasiun."


"Maafkan aku, Mas," Ara mendekat, menatap mata Adrian yang basah dan menggenggam jemari lelaki yang mengikat janji dengannya secara sadar itu. Meski awalnya pernikahan mereka hanya untuk memenuhi ambisinya.


Ara menelan salivanya pahit, mengingat perpisahan mereka yang dramatis beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


"Tepat tujuh tahun, Sayang. Di tanggal yang sama aku kehilanganmu. Dan sekarang aku dipertemukan kembali denganmu," binar bahagia tak dapat disembunyikan oleh Adrian. Rasanya seperti baru saja terbebas dari himpitan keras baru yang besar."


"Selamat ulang tahun Daddy. Aku dan Merra sangat mencintaimu. Meski putri kita belum mengenalmu, namun aku selalu mengatakan padanya jika ayahnya sangat mencintainya." Ara memeluk lengan sang suami dan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu lagi.


"Apa saat kau meninggalkanku, Merra sudah ada disini?" Adrian mengusap lembut perut sang istri yang berada di sebelahnya.


"Entahlah, aku tak menyadarinya Mas. Ketika dokter menyatakan aku hamil, Merra sudah hampir tiga bulan dalam kandunganku."


"Dan kau sama sekali tidak berniat kembali padaku?"


"Mass...." Ara mengeratkan pelukannya pada lengan kekar Adrian. "Maaf...."


"Aku yang seharusnya minta maaf, Sayang."


"Dani ... Bagaimana ia sekarang?"


"Sebentar lagi akan diadakan pengalihan secara resmi semua harta peninggalaln keluarga dari namaku ke Dani. Hanya harta atas nama Ilyasa yang memang sudah temurun temurun hanya dapat dikelola oleh ahli warisnya. Aku...."


"Mas tinggal disini saja. Kita kelola toko bunga ini bersama." Ara memutar kepala menatap sang suami dengan yakin. Bahwa tidak akan ada rasa yang hilang dari Ara untuk suaminya itu meski semua semua fasilitas itu harus ditanggalkan.


"Aku tidak semiskin itu, Sayang. Aku masih punya beberapa perusahaan yang merupakan milikku sendiri. Dan semua itu atas namamu."


"Kenapa aku?" pekik Ara pelan. Merra kaget, bahkan Adrian tidak pernah menceritakan hal itu sebelumnya.


"Hanya memastikan terjaminnya hidupmu, jika terjadi apa-apa denganku."


Ara menangkap tangan Adrian yang membelai rambutnya. Wanita itu mengikis senyum dan menggantinya dengan tatapan tajam yang menyakitkan.


"Apa yang mas katakan! Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi, jika Mas berpikir seperti itu."


"Sayangg ... aku lelaki, dan juga kepala keluarga," Adrian menggenggam erat kedua tangan sang istri. "Tanggung jawabku lebih dari yang kau bayangkan. Aku tidak akan membiarkan istriku apalagi anakku hidup menderita. Semua kekayaan keluarga memang adalah milik setiap pewaris keluarga kami. Itu mutlak. Dan apa yang aku usahakan dan aku miliki pribadi adalah milik istriku."


"Sudah jangan bicarakan itu, Mas. Sebentar Aku ambilkan minum," ara melepas paksa genggaman tangan Adrian. Ia berpura-pura ke dapur untuk mengambilkan minum, padahal yang sebenarnya ia ingin menenangkan diri.


Baru saja bertemu, suaminya itu berbicara banyak hal tentang sesuatu yang membuatnya takut. Demi apa, Ara tidak ingin kehilangan lagi. Itulah kenapa selama bertahun-tahun ia bertahan untuk tidak kembali. karena sekali saja ia dekat dengan Adrian, ia tidak akan bisa untuk menjauh lagi.


Di depan wastafel, Ara menumpukan kedua tangannya pada tepian benda kotak itu.


Diambilnya beberapa percik air untuk digunakan membasuh wajahnya yang lesu.


Jangan buat semuanya sulit lagi, Tuhan. Beri kesempatan untuk hubungan kami juga keluarga kami.


💞ciao! Terima kasih semua. Like, Komen. dan vote

__ADS_1


__ADS_2