Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 210 Sebuah Syarat


__ADS_3

Dinginnya malam ini menusuk hingga ke tulang. Ara yang tadinya tertidur nyenyak, menjadi bangun dan kaget saat tanpa sadar tangannya meraba sebelah dan Adrian tidak ada.


Pantas saja. Disini yang paling betah dengan AC hanya Adrian, sedangkan Ara pasti menyelimuti seluruh tubuhnya. Karena jika tidak demikian, sudah bisa dipastikan ia akan bolak-balik beberapa kali ke kamar mandi. Wanita itu bisa tidur di kamar yang dingin, karena selain selimut yang hangat juga ditambah pelukan Adrian yang tidak pernah absen setiap malam.


Ara bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Barangkali saja sang suami ada disana, namun kosong yang ia dapati saat tangannya membuka pintu ruangan itu. Lalu wanita itu bergegas ke balkon, sampai-sampai ia menoleh kesana kemari. Mamun tak juga ia temui sosok yang ia cari.


Tidak biasanya Adrian pergi tanpa pamit. Rasa khawatir menyusup dalam dada Ara. Mengucap beberapa kali doa selamat dilakukan wanita itu, ditengah pikiran negatifnya yang mendadak muncul.


Sekilas menengok, jarum jam menunjuk di jam 1 dinihari. Tidak mungkin Adrian keluar tanpa pamit. Itu yang ia dengungkan dihatinya sejak tadi.


Kemudian wanita itu keluar, hendak mencari pembenaran dari kata hatinya. Saat kakinya menapak di tangga pertama, ia mendengar seseorang berbicara lirih. Arah suaranya dari ruang kerja sang suami.


Entah mengapa tiba-tiba jantung Ara berdetak lebih cepat. Seperti seseorang yang hendak menangkap orang yang berniat jahat atau ... berselingkuh mungkin.


Hah ... Hah ... Beberapa kali wanita itu mengambil napas panjang. Membuang semua pikiran buruknya, karena Adrian tidak mungkin melakukannya. Dengan langkah mengendap dan sangat pelan, ia menghampiri ruang kerja Adrian.


Semakin dekat, semakin terdengar jelas itu suara Adrian dengan seseorag. Syukurlah suara laki-laki. Tapi itu seperti suara Dani. Iya itu suara Dani, Ara mengenalnya. Wanita itu bernapas lega karena pikiran buruknya tidak terbukti.


Ara sengaja tidak masuk. Ia hanya mendengarkan obrolan ayah dan anak itu yang sepertinya menarik. Meski tidak pernah terlibat di dalamnya namun Ara selalu ikut bahagia, bahwa hubungan mereka selalu hangat meski mereka lama tidak bersua.


"Daddy tahu yang kumau kan? Sudah kukatakan tadi apa yang akan membuatku pulang," ucapan Dani membuat Ara yang hampir saja pergi dari depan pintu yang sedikit terbuka itu berhenti.


Wanita itu malah menguping dan mengurungkan niatnya karena penasaran. Barangkali saja ia bisa membantu sang suami membuat anak kesayangannya itu pulang.


"Itu pilihan yang sulit, Dan," ucapan Adrian terdengar lirih dan tidak bersemangat.


"Tidak sulit. Bukankah dulunya kita hanya bertiga Dad? Dan Oma sudah tiada. Kita tetap bisa bahagia sekalipun hanya hidup berdua, Dad," ucapan Dani terdengar meyakinkan namun juga memaksa.


Adrian terdiam tidak menyahut. Dan Ara yang saat ini berada diluar, mendadak limbung ketika mendengarnya. Hingga kedua tangannya menyentuh tembok untuk menumpu. Apa yang diinginkan Dani? Mengapa dia hanya mengatakan berdua, dia dan ayahnya?


Dada Ara kembang kempis menahan isakan. Pikiran buruk tiba-tiba melintas dibenaknya.


"Kau tahu Daddy tidak akan memilih salah satu diantara kalian. Daddy mencintai kalian," jawaban Adrian berikutnya akhirnya terdengar. "Pulanglah, Nak. Kita bicarakan semuanya dirumah," bujuk Adrian dengan suara lembut. Bahkan baru kali ini Adrian memanggil anaknya dengan sebutan, nak.


"Seperti yang sudah kukatakan tadi, Dad. Permintaanku bukan hanya tidak ingin bertemu dengannya, ataupun serumah dengannya. Tapi aku tidak ingin dia bersama Daddy lagi." Dani tegas mempertahankan keinginannya.


Jadi....? Ara mati-matian menahan suara isakannya. Tubuhnya lemas seperti jeli. Wanita itu meluruh didepan pintu ruang kerja suaminya. Ternyata yang dimaksud berdua oleh Dani adalah tanpa dirinya lagi di dalam kehidupan mereka, terutama Adrian.

__ADS_1


"Daddy mencintai Tante Ara, Dan. Dia wanita terbaik dalam hidup Daddy. Daddy tidak sanggup kehilangannya," ucapan Adrian semakin membuat Ara sakit. Dirinya juga sangat mencintai suaminya itu. Dan sama seperti yang diucapkan Adrian, diapun tidak bisa kehilangan lelaki itu.


"Berarti Daddy harus siap bahwa aku tidak akan pernah pulang. s


Sudah ya, Dad. Aku harus beristirahat, besok kegiatan kampusku dimulai pagi-pagi sekali. Beristirahatlah, mungkin besok-besok, keputusan Daddy berubah ... b


Bye." Dani memutuskan panggilannya. Menyisakan Adrian yang merasa sesak dalam pilihan. Antara anak dan istrinya. Dua hal yang tidak bisa ia pilih karena ia mencintai keduanya.


Ara bangkit, begitu mendengar kata pamit Dani. Dia tidak ingin suaminya tahu, jika dirinya telah mendengar permintaan sang anak agar mau kembali ke Indonesia.


Wanita itu membawa tubuhnya berjalan kembali ke kamar. Kemudian masuk ke dalam toilet untuk membersihkan jejak air mata dan lendir di hidungnya akibat tangis yang ditahannya tadi. Dan selanjutnya, ia kembali membaringkan tubuhnya diranjang seperti posisi tadi, menyelimuti tubuhnya dan seolah tidak tahu apa yang terjadi.


Satu jam berlalu. Ara masih tidak bisa memejamkan matanya. Di telinganya terus terngiang ucapan Dani tadi. Wanita itu mencoba mencari jalan keluar dengan membayangkan kesempatan-kesempatan kecil yang mungkin dapat ia lakukan, untuk membantu sang suami. Namun nihil, semuanya seperti menemui jalan buntu.


Sontak Ara mengambil posisi seperti awal saat ia terbangun tadi, setelah mendengar langkah kaki yang ia tengarai adalah Adrian. Berjalan mendekat dengan langkah pelan. Namun ini hampir dini hari dan sepi, jadi suara sekecil apapun tidak akan luput untuk seseorang yang masih terjaga seperti dirinya.


Suara pintu dibuka terdengar. Tidak lama kemudian, ranjang sebelahnya seperti menahan beban. Dan Ara merasakan tangan suaminya membelai puncak kepalanya dengan lembut. Setelahnya, lelaki itu menciun pipinya. Kemudian berbaring disebelahnya dan memeluk erat dirinya dari belakang.


Demi apa. Susah payah Ara menahan diri. Rasanya semakin sakit dan takut kehilangan lelaki itu. Dan hanya dengan dipeluk seperti itu saja, dia yang tadinya gelisah akhirnya bisa tertidur kembali.


Pelukan Adrian memberikan ketenangan, sekaligus seperti sebuah pesan bahwa semua akan baik-baik saja. Tanpa laki-laki itu berkata banyak, pelukan Adrian malam ini juga terasa berbeda dirasakan sang istri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hei, tampan ... Hei...." Jemari Ara mencubit lengan sang suami yang masih melingkar erat diatas selimutnya. Bahkan Ara kesulitan mengeluarkan tangannya hingga ia hanya bisa menyusupkan kedua jemarinya itu untuk menggapai lengan Adrian.


"Aku suamimu, kenapa kau memanggilku hei? Kau mau kuhukum?" sahut Adrian dengan malas sambil membuka matanya.


"Tapi aku kan sudah memanggilmu tampan, Mas. Apa kau masih tega menghukumku?" Ara berkata dengan manja dan polos.


"Tentu saja aku tega." Lelaki itu mengangkat lengannya, dan memposisikan tubuhnya setengah duduk. Kemudian membawa tubuh sang istri yang masih berbalut selimut keatas pangkuannya. "Apalagi untuk istri cantikku ini, hemmm...." Dicubitnya hidung kecil milik istri cerewetnya itu.


"Sakitt ... ih!" Ara mengaduh dan malah menyusupkan kepalanya didada sang suami. Bertingkah manja, dan mencoba melupakan segala yang ia dengar semalam. Everything is okay, itu yang ia sugestikan dalam pikirannya.


"I love you." Adrian menarik dagu sang istri, kemudian mengecup di segala bagian. Di dagu, di pipi, di hidung, dan terakhir di bibir.


"I love you too," balas Ara yang kemudian merangsek untuk memeluk lelaki tampannya itu. Pelukan penuh makna untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Ayo bangun ... Ini sudah siang. Jangan sampai terlambat, Mas harus kerja keras untuk membuatku bahagia. Aku kan yang bertugas menghabiskan uangmu?"


"Hah? Sejak kapan kau sepintar itu Sayang, hemm? Kau semakin nakal, sekarang." Adrian berucap geram pada sang istri. Namun sungguh yang sebenarnya terjadi adalah, lelaki itu sangat gemas dengan tingkah istrinya yang sok sosialita itu. Marena pada kenyataannya, wanita itu selalu hanya seperlunya saja menggunakan kartu kreditnya, bahkan lebih sering berbelanja dengan uang cash karena belanjaannya bukanlah barang-barang mewah.


"Aku pintar dari dulu, Mas. Nanti kalau aku sudah membelanjakan semua uangmu, kau pasti kaget dan pingsan!"


Adrian tergelak. Tudak ada dalam kamusnya kehabisan uang sampai pingsan. "Kau harus dihukum Nyonya! Karena berani mengancam, mengejek dan menganggap remeh Tuan Adrian!" Belum sempat berpikir panjang, Ara malah memekik keras mendapati tubuhnya yang berpindah begitu saja dibawah kungkungan suaminya itu.


"Mas, mau apa?" hardik wanita itu.


"Menurutmu?" Senyum tipis Adrian mewakili keinginannya.


"Nanti mas terlambat. Nanti malam saja ya," bujuk Ara pada suaminya.


"Tidak bisa!"


"Baiklah, kalau begitu nanti sepulang kerja kita lanjutkan lagi," Ara mencari alasan lain.


"No!"


"Kalau begitu nanti siang ku susul ke kantor. Ya ... Mau ya....?" Jurus terakhir dikeluarkan Ara.


"Emmm ... Ditolak!"


"Ya ... ampun, aku bukan sedang menawar, Mas. Aku hanya memberikan solusi. Namun kau malah menolak semuanya. Bagaimana jika nanti kau terlambat?"


"Tidak ada meeting hari ini, Nyonya. Jadi aku bisa datang terlambat beberapa menit."


"Beberapa menit? Baiklah hanya beberapa menit saja tidak akan lama bukan?"


"Tentu tidak. Hanya satu jam."


"Apa? Mas mengatakan hanya be-berapa menit. Mengapa jadi satu jam?" Ara kaget karena ia pikir beberapa menit memang hanya sebentar.


"Bukankah 60 menit itu termasuk beberapa, Sayang. Jadi ... benar kan hanya satu jam."


"Hah? Ya ampun, aku terjebak lagi untuk kesekian kali," ucap Ara menyesali mengiyakan keinginan sang suami.

__ADS_1


Dan akhirnya Ara menyerah dalam gulungan kenikmatan yang diberikan sang suami.


__ADS_2