Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 256 Ending


__ADS_3

"Sahhhhhh...." Suara teriakan orang-orang yang hadir disana disertai riuhnya tepuk tangan dan ucapan selamat, menggema ditengah- tengah ruangan itu.


Tidak banyak dekorasi yang dipasang. Hanya beberapa bunga-bunga hidup yang menghiasi meja serta sudut-sudut karpet yang digelar.


Warna putih yang mendominasi terlihat segar dengan ornamen- ornamen sederhana yang dipadu padankan sedemikian rupa. Kembali lagi, selera Dani mendominasi disini. Memang pemuda itu yang mempersiapkan semuanya. Simpel dan elegan.


Ara datang sendirian. Ia hanya ditemani sang MUA yang disewa sang suami untuk merias wajahnya.


Hari ini, wanita ini cantik sekali. Dirias sanggul sederhana dengan make up flawless. Kebaya putih yang ia kenakan, begitu pas ditubuhnya. Entahlah, dia sangat menyukai kebaya yang suaminya berikan ini. Bagaimana suaminya itu bisa tahu ukurannya?


Teriakan kata 'Sah' yang begitu lantang, terdengar hingga keluar ruangan. Bahkan tertangkap oleh telinga Ara dengan jelas.


Membuat wanita yang awalnya berjalan anggun itu sedikit oleng. Satu kata yang terlintas di otaknya.


Penasaran.


Entah mengapa hati wanita itu mendadak kacau. Adrian tak mengatakan apapun semalam, bahkan pagi tadi sama sekali tidak menyapanya malah pergi lebih dulu. Ia hanya memberikan box putih dengan pita cantik yang berisi kebaya yang ia kenakan kini.


Lelaki itu mengatakan ada suatu acara yang harus Ara hadiri. Tepat jam 8 pagi, tidak boleh terlambat. Dan wanita itu baru sampai disana beberapa menit lewat dari jam 8. Hanya terlambat sedikit, namun itu jadi membuatnya kehilangan beberapa momen yang seharusnya ia ketahui.


Acara apa? Ara bertanya-tanya dalam hati. Apakah sebuah pernikahan? Tapi pernikahan siapa? Bukankah Dani belum memiliki calon.


Wanita yang cantik dalam balutan kebaya ini memaksakan diri untuk berlari namun tetap saja ia tidak bisa cepat. Apalagi high heel 7 cm yang melindungi kakinya kini. Benda ini mengganggu pergerakannya, hingga ia benar-benar harus hati-hati dan memperhatikan langkahnya.


"Mbak pelan- pelan saja, nanti jatuh." Wanita berprofesi MUA itu menatap ngeri langkah Ara yang dipaksa lebar. Ingin menasehati lebih lanjut namun sudah tidak bisa karena jarak mereka sudah jauh sekarang.


Pintu ballroom yang terbuka sempurna menambah penasaran hati istri Adrian itu. Dia tergesa masuk hingga meninggalkan sendal hak tingginya karena membuatnya kesulitan untuk berlari.


Mata Ara mengerjap pelan melihat pemandangan di depannya. Dekorasi mirip sebuah akad pernikahan terpampang di depan matanya. Siapa yang menikah? Menjadi pertanyaan misteri yang masih harus ia jawab sendiri. Karena sungguh bibirnya pun mendadak kelu hanya untuk berbicara.


Ada banyak orang disana. Tentu saja orang-orang yang dia kenal. Karena hanya terdiri dari keluarganya dan keluarga Adrian. Namun yang mengejutkan, tidak ada seorang pun yang memberitahunya bahwa mereka juga datang ke tempat yang sama dengan Ara.


Dan lihatlah yang terjadi sekarang. Mereka tidak kaget dengan kedatangan Ara, malah saling senyum menyambutnya.


"Siapa yang menikah, Mi?" tanya Ara pada Esther yang juga ada disana.


"Suamimu," jawab elEsther sambil tersenyum. Apa Ara tidak salah dengar? Atau mungkin ia sedang bermimpi di pagi hari ini.


"Ayah Merra, Kak," sahut Sinta yang juga memberitahunya tanpa beban.


"Iya Nyonya. Tuan Adrian yang menikah." Elang mengangguk hormat. Tidak jauh dari lelaki ini ada Mela, yang terus saja memperhatikan gerak gerik Elang. Bahkan gadis hitam manis yang kini berubah cantik itu sama sekali tidak melepaskan matanya dari lelaki yang dicintainya itu.


Ara meringis getir. Apa Adrian benar-benar menikah lagi? Dan dia diundang di pernikahan keduanya itu. Rasanya benar-benar sakit. Bagai dihimpit dua baru besar, kesakitan yang diberikan Adrian juga keluarganya yang merestui begitu saja.

__ADS_1


Ara memukul dadanya sendiri yang tiba-tiba terasa penuh dan sesak, namun tidak ada oksigen yang mampu menembusnya. Ia bagaikan mati namun dalam keadaan sadar. Ia ingin pingsan namun tidak bisa. Kaget yang ia rasakan membuatnya mematung, tak mampu beringsut maju ataupun kabur.


Tamu yang datang di tempat ini akhirnya menyingkir satu persatu, memberinya akses jalan menuju tempat duduk sang pengantin pria yang digunakan untuk akad nikah.


Benar saja, dari belakang Ara tentu mengenali sosok yang duduk disana itu adalah suaminya. Mengenakan stelan beskap putih senada dengan dirinya, namun tidak nampak pengantin wanita ada disana. Siapa Kira-kira kira?


Adrian berdiri kemudian memutar tubuhnya untuk mengamhampiri sang istri.


"Stop disana!" pekik Ara. Sungguh ia tidak menyangka suaminya bisa menikah lagi.


"Sayang?"


"Aku tidak mau diduakan


jika Mas menikah lagi. Lebih baik tinggalkan saja aku. Kenapa tidak mengatakannya kemarin? Jahat sekali." Ara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian terdengar tangisan lirih wanita itu.


Adrian yang menyadari kesalahpahaman ini bergegas menghampiri sang istri. Lelaki itu mencoba memeluk namun ditolak oleh Ara.


"Sayang dengarkan dulu penjelasanku. Aku memang menikah lagi, tapi_"


"Sudah cukup! Cukup Mas, aku sudah tahu." Ara menarik napas panjang untuk membuatnya tetap berada dalam kewarasan. "Kau menikah lagi dan semua orang disini menjadi saksinya. Bahkan kau juga mengundangku." Ara mulai tidak bisa mengendalikan dirinya. Air matanya meluncur begitu saja membasahi kedua pipinya.


"Sayang!" Adrian tidak mengindahkan ucapan Ara yang menolak pelukannya. Lelaki itu merangsek maju dan mendekap tubuh kecil sang istri dengan paksa.


"Kamu jahat, Mas." Ara terus saja memukul dada Adrian seraya terisak. Dan alih-alih melepaskan, Adrian membiarkan saja wanita yang dicintainya itu menyakitinya, dan malah semakin mendekapnya.


"Masih saja beralasan! Mas puas sekarang, sudah menikah lagi dan malah menyuruhku datang. Juga mereka. Kenapa mereka juga ada disini. Menambah rasa sakitku kian dalam. Bahkan keluargaku sendiri merestui pernikahanmu ini." Ara masih saja memukuli dada suaminya.


"Kebiasaan." Adrian mengecup singkat bibir mungil yang terus saja menuduhnya itu. "Kenapa ini selalu saja lebih dulu cerewet sebelum mendengarkan ucapanku." Jemari Adrian mencubit bibir sang istri hingga mengerucut tajam.


"Aku tidak mau mendengar apapun lagi!" tegas Ara disela tangisnya.


Berikutnya Adrian diam, ia tidak lagi menimpali ucapan istrinya. Lelaki itu hanya mengangguk kepada penghulu yang membantunya mengucap akad suci pernikahan tadi.


"Nyonya tidak ingin tahu siapa pengantin wanitanya?" tanya penghulu yang membawa secarik kertas di tangannya.


"Tidak! Biarkan saja, aku tidak ingin tahun apapun tentang wanita itu." Ara menunduk, namun ia tak lagi memberontak pada sang suami.


"Tuan Adrian Orion Ilyasa mengucap akad nikah kedua kalinya di hadapan Tuhan untuk sang istri Estsaffa Ahiara. Karena beliau merasa di akad nikahnya yang pertama, ada banyak kepentingan terselubung yang mendasari terjadinya pernikahan itu. Hari ini, Tuan Adrian dengan tulus dan keinginan sendiri, meminta kembali anda menjadi istrinya. Satu-satunya dan selamanya. Begitu salah satu isi perjanjian pasca nikah yang Tuan Adrian tuliskan untuk Anda, Nyonya."


Ara terkesiap, ia mengangkat wajahnya menatap lelaki tampan yang tersenyum tulus dengan mata berkaca-kaca.


"Jika aku menikah lagi, aku tetap akan memilih kamu lagi menjadi pengantinku. Berapa kalipun aku menikah, cuma kamu yang aku mau, Sa-yang." Suara Adrian terdengar serak. Hari menyelubungi relung hatinya yang paling dalam.

__ADS_1


Sungguh kejutan apalagi ini. Dalam satu waktu ia terkejut dua kali untuk hal yang sama sekali tidak diduganya.


"Kenapa harus menikah lagi? Kita sudah sah di hadapan Tuhan maupun di mata hukum," cicit Ara yang merasa bersalah tidak mendengarkan penjelasan sang suami tadi.


"Aku mau kisah kita suci, Sayang. Meski dengan awal yang aku buat buruk, dan banyak sekali hal menyakitkan. Namun kau tak pernah meninggalkanku, I love you, sweetheart" bisik Adrian yang terdengar romantis ditelinga sang istri.


"I love you more. Maaf aku marah padamu tadi, Mas," balas Ara yang tidak kuasa menahan perasaan bahagianya.


"Tidak, Sayang. Aku yang keterlaluan, ingin memberi kejutan tapi malah aku yang akhirnya terkejut melihat reaksimu." Lelaki itu merangkul sang istri mesra.


"Apa kau tidak mengingat kebaya ini?"


"Tentu saja aku ingat. Ternyata Mas membeli semuanya. Kukira hanya memilih satu."


"Apapun yang kau mau, semua akan kuberikan. Hanya saja saat itu, aku memang sengaja menyimpannya. Jika kelak kisah kita memang bertahan sejauh ini, aku akan mengabdikan diri untuk menjaga dan melindungimu dan anak- anak kita selamanya."


"Terima kasih," bisik Ara sembari mengecup kecil pipi Adrian.


Merra yang berada sedikit dibelakang punggung Dani ikut bahagia melihat peristiwa mengharukan hari ini pada orang tuanya. Gadis kecil itu tersenyum kecil saat menatap jemarinya yang berada di genggaman sang kakak.


Dengan sedikit tarikan dari Merra, Dani tersadar akan panggilan sang adik, hingga membuat pemuda itu menoleh ke belakang.


Merra segera menyejajarkan tubuhnya dengan sang kakak kemudian gadis kecil itu menyandarkan kepalanya di lengan kekar yang selalu melindunginya dengan penuh cinta. "Aku juga bahagia memliki kakak, ini mimpiku sedari dulu, dreams come true."


"Kakak juga, " dikecupnya kening Merra, kemudian pemuda itu mengusapnya dengan sayang.


Tidak jauh dari pemandangan bahagia itu, ada seorang lelaki yang berdiri menatap keharuan yang terjadi hari ini di hadapannya.


Sekian tahun membersamai keluarga itu, tak terbersit sedikitpun niat Elang ingin pergi dari sang majikan. Dia merasa nyaman, meski terkadang harus benar-benar bekerja 24 jam.


Keluarga bahagia sang majikan ini, seperti mengingatkan dirinya kembali. Masa lalu yang membuatnya trauma, meski sekian tahun ia berusaha melupakannya.


Wajah tampan Elang yang mendadak sendu tentu tidak terlewatkan oleh Mela. Meski gadis itu tidak mengetahui apa yang ada dipikiran sang pujaan hati, namun entah mengapa rasanya ia ingin mendekat dan memeluk lelaki itu.


Tapi itu tidak mungkin. Dia sudah pasti akan ditolak.


Dengan keberanian penuh, Mela melangkahkan kakinya, mencoba menyejajarkan tubuhnya disebelah Elang. Kemudian gadis itu sengaja menakutkan jemarinya kedalam jemari Elang.


Lelaki itu kaget, ia hanya menatap sekilas lalu kembali mengarahkan matanya ke depan. Namun satu hal yang membuat Mela tenang, Elang tidak menolak uluran tangannya. Dan genggaman yang dirasakan Mela semakin erat pada tangannya menandakan memang lelaki yang dicintainya itu butuh kekuatan saat ini.


The end...


Mau ada kisah selanjutnya? Elang dan Mela? Atau Dani dan Rheina? atau mungkin Merra dewasa? 😉 notice ya!

__ADS_1


Terima kasih teman-teman semua sudah membersamai saya selama ini. Ini novel paling lama, bukan karena banyaknya bab tapi saya yang masih susah membagi waktu hingga ala kadarnya saat update. Jadi ini murni untuk kalian, dan kalian semua lah semangat saya untuk menyelesaikannya. Terima kasih banyak...


Ada satu lagi penutup, bukan bab extra. Hanya sekedar ucapan Terima kasih.


__ADS_2